
Nadhira beranjak menuju kamarnya setelah diminta oleh Reyhan. Tentu saja Nadhira sangat menghargai keinginan Reyhan yang sedang ingin bicara lebih intens dengan adiknya. Sebagai seorang istri, Nadhira selalu memberikan ruang dan waktu ketika Reyhan ingin berdua dengan Farhan. Apalagi jika mengingat adik iparnya itu hanya memiliki Reyhan sebagai tempat pulang. Selama apa pun Reyhan dan Farhan menghabiskan waktu, Nadhira tidak pernah merasa bahwa Farhan sudah mencuri waktu yang seharusnya ia gunakan untuk quality time berdua dengan sang suami di sela-sela kesibukan. Justru ia merasa senang melihat kedekatan di antara pasangan adik kakak itu. Nadhira juga ingin Farhan merasakan bagaimana sebuah kedekatan yang terjalin di dalam keluarga.
Perempuan dalam balutan gamis berwarna gelap itu membuka pintu kamar. Lalu, yang pertama kali menyambut kedatangannya adalah rengekan si kecil. Ia tidak tahu entah itu rengekan Radit atau Radin. Nadhira lantas melangkah dengan lebar mendekati box di mana si kembar tertidur. Dan rengekan itu berasal dari box yang ditempati Radit. Sontak Nadhira mengecek keadaan Radit. Diraihnya tubuh Radit dari dalam box bayi dan ia gendong. Nadhira mencoba untuk menelisik wajah putranya yang sedikit basah. Namun, tidak basah bekas air mata. Sebab, si kecil tak juga menangis. Hingga Nadhira menyadari ada yang tidak beres dengan kondisi Radit.
Nadhira dengan degup jantung yang kencang dan perasaan takut perlahan menyentuh bagian dada putra kecilnya itu. Degup yang berpacu kencang itu seolah terhenti dalam sekejap dan berpindah pada Radit. Di sana ia rasakan degup jantung yang berpacu dan dada yang naik turun tidak beraturan. Hingga terdengar suara “ngik” di antara tarikan napas berat Radit. Suara yang sering ia dengar ketika Reyhan mendapatkan serangan dulu. Otak Nadhira terasa buntu saat ini. Ia mencoba untuk lebih cepat mencerna dengan baik apa yang terjadi pada Radit. Ia menggelengkan kepala dan mencoba untuk menepis semua pemikiran negatif yang muncul di dalam benaknya. “Tidak! Radit akan baik-baik saja,” monolog Nadhira.
Bersama air mata yang sudah terjun bebas menerjang pipi tanpa polesan make up-nya, Nadhira membawa tubuh Radit dalam gendongan berlari ke luar. Ia berteriak meneriakkan Reyhan dengan suara sekencang yang ia bisa. “Kakak!” Nadhira kembali menurunkan pandangan pada si kecil Radit yang bahkan bibirnya sudah mulai membiru. “Nak, kuat, ya, Sayang. Anak Ibu kuat, ya,” ucap Nadhira dengan suara lirih diiringi isak tangis penuh ketakutan itu. Ia terus mengelus dada Radit seperti yang sering ia lakukan dulu pada Reyhan. Berharap dengan begitu, entah sesak atau sakit yang dirasakan putranya akan berkurang dan hilang perlahan.
“Ra, ada apa?”
Mama lebih dulu datang bersama Papa dengan wajah menahan rasa kantuk bercampur kaget dan khawatir. Bagaimana tidak? Nadhira berteriak dengan kencang di saat orang-orang sudah mulai tenggelam di alam mimpi.
“Ma, Radit, Ma.”
__ADS_1
Papa yang paham maksud ucapan Nadhira pun langsung menatap cucunya yang berada di dalam gendongan Nadhira. Ia langsung meraih tubuh Radit dan berucap, “Kita harus ke rumah sakit sekarang.” Papa lebih dulu berlari membawa tubuh Radit. Tak peduli dengan pakaian yang membungkus tubuhnya hanyalah sebuah piyama. Papa takut melihat bibir Radit yang sudah membiru serta dada si kecil yang naik turun tak beraturan.
