
Sesuai rencana yang sudah dirancang Papa semalam. Selepas bertemu dengan salah satu investor besar di luar kantor. Papa langsung membawa kendaraan roda empatnya menuju arah rumah sakit. Ia menemukan jawaban atas apa yang ia temukan semalam di kamar anak tengahnya. Beruntungnya, masih ada sebutir pil di dalam botol yang ia temukan tersebut. Itu cukup nanti ia serahkan kepada pihak apotek untuk mengetahui oba tapa itu sebenarnya.
Dari tempat di mana melakukan pertemuan. Ia hanya menempuh waktu tak sampai tiga puluh menit untuk kemudian tiba di rumah sakit. Pria yang masih dalam balutan pakaian formal itu lantas memarkirkan kereta besinya dengan rapi. Dan tak ingin membuang-buang waktu, ia membawa sepasang tungkai bealaskan sepatu pantofel mewah itu ke dalam gedung dengan warna dominan putih tersebut.
Papa yang sudah hafal hampir setiap inci rumah sakit itupun tanpa perlu bertanya langsung menuju letak apotek. Beberapa kali ia harus berhenti sebab sapaan dari beberapa petugas rumah sakit yang mengenalnya. Tidak heran, bukan, jika banyak yang mengenal Papa? Bukan karena jabatan dan kekuasaan tentunya, tetapi karena seringnya ia datang ke rumah sakit untuk menemani Reyhan dulu. Dan mungkin ia juga akan sering juga mengunjungi tempat ini, sebab ia harus menemani juga cucu pertamanya yang juga menderita penyakit yang sama dengan ayahnya—Reyhan.
“Selamat siang, Pak. Ada yang bisa kami bantu?” tanya salah seorang Apoteker yang bertugas di sana.
Papa mengeluarkan botol yang ia temukan di kamar Farhan semalam. Lalu, menunjukkan benda itu pada Apoteker tersebut. “Boleh dicek, Mbak, ini obat apa?” tanya Papa dan menyerahkan botol itu.
Tampak Apoteker tersebut memeriksa isi dari botol itu. keningnya mengkerut dalam. Lalu, ia mengangkat kepala dan menatap Papa dengan tatapan yang entah mendeskripsikan apa. “Apakah Bapak mengonsumsi obat ini?” tanya Apoteker itu dengan nada suara yang terdengar sangat hati-hati. Kentara sekali ia seperti menjaga agar Papa tidak tersinggung dengan pertanyaannya.
Papa menggelengkan kepala. “Bukan saya. Tapi, anak saya.”
“Apakah anak Bapak menderita kanker? Ini adalah salah satu obat untuk mengurangi rasa sakit dan kejang akibat kanker, Pak,” terang Apoteker tersebut.
Deg! Jantung Papa seakan berhenti berdetak. Begitu juga dengan bumi yang tengah ia pijak seakan berhenti berputar. Mendengar penuturan Apoteker itu mengingatkan Papa akan kejadian yang beberapa kali terakhir ia saksikan terjadi pada Farhan. Seketika itu juga tungkainya terasa lemas. Nyaris ia terjatuh jika tidak dengan cepat ia berpegangan. Hal itu juga sukses membuat Apoteker tersebut merasa khawatir akan kondisi Papa.
“Bapak nggak apa-apa?”
Papa hanya menganggukkan kepala. Lalu, ia mengambil kembali botol obat tersebut dan berlalu begitu saja tanpa suara. Bahkan, untuk mengucapkan terima kasih saja ia tidak sempat. Namun, beruntung pegawai rumah sakit yang bertugas di bagian obat-obatan itu tidak menggerutu akan sikap Papa. Barangkali ia paham bagaimana perasaan Papa.
Papa kembali ke mobil. Ia tak mengendarai kendaraannya untuk berlalu. Ia justru berdiam diri di sana dan hanya bisa menatap nanar botol yang ada di genggamannya kini. Detik berikutnya tangan Papa menggenggam sangat erat benda itu. Kanker? Jadi, selama ini Farhan sudah menyembunyikan rahasia sebesar itu darinya? Bagaimana bisa anak itu melakukan hal itu padanya? Bagaimana bisa Farhan memilih untuk melewati masa sulitnya sendirian?
Papa merasa bersalah. Sangat. Selama ini ia sudah bersikap abai, bahkan melakukan hal yang sangat keras pada Farhan. Ia terlalu fokus pada si sulung sampai ia lupa bahwa ada putranya yang lain membutuhkan perhatian dan kasih sayangnya. Lalu, sekarang bukankah sudah terlambat Papa merasa bersalah seperti ini? Putranya kini sedang berjuang keras, rupanya. Dan Papa tidak tahu sudah separah apa kanker yang diderita oleh Farhan. Astaga! Sungguh Papa bukanlah ayah baik, rutuknya di dalam hati. Ia sudah tidak berlaku adik pada anak-anaknya. Dan sekarang anak yang selalu ia abaikan itu tengah mengidap penyakit mematikan.
