
Suasana kamar dengan nuansa gelap itu terasa sepi. Namun, lampu di sana masih menyala dengan sempurna dan belum terganti dengan lampu tidur. Padahal, jam sudah menunjukkan pukul setengah satu pagi. Jam di mana seharusnya orang-orang sudah merebahkan tubuh dan tenggelam di dunia mimpi. Akan tetapi, hal itu tak berlaku untuk Mama. Ia masih setia memandangi wajah pucat Farhan dan menyisir rambut anak tengahnya yang sudah terlelap. Masih jelas Mama rasakan suhu tubuh putranya belum juga kunjung turun. Hal itu sukses membuat Mama menghela napas panjang dan mengajak otaknya bergerilya memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada Farhan setelah melihat kejadian di meja makan yang berhasil membuat detak jantungnya berdegup teramat kencang.
Mama. Sebagai seorang wanita bergelar ibu. Ia tentu sangat takut terjadi hal buruk dengan anaknya. Apalagi jauh sebelum itu ia sudah menghadapi satu keadaan di mana ia seringkali menyaksikan anak pertamanya terjebak dalam kesakitan-kesakitan yang bahkan ia sendiri sebagai seorang ibu tak bisa membantu meringankan rasa sakit yang dirasakan anaknya. Dan Mama tidak ingin kesakitan dalam bentuk apa pun juga dirasakan oleh anak keduanya. Terlalu sulit dan menyakitkan bagi Mama jika hal itu benar-benar terjadi. Sebab, tak mudah bagi Mama menerima keputusan takdir dan permainan semesta yang menimpa buah hatinya. Kendati pada akhirnya sebagai seseorang yang beriman. Mau tidak mau, suka tidak suka, ia harus melakoni jalan cerita itu.
Wanita itu berpindah posisi. Ia duduk tepat di samping kepala Farhan. Handuk kecil yang digunakan untuk mengompres anaknya diambil kembali. Lantas, ia celupkan ke dalam air yang sudah disiapkan pada baskom di atas meja. Kemudian, ia letakkan lagi handuk tersebut di kening Farhan dengan harapan bisa membantu untuk menurunkan demam sang anak.
Mama mengulang perlakuannya menyisir rambut lelaki yang sudah terlelap selepas meminum dua butiran kecil yang disiapkan Nadhira. Tunggu dulu! Apakah dua butiran itu memang benar-benar hanya vitamin seperti apa yang dikatakan Nadhira dan Farhan. Namun, entah kenapa Mama tidak bisa mempercayai hal itu begitu saja. Apalagi mengingat perlakuan Nadhira pada Farhan di meja makan. Perempuan itu seperti sangat hafal dan terbiasa dengan tindakan yang harus dilakukan untuk menghadapi kondisi seperti yang dialami Farhan yang bagi Mama begitu tiba-tiba. Lantas, apakah Mama harus menanyakan hal itu pada Nadhira?
Mama menghela napas panjang. Ia bingung harus melakukan apa. Rupanya jarak yang sempat tercipta di antara dirinya dengan Farhan sangat berdampak pada anak tengahnya itu tak bisa terbuka padanya. Farhan hanya bercerita jika ia bertanya. Itupun cerita-cerita yang terdengar sangat kaku. Berbeda dengan cerita yang sering mengalir dari bibir anak sulungnya. Santai dan lugas.
Suara lenguhan dan gerakan kecil Farhan berhasil menyita atensi Mama. Sontak wanita ia mendekatkan wajahnya dengan sang anak. “Hai! Kenapa bangun?” tanya Mama dengan nada teramat lembut. Ia juga tak lupa mengulum senyum manis menghias wajah tuanya.
Farhan memicingkan mata. Pandangannya masih tampak memburam. Namun, cahaya lampu yang terang membantunya untuk bisa melihat senyum ibunya. “Ma,” panggilnya lirih. Ia menyentuh tangan Mama yang tengah mengelus pipinya yang kini sudah terlihat sangat tirus. Hingga tulang pipinya tampak begitu jelas. “Kenapa belum tidur?” lanjut Farhan bertanya dengan suara paraunya. Ia bahkan tidak lupa tersenyum untuk membalas senyum manis sang ibu. Sedangkan tangan sebelahnya bergerak untuk menyingkirkan handuk kecil di kening.
