
Sesuai permintaan Papa untuk mengajak Farhan bicara. Reyhan masih menunggu kepulangan adiknya. Ia bahkan sudah menghabiskan waktu nyaris dua jam di ruang depan hanya untuk menunggu Farhan yang tak juga kunjung pulang. Reyhan berpikir bahwa adiknya itu pasti sedang lembur. Mengingat cerita Nadhira tentang adiknya yang sekarang selalu pulang tepat waktu dan akan terlambat pulang jika lembur saja. Hal itu juga yang membuat Reyhan semakin bangga pada Farhan yang mulai berubah, karena sudah tidak lagi sering meninggalkan rumah. Bahkan, kadang tidak pulang sampai berhari-hari seperti dulu.
“Kak, sudah berapa jam coba Kakak duduk di sini nungguin Farhan?” Nadhira mendekati Reyhan entah sudah berapa kali sejak tadi. Perempuan itu bolak balik ke ruang depan dan kamar hanya untuk memastikan si kembar tidur dengan nyenyak. Ia duduk di samping Reyhan dan mengelus lengan dalam balutan sweater itu. “Kakak bisa bicara besok. Lebih baik Kakak istirahat saja, ya.”
Reyhan mengangkat kepalanya dan menatap jam dinding di ruangan itu. Lalu, menoleh pada menatap istrinya. “Nanti saja, Sayang. Aku juga belum ngantuk kok. Kamu saja yang istirahat temani si kembar, gih. Kamu pasti capek ‘kan seharian harus ngurusin aku sama si kembar.” Reyhan tersenyum bangga pada istrinya. Ia kemudian mengecup singkat puncak kepala yang tertutup hijab instan itu. Betapa beruntungnya Reyhan dikirimkan sosok perempuan cantik, sabar, dan tangguh menjadi pendamping hidupnya.
“Kak, ingat lho kondisi Kakak. Kakak kan harus banyak-banyak istirahat,” bujuk Nadhira lagi agar suaminya mau untuk mengistirahatkan diri dulu. Sebab, Nadhira takut jika nanti Reyhan kembali merasakan ada hal yang aneh terjadi pada tubuhnya. Nadhira cukup trauma dengan kejadian-kejadian dulu yang nyaris melayangkan nyawa suaminya. Ia tidak siap jika tiba-tiba hal itu terjadi lagi pada Reyhan. Apalagi sampai terjebak lagi dalam tidur panjang. Tidak! Nadhira tidak ingin hal itu terjadi. Cukup sekali saja. Ia juga butuh teman cerita dan sandaran saat merasa lelah.
Reyhan mengalungkan lengannya di leher Nadhira. Kemudian, ia menarik pelan tubuh istrinya untuk bersandar di dada bidangnya. “Kamu tenang saja, ya, Sayang. Aku pasti akan menjaga kondisiku. Aku nggak mau lagi ninggalin kamu sama si kembar,” ucap Reyhan dengan nada yang sangat lembut dan meyakinkan. Setelah terbangun dari komanya, Reyhan berjanji akan selalu menjaga diri dan selalu baik-baik saja. Cukup sekali ia meninggalkan perempuan cantik dan bayi-bayi mungil yang sudah Tuhan amanahkan di dalam hidupnya untuk ia jaga. Setelah itu, tidak akan lagi ia meninggalkan mereka. Ia akan menjaga, menyayangi, dan mengasihi istri serta sepasang bayi kembar yang tangisnya selalu menjadi alarm di setiap pagi. Alarm yang bagi Reyhan terdengar begitu indah.
Pintu utama rumah mewah itu terbuka dan sukses menyita atensi Reyhan dan Nadhira. Pasangan suami istri itu menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Farhan yang baru saja pulang dengan pakaian yang sudah tidak serapi ketika ia berangkat. Namun, langkah Farhan terlihat tidak begitu bersemangat. Tampak juga lelaki itu memijat pangkal hidungnya. Dan Farhan sepertinya memang belum menyadari keberadaan Reyhan dan Nadhira di sekitarnya.
“Farhan,” panggil Reyhan yang sukses menyita atensi adiknya.
Farhan menoleh dan memicingkan mata untuk bisa melihat lebih jelas lagi kakaknya. Ya, kini pandangan Farhan sudah tampak memburam seiring rasa pening yang membuat telinganya juga ikut berdengung. Ia hanya membalas dengan senyum tipis dan beranjak mendekat ke arah Reyhan. Ia menggamit tangan Reyhan dan mencium punggung tangan kakaknya. Begitu juga yang ia lakukan pada Nadhira.
