Napas Baru

Napas Baru
Chapter 27


__ADS_3

“Dek, sudah siap, belum?” tanya Bara seraya mendekati istrinya yang masih duduk di meja rias seraya memandangi wajah pada cermin di hadapannya. Ia menyentuh puncak kepala Mikayla dengan lembut, lalu membungkukkan badan dan menciumnya dengan singkat. “Adek pasti akan terlihat lebih cantik kalau pakai jilbab biru muda,”ujar Bara seraya memandangi wajah cantik istrinya yang dipantulkan cermin itu. Senyum yang semula menghias wajah itu sirna dalam sekejap dan berubah menjadi garis lurus. Bara bingung. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada istrinya.


Mikayla sendiri hanya bisa menghela napas panjang seraya melepaskan lengan Bara yang melingkar di lehernya. Ia kemudian bangkit dan menatap Bara dengan tatapan sendu dan senyum miris. “Masih terlalu pagi untuk mengingat masa lalu, Bang,” ucap Mikayla dengan nada datarnya. “Lebih baik kita turun. Jangan biarkan Bunda sama Ayah nunggu lama,”sambung Mikayla dan meraih tasnya dengan sedikit kasar.Ia tidak bisa melampiaskan kekecewaan yang pagi-pagi sudah diciptakan oleh suaminya. Mikayla tahu alasan Bara mengatakan hal itu padanya. Hanya karena membandingkan dirinya dengan perempuan di masa lalu lelaki itu. Padahal, entah sudah berapa kali Mikayla menegaskan bahwa ia bukanlah sosok perempuan yang selama ini ada di dalam bayang-bayang Bara. Namun, begitu susah bagi Bara untuk melihatnya sebagai seorang Mikayla yang sesungguhnya.


Saat Mikayla ingin melangkahkan kaki untuk meninggalkan Bara. Lelaki itu justru mencekal lengannya dan menahan langkahnya. Mikayla hanya bisa pasrah, karena tenaganya sudah pasti akan kalah oleh Bara.


“Maaf jika ucapan Abang sampai membuat Adek berpikir seperti itu. Abang sungguh nggak ada maksud, Dek,” ucap Bara dengan tulus meminta maaf. Memang ia masih terbayang-bayang dengan sosok perempuan di masa lalunya yang begitu mirip dengan Mikayla. Namun, perihal ucapannya tadi ia tak bermaksud menyamakan Mikayla dengan Prisil—perempuan di masa lalu Bara yang sudah wafat menjelang pernikahan. Ia hanya melihat istrinya terlihat cantik jika mengenakan warna biru. Sama seperti Nadhira.


Mikayla yang sudah paham bagaimana suaminya pun hanya bisa tertawa miris. “Bukankah apa yang ada di dalam diri Adek semuanya mau Abang ubah seperti dia? Sampai kapan, Bang?” tanya Mikayla dengan nada lirih. “Adek lelah harus menjadi sosok perempuan lain agar bisa membuat Abang lebih dekat.” Air mata Mikayla tidak bisa terbendung lagi. Sejak ia hamil, ia begitu sensitive dan lebih cengeng. Mungkin itu salah perubahan hormone atas kehamilannya. Namun, beruntungnya Mikayla, ia tidak mengalami hal-hal berat seperti yang dialami adik iparnya dulu. Apalagi sampai harus tumbang dan bedrest total selama berbulan-bulan. Atau harus banyak mengonsumsi obat-obatan untuk menunjang kekuatan janinnya.


Bara meraih tubuh istrinya dan merengkuhnya dengan erat. “Demi Allah, Abang nggak bermaksud membuat Adek seperti itu, Sayang. Adek lupa kalau Abang menyukai warna biru sama seperti Nadhira, hm?”ucap Bara dengan sangat lembut. Selembut belaian tangannya di punggung Mikayla yang bergetar kuat seiring isakan perempuan itu yang terdengar sangat jelas. Dari sini Bara mulai berpikir lebih, rupanya perlakuannya selama ini sungguh membuat Mikayla semakin sensitive akan hal-hal yang bahkan ia inginkan. Jadi, sudah sejauh mana ia sudah melukai hati istrinya? Sudah sejauh mana pula Mikayla menahan kecewa, marah, atau bahkan benci akan sikapnya? Mulai sekarang, Bara berjanji untuk menjaga betul perasaan perempuan lembut itu.


“Adek bahkan tidak tahu nanti jika anak ini lahir. Apa Abang akan lebih banyak menceritakannya tentang Adek atau Mbak Prisil.” Dalam isakannya Mikayla terkekeh. Pikirannya bahkan kini sudah jauh melanglang buana dan mulai berlebihan. Terlalu lelah Mikayla menghadapi hal-hal seperti ini. Mikayla lalu melepaskan pelukan Bara di tubuhnya. Ia menatap sang suami dengan sepasang bola mata yang sudah basah. “Sebelum itu terjadi, setelah anak ini lahir. Lebih baik Abang lepaskan Adek. Adek ikhlas dipulangkan ke orang tua Adek daripada harus hidup di antara bayang-bayang masa lalu Abang,” ucap Mikayla dengan begitu tenangnya. Ia juga mengulum senyumnya dengan begitu manis meski hal itu membuat air matanya justru semakin deras ke luar.