Papa mengusap wajahnya kasar. Lalu, ia menyeka air matanya dengan cepat yang lolos begitu saja tanpa sadar. Kesakitan yang sama kembali Papa rasakan setelah dulu ia mendengar vonis dokter tentang Reyhan, lalu beberapa bulan lalu tentang Radit. Hal itu tentu saja sangat menyakitkan bagi sosok ayah seperti Papa. Namun, kesakitan yang dirasakan Papa kali berlipat-lipat ganda rasanya. Bagaimana tidak? Rasa yang tercipta pertama karena fakta tentang kondisi Farhan. Lalu, kesakitan kedua atas rasa sesal karena mengingat perlakuannya terhadap Farhan yang sangat keras dan tidak adil. Astaga! Papa menyesali itu. Sungguh sangat-sangat menyesal.
__ADS_1
Papa menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi kemudi. Ia teringat bagaimana Farhan yang meminta maaf dan menyebutkan tentang permintaan terakhir serta kematian di dalam mimpinya beberapa waktu lalu. Mimpi yang terasa begitu nyata dan belum bisa dienyahkan dari dalam kepala oleh Papa. Kini, Papa berpikir bahwa mungkin mimpinya malam itu adalah pertanda akan kondisi Farhan. Namun, ia tidak mau jika mimpinya itu pertanda bahwa akan ada akhir di dalam ceritanya bersama sang anak tengah. Tidak! Itu tidak boleh terjadi. Papa belum menebus dosa-dosa atas kesalahan yang ia lakukan pada putranya. Tuhan tidak boleh membawa pergi Farhan. Papa tidak akan membiarkan itu terjadi. “Nak, jangan menyerah. Papa akan menemanimu berjuang,” lirih Papa.
¶¶¶
Sampai sore itu tiba. Papa sudah duduk di bibir tempat tidur Farhan. Ia yakin hari ini anak itu akan pulang. Sebab, ia sudah berpesan sebelumnya pada Reyhan untuk tidak membiarkan Farhan lembur seperti semalam.
Papa masih memegangi botol obat itu dengan erat. Entah sudah berapa kali pria itu mengembuskan napas panjang karena dadanya terasa sesak setelah mendengar kabar buruk itu. Ia bahkan sampai detik ini belum angkat suara pada siapapun. Termasuk pada Mama sekalipun. Ia ingin mendengar lebih dulu penuturan Farhan. Dan besar harapan Papa bahwa apa yang ia dengar dari pegawai rumah sakit itu tidaklah benar.
Nyaris empat puluh menit Papa menunggu di dalam kamar dengan nuansa gelap itu sampai pintu terbuka dari luar dan menampilkan sosok Farhan dengan penampilan yang tidak lagi serapi pagi tadi. Pandangan Papa langsung menyorot Farhan yang hanya berdiri dan melongo di ambang pintu masih dengan tangan yang menyentuh kenop pintu. Farhan tentu kaget melihat keberadaan sang ayah di dalam kamarnya. Apa yang dilakukan Papa di sini? Itulah pertanyaan pertama kali yang muncul di dalam benak Farhan. Atau Papa akan mempermasalahkan sesuatu dengannya lagi? Akan tetapi, Farhan tak merasa melakukan kesalahan apa pun. Bahkan, pekerjaan yang mengharuskannya lembur semalam baru ia serahkan pada Reyhan sebelum pulang.
Farhan tertegun di tempat saat Papa tiba-tiba beranjak mendekati dan memeluknya dengan erat. Ia bisa mendengar isakan sang ayah. Juga dengan suara lirih berisi permintaan maaf itu.
“Maafin Papa, Nak. Maafin Papa karena sudah memperlakukanmu buruk selama ini.”
Sejak hubungannya dengan Papa membaik, Farhan tidak ingin mengingat lagi perlakuan Papa padanya meskipun jelas itu tidak mudah. Namun, ia tidak ingin mengingat hal itu semata-mata karena ia tidak ingin menaruh benci pada pria itu. Sudah bukan waktunya lagi membenci ayahnya sendiri meski perlakuan Papa selama ini memang sangat menyakitinya. Baik secara fisik maupun mentalnya.
Waktunya sudah tidak lama lagi. Farhan tidak ingin menghabiskan waktu yang hanya tersisa sedikit itu hanya dengan membenci siapapun. Ia ingin menikmati itu dengan hal-hal baik dan membuatnya bahagia. “Sudah, Pa. Farhan sudah melupakan semuanya kok. Jadi, Papa nggak perlu lagi minta maaf seperti ini,” ucap Farhan. Ia kemudian mengelus punggung ayahnya dengan lembut yang masih bergetar. Bergetar karena tangis pria itu masih belum mereda. Hal itu sukses membuat Farhan berpikir bahwa memang ayahnya kini sudah berubah. Kapan ia melihat pria itu menangis hanya karena dirinya? Baru kali ini. Dan entah karena tangisan sebatas penyesalan atau memang ada unsur lainnya.
Farhan menganggukkan kepalanya pasti. Ia menuntun tubuh Papa untuk beranjak menuju tempat tidur agar mereka bisa bicara dengan lebih nyaman di sana. Tidak enak jika ia harus bicara bersama dengan posisi berdiri di ambang pintu kamar. “Papa mau bicara apa?”
