Nahkoda Cinta

Nahkoda Cinta
Kesedihan Akmal


__ADS_3

"Sayang, kenapa kau menangis?" tanya Akmal mendekati Allena yang sedang duduk di meja kerjanya.


Akmal berusaha menanangkan Allena yang terus menangis, Ia menyentuh tubuh Allena tetapi tangannya menembus seperti melihat bayangan yang tak bisa di sentuh. Akmal pun kebingungan melihat Allena terus menangis dan semakin keras.


"Kenapa ini, kenapa kamu sulit di sentuh? Apa yang terjadi?" tanya Akmal.


Dengan isak tangis yang sangat menyedihkan, Allena menatap Akmal dan tangannya menujuk ke arah Akmal.


"Kau pembunuh!" teriak Allena.


Membuat Akmal sangat terkejut, dengan tuduhan yang di lakukan oleh Allena.


"Bukan aku yang membunuh mu, siapa kau sebenarnya?" tanya Akmal.


"Kau membunuh hati ku! Bayi ku! Kau jahat!" teriak Allena.


Lagi-lagi membuat Akmal tercengang dengan perkataan Allena yang mengatakan bayi ku. Akmal semakin tidak mengerti dengan semua yang sudah terjadi. Terlihat bayangan Allena mendekati Akmal dan seakan mencekiknya.


Akmal langsung terbangun dari tidurnya, napasnya tersengal-segal seperti orang yang sedang berlari jauh, matanya langsung menatap meja kerjanya.


Akmal berusaha menenangkan dirinya, dan langsung membasuh wajahnya.


"Apa maksud dari mimpi itu, dia mengatakan bayi ku, atau jangan-jangan dia tengah mengandung anak ku?" gumam Akmal.


Selesai membasuh wajah, Akmal langsung memeriksa ponselnya. Terlihat riwayat panggilan dari Meisita sangat banyak membuat Akmal langsung menelponnya, tetapi tidak ada jawaban dari Meisita.


Akmal langsung melihat jam, ternyata sudah menunjukan pukul 05.00WIB.


"Ini sudah pagi, aku ketiduran di kantor," gumam Akmal.


Akmal keluar ruangannya, melihat di ruangan Zidan dirinya sedang tertidur pulas membuatnya langsung di bangun kan oleh Akmal.


"Hei, bangun. Saya akan pulang dan berehat, membatalkan semua mesyuarat hari ini. Saya tidak sihat," ucap Akmal.


Zidan yang masih setengah sadar di bangunkan oleh Akmal, hanya menganggukan kepalanya tak memperdulikan apa yang di katakan tuannya.


Akmal sudah menjauh dari hadapan Zidan, dan berjalan menuju parkiran mobil, dengan cepat Ia melajuka mobilnya. Sampai di depan rumah, Akmal langsung mengetuk pintu itu dan masuk ke dalam kamarnya, melihat Meisita selesai Sholat subuh, Ia langsung memeluk Meisita.

__ADS_1


Meisita yang mendapat pelukan secara tiba-tiba langsung terkejut, "sayang ada apa? Awak dah pulang, tadi saya telefon Zidan. Dia berkata awak sedang dalam mesyuarat dan mungkin tidak pulang ke rumah."


“Maaf saya tidak memaklumkan lebih awal," sahut Akmal.


“Awak sakit ke? Muka awak nampak pucat?" tanya Meisita.


“Mungkin sebab saya penat, biarkan saya berehat," jawab Akmal.


Akmal langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Meisita yang melihat perubahan pada Akmal hanya terdiam, dirinya memaklumi.


"Mungkin dia penat kerana bekerja keras," gumam Meisita.


Meisita pun keluar kamar, berjalan-jalan untuk mengirup udara di pagi hari, terasa sangat menenangkan pikirannya. Ia menatap perutnya dan mengelus-elus dan berdoa.


"Ya Allah, bila saya boleh hamil lagi, saya akan menjaganya dengan baik Ya Allah, " gumam Meisita di dalam hati.


Walaupun kenyataan pahit, bahwa Meisita tidak bisa hamil lagi karena kejadian 2 tahun silam membuatnya tak pernah putus berharap semoga segera di beri momongan.


Meisita sedang sibuk di dapur memasak kesukaan Akmal, di bantu Bi Ija.


"Puan, adakah anda sedih?" tanya Bi Ija.


