Napas Baru

Napas Baru
Chapter 45


__ADS_3

Farhan mulai merasa bosan di dalam kamar. Sejak ia divonis dengan penyakit mematikan yang bersarang di otaknya membuat lelaki itu lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dibanding ke luar dan berkumpul bersama teman-temannya seperti dulu. Ia mengembuskan napas kasar. Lalu, menoleh ke samping ke arah jam weker di atas nakas. Dilihatnya jarum jam hampir menunjukkan waktunya makan malam. Di dalam benaknya tiba-tiba muncul sang ibu. Mama pasti sedang di dapur menyiapkan makanan untuk makan malam, pikir Farhan. Kenapa tidak ia temui saja ibunya untuk membantu? Ini adalah kesempatan ia memperbaiki hubungan dengan orang tuanya sebelum terlambat.


Tidak perlu bagi Farhan untuk berpikir panjang. Ia lantas bangkit dari tempat tidurnya dan bergegas ke luar kamar. Tidak ada yang ia temukan satu orang pun di lantai dua. Mungkin seisi rumah itu masih sibuk dengan aktivitas masing-masing di dalam kamar. Kecuali, Mama yang sedang bergelut dengan alat tempurnya di dapur seperti biasa. Meski ada asisten rumah tangga tak lantas membuat Mama meninggalkan kewajibannya untuk menyiapkan makanan sehat untuk keluarga. Kecuali, jika wanita itu memang ada pekerjaan lain.


Satu per satu Farhan memijak anak tangga. Hingga ia tiba di lantai dasar rumah mewah tersebut. Ia membawa sepasang tungkai tanpa alasnya menuju dapur. Dan benar saja, di sana ia temukan Mama sendiri sedang fokus dengan masakannya. Farhan tersenyum tipis. Lalu, ia pelan-pelan melangkah dan berusaha dan menimbulkan suara. Setelah itu, ia peluk Mama dari belakang hingga sukses membuat wanita itu terlonjak.


“Astaga, Farhan. Kamu bikin Mama kaget saja, Nak,” ucap Mama seraya mengelus dadanya.


Alih-alih merasa bersalah. Farhan justru tertawa. Ia kemudian mempererat pelukannya di tubuh Mama. Ia tenggelamkan wajahnya di ceruk leher wanita cukup lama.


“Farhan, kamu lihat dong Mama sedang apa, Nak,” kata Munifa. Ia merasa anak tengahnya itu sedikit manja kali ini. Bukannya tidak suka, tetapi terkesan aneh karena tak biasanya Farhan seperti itu. Ya, memang akhir-akhir ini Farhan sering bertingkah aneh dan kadang linglung jika diajak bicara.


“Sebentar saja, Ma. Kapan lagi Farhan bisa seperti ini?”


Mama terdiam. Benar apa yang dikatakan Farhan. Kapan lagi mereka bisa terjebak dalam situasi seperti ini? Waktu seperti tak mengizinkan mereka dekat. Jarak seakan terus melintang dengan lebar di antara mereka. Berbeda dengan Reyhan. Bersama Reyhan, apa pun mudah untuk dilakukan oleh Mama. Bahkan, untuk menyuapi makan Reyhan pun masih biasa dan mudah bagi Mama.


Mama melepaskan alat dapur yang ada di genggamannya. Ia kemudian menyentuh punggung tangan Farhan yang melingkar di perutnya dengan sebelah tangan. Sedang tangan lainnya ia gunakan untuk menyentuh puncak kepala Farhan. “Kenapa, Nak? Kamu ada masalah? Cerita, Sayang. Jangan dipendam sendiri,” ujar Mama. Ia pikir Farhan sepertinya memang sedang ada masalah dan butuh teman untuk cerita. Sebab itulah, anak itu bersikap demikian. Lalu, Mama akan mencoba untuk menyediakan sepasang indra pendengarannya untuk mendengar setiap keluh kesah Farhan. Ia akan menjadi ibu yang baik dan dekat dengan putranya.


“Nggak ada, Ma. Farhan kangen sama Mama,” ucap Farhan.

__ADS_1


Astaga! Ada apa ini? Pikir Mama. Baru kali ini ia mendengar ujaran hati seorang Farhan setelah sekian lama. Ucapan lelaki itu juga begitu menyentuh hatinya.


