Napas Baru

Napas Baru
Chapter 11


__ADS_3

Sudah hampir setengah jam Papa habiskan di dalam ruang kerjanya. Selepas menyambut kedatangan salah satu cucunya dari rumah sakit dan sempat berbincang dengan istri dan menantu kesayangannya, Nadhira. Juga dengan Farhan. Ya, meskipun tak ada sepatah kata pun yang ke luar dari bibirnya untuk anak itu. Papa memilih untuk berlalu dari ruang depan. Melihat kedatangan Farhan membuat pikirannya tak menentu. Sebab itulah ia memilih menyendiri.


Papa. Pria setengah abad itu tidak tahu kenapa hingga detik ini ia masih saja menaruh kebencian pada anak keduanya. Padahal, jika diingat-ingat sudah banyak pencapaian yang sudah ditempuh oleh Farhan. Harusnya ia bisa mengapresiasi pencapaian tersebut seperti yang sering ia lakukan pada si sulung. Namun, kenyataannya justru Papa tidak bisa melakukan hal itu di depan Farhan.


Papa menyugar rambutnya ke belakang. Lantas menyandarkan tubuh yang sudah tak lagi muda itu pada sandaran kursi kerja. Tiba-tiba sebuah kepingan kejadian di mana senyum lebar, wajah ceria, tatapan berbinar Farhan terngiang. Itulah ketika si anak tengah memenangkan tender proyek besar untuk pertama kali. Namun, apa yang Papa lakukan? Bukannya mengapresiasi atau sekedar mengucapkan selamat. Papa justru meremehkan dan membandingkan Farhan dengan Reyhan.


"Baru satu tender saja sudah bangga. Kakakmu saja selalu memenangkan setiap tender sikapnya biasa saja," ucap Papa kala itu dan sukses membuat bibir Farhan terkatup rapat seketika.


Bohong jika Papa tak menyesali apa yang pernah ia katakan pada anaknya itu. Sebagai orang tua, Papa juga masih punya hati. Namun, untuk Farhan, Papa tidak tahu bagaimana caranya untuk mengungkapkan rasa sayangnya. Tunggu dulu! Rasa sayang? Ya, kepada Farhan juga ia menyayangi anak itu sebagaimana rasa sayangnya terhadap dua anak lainnya. Akan tetapi, lagi dan lagi. Kesalahan masa lalu itu selalu menjadi penghalang dan hambatan untuk membuat Farhan di posisi yang sama seperti Reyhan dan Latisha. Sesusah itu memang.


"Pa, Farhan butuh bimbingan Papa. Bukan ketidakadilan."


Suara Reyhan sebelum lelaki itu tumbang pun kembali teringat. Sebenarnya, niat Papa setegas itu pada Farhan hanya untuk melatih anaknya. Namun, barangkali langkahnya sudah salah. Hingga hal itu lebih terkesan memaksa dan tidak adil.


Bukan hanya Reyhan yang bicara seperti itu. Akan tetapi Mama juga selalu mengatakan hal yang sama. Sayangnya hati Papa masih saja belum tergerak.


Papa menghela napas panjang. Bukankah tidak ada salahnya jika ia menemui saja Farhan? Ia akan mencoba untuk bicara normal sebagaimana ia bicara dengan Reyhan. Barangkali dengan begitu ia bisa menjadi terbiasa dan melupakan apa saja yang melahirkan kebencian. Hingga perlahan hubungan dengan anak tengahnya itu bisa seharmonis dengan anak lainnya. Ya barangkali.


❤️❤️❤️


Farhan baru saja selesai membersihkan diri setelah pulang bekerja. Rambutnya masih basah. Wajahnya terlihat lebih segar dari sebelumnya. Kendati raut wajah pucatnya tak serta merta sirna. Sejak hari itu, pucat adalah ciri khas Farhan.


Lelaki yang sebentar lagi menginjak usia di angka dua puluh satu tahun itu mematut diri di depan cermin yang ada di pintu lemari. Seperti biasa refleksi wajah pucatnya adalah hal paling kentara yang pertama kali ia lihat. Senyum miring Farhan terbit dengan cepat. "Makin hari makin kurus saja, ya," ucap Farhan pada bayangannya. "Tapi, tenang saja. Di mata Finza, Farhan tetap lelaki paling tampan," lanjutnya dan tertawa sendiri menertawakan apa yang diucapkan.

__ADS_1


Saat kakinya bergerak menuju meja di mana ia meletakkan barang-barang riasnya. Suara ketukan pintu terdengar dari luar. Farhan mengurungkan niatnya mengambil sisir di atas meja tersebut. Langkahnya lantas beralih menuju arah pintu dengan tangan yang masih bergerak menyugar rambutnya. Lebih tepatnya merapikan rambut basahnya.