Papa yang lebih dulu beranjak menuruni anak tangga berpapasan dengan Reyhan dan Farhan yang hendak menuju lantai dua. Mereka juga tak kalah panik mendengar pekikan Nadhira yang begitu kencang.
“Pa, Radit kenapa?” tanya Reyhan menghentikan langkah Papa.
“Kakak ambil kunci mobil di kamar. Kita ke rumah sakit sekarang,” perintah Papa tanpa membalas pertanyaan Reyhan lebih dulu.
Lalu, sebelum Reyhan sempat menjawab. Farhan lebih dulu angkat suara. Tentu saja karena Farhan tahu apa yang terjadi dengan salah satu keponakannya itu. Ya, memang di rumah itu hanya Reyhan yang belum tahu tentang kondisi Radit. Orang-orang sengaja merahasiakan hal itu dari Reyhan sampai kondisi Reyhan sudah benar-benar stabil. “Pakai mobil Farhan saja.”
Reyhan terpaku di tempat. Ia tidak tahu apa yang terjadi saat ini. Ia merasa bodoh sekarang. Hingga Nadhira dan Mama turun dan berhenti di hadapannya. Reyhan mengangkat kepalanya dan menatap dua wanita hebat yang selalu ia puji dan istimewakan dalam hidupnya itu. “Apa yang terjadi sebenarnya?” tuntut Reyhan. Terutama pada Nadhira. Ia menatap perempuan itu dengan tatapan yang sangat serius. Tatapan yang bisa saja melumpuhkan Nadhira dalam sekejap.
“Mama bisa jelaskan nanti, Kak. Sebaiknya kita susul Papa dulu. Radit harus segera kita bawa ke rumah sakit,” ucap Mama. Ia tahu saat ini Nadhira dalam keadaan tidak baik-baik saja. Sebab itulah, meski Reyhan melayangkan tanya pada Nadhira, Mama-lah yang memilih untuk menjawab.
__ADS_1
“Al.”
“Bisa, nggak, nanti saja nanya? Radit butuh penanganan cepat!” kesal Nadhira pada Reyhan yang masih saja menuntut tanya padanya. Ia kemudian meninggalkan Reyhan begitu saja untuk menyusul Papa yang sudah pasti sedang menunggu di depan. Nadhira tidak peduli dengan Reyhan yang akan marah dengan sikapnya. Sebab, sekarang di dalam kepalanya adalah bagaimana Radit akan mendapatkan penanganan sesegera mungkin.
Reyhan masih saja tertegun. Apa yang sebenarnya disembunyikan orang-orang di dalam rumah ini padanya. Kenapa mereka membuat Reyhan merasa menjadi manusia paling bodoh karena tidak tahu apa-apa tentang kondisi salah satu putranya. Ia mengangkat pandangan pada Mama yang masih setia menunggunya dengan tatapan penuh tanya. “Ma, ada apa?”
Mama terdiam. Ia sendiri belum siap untuk menceritakan fakta yang terjadi pada si sulung. Ia takut jika berita itu akan membuat kondisi Reyhan kembali menurun. Tidak. Mama tidak ingin hal itu terjadi. Mama ingin melihat Reyhan-nya kembali baik-baik saja.
“Kita susul ke rumah sakit saja, ya, Kak. Nanti kita dengarkan saja kata dokter seperti apa tentang Radit,” ucap Mama. Ia tidak punya kalimat lain untuk menjawab putranya. Ia menyentuh pundak Reyhan dengan lembut. “Kak, kuat, ya.”
Dari ucapan Mama saja sudah membuat Reyhan menggiring opini tentang kondisi Radit. Namun, apa iya? Apa iya kondisi Radit sebenarnya tidak sebaik yang ia tahu sejauh ini? Itu artinya Nadhira selama ini juga membohonginya? Nadhira sengaja tidak menceritakan yang sebenarnya tentang kondisi Radit. Astaga! Bagaimana bisa Nadhira tega melakukan hal ini padanya?
“Kak, apa pun yang terjadi. Tidak ada yang bisa Kakak salahkan nanti, karena semua ada alasannya.”
__ADS_1
Reyhan tak bersuara. Ia membalik badan dan beranjak meninggalkan Mama. Ia harus segera menyusul ke rumah sakit dan meminta penjelasan tentang kondisi putranya.