
“Bagaimana? Sudah siap semuanya?” tanya Papa yang sudah berdiri di samping mobilnya dan bersiap-siap masuk. Namun, sebelum itu ia berusaha memastikan bahwa semua persiapan sudah beres. Ya, hari ini Papa dan seluruh anggota keluarganya akan melakukan piknik sesuai permintaan Farhan sebelum ke luar dari rumah sakit. Papa ingin membayar janjinya pada anak tengahnya itu. Juga ingin mengganti waktu yang dulu tak pernah ia berikan pada Farhan. Ya sebut saja sekarang Papa sudah mulai ingin menebus kesalahan-kesalahan masa lalu yang pernah ia lakukan untuk anak tengahnya itu.
“Farhan di mana?” tanya Papa lagi sebab tak melihat atensi anak itu. Namun, belum sempat ada yang menjawab. Farhan lebih dulu muncul dari balik pintu dengan senyum lebarnya. Hal itu juga sukses membuat Papa tak bisa untuk tak mengulum senyumnya. Ia kemudian meminta semua anggota keluarganya memasuki mobil. Sedang beberapa pekerja yang ia ajak memasuki mobil khusus yang sudah disiapkan.
Keluarga besar Oktara itu tersenyum semringah. Setelah bertahun-tahun lamanya tak pernah piknik. Kini, mereka bisa melakukannya lagi. Memang selalu ada hal baik yang bisa dipetik dari setiap kejadian yang menimpa. Andai saja tidak ada penyakit yang bersarang di kepala Farhan. Mungkin sampai detik ini, keluarga itu masih saja terasa ada jarak tak kasat mata yang membentang dengan luas hingga membuat mereka merasa jauh meski berada di atap yang sama.
Mobil yang dikendarai Papa melaju meninggalkan area rumah megah itu, ke luar dari gerbang yang menjulang tinggi lalu bergerak maju hingga sukses membelah jalanan ibu kota. Tentu tidak terpungkiri bahwa di dalam hati seisi mobil itu sudah berdentum rasa bahagia yang begitu banyak. Kapan lagi mereka akan seperti ini? Kapan lagi akan memulai kedekatan baru setelah terbentang jarak panjang? Saat-saat seperti ini memang pernah menjadi mimpi. Namun, sekarang Tuhan sudah berbaik hati pada mereka hingga bisa berkumpul dalam ruang yang sama dan saling berbagi suka cita.
Farhan yang duduk di kursi di samping kemudi menatap satu per satu anggota keluarganya. Ada desir kehangatan yang terasa di dalam tubuhnya bersama rasa syukur yang begitu hebat. Di antara kesakitan-kesakitan yang ia alami selama ini, kini Tuhan balas dengan keinginannya yang menjadi nyata. Berkumpul kembali seperti dulu
Sudahlah. Farhan sudah menghentikan ingatan-ingatan seperti itu sejak kata maaf Papa menguar dengan begitu tulus seiring pelukan hangat mendekap tubuhnya. Apa yang ia lakukan barusan bukan mengingat sebab benci, tetapi sebab rasa syukur yang kini tak henti-hentinya Farhan langitkan. Ucapan terima kasih yang tak terputus kepada Tuhan-nya yang begitu baik memberikan waktu untuk kembali menikmati berdiri di tengah keluarga yang harmonis.
“Ada apa?” tanya Papa memecah hening di dalam mobil saat tak sengaja indra penglihatannya menangkap Farhan memandang ke belakang—ke arah Mama, Reyhan, dan Nadhira.
Farhan menggelengkan kepala seraya mengulum senyum tipisnya. “Tidak apa-apa,” jawabnya singkat. Kemudian, menyandarkan tubuh yang kini perlahan stabil. Ia membuka kupluk yang menutupi kepalanya hingga mempertontonkan kepala yang sudah kehilangan mahkotanya itu. Lalu, ia kembali mengulum senyum lebih lebar lagi.
˚˚˚
“Farhan, bangun, Nak. Kita sudah sampai.” Papa mengguncang pelan lengan anak tengahnya yang sedang terlelap. Harusnya Farhan menikmati perjalanan pertamanya setelah ke luar dari rumah sakit dengan asyik. Namun, anak itu justru memilih terlelap selama di dalam perjalanan. Papa pun tak berniat membangunkan Farhan. Sebab, pikirnya Farhan memang masih butuh istirahat untuk mengembalikan tenaganya.