"Papa," ucap Farhan dengan pelan dan kecil. Nyaris tak terdengar. Ia tidak tahu apa maksud dan tujuan Papa mendatanginya ke kamar. Sebab, Papa sudah sangat jarang mengunjunginya langsung. Bahkan, Farhan sampai lupa kapan terakhir pria itu memasuki ruang privasinya.


"Papa mau bicara."


Nada suara itu masih terdengar sama di telinga Farhan. Cuek, dingin, dan datar. Hal itu membuat Farhan hanya bisa menganggukkan kepala dan memberi ruang untuk Papa memasuki kamarnya.


Tanpa kata Papa langsung beranjak masuk. Sejenak ia menyapu kamar sang anak dengan pandangannya. Jika di kamar Reyhan tak ada yang berubah. Di kamar Farhan justru begitu kontras. Terlalu banyak hal berubah di dalamnya dengan yang terakhir ia lihat. Dan yang paling kentara adalah kamar Farhan terasa sunyi dengan nuansa gelap.


"Bagaimana pekerjaan kantor hari ini?" tanya Papa langsung ke topik pembicaraan setelah berhasil mendaratkan bokongnya di pinggir tempat tidur Farhan. Kepalanya tak lepas bergerak seakan menilisik setiap jengkal ruangan yang sudah lama tak ia kunjung itu.


"Alhamdulillah. Lancar tanpa ada kendala, Pa," jawab Farhan berusaha biasa saja. Padahal jauh di dalam sana degup jantungnya sudah di luar batas normal. Berhadapan dengan Papa seakan benar-benar menguji nyalinya. Aneh. Padahal yang ia hadapi adalah orang tuanya sendiri. Namun, begitulah akibatnya ketika jarak terbentang begitu luas.


Farhan mengangguk pasti. "InsyaAllah Farhan siap, Pa."


Papa menatap Farhan yang duduk tepat di sampingnya. Ia sentuh punggung tangan Farhan yang bertengger manis di paha. "Papa yakin kamu bisa," ucap Papa.


Farhan yang belum siap dengan keadaan saat ini hanya bisa terdiam seraya berusaha mencerna dengan baik apa yang tengah ia alami. Beberapa kali ia menggelengkan kepala. Bahkan, Farhan sampai mencubit pipinya dengan keras hingga ia meringis. Farhan sedang tidak bermimpi. Ini kenyataan. Papa menyemangatinya. Papa mempercayainya.


"Farhan," panggil Papa. Kali ini suaranya terdengar berbeda.


Lelaki yang dipanggil masih bergeming. Farhan masih terdiam. Kenapa susah sekali mencerna keadaan ini?

__ADS_1


"Farhan, tangan kamu kenapa?" Kali ini Papa sedikit mengguncang lengan Farhan hingga anak tengahnya itu tersadar.


Farhan lantas menatap tangannya yang lagi-lagi bergetar. Ia kemudian menarik tangannya dari genggaman Papa. Sial! Kenapa harus kambuh di depan Papa?


"Farhan jawab Papa!"


"Nggak apa-apa, Pa." Farhan berusaha menyembunyikan tangannya di belakang punggung.


"Tangan kamu bergetar seperti itu kenapa?"


Mampus! Farhan tak tahu harus menjawab apa. Ia bingung. Sedangkan tangannya semakin tak bisa ia kendalikan.


Tak mendapatkan respons apa pun dari sang anak. Papa lantas menarik kasar tangan Farhan. Tangan Papa seakan ikut bergetar karena getaran dari tangan putranya. "Ini kenapa, Han? Jawab Papa!"


Suara Papa terdengar khawatir. Hal itu sukses membuat hati Farhan menghangat. Apakah ia harus sakit dulu baru Papa akan mempedulikannya? Baru Papa akan memperhatikannya dan mengkhawatirkannya?


"Kita ke rumah sakit."


Farhan menyentuh tangan Papa. Lalu, menggeleng. "Nggak perlu, Pa. Ini hanya efek dari kebanyakan mengonsumsi kafein," dusta Farhan. Ia lagi-lagi melakukan dosa. Namun, untuk membuka fakta itupun ia belum siap.


Papa akhirnya terdiam. Namun, tidak dengan tangannya yang terus menggenggam tangan Farhan. Ia pandangi salah satu anggota tubuh anaknya yang bermasalah itu. Papa tidak yakin hanya karena kafein yang dikonsumsi Farhan. Pasti ada hal lain yang menyebabkan tangan Farhan bergetar hebat. Papa tidak bodoh. Akan tetapi, ia tak bisa memaksa Farhan juga untuk jujur.


Farhan memejamkan mata erat. Berusaha menahan tangannya yang terus saja bergetar. "Pa, tolong dipegang lebih kencang, Pa. Farhan minta tolong."

__ADS_1


Papa tak menjawab. Namun, ia melakukan apa yang diminta oleh sang putra. Entah kenapa hatinya langsung tersentuh. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Farhan?


__ADS_2