“Farhan sayang sama Mama.” Kali ini suara Farhan terdengar bergetar. Hal itu membuat Mama melepaskan pelukan lelaki itu dari tubuhnya. Lalu, Mama memutar badan dan berdiri berhadapan dengan anak tengahnya tersebut. Ditangkupnya wajah Farhan dengan kedua tangan. Ia pertemukan tatapannya dengan sorot mata Farhan yang sudah berkaca-kaca.


“Mama juga sayang sama kamu, Nak,” ucap Mama. Ia menyeka air mata Farhan yang lolos begitu saja. Kemudian, ia mengulum senyumnya. “Kenapa nangis, Sayang?”


Farhan memejamkan matanya. Melihat senyum itu membuat hati Farhan sakit. Kenapa? Ia takut jika senyum itu luntur ketika Mama tahu bagaimana kondisi yang sebenarnya. Ia takut jika senyum manis itu berubah menjadi duka.


“Nak, Mama mungkin belum bisa menjadi ibu yang baik dan adil untuk kamu. Tapi, mulai sekarang Mama janji untuk selalu memberikan waktu untukmu,” ucap Mama dengan tulus. “Cerita, Sayang, kalau kamu memang ada masalah. Mama di sini. Mama siap untuk membantumu.”


“Farhan sakit, Ma. Farhan sekarat.” Farhan hanya bisa berucap di dalam hati. Ia belum bisa mengucapkan hal itu dan didengar langsung oleh ibunya.


Sekali lagi Mama menyeka air mata Farhan. “Nggak apa-apa kalau memang kamu belum siap. Mama nggak akan memaksamu. Tapi, kalau kamu sudah siap. Jangan ragu cerita sama Mama, ya, Sayang.”


“Nggak usah, Nak. Biar Mama saja. Nanti tangan kamu kotor.”


“Ma, nggak apa-apa lho. Kalau kotor kan nanti bisa Farhan cuci.”


Mama tertawa mendengar kepolosan anaknya. Ia kemudian menganggukkan kepala dan memberi izin Farhan untuk membantunya.

__ADS_1


Pasangan ibu dan anak itu begitu kompak menyelesaikan masakan untuk makan malam. Sesekali tawa renyah terdengar dan menggema mengisi dapur. Entah kapan terakhir suasana ini tercipta di antara mereka. Sungguh ini adalah satu peristiwa langka yang seharusnya mereka abadikan meski hanya dengan kamera ponsel. Lalu, akan mereka putar kembali di kemudian hari untuk mengenang kenangan.


“Mama nggak nyangka kamu bisa masak, Farhan.”


“Makanya Mama jangan remehin Farhan dong,” balas Farhan dan tertawa.


Mama juga tak urung ikut tertawa. Ia biarkan putranya itu bicara panjang lebar seraya membanggakan diri dengan kemampuan memasaknya. Sedang ia hanya mendengar dan memperhatikan Farhan dari samping. “Sebenarnya apa yang terjadi denganmu, Nak? Kenapa kamu terlihat berbeda dan kurus seperti ini?” Mama bertanya-tanya dalam hati.


“Ma, jangan menatap Farhan seperti itu. Farhan tahu kok kalau Farhan nggak kalah ganteng sama Kakak,” ujar Farhan mencandai ibunya. Kemudian, ia tertawa lagi. Tawa yang lebih renyah dari sebelumnya.


“Iya. Anak-anak Mama memang ganteng dan cantik.”


Hening.


“Nak, baik-baik, ya.”


Farhan tertegun mendengar ucapan Mama. Ia memang tidak begitu paham maksud dari kalimat itu. Namun, ia curiga jika sebenarnya Mama sudah tahu tentang kondisinya. Hanya saja sedang berpura-pura.


“Sehat-sehat, Nak, biar ada yang bantu Mama masak.” Mama menyentuh sebelah pundak Farhan dengan lembut.

__ADS_1


“Tentu saja, Ma. Farhan akan baik-baik saja dan akan bantuin Mama masak kapan pun Mama mau,” balas Farhan dengan nada ceria. Ia tidak ingin merusak moment langka ini dengan kesedihannya. Biarkan urusan nanti perihal kondisinya. Untuk saat ini, ia harus memanfaatkan golden time bersama cinta pertamanya di dunia ini.


Terlalu asyik menikmati pengalaman langka membuat Mama dan Farhan tidak menyadari bahwa ada sepasang mata dari balik dinding pembatas dapur dengan ruangan lain yang tengah memperhatikan mereka. Segaris lengkungan cantik menghias wajah itu. Ada rasa hangat yang berdesir di dalam tubuhnya. Benar-benar ini adalah pemandangan indah yang entah kapan lagi akan terlihat.


__ADS_2