Napas Baru

Napas Baru
Chapter 7


__ADS_3

“Assalamu’alaikum, Ma,” sapa Farhan saat melihat sang ibu duduk di depan ruang rawat keponakannya—Radit. Ia menggamit tangan Mama dan menciumnya.


“Assalamu’alaikum, Tante,” sapa Finza juga. Ia melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan Farhan pada Mama. Bukan karena Mama adalah calon mertuanya. Namun, memang begitulah Finza, selalu menghormati orang yang lebih tua darinya.


“Masih saja panggil Tante, ya. Panggil mama dong, Finza,” ucap Mama yang membuat Finza tersipu malu.


Jika ada yang bertanya, kenapa Mama seperti begitu dekat dengan Finza? Ya, setelah Farhan menyatakan perasaannya pada Finza. Ia berkunjung lebih dulu ke rumah Finza dan tanpa ragu memperkenalkan diri dengan keluarga Finza. Tak cukup hanya sampai di situ. Farhan juga semakin hari mencoba mendekatkan diri hingga keluarga Finza menerimanya dan dekat dengannya. Begitu juga yang ia lakukan terhadap keluarganya sendiri. Ia membawa Finza dan memperkenalkan perempuan itu. Bersyukurnya, keluarganya juga tak melakukan penolakan atas kehadiran Finza.


“Maaf, Tan … Eh, maksud Finza maaf, Ma.”


Farhan yang melihat interaksi dua perempuan berbeda generasi itu hanya bisa tersenyum. Ia senang melihat kedekatan antara sang ibu dan kekasihnya. “Mama sudah lihat kondisi Radit?”


“Sudah, Nak. Kalian masuk saja. Di dalam ada Nadhira sama Mikayla,” terang Mama dan dibalas anggukan oleh Finza dan Farhan. Ia menatap pasangan kekasih itu berjalan hendak memasuki ruangan yang ditempati oleh salah satu cucunya. Namun, sebelum tubuh Farhan tenggelam di balik pintu ruangan. Mama menangkap sebelah tangan anak keduanya itu bergetar. Ada apa dengan Farhan?


“Farhan!”


Sang empunya nama menghentikan gerakan dan menoleh ke arah Mama yang sudah berdiri dan bergerak maju mendekatinya. Ia memberikan isyarat pada Finza untuk lebih dulu masuk menemui Nadhira.


“Kenapa, Ma?” tanya Farhan saat sudah berdiri berhadapan dengan Mama. Ia menangkap tatapan Mama padanya terlihat berbeda hingga membuat alisnya saling bertaut satu sama lain.


Mama tak bersuara. Namun, tangannya langsung menyentuh lengan Farhan yang masih tampak bergetar dan sukses membuat bibir anaknya itu terkatup sangat rapat. “Tangan kamu kenapa, Nak? Kenapa bergetar seperti ini?" tanya Mama dengan suara yang juga terdengar sudah bergetar. Ia mengangkat kepala dan menatap Farhan yang gelagatnya mulai aneh.

__ADS_1


"Ee... itu, Ma ... Farhan terlalu banyak minum kopi karena lembur," jawab Farhan dengan suara terbata-bata. Ia tak berani menatap mata Mama sebab ia takut ketahuan berbohong.


Mama mencengkeram pundak Farhan. "Kalau bicara tatap mata lawan bicaramu, Farhan!" tegas Mama. Ia merasa ada hal yang disembunyikan oleh anak keduanya itu. Sebab itulah ia menuntut seperti ini.


Jantung Farhan berdetak begitu cepat. Ketakutan itu tiba-tiba muncul lagi. Bagaimana kalau Mama curiga dan memaksanya untuk jujur? Jangan sekarang! Farhan masih belum siap untuk mengungkapkan semuanya di hadapan Mama.


Farhan mengumpulkan nyalinya terlebih dulu. Lantas, mengangkat wajah dan menatap langsung ibunya. Dengan seulas senyum tulus ia akan berusaha meyakinkan sang ibu. Sebelah tangannya yang tak tergenggam oleh tangan Mama terangkat menyentuh kembali punggung tangan Mama. "Ma, tidak perlu khawatir seperti itu. Farhan baik-baik saja kok. Percaya deh sama Farhan," ucap Farhan setenang mungkin. Dengan begitu ia akan bisa membuat ibunya lebih yakin.


Melihat raut wajah Farhan yang mengulas senyum padanya membuat Mama percaya. Ya memang sepengetahuan Mama juga bahwa Farhan sekarang memang suka mengonsumsi kopi. Apalagi sejak putra keduanya bekerja di perusahaan sang ayah dan lembur. Mau tidak mau Farhan harus mengonsumsi benda yang mengandung kafein itu.