__ADS_1
Tubuh Farhan menggeliat. Terdengar pula lenguhan pelan dari bibir yang masih tampak pucat itu. Sepasang netra itu bergerak pelan hingga terbuka sempurna. Sempat memicing sebab menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina.
“Kita sudah sampai,” ucap Papa.
Farhan langsung menoleh ke luar jendela mobil. Dan yang menyambutnya adalah hamparan pasir putih yang begitu cantik. Laut biru yang begitu luas dan langit yang begitu cerah. Senyumnya mengembang. Piknik ke pantai sesuai keinginannya. Ia lantas memperbaiki posisi duduknya. “Pa, ayo turun,” ujarnya tak sabar.
Papa menganggukkan kepala dan segera turun. Ia berjalan berdampingan dengan Farhan untuk menyusul anggota keluarga yang lain yang lebih dulu berjalan. “Farhan,” panggil Papa yang sukses menghentikan langkah putranya.
Farhan menoleh ke belakang. “Kenapa, Pa?”
“Kalau merasa nggak enak. Langsung bilang Papa, ya,” ucap Papa. Ia khawatir jika Farhan akan mengalami penurunan kondisi lagi. Meskipun dokter sudah mengatakan bahwa Farhan sudah sembuh.
Keluarga Oktara itu lantas memilih duduk di hamparan pasir putih tanpa merasa takut kotor. Mereka begitu menikmati waktu. Khususnya, lelaki dengan kupluk berwarna hitam itu. Senyumnya tak pernah tanggal. Namun, tiba-tiba setetes air mata lolos dari sudut netranya. Ia menyeka dengan cepat butiran kristal bening itu agar tak satupun yang menyadari. Hanya saja ia kalah cepat. Reyhan lebih dulu menyadarinya.
Reyhan bangkit dari tempat duduknya dan langsung memeluk adik pertamanya itu. “Sudah. Jangan nangis kayak gitu. Harusnya kamu senang.”
Semua mata lantas tertuju pada pasangan adik kakak itu.
“Iya Farhan senang karena bisa piknik seperti dulu lagi,” jawab Farhan di sela isakannya. Ia tidak bersedih. Ia hanya terharu.
__ADS_1
Tak hanya Reyhan yang memberikan pelukan pada Farhan. Papa dan Mama pun juga ikut memeluk anak tengah mereka. Sedang Latisha hanya mencebikkan bibirnya karena merasa terlupakan.
“Pelukan saja terus. Adek malah dilupain.”
Semua orang menatap si kecil. Lalu, tertawa.
Farhan menarik tubuh kecil adiknya dan membawanya duduk di atas pangkuannya. “Biar Kakak yang peluk Adek, ya,” ucapnya dan dibalas anggukan oleh Latisha. Ia mencium puncak kepala Latisha dengan sayang.
Papa dan Mama saling menatap satu sama lain dan mengulum senyum. Mereka lantas saling merangkul satu sama lain. Sedang Reyhan kembali ke dekat istrinya yang sedang menjaga si kembar. Lalu, ia juga tak mau kalah memeluk istrinya itu.
Pemandangan keluarga Oktara itu benar-benar membuat orang iri. Keluarga yang tampak sangat harmonis dan tumbuh dengan kasih sayang penuh. Pemandangan yang mengalahkan keindahan hamparan lautan di hadapan mereka.
“Terima kasih sudah mengembalikan keluarga kami, Ya Allah,” lirih Papa dalam hati.
“Terima kasih sudah membuat nyata impianku,” bisik Farhan dalam diamnya.
Dan masih banyak terima kasih yang lainnya terucap di hati masing-masing.
dengan anggota keluarganya. Merasakan kembali kehangatan yang sempat meredup. Menikmati kembali kasih sayang yang sempat hilang berganti rasa benci dan marah yang begitu kuat. Lalu, tangan kuat Papa bermain tanpa ragu di tubuhnya. Umpatan kasar, caci maki yang tak ayal terdengar memekakkan telinga. Rasa menghargai yang tak pernah ada meski sekuat apa pun usahanya.
__ADS_1
~END~