Napas Baru

Napas Baru
Chapter 10


__ADS_3

Ruangan putih dengan aroma karbol itu seolah sarat akan bahagia. Senyum-senyum merekah dari orang-orang yang berada di sana seakan mengirimkan energi positif hingga membuat ruangan yang seharusnya membosankan itu terasa berbeda sekarang. Begitu kontras dengan saat pertama menginjakkan kaki di sana. Perasaan sedih bercampur ketakutan yang memenuhi hati dan menyesakkan.


Mama, Bunda, Mikayla, dan Bara. Terulum senyum merekah di antara mereka dengan pandangan yang jatuh pada sesosok makhluk mungil di dalam gendongan Nadhira. Rasanya setelah mendengar keputusan dokter membuat ketakutan-ketakutan dalam satu pekan ini menguar begitu saja. Terlebih Nadhira. Perempuan yang terhitung baru menginjak angka tiga bulan bergelar ibu itu terus memandangi wajah sang bayi. "Terima kasih sudah menjadi kuat, ya, Sayang," ucap Nadhira dan mengirimkan kasihnya pada sang bayi melalui sebuah kecupan hangat.


Kepala Nadhira terangkat. Ia pandangi satu per satu wajah-wajah orang yang sudah menjadi penguatnya. Orang-orang yang selalu berdiri di belakang untuk menopangnya ketika cobaan demi cobaan datang. Ia mengulum senyum ke arah orang-orang itu. "Terima kasih, Ma, Bunda, Abang, Kay," ucapnya dengan tulus. Bahkan, air mata sampai tergenang di pelupuk matanya yang indah. Nadhira terharu. Jika tak ada mereka di belakang, ia tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi kemudian dengan dirinya. Maka, tak ada lagi kata yang pantas Nadhira ucapkan selain syukur yang teramat sangat.


"Sudah jangan nangis dong. Adek harusnya bahagia karena si kuat ini sudah bisa pulang," ucap Bara menguatkan adik semata wayangnya. Ia merangkul tubuh Nadhira dan mengelus lembut lengan adiknya. Sedangkan sebelah tangan lainnya ia gunakan untuk membelai surai sang keponakan.


Nadhira menyeka air mata yang lolos membasahi pipinya. Ia mengangkat kepala untuk kemudian bisa memandang wajah kakaknya yang kini tampak lebih hidup dari sebelum Bara menikah. Nadhira sangat bersyukur akan hal itu. Perlahan ia bisa menyaksikan kakaknya bisa menjadi pribadi yang terbuka, ceria, dan hangat seperti dulu. "Nangis haru lho Adek ini, Bang," jawabnya dengan senyum lebar yang terulum.


Bara tertawa kecil melihat tingkah adiknya. Meskipun Nadhira sudah memiliki buah hati. Di mata Bara perempuan itu masih seperti Nadhira kecilnya yang manis dan polos. Tangannya yang merangkul tubuh Nadhira berpindah posisi dengan menyentuh lembut puncak kepala sang adik. "Sekarang harus jadi perempuan yang kuat, ya. Abang yakin Adek bisa," ucap Bara menguatkan. Bukan kali ini saja lelaki itu berkata demikian. Namun, setiap kali Nadhira berada di titik rapuh ia selalu mengucapkan hal yang sama.


"Sudah. Sudah. Nggak boleh ada drama nangis-nangis lagi. Kita harus bahagia atas kepulangan Radit." Mikayla berucap dengan ceria. Sengaja ia melakukan hal itu merubah suasana yang mengharu.


"Bunda nggak ikut ke rumahmu, ya, Nak. Ayah hari ini pulang dari Bandung," ucap Bunda.


Nadhira mengangguk paham. Sebab, apa yang dirasakan ibunya itu sudah ia rasakan kini. Bagaimana ia harus menunggu kepulangan suami selepas melakukan perjalanan kerja ke luar daerah, bahkan ke luar negeri. "Nggak apa-apa, Bunda. Titip salam Adek untuk Ayah, ya."


"Ra, kalau semua urusan sudah selesai. Ayo berangkat pulang." Kali ini Mama yang angkat bicara.


"Baik, Ma."


...❤️❤️❤️l...

__ADS_1


"Welcome home, Kak," ucap Nadhira pada bayi mungil di dalam gendongannya yang kini sudah terlelap. Ia lagi-lagi mendaratkan kecupan hangat di kening sang bayi. Kini ia bisa bernapas lega sudah bisa membawa pulang bayinya yang satu pekan lebih berada di rumah sakit. Kini pun ia bisa berkumpul dengan sepasang bayi kembar laki-laki dan juga suaminya. Kendati sang suami masih belum juga menunjukkan tanda-tanda bangun dari komanya.


"Alhamdulillah, ya, Ra. Akhirnya, Radit bisa sampai rumah juga," ucap Mama tak kalah bersyukurnya melihat sang cucu. Ia merangkul tubuh anak menantunya dan berjalan memasuki rumah.


Dua perempuan berbeda generasi itu sontak terkaget ketika suara Papa melengking. "Selamat datang, cucu Opa!"


"Astaga, Pa! Apa-apaan ini?" tanya Mama yang melihat ruang depan sudah didekorasi sedemikian rupa dengan beraneka warna balon.