Papa mengeluarkan benda yang ia temukan semalam. “Kamu bisa jelaskan ini botol oba tapa?” tanya Papa. Ia sengaja tidak langsung membombardir Farhan dengan mengatakan apa yang sudah ia ketahui. Ia ingin melihat apakah Farhan akan jujur padanya atau justru sebaliknya.
Farhan tidak bisa berkata-kata lagi. Ia hanya menatap lekat benda yang ada di tangan ayahnya. Hingga sentuhan lembut di lengannya berhasil menarik paksa dirinya dari alam yang ia ciptakan sendiri di dalam kepala. Adalah memikirkan bagaimana Papa bisa mendapatkan botol itu.
“Farhan, kamu bisa jawab Papa ‘kan, Nak?”
“Itu hanya botol vitamin yang sering Farhan konsumsi, Pa. Kan Papa tahu sendiri kalau akhir-akhir ini Farhan sering lembur,” jawab Farhan dengan asal, tetapi suaranya terdengar pasti. Ya tentu saja ia akan menjalankan kebohongan ke sekiannya dengan sangat serius sebab ia tak ingin orang lain tahu tentang kondisi yang sebenarnya, meski itu orang tuanya sendiri.
__ADS_1
Helaan napas panjang Papa terdengar. Rupanya, Farhan masih belum mau jujur juga padanya. Ia jelas tidak akan membiarkan hal itu terjadi terus menerus. Sebab, kanker bukanlah penyakit yang bisa dianggap remeh. Kanker adalah penyakit yang harus segera mendapatkan penanganan. “Ini obat pereda sakit dan kejang untuk penderita kanker,” ucap Papa dengan menatap sang putra begitu lekat. Detik itu juga ia melihat raut wajah Farhan berubah, yang semulanya biasa saja berubah menjadi takut. Papa menyentuh kedua pundak Farhan. “Kenapa kamu menyembunyikan ini dari Papa, Nak?”
“Pa—”
“Sejak kapan? Dan kanker apa yang sebenarnya bersarang di tubuhmu?” tanya Papa cepat dan sukses memotong ucapan Farhan.
Farhan hanya bisa menundukkan kepalanya dalam. Memang, hari ini pasti akan datang juga. Hari di mana orang lain tahu tentang apa yang ia sembunyikan.
“Papa nggak marah sama kamu. Nggak, Nak. Tapi, tolong jawab Papa.”
Sudah bukan waktunya mengelak lagi, bukan? Farhan tak angkat suara. Ia menurunkan tangan Papa dari pundaknya dan bangkit. Ia berjalan menuju lemari pakaian dan mengambil amplop cokelat yang pernah ditemukan Nadhira tanpa sengaja dulu. Ia tersenyum kecut. Membalik badan dan kembali mendekati Papa. Ia menyerahkan benda tersebut pada Papa dan membiarkan Papa untuk membaca sendiri isi surat itu.
Dada Papa terasa sesak membaca isi surat dalam amplop yang diberikan Farhan. Ia kemudian meletakkan benda tersebut di sampingnya dan menatap Farhan dengan tatapan sedih. Diraihnya dengan cepat tubuh Farhan, lalu ia peluk dengan sangat erat. “Kenapa, Nak? Kenapa kamu sembunyikan hal sebesar ini dari kami?”
“Farhan nggak mau merepotkan Papa dan semuanya. Apalagi dengan kondisi Kakak kemarin dan ditambah lagi dengan kondisi Radit,” terang Farhan tanpa berdusta.
“Papa akan mencari pengobatan terbaik untukmu, Nak. Papa janji.”
Farhan mengurai lebih dulu pelukan itu. “Nggak perlu, Pa, Presentase kesembuhan Farhan nggak sampai lima puluh persen. Jadi, Papa nggak perlu buang-buang uang untuk membiayai Farhan.”
Kepala Papa menggeleng cepat. “Nggak, Nak. Kamu harus sembuh. Kamu harus berjuang. Papa janji akan selalu bersamamu.”
“Pa—”
“Nak, ayo berjuang sama-sama. Nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini selama Allah mau. Kamu bisa lihat Kakak, ‘kan? Sekarang Kakak bisa sembuh karena Kakak terus berjuang.”
Farhan berusaha memikirkan ucapan ayahnya, memang benar, berkat usaha Reyhan yang terus berjuang. Kakaknya itu sekarang bisa sembuh dan hidup normal. “Tapi, kalau nanti Farhan lelah dan mau istirahat. Tolong jangan paksa Farhan, ya, Pa.”
__ADS_1
Papa menghela napas panjang. Lalu, ia terpaksa menganggukkan kepala. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana ia bisa membuat Farhan setuju dulu dengan permintaannya. Papa lalu memeluk tubuh putranya.
Pasangan ayah dan anak yang pernah terpisah jarak tak kasat mata itu saling memberikan kehangatan satu sama lain dalam satu pelukan.