“Dingin, Ma,” ucap Farhan saat tangan Mama bergerak untuk mencegahnya.
Mama mengangguk paham. Ia tidak ingin memaksakan apa pun pada anaknya. Sebab, kenyamanan Farhan adalah prioritasnya sekarang. “Ya sudah Mama ganti selimutnya dengan selimut yang lebih tebal, ya, Nak. Biar nggak kedinginan lagi.”
Alih-alih menjawab. Farhan justru mencoba bangkit. Namun, karena tubuhnya yang masih sangat lemas membuatnya hampir saja limbung ke belakang. Beruntung Mama dengan cepat bergerak untuk menahan tubuh anaknya yang kian hari ia sadari kian kehilangan bobot. Hal itu berhasil membuat hati Mama terasa dicabik-cabik dengan brutal.
“Ma, bantu sandaran. Lemas banget badan Farhan,” ucap Farhan. Setelah itu, ia menghela napas berulang kali. Sampai ia rasakan tangan Mama berusaha membantunya untuk bersandar. Dari perlakuan itu Farhan seketika merasakan hatinya menghangat. Entah kapan terakhir ia merasa sangat diperhatikan seperti sekarang.
“Ma,” panggil Farhan dengan pandangan yang sudah mengarah pada Mama. Ia memandang wajah wanita itu masih dengan keadaan buram. Farhan bahkan tidak paham. Kenapa kadang-kadang ia merasakan pandangannya begitu tidak jelas. Apalagi setelah mendapatkan serangan.
__ADS_1
“Kenapa, Sayang? Mau sesuatu?”
Farhan menggeleng pelan. “Terima kasih, Ma, sudah menjadi ibu hebat untuk Kakak, Farhan, dan Adek,” ucap Farhan dengan suaranya yang terdengar sangat kecil. Beruntung jaraknya dengan Mama teramat sangat dekat hingga suaranya bisa menembus indra pendengaran sang ibu. Ia menyentuh punggung tangan dengan sangat lembut dan menggenggamnya erat. Lantas, ia mengangkat tangan sang ibu dan diciumnya dengan penuh hangat dan cukup lama.
Mama. Hanya bisa tertegun melihat perlakuan anak tengahnya itu. Hatinya pilu. Hingga setetes benda cair yang terasa hangat jatuh di punggung tangannya yang masih setia dicium oleh Farhan. Farhan menangis. Anak yang lebih sering ia abaikan itu menangis seraya mencium tangannya. Ada apa?
“Maafin Farhan belum bisa menjadi anak yang dan membanggakan seperti Kakak. Atau bahkan mungkin tidak akan bisa menjadi seperti itu.” Isakan Farhan semakin menjadi-jadi. Ia peluk tangan ibunya dengan erat seraya melafalkan kata maaf berulang-ulang.
Mama akhirnya tidak bisa lagi membendung air matanya. Sebagai manusia yang diciptakan menjadi makhluk perasa. Mama merasa sangat tersentuh akan sikap Farhan. Padahal, Mama bukanlah sosok orang tua seperti Papa yang menginginkan kedua anak lelakinya mengikuti jejaknya bergelut di dunia bisnis. Mama tak pernah sekalipun menuntut anak-anaknya tentang apa pun. Ia selalu memberikan kebebasan setiap anaknya untuk menggeluti dunia sesuai passion mereka.
Namun, mendengar penuturan sang anak membuat Mama berpikir bahwa selama ini Farhan sudah sangat tertekan. Farhan harus menjadi seseorang yang sesuai dengan keinginan Papa. Bukan menjadi Farhan yang sesunngguhnya.
Sebab Mama tak bisa berkata-kata. Ia meraih tubuh Farhan dan merengkuhnya penuh kasih. Dengan sangat jelas Mama bisa merasakan tubuh lelaki itu bergetar dan sesenggukan. Ia mengelus punggung Farhan dengan lembut. Tak ingin ia menghalau tangis anaknya. Sebab, mungkin dengan begitu Farhan merasa sedikit lega.
“Ma, bilang sama Papa. Farhan akan berusaha menjadi petarung yang hebat di sisa hidup Farhan.”