Tak hanya Mama. Nadhira pun kaget dengan apa yang ia lihat saat ini. Ia pikir sang ayah mertua tidak ikut menjemputnya ke rumah sakit karena alasan pekerjaan. Nyatanya pria setengah abad itu tengah menyiapkan kejutan untuk menyambut kepulangan sang cucu. "Papa," panggil Nadhira karena tidak tahu harus berkata apa. Perlakuan Papa benar-benar membuat perempuan dua puluh satu tahun itu speechless dan berkaca-kaca.


Papa tersenyum melihat menantu kesayangannya itu. Ia mendekat dan menyentuh sebelah pundak Nadhira dengan lembut. "Terima kasih sudah menjadi istri dan ibu yang hebat, Nak. Papa bangga sama kamu."


Nadhira tidak bisa untuk tidak menitikkan air mata mendengar ucapan ayah mertuanya. Namun, ia juga tak bisa untuk tidak mengulum senyumnya. Perempuan dengan hijab biru dongker itu benar-benar bersyukur karena dikelilingi oleh orang-orang yang membuatnya merasa diistimewakan. Salah satunya adalah keluarga suaminya. Meskipun di sana ia hanyalah seorang menantu. Akan tetapi Nadhira merasakan ia tengah berada di antara keluarga kandungnya.


Mama yang melihat hal itu lantas bergerak maju mendekati suami dan anak menantunya. Di rangkulannya perempuan berjilbab itu. Sedang sebelah tangannya mengusap air mata di wajah Nadhira. "Sudah, ya, jangan nangis lagi," ucap Mama.


Nadhira tersenyum lebar. "Jadi Papa sengaja nggak ke kantor cuma buat dekor ini, ya?" tanya Nadhira dengan pandangan menyapu ruangan yang sudah didekorasi indah tersebut.


"Iya, Ra. Papa mau nyambut cucu Papa."


Mama, Papa, dan Nadhira lantas tertawa. Mereka duduk di sofa ruang depan hanya untuk menghabiskan waktu dengan cerita-cerita random. Sesekali gelak tawa mereka terdengar dan menggema. Hingga atensi mereka teralihkan saat pintu utama tiba-tiba terbuka dan menampilkan Farhan yang baru saja pulang dengan pakaian kerja yang masih lengkap.


"Assalamu'alaikum," ucap Farhan. Lantas, mendekat ke arah keluarganya. Menyalami satu per satu di antara mereka seperti biasa.

__ADS_1


Jika Mama dan Nadhira menyambut dengan hangat. Lain halnya dengan Papa yang masih setia menunjukkan sikap dinginnya. Namun, hal itu tak begitu diindahkan oleh Farhan. Saat lelah seperti ini, ia tidak ingin menambahkan beban pikirannya dengan memikirkan sikap sang ayah yang masih sama seperti sebelum-sebelumnya. Farhan justru lebih tertarik melihat si kecil mungil di pangkuan kakak iparnya.


"Welcome home, little boy," ucap Farhan seraya mengelus puncak kepala sang keponakan. Andai saja Farhan sudah membersihkan diri. Maka sudah ia pastikan akan mencium Radit berulang kali. "Mau cium, tapi belum bersih-bersih. Aish, kesal deh."


Mama dan Nadhira yang mendengar kalimat Farhan lantas tertawa.


"Ya sudah mandi dulu sana. Nanti kalau sudah bersih-bersih baru main sama ponakannya, ya. Radit juga pasti sudah kangen sama om tampannya," ucap Nadhira dengan ceria.


Farhan tertawa. Ia tanpa sengaja menjatuhkan pandangan ke arah Papa. Namun, pria itu langsung membuang pandang.


"Ya sudah. Farhan ke atas dulu, ya," pamit Farhan kemudian.


Diam-diam Papa mencuri pandang ke arah putranya itu. Sebenarnya, usaha-usaha yang dilakukan Farhan sejak menggantikan posisi sang kakak sudah berhasil membuat Papa tersentuh. Ia yakin Farhan juga bisa mengikuti jejaknya. Namun, entah kenapa jika mengingat kenangan-kenangan di masa lalu selalu berhasil membuat amarahnya memuncak dan menghapus begitu saja jejak-jejak keberhasilan Farhan.


"Mau sampai kapan, Pa?"


Pertanyaan Mama menyadarkan Papa. Pria itu menoleh sejenak ke arah istrinya. Lantas, berlalu begitu saja tanpa kata.


Melihat sikap suaminya membuat Mama hanya bisa menghela napas panjang. Tidak ada yang bisa membuka hati pria itu. Bahkan, Mama yang notabenenya adalah istri.


"Ma, sabar, ya. Nadhira yakin Papa pasti berubah nantinya," ucap Nadhira mensugesti ibu mertuanya. Padahal, ia sendiri pun tak tahu kapan waktu itu datang.


"Iya, Ra. Mama sudah tidak tahu harus bicara apalagi sama Papa biar sikapnya berubah ke Farhan."

__ADS_1


Nadhira tersenyum miris. Apalagi mengingat kondisi adik iparnya yang kini juga menjadi beban terberat untuk lelaki itu.


__ADS_2