Nahkoda Cinta

Nahkoda Cinta
Cafe Lates


__ADS_3

"Perhatian! Sebagian teks menggunakan bahasa melayu, mohon bijak dalam membaca."


♡♡♡


Allena/Saras keluar dari ruang kerjanya bersama Lady, saat dirinya berjalan melewati ruang keluarga, tak sengaja Allena menoleh ke arah jendela yang mengarah ke taman. Terlihat Farhan sedang duduk dengan damai menatap taman itu.


"Jangan melamun nanti kesambet," ucap Allena mendapat senyuman dari Farhan tanpa menatapnya.


"Apa pekerjaan mu sudah selesai?" tanya Farhan masih dalam posisi yang sama.


"Alhamdulilah sudah," sahut Allena.


Suasa itu menjadi hening saat Farhan tak membalas atau bertanya lagi kepada Allena, Ia pun akhirnya membuka suara untuk memecahkan keheningan.


"Apa kau serius akan pergi melanjutkan S2 di Amsterdam?" tanya Allena.


Mendengar semua itu, Farhan langsung menoleh ke arah Allena dengan tatapan sendu.


"Apa kau keberatan?" ucap Farhan.


Jantung Allena pun berdetak saat mendengar ucapan itu yang membuatnya semakin gugup, entah ini rasa yang mulai tumbuh atau kepedulian karena takut kehilangan. Perasaan ini membuat Allena semakin bingung dan sulit memahami dirinya sendiri.


"Tidak, aku tidak akan menghalangi seseorang untuk menggapai cita-cita nya," sahut Allena/Saras.


"Apa kau serius?" tanya Farhan menatap Allena/Saras.


Jantungnya semakin berdetak sangat kencang, membuatnya salah tingkah saat di tatap Farhan.


'Kenapa suasananya menjadi seperti ini? Aku sangat gugup saat matanya menatap ku begitu penuh arti,' gumam Allena di dalam hati.


"Kenapa tidak menjawab, apa memang tidak ada rasa dengan ku?" tanya Farhan kembali membuat Allena/Saras semakin gugup untuk mengeluarkan sepatah kata.


"Baiklah aku mengerti, mungkin bukan aku orang yang kamu cintai. Kau masih sangat mencintai suami mu, aku sangat memgerti, mungkin kau hanya menganggap ku sebagai teman karena kebaikan ku ini," jelas Farhan.

__ADS_1


"Bukan begitu, aku ... aku ... Me ...," jawab Allena membuat Farhat langsung mencium bibir Allena/Saras.


Begitu terkejutnya Ia mendapatkan serangan fajar yang tak terduga, Ia pun tak mempu menolak sentuhan lembut yang di berikan farhan. Ia merasa cinta yang di berikan kepadanya sangat lah tulus.


Allena menerima ciuman itu, dan mereka tanpa sengaja menikmatinya.


"Aku kau mencintai ku?" tanya Farhan.


"Aku tahu, aku tak tahu apakah ini cinta atau bukan. Tapi aku tidak bisa menolak mu," jawab Allena/Saras.


Saat Farhan akan mencium Allena kembali, tiba-tiba Allena menolak secara perlahan karena dirinya ingat ada janji dengan Meisita.


"Aku harus bersiap-siap pergi, aku ada janji dengan nyonya Meisita di Cafe Lates," ucap Allena/Saras.


"Baiklah, apa mau ku antar?" tanya Farhan.


"Aku berangkat sendiru saja," jawab Allena memegang tangan Farhan lalu tersenyum.


Allena langsung kembali kekamarnya untuk bersiap-siap, Ia merias wajahnya dengan polesan lipstik yang berwarna nude membuat penampilannya sangat elegan.


'Apa aku pun jatuh cinta dengan nya? Jika memang ini benar, aku harus menyelesaikan urusan ku dengan Akmal. Aku sudah ikhlas jika dirinya bersama wanita lain, aku tidak akan membencinya, meski pun dia meninggalkan luka yang sangat dalam,' gumam Allena/Saras di dalam hati.


Pikirannya terus bergumam membuat nya hampir lupa jika Ia hampir sampai di Cafe Lates. Allena masuk ke dalam Cafe itu melihat Meisita sudah menunggu membuatnya langsung menghampirinya.


"Maaf puan, saya lambat sikit sebab jalan jem sangat," ucap Saras.