Dunia Bara seakan berhenti berputar. Bagaimana bisa Mikayla mengucapkan hal itu dengan mudahnya? Bara sendiri tidak menyangka.


Dengan cepat Mikayla menyeka air matanya dengan kasar. “Ayo turun! Ayah dan Bunda sudah menunggu,” ucap Mikayla dan menggandeng tangan suaminya. Namun, perlahan Bara justru melepaskan gandengan Mikayla.


“Kita nggak usah pergi. Biar Ayah sama Bunda saja,” ucap Bara dengan nada suara dinginnya. Lalu, berjalan meninggalkan istrinya.


“Maafin Adek, Abang. Adek hanya lelah dengan semua ini,”lirih Mikayla dan kembali menitikkan air matanya lebih banyak.


˚˚˚˚˚

__ADS_1


Nadhira sudah menunggu kedatangan keluarga besarnya di depan pintu. Meski tak bertemu hanya beberapa hari, ia sudah merindukan mereka. Terlebih ibu dan kakak iparnya yang selalu membantunya untuk menemani Radit selama di rumah sakit. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika dua perempuan berbeda generasi itu tidak ada.


Tatapan Nadhira berbinar ketika melihat mobil yang tidak asing baginya memasuki area rumah besar keluarga suaminya. Ia bahkan sampai melambaikan tangan hingga kereta besi itu berhenti tepat di pelataran rumah. Nadhira bergegas mendekat. Namun, senyum Nadhira seketika berkurang ketika yang ia lihat hanya ayah dan ibunya. Lalu, di mana kakak dan kakak iparnya? Ah, mungkin Bara dan Mikayla menggunakan mobil berbeda, pikir Nadhira.


“Assalamu’alaikum,” ucap Bunda.


“Wa’alaikumussalam,” jawab Nadhira. Kemudian,ia menggamit tangan kedua orang tuanya dan menciumnya. “Abang sama Mbak mana, ya, Bun?”


Bunda menatap ke arah Ayah sebentar. “Jadi, sebenarnya tadi Abang sama Mbak juga mau ikut ke sini, Dek. Tapi, Bunda nggak tau apa yang terjadi sama Mbakmu. Ya, Adek taulah kalau perempuan hamil itu seperti apa,”ucap Bunda memberi penjelasan yang langsung dibalas anggukan oleh Nadhira. Nadhira tentu saja paham jika menyangkut hal itu. Sebab, ia sendiri merasakan bagaimana emosinya yang tidak bisa dikontrol dengan baik.


Nadhira membawa kedua orang tuanya memasuki rumah dan menuntun mereka ke ruang tamu di mana tadi ia bermain dengan sepasang bayi kembarnya di sana. Ya, sekarang pun kedua bayinya ada di ruangan itu. “Adek panggil Kak Reyhan dulu.” Nadhira kemudian berlalu meninggalkan kedua orang tuanya di ruang tamu dan memberikan waktu untuk mereka bermain dengan cucu mereka.


Perempuan dalam balutan gamis itu mengetuk pintu kamarnya pelan agar nantinya ketika ia masuk, ia tidak akan membuat kaget suaminya. Pasca Reyhan terbangun dari komanya, Nadhira sekarang sangat berhati-hati dengan kondisi Reyhan. Bahkan, ia sangat terlihat posesif sekarang.


“Oh, Bunda sama Ayah datang?”


Nadhira menganggukkan kepala.


Reyhan langsung bangkit dari posisi berbaringnya. Setelah ia mengeluh capek, Nadhira memaksanya untuk beristirahat saja.


Nadhira dan Reyhan turun menuju ruang tamu untuk menemui Ayah dan Bunda. Reyhan langsung mencium tangan mertuanya dengan hormat.


“Bagaimana kondisimu sekarang, Han?” tanya Ayah.

__ADS_1


“Alhamdulillah, Yah, Reyhan sudah merasa lebih baik sekarang.”


Meski Reyhan baru terbangun dari komanya. Topik yang membuat Reyhan dan Ayah tampak nyambung adalah topik tentang perusahaan. Maka, itulah sekarang yang menjadi topik pembicaraan mereka. Hingga suara Nadhira menyadarkan keduanya.


“Perusahaan lagi, perusahaan lagi dibahas. Huh!”


Reyhan dan Ayah pun sontak tertawa. Sedangkan Bunda hanya menggelengkan kepala melihat polah putrinya.


“Bunda, Ayah, maaf, ya selama Reyhan koma, Reyhan begitu menyusahkan Aleeana,” ucap Reyhan setelah beberapa saat terjebak hening.


Ayah dan Bunda hanya tersenyum tipis.


“Setelah ini, Reyhan janji untuk menjaga baik-baik putri dan cucu-cucu Ayah sama Bunda.”


“Nak, kamu nggak perlu merasa bersalah seperti itu,”ucap Bunda.


Nadhira menyentuh lengan suaminya dengan lembut. “Setelah ini kita akan menjaga si kembar berdua, ya.”


Reyhan menganggukkan kepala. Ayah dan Bunda merasa bahagia melihat anak dan


menantunya.


Lalu, perbincangan hangat kembali tercipta dan mengalir begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2