Meisita pun meneteskan air matanya, membuat Bi Ija langsung menangkan dirinya.


"Puan, awak tidak boleh sedih. Kalau Allah tak berkehendak sangat, boleh jadikan anak angkat sebagai umpan supaya boleh hamil semula," jelas Bi Ija membuat Meisita langsung menatapnya.


"Anak angkat, mana nak dapat anak?" tanya Meisita.


“Tapi puan mesti bincang semua ni dengan Encik Akmal," kata Bi Ija.


“Okey, saya akan bincang dengan Akmal," ucap Meisita.


Pengangkatan rahim Meisita di rahasiakan dari keluarga besar Akmal dan Meisita, hanya orang tuanya lah yang mengetahuinya. Mereka berfikir jika memberitahu Meisita, itu justru akan menyakiti hatinya. Maka dari itu rahasia itu di tutup rapat-rapat.


Akmal pun terbangun dan langsung mencari keberadaan istrinya yang sedang memasak di dapur, Ia langsung mendekati dan memeluknya dari belakang. Bi Ija yang melihat pemandangan di depannya langsung meninggalkan mereka berdua di dapur.


"Apa yang awak memasak?" tanya Akmal.

__ADS_1


“Awak dah bangun, saya masak makanan kegemaran awak," jawab Meisita.


Akmal melihat steak yang sedang di masak oleh Meisita, mengingatkan Akmal dengan Allena yang saat itu sedang ulang tahun. Tiba-tiba kepalanya terasa sangat sakit mengingat semua kejadian itu dengan jelas.


Akmal seperti kehilangan keseimbangan tubuhnya, Ia terus memegang kepalanya. Meisita yang melihat Akmal sudah terjatuh di lantai langsung panik.


"Sayang, apa masalah awak? Awak sakit ke?" tanya Meisita.


"Saya tidak apa-apa, sila buang stik saya," jawab Meisita.


“Awak tak suka stik ni, kenapa saya buang?" tanya Meisita yang merasa heran dengan sikap Akmal.


Kenangan Allena terus menguasai pikiran Akmal, tanpa di sengaja Ia membentak Meisita untuk segera membuang steak itu, Meisita yang tak pernah di bentak oleh Akmal merasa kaget. Hatinya terasa sangat sakit, dan langsung pergi meninggalkan Akmal yang terus memegang kepalanya karena kenangan itu.


Meisita berlari sambil menangis sesenggukan, Akmal yang melihat nya langsung berusaha bangkit berjalan menyusuli Meisita.


"Sayang, saya minta maaf!" seru Akmal berjalan sambil memegang kepalanya.


Bi Ija langsung membereskan semua masakan yang membuat Akmal marah, dengan cepat semua daging yang belom sempat di masak langsung di masukan ke dalam lemari pendingin. Sedangkan Akmal berjalan menuju kamarnya yang tertutup.


"Sayang, buka pintu. Saya minta maaf, saya tidak bermaksud untuk menyakiti awak," ucap Akmal yang terus mengetuk pintu.


Berbagai cara Akmal membujuk Meisita untuk membuka pintu kamarnya, dan akhirnya Meisita pun luluh dan membuka pintu itu. Akmal langsung memeluknya dan terus meminta maaf, Meisita masih menangis karena ini pertama kalinya Ia di bentak oleh Akmal.


"Sayang maafkan saya, saya tak bermaksud nak sakitkan hati awak. Saya ada buat salah sayang, mungkin sebab kerja terlalu kuat membuatkan saya tak kawal emosi," jelas Akmal.


"Ya sayang, saya maafkan awak," sahut Meisita.


Mereka pun berpelukan satu sama lain, di dalam pelukan itu, Meisita mengingat tentang perkataan Bi Ija yang menyarankan untuk mengadopsi bayi sebagai pancingan agar dirinya bisa hamil kembali.


"Sayang, boleh saya tanya awak?" tanya Meisita.


“Mestilah, beritahu saya. Awak nak apa," jawab Akmal.


“Bolehkah saya mengambil anak angkat dari rumah anak yatim, saya rasa sunyi," sahut Meisita.


Akmal yang mendengar penuturan dari Meisita langsung melepaskan pelukan itu dan menatap sang istri, tatapan itu sangat sendu membuat meisita merasa kebingungan dengan Akmal.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2