"Tidak mengapa," jawab Meisita tersenyum kepada Allena.


Mereka berbincang tentang gaun yang akan di gunakan Meisita, setelah menentukan motif dan payet, akhirnya mereka memesan makanan dan menyantap makanan dengan mengobrol.


"Adakah awak sudah berkahwin Cik?" tanya Meisita.


"Saya akan menceraikan suami saya ," jawab Saras.

__ADS_1


"Awak masih ada masalah ke? Saya minta maaf kerana terlalu lancang bertanya sesuatu yang sangat sensitif," jelas Meistia.


Allena pun tersenyum manis, "Tidak mengapa puan, puan patut tahu," suara itu membuat Meisita merasa bingung.


"Apa maksud awak?" tanya Meisita.


“Saya beritahu jika saya akan ceraikan suami saya, kerana dia lebih suka perempuan lain. Dia kelihatan sangat gembira dengan wanitanya," jelas Saras.


"Lepaskan dia, mungkin dia benar-benar bukan lelaki yang baik. Buka lembaran baru dengan seseorang yang benar-benar mencintai awak," sahut Meisita.


Saras menatap Meisita dengan penuh arti, 'seandainya engkau tahu Nyonya, lelaki mu adalah suamiku. Ini akan menyakitkan untuk mu dan untuk ku, melihat kebaikan mu aku tak mampu mengatakan yang sebenarnya. Ini terlalu menyakitkan untuk di ceritakan ulang, tapi aku akan menemui suami mu dan menceraikannya,' batin Saras.


“Dah lewat ni, saya kena balik rumah, mesti suami saya tunggu saya di rumah," ucap Meisita.


Saras hanya tersenyum dan menundukan kepalanya, melihat Meisita sudah menjauh dari hadapannya, membuat Saras langsung menekuk wajahnya. Berkali-kali Ia mengatur napasnya karena terasa sesak di dada yang begitu hebat.


Saras berusaha untuk berjalan masuk ke dalam mobilnya, di dalam mobil tangisannya pun pecah begitu saja. Tangisan itu terdengar sangat menyedihkan, membuat Saras terus menluapkan emosinya. Tangannya memukul stir mobil itu, cukup lama Saras berada di dalam mobil, sampai Ia merasa baikan dan segera mengusap air matanya.


Mobilnya melaju kembali ke kantornya, bukan ke mansion. Tak ingin membuat orang rumah khawatir termasuk Farhan, Saras pun memutuskan untuk bermalam di dalam tempat kerjanya. Matanya terlihat bengkak karena Ia menangis cukup lama, hanya pesan singkat yang mampu Ia katakan kepada Farhan bahwa malam ini Ia tak pulang ke Mansion.


Allena/Saras : "Aku bermalam di kantor, ada pekerjaan yang harus di selesaikan."


Pesan itu masuk ke ponsel Farhan.


Farhan : "Baiklah, jaga dirimu baik-baik ya. Besok aku akan berkunjung ke kantor mu."


Allena pun masuk ke dalam kantornya, terlihat sangat sunyi, Ia langsung menghidupkan ruangannya. Meletakan tas di atas meja, Allena mulai memilih kain yg akan di gunakan, dan menggunting kain ity sesuati kesepakatan yang sudah di lakukan.


Wajah nya terlihat sangat tidak bersemangat, matanya yang sembab terlihat sangat sayup, saat Ia menggunting kain itu, air matanya kembali menetes. Ia berusaha mendengakan kepalanya untuk mencegah air mata itu menetes, tetapi kesedihan yang sangat mendalam membuatnya tak mampu menahan air mata itu.


Tangannya berhenti memegang gunting, dan meletakan nya begitu saja, Allena langsung membuat kopi untuk menyegarkan pikirannya sambil melihat pemandangan di balik jendela kaca.


Tatapan nya terus mengingat percakapan antara Dirinya dan meisita, 'aku tidak bisa menyalahkan siapapun, melihat wajah nya aku tak sanggup untuk memakinya. Karena ntah aku atau dia yang salah didalam situasi ini, sepertinya aku harus mencari kebenarannya,' gumam Allena/Saras.

__ADS_1


Terdengar suara asing, membuatnya langsung menoleh dan terkejut.


BERSAMBUNG.


__ADS_2