Napas Baru

Napas Baru
Chapter 49


__ADS_3

Hampir pukul tiga pagi. Papa masih belum juga bisa memejamkan mata. Lagi-lagi ia dibuat kepikiran oleh kondisi Farhan. Selalu di dalam benaknya muncul pertanyaan. Apa yang terjadi dengan Farhan sebenarnya? Apakah sebenarnya Farhan sedang sakit, tetapi anak itu tidak mau bicara?


Papa menoleh ke samping. Dari penyinaran lampu tidur ia bisa melihat wajah damai istrinya yang tengah terlelap. “Ma, apa Mama nggak ngerasa ada yang aneh dengan Farhan? Papa takut, Ma. Papa takut terjadi sesuatu yang buruk padanya,” ucap Papa dengan suara kecil seperti bisikan. Ia kemudian menyentuh wajah Mama dan menghadiahi kecupan di kening wanita yang sudah membersamainya lebih dari seperempat abad itu.


Setelah merasa cukup mencurahkan tentang isi pikirannya pada malam yang sepi. Papa akhirnya memilih bangkit dan beranjak dari tempat tidur. Pelan-pelan ia melangkah ke luar agar suara derap langkah kakinya tak mengganggu tidur lelap sang istri. Begitu juga ketika Papa menutup kembali pintu kamar. Sangat pelan hingga nyaris tak menimbulkan suara apa pun.


Langkah kaki Papa bergerak menuju kamar Farhan. Entah kenapa nalurinya memintanya untuk segera datang ke kamar anak keduanya itu. Entah karena takut Farhan pergi malam-malam seperti dulu atau memang perasaannya yang sama sekali tidak enak. Papa mengetuk pelan pintu kamar Farhan. “Farhan, ini Papa.”


Hingga hampir satu menit Papa menunggu. Tak ada sahutan dari pemilik kamar itu. Namun, Papa masih bisa mendengar ada pergerakan di dalam sana. Itu artinya Farhan masih terjaga. Namun, kenapa Farhan tak membuka pintu untuknya? Atau jangan-jangan …


Papa langsung memutar kenop pintu kamar Farhan. Dewi Fortuna tengah berpihak pada pria itu. Pintu kamar Farhan tidak terkunci dari dalam. Lalu, yang pertama kali menyambut kedatangan Papa adalah pemandangan kamar yang berantakan dengan lembar-lembar tisu yang berserakan di atas lantai di sekitar tempat tidur putranya. Lembaran tisu yang sudah berubah warna menjadi merah pekat. Lantas, Papa mengangkat kepala dan melihat Farhan yang hanya tertegun di atas tempat tidur masih dengan tangan yang menutupi hidung.


“Papa,” ucap Farhan karena kaget dengan kedatangan Papa yang begitu tiba-tiba. Untuk suara ketukan, ia tidak mendengar apa pun karena pendengarannya yang ikut berdengung seiring dentuman demi dentuman menyambar kepalanya. Serta benda cair merah pekat itu tak juga kunjung berhenti menetes.


“Ya Allah, Farhan. Kamu kenapa, Nak?” Papa panik dan langsung mendekat ke arah tempat tidur yang juga tidak bisa terelakkan terkena oleh noda darah yang mengalir dari hidung Farhan. Ia membantu Farhan untuk membersihkan wajahnya dari sisa-sisa noda benda berbau anyir itu dengan sangat telaten.


Farhan. Ia hanya terdiam dan membiarkan Papa melakukannya sendiri. Biarlah ia nikmati saja bagaimana Papa memperhatikannya. Lagi pula, kapan lagi ia bisa merasakan bagaimana rasanya diperhatikan oleh ayahnya sendiri. Lalu, suara Papa mengalihkan atensi Farhan.


“Kamu mimisan sebanyak ini, Nak. Ayo Papa antar ke rumah sakit,” tawar Papa. Namun, tentu saja ditolak langsung oleh Farhan. Menerima tawaran Papa sama saja dengan membongkar sendiri rahasia yang selalu ia coba tutupi selama ini.


“Nggak usah, Pa. Ini sering Farhan alami kalau kecapekan,” jawab Farhan asal. Baru saja ia selesai berucap dan merasa sedikit tenang karena Papa berhasil menghentikan darah yang ke luar dari hidungnya. Benda cair itu kembali mengalir lebih deras dari sebelumnya. Bahkan, bisa dikatakan seperti air yang ditumpahkan begitu saja.


Papa kaget melihat apa yang dialami Farhan. Entah sudah berapa banyak darah yang ke luar dari hidung putranya. Ia meraih kasar lembaran tisu di samping Farhan. Lalu, mencoba untuk membersihkan kembali dengan penuh kepanikan.