"Kamu boleh kerja dan lembur. Tapi, jangan pernah lupakan kesehatanmu juga, ya, Nak. Mama tidak mau anak-anak Mama sakit karena terlalu gila kerja seperti papanya," jelas Mama seraya mengelus lengan sang anak. Ia tiba-tiba teringat akan kondisi si sulung yang ditunggalkan di rumah.


Farhan terdiam. Ia sungguh merasa berdosa harus menyembunyikan kesakitan yang ia alami. Namun, untuk berbicara dan menceritakan itu pada keluarganya jelas Farhan masih tidak bisa. Ia tidak ingin menambah kesedihan dan beban untuk keluarga. Sebab, perihal Reyhan saja masih belum menuai hasil. Kakaknya itu masih terbaring dengan mata terpejam dan alat-alat medis yang menempel di tubuhnya.


"Mama rindu sama Kakak, Farhan."


Kalimat itu berhasil menyita atensi Farhan. Apalagi dengan air yang sudah menggenang di pelupuk mata sang ibu. Hal itu membuat rasa ngilu di hati Farhan. Ia meraih tubuh Mama dan memeluknya.


"Mama takut Kakak tidak akan bangun lagi," tutur Mama tentang ketakutannya. Ia masih trauma dengan kejadian beberapa bulan lalu di mana detak jantung Reyhan benar-benar berhenti. Mama merasa dunianya seakan ikut berhenti detik itu juga.


"Ma, jangan berpikir yang tidak-tidak. Kakak pasti sembuh, Ma. Farhan yakin saat ini Kakak hanya sedang ingin mengistirahatkan tubuhnya saja. Mama tau 'kan bagaimana capeknya Kakak selama ini?"

__ADS_1


Mama mengangguk dalam pelukan Farhan. Sedangkan Farhan masih sibuk dengan jalan pikirannya sendiri. Melihat air mata sang ibu menetes seperti apa yang ia saksikan saat ini saja sudah membuatnya hancur. Bagaimana jika nanti Mama tahu tentang kondisinya juga? Tentu ia akan menorehkan kepedihan dan kesedihan yang sama.


Farhan mempererat pelukannya di tubuh Mama untuk mengalirkan ketenangan. "Ma, jangan nangis lagi. Kakak butuh do'a, bukan air mata Mama," nasihat Farhan. Padahal, ia jelas tahu bagaimana perasaan ibunya. Ya, ibu mana yang tidak sedih jika melihat anaknya belum juga bangun dari koma. Namun, Farhan juga tidak Mama berlarut dalam kesedihan hingga lupa dengan kesehatannya.


"Lusa Farhan harus ke luar kota, Ma. Kalau Mama seperti ini terus. Farhan akan merasa sangat bersalah karena tidak bisa menemani Mama," ucap Farhan tulus. Akhir-akhir ini memang ia berat sekali untuk pergi keluar mengingat Mama yang perasaannya masih belum stabil. Beberapa kali ia menemukan sang ibu menangis sendirian, meracau menyalahkan takdir yang seakan-akan mempermainkan keluarganya. Menyalahkan Tuhan atas apa yang dialami keluarganya.


"Pergi sama Papa 'kan, Nak?" tanya Mama setelah lebih dulu mengurai pelukannya. Ia menyeka air matanya dengan cepat dan menatap sang anak.


Seperti biasa, Farhan hanya tersenyum tipis jika apa yang dikerjanakan dan akan ia kerjakan harus disangkut pautkan dengan ayahnya. Harusnya, Mama paham bagaimana hubungan Farhan dengan Papa. Namun, naluri Mama sebagai seorang ibu selalu mengatakan hubungan keduanya baik dan perdebatan hanya sebatas perdebatan biasa. Padahal, nyatanya tak sesederhana itu. Ah, biarkan saja Mama berpikir positif seperti itu. Setidaknya, itu tidak akan mengganggu pikiran wanita paruh baya itu.


"Nggak, Ma. Farhan pergi sama Mas Tio."


Mama mengangguk paham.


"Mama mau pulang sekarang? Biar Farhan anterin, ya. Mama juga butuh istirahat lho."


"Iya, Nak. Tapi, gimana dengan calon menantu Mama?" tanya Mama menggoda.


Farhan tersenyum malu-malu. Ia tak sehebat Reyhan jika digoda. Terlalu ciut nyali Farhan jika Mama sudah melancarkan aksi menggodanya. "Nanti Farhan jemput lagi, Ma. Biar dulu di sini nemenin Kak Nadhira."


"Ya sudah. Tapi, sana izin dulu sama Finza. Nanti malah dicariin."

__ADS_1


"Baik, Bu Bos." Farhan meletakkan tangannya di pelipis. Persis seperti orang yang tengah hormat bendera.


__ADS_2