__ADS_1
“Kamu lembur makanya sampai telat banget pulang seperti ini?” tanya Reyhan. Ia mencoba menelisik wajah pucat adiknya. Hingga tatapannya berhenti pada sudut bibir Farhan yang tampak membiru. “Bibirmu kenapa?”
Nadhira yang mendengar pertanyaan Reyhan pun ikut melayangkan pandangan ke arah anggota tubuh adiknya yang satu itu. Dan benar saja, sudut bibir Farhan tampak memar dan membiru. Entah apalagi yang terjadi dengan adik iparnya itu.
“Nggak apa-apa,” balas Farhan dengan santai.
Reyhan merasa butuh bicara intens dengan adiknya. Ia meminta Nadhira untuk ke kamar lebih dulu. “Sayang, kamu bisa ke kamar duluan. Nanti aku susul, ya. Aku mau bicara sebentar sama Farhan,” ucap Reyhan dengan lembut. Beruntungnya Nadhira langsung mengiyakan. Perempuan itu memang selalu berusaha memahami permintaannya. Apalagi jika sudah ingin bicara serius dengan Farhan. Nadhira tidak pernah menolak. Mungkin Nadhira juga paham bahwa ia dan Farhan butuh waktu untuk bicara lebih intens.
“Ulah Papa lagi?” tanya Reyhan dengan nada sendu setelah Nadhira berlalu menuju kamar. Beberapa lama menunggu, tak juga ia dapatkan jawaban dari adiknya. Dan diamnya Farhan membuat Reyhan menemukan jawabannya. Ia hanya bisa menggelengkan kepala. Kenapa Papa masih belum berubah dengan sikap kerasnya?
“Kalau Farhan nggak salah juga Papa nggak bakalan lakuin ini kok, Kak. Jadi, ya sudahlah. Apa yang Farhan dapatkan karena ulah Farhan juga,” ucap Farhan dengan nada pasrah. Percuma juga harus menjelaskan panjang lebar kenapa bisa seperti ini. Ia sendiri juga sudah tidak mau membuat posisi Papa pada posisi bersalah. Biarlah Papa melakukan apa saja yang diinginkan, pikir Farhan sekarang. Lagi pula, Farhan sudah sadar diri akan kondisinya yang tidak bisa lagi melawan atau menentang keinginan Papa.
Farhan hanya menganggukkan kepala.
“Apa yang sedang kamu sembunyikan dari kita semua?”
__ADS_1
Farhan mengangkat kepala dan menatap kakaknya. Ia tidak tahu kenapa tiba-tiba Reyhan bertanya seperti itu. “Maksud Kakak apa?”
“Kamu nggak baik-baik saja, Dek. Kamu sakit, ‘kan?” Reyhan tertegun dengan pertanyaannya sendiri. Entah kenapa pertanyaan itu yang lolos dari bibir merah mudanya.
Seketika bibir Farhan terbungkam. Apakah Reyhan sudah tahu apa yang terjadi dengannya? Lantas, dari mana Reyhan mengetahui semuanya? Apakah Nadhira sudah membocorkan fakta yang selama ini ia sembunyikan Farhan segera menepis hal itu. Tidak mungkin Nadhira akan mengingkari janjinya. Ia percaya pada kakak iparnya. “Kakak kenapa sih? Kok pertanyaannya ngelantur kayak gitu,” ucapnya dan mencoba untuk terlihat biasa saja agar Reyhan tidak menyadarinya.
“Ngelantur? Ngelantur dari mananya sih, Dek?”
Farhan mengembuskan napas kasar. “Memangnya Farhan terlihat kayak orang sakit?”
“Iya,” jawab Reyhan dengan cepat yang sukses membungkam bibir Farhan untuk kedua kalinya. “Papa juga lihat kok bagaimana kamu yang berusaha menyembunyikan tanganmu yang bergetar tadi pagi. Kakak juga nggak lupa bagaimana darah segar mengalir dari hidungmu. Kakak juga dengar dari Mama kamu kelihatan lebih kurus dan Kakak juga menyadari hal itu.”
“Farhan cuma kecapekan doang kok, Kak. Jangan berlebihan kayak gitu deh,” jawab Farhan masih mencoba mengelak.
“Siapa yang berle—” kalimat Reyhan menggantung ketika mendengar teriakan Nadhira dari lantai atas.
__ADS_1
“Kakak!”
Apa yang terjadi?