Kalimat itu berhasil menghentikan detak jantung Mama. Kenapa bisa-bisanya Farhan membahas tentang sesuatu yang seringkali dilontarkan Reyhan? Ada apa sebenarnya?
Mama mengurai pelukannya dan memandang lekat sepasang netra dengan tatapan sayu itu. Tak peduli jika melihat hal itu bisa meruntuhkan air matanya lebih banyak lagi. Namun, ia ingin menemukan sesuatu yang tak bisa diucapkan oleh sang anak. Setidaknya sebuah isyarat yang bisa ia baca untuk kemudian ia realisasikan untuk Farhan. Akan tetapi, yang bisa Mama tangkap hanyalah kesakitan. Rupanya senyum yang terpatri di wajah pucat anaknya hanya sebuah kamuflase untuk menutupi kesakitan-kesakitan Farhan selama ini.
“Mama sudah nggak mau peluk Farhan lagi? Padahal, Farhan sudah nyaman di pelukan Mama. Entah kapan lagi kan Farhan bisa merasakan itu?”
Hening.
__ADS_1
“Ma, Farhan nggak mau bikin Mama menyesal nanti. Kalau Farhan sudah pergi, Mama tidak bisa lagi memeluk Farhan.”
Sayangnya kalimat itu hanya bisa terlontar dalam hati. Tak kuat rasanya Farhan melisankan kalimat itu. Padahal, kalimat-kalimat seperti itu sudah sangat seringkali memaksa untuk ke luar.
“Ya sudah, Ma, nggak apa-apa. Farhan istirahat lagi, ya. Mama juga bisa balik ke kamar Mama untuk istirahat,” ucap Farhan dengan mengulum senyumnya. Ia menyentuh tangan Mama dan memainkan ibu jarinya di punggung tangan wanita itu. Lantas, mengecupnya cukup lama.
Tanpa kata Mama kembali tubuh anaknya ke dalam pelukan. Ia rengkuh tubuh yang tak disadari kini sudah mulai ringkih itu dengan sangat erat. Mama salurkan semua perasaan sayangnya kepala sang anak. Ia cium puncak kepala Farhan dengan sayang. Kemudian ia bisikkan sebuah kalimat yang bagi Farhan azimat terhebat. “Mama sayang kamu, Nak.”
Cukup lama sepasang ibu dan anak itu tenggelam dalam pelukan. Tak ada suara yang terdengar. Hanya suara isak yang saling beradu.
“Mama tau, nggak?” tanya Farhan dengan suara seraknya yang berhasil mengusir hening.
“Apa, Sayang?”
“Selain bisa membuat Papa bangga sama Farhan. Harapan Farhan lainnya adalah Farhan bisa mengembuskan napas terakhir di pelukan Mama.”
Mama tak menjawab. Ia semakin mempererat pelukannya di tubuh sang anak. Mendengar kalimat itu membuat ketakutannya semakin menjadi-jadi. Farhan tidak boleh pergi.
“Makanya, sekarang Mama harus sering-sering peluk Farhan. Biar harapan Farhan tercapai dan bisa membuat Farhan tidur dengan tenang meski nanti di sana akan sendirian,” lanjut Farhan. Ia berucap dengan senyum semringah. Tak ada lagi air mata yang mengalir dari sepasang netra sayunya.
“Mama akan selalu memelukmu, Nak. Tapi, kamu nggak boleh pergi. Kamu harus sama Mama di sini.”
Tubuh Farhan merosot. Lelah sudah Farhan memaksakan dirinya kuat. Lelah sudah ia mengerahkan tenaganya untuk bersikap baik-baik saja. Perlahan kelopak matanya pun ikut terpejam.
__ADS_1
“Farhan, bangun. Kamu masih dengar Mama, Sayang?” Mama mengguncang tubuh anaknya. Ia takut tubuh itu tak akan bergerak lagi. Ia takut jika sepasang kelopak mata itu tak terbuka lagi. Ia takut jika deru napas yang menyentuh kulitnya itu tak lagi berembus. Ia takut jika takdir membawa pergi putranya.
“Farhan cuma mau tidur, Ma,” bisik Farhan yang sukses membuat ketakutan Mama menguar. Kendati tak semua ketakutan itu ikut menguar bersama udara malam.