__ADS_1


Farhan yang tidak tega melihat raut wajah ayahnya pun menyentuh tangan Papa dengan sisa tenaganya yang mulai pelan-pelan terkuras. “Jangan panik. Ini hanya mimisan biasa, Pa.”


Papa menggelengkan kepala. “Nggak. Ini nggak biasa, Farhan. Bagaimana bisa kamu mimisan sebanyak ini.”


“Pa .…”


“Nggak. Kita harus ke rumah sakit sekarang. Papa harus tahu apa yang membuatmu seperti ini.”


Farhan takut. Ia tidak mau dibawa ke rumah sakit. Ia belum siap jika ayahnya tahu.


Hingga darah itu berhenti mengalir. Papa masih terus membujuk Farhan untuk ke rumah sakit. Namun, tetap saja Farhan keukeuh dengan keputusannya hingga Papa menyerah.


Farhan menundukkan kepalanya yang terasa sangat berat dan sakit. Harusnya ia meminum obatnya sekarang. Namun, ia tidak akan melakukan itu di hadapan Papa. Hingga tubuhnya yang lemas limbung ke depan dan kepalanya jatuh tepat di dada bidang sang ayah.


“Farhan, kamu masih dengar suara Papa, Nak?”


Papa lantas mengurungkan niatnya untuk mengangkat kepala Farhan. Ia biarkan anak tengahnya itu menumpukan kepala di tubuhnya. Sedang ia tanpa sadar mengangkat tangan dan merengkuh tubuh yang kehilangan tenaga itu seraya mengelus lembut punggung Farhan.


“Pa, maafin Farhan karena selalu membuat Papa marah,” lirih Farhan masih dengan posisinya semula. Ia tidak memiliki tenaga lebih untuk bergerak. Darah yang ke luar sangat banyak dan kepala yang terasa sakit itu menguras tenaganya hingga nyaris tak bersisa. “Farhan janji akan buktikan pada Papa bahwa Farhan bisa membuat Papa bangga,” lanjutnya masih dengan nada suara yang lirih.


Mendengar ucapan Farhan membuat Papa menyesal. Selama ini ia selalu menuntut anak-anaknya menjadi seperti apa yang ia inginkan. Ia tidak membiarkan anaknya berkembang sendiri sesuai kapasitas yang dimiliki. Lalu, menuntut mereka mengikuti jejaknya untuk mengelola perusahaan yang sudah menggurita itu.


“Farhan bisa seperti Kakak asal Papa percaya dan memberikan Farhan kesempatan untuk belajar lebih lama. Farhan bisa kok bikin Papa dan Mama bangga. Farhan bisa menjadi seperti apa yang Papa inginkan,” ujar Farhan panjang lebar dengan suara lemah dan nyaris tak terdengar. Beruntung situasi berada dalam hening malam. Hingga suaranya tak beradu dengan suara-suara lainnya.

__ADS_1


“Iya, Nak. Papa tahu kamu bisa seperti Kakak.”


“Jadi, Papa mau kasih kesempatan Farhan untuk belajar?”


“Tentu saja, Nak. Papa akan membantumu juga.”


“Semoga Farhan bisa membuat bangga Papa, ya, sebelum akhirnya Farhan pergi.”


Deg! Jantung Papa seakan berhenti berdetak. Apa yang Papa dengar tadi kenapa bisa persis sama seperti yang di dalam mimpinya beberapa malam lalu? Farhan meminta maaf dan menyinggung tentang kepergian.


“Nggak akan ada yang boleh pergi dari sini, Farhan. Kita semua akan berkumpul di rumah ini.”


Seakan tak peduli dengan ucapan Papa. Farhan kembali berkata, “Jika waktunya Farhan pergi. Tolong jangan tangisi Farhan, ya, Pa, agar Farhan bisa tidur dengan tenang.”


“Nak, jangan bicara seperti itu.”


Farhan terdiam sejenak. “Pa, boleh ‘kan Farhan tidur ditemani Papa?”


“Tentu saja,” jawab Papa dengan cepat. Ia kemudian membantu Farhan untuk berbaring. Ia pandangi wajah pucat Farhan.


“Jangan pergi sampai Farhan tidur, ya, Pa.”


Papa mengangguk. “Iya, Nak.” Papa lalu melihat senyum manis putranya. Lalu, kelopak mata Farhan terkatup perlahan.

__ADS_1


“Papa nggak tahu apa yang terjadi denganmu, Nak. Tapi, Papa berharap pikiran Papa memang salah,” lirih Papa setelah Farhan benar-benar tenggelam dalam lelap. Papa lalu menyelimuti tubuh Farhan sebelum ia beranjak ke luar.


“Baik-baik, ya, Nak.”


__ADS_2