Napas Baru

Napas Baru
Chapter 23


__ADS_3

Nadhira langsung berlari setelah turun dari mobil yang membawa tubuhnya beserta baby sitter dan salah satu bayi kembarnya setelah kembali dari rumah sakit. Ia bahkan sampai terlupa bahwa sebelumnya ia sudah mendengarkan fakta tentang sebuah duka. Ya, semua itu buyar setelah mendengar penuturan Bara saat mereka masih berada di rumah sakit tadi. Dunianya yang seakan hancur berkeping seakan kembali utuh dalam sekejapnya. Kendati demikian, air yang menetes dari sepasang kelopak mata indahnya tak kunjung mereda. Entah itu air mata duka atau bahagia. Atau keduanya yang bercampur menjadi satu lalu berhasil membasahi hijab yang membungkus mahkota indah yang hanya ia pertontonkan pada sang suami.


Ruang depan itu terlihat sepi. Nadhira lalu melanjutkan langkahnya menuju tangga yang akan pijak sebagai penghubung antara lantai dasar dan kamar di mana Reyhan berada. Ia seakan lupa bahwa ia harus berhati-hati. Di dalam kepala Nadhira hanya ada bagaimana ia bisa dengan cepat melihat laki-laki yang katanya sudah membuka kelopak mata setelah tidur panjang. Sungguh Nadhira tidak sabar ingin melihat sepasang mata teduh yang selalu menatapnya penuh cinta itu. Ia juga tidak sabar ingin segera merengkuh tubuh yang dulunya selalu mengalirkan kehangatan pada tubuhnya. Membelai lembut wajah yang pastinya akan menunjukkan senyum lebar itu lagi. Sungguh rasanya ini seperti setitik cahaya di dalam kelam malamnya.


Rasa tak sabar itu akhirnya membuat Nadhira membuka pintu dengan kasar. Polahnya itu bahkan sampai membuat seisi kamar itu tersentak. Tak terkecuali Reyhan yang langsung melayangkan tatapan ke arah pintu kamar. Kaki Nadhira seakan tidak bisa digerakkan. Ia masih saja bergeming di ambang pintu dengan tangan yang masih memegang kenop pintu. Akan tetapi, tatapan dari sepasang bola mata basah itu terus menghujam seorang lelaki di atas temoat tidur itu. Ia lihat seulas senyum tipis yang sudah teramat sangat dirindukan. Ini seperti mimpi indah bagi Nadhira. Do’a-do’a yang ia langitkan selama ini sudah berbuah manis. Reyhan-nya sudah kembali. Reyhan-nya sudah terbangun.


Nadhira berlari mendekati tempat tidur. Ia langsung memeluk tubuh suaminya dengan sangat erat. Ia lupa bahwa apa yang ia lakukan itu bisa saja membuat Reyhan susah untuk bernapas. Tidak! Di dalam pikiran Nadhira tidak ada seperti itu. Kebahagiaan yang ia rasakan kali ini membuatnya lupa segalanya. Bahkan, pada Radit yang baru saja ia ketahui tentang kondisi yang sebenarnya. Ia terisak kuat dengan posisi memeluk tubuh Reyhan. Tak ada satu kata pun yang mampu ia keluarkan. Hanya tangis. Tangis bahagia tentunya.


“Sudah dong nangisnya. Nggak malu dilihatin Mama, hm?”ujar Reyhan seraya mengelus lembut punggung istrinya yang bergetar kuat. Ia membalas pelukan Nadhira tak kalah erat. Sudah sangat lama rasanya ia tidak memberi sekaligus menerima pelukan Nadhira. Rasanya masih tetap sama. Hangat dan menenangkan. Apalagi mencium aroma khas tubuh Nadhira yang selalu membuat candu itu. Aroma yang tak pernah bosan untuk ia nikmati.


“Al,”panggil Reyhan dengan lembut. Selembut belaiannya di punggung Nadhira.


Panggilan itu. Panggilan yang sudah lama tak terdengar di ceruk telinga Nadhira. Panggilan yang hanya bisa ia dengar dari bibir suaminya. Ya, tidak ada yang lain. Hanya dari bibir lelaki yang sudah dengan sangat berani meminangnya tanpa menjanjikan banyak hal. Namun, memberikan tanpa diminta. Seperti kasih sayang yang begitu hebat.


Nadhira mulai mengurai pelukannya setelah merasa cukup memeluk Reyhan. Jika dikatakan puas, tentu saja tidak. Sebab, berada di dalam pelukan dan memeluk tubuh Reyhan adalah sebuah kebutuhan. Terasa banyak yang kurang jika ia tak mendapatkan hal itu. Seperti yang ia rasakan selama Reyhan menikmati tidur panjangnya.

__ADS_1


Mama yang melihat pemandangan yang tersuguhkan di hadapannya pun memilih undur diri tanpa suara. Ia paham apa yang dirasakan putra sulung dan anak menantunya itu. Tentu saja mereka butuh waktu berdua untuk meretas kerinduan di dalam kegelisahan. Terlebih lagi Nadhira yang sudah tentu melewati hari-hari panjang yang terasa sangat sulit. Menjadi ibu untuk sepasang bayi kembarnya dengan suasana hati yang terus dirundung gelisah dan khawatir, tidak memiliki penguat terkuat di sampingnya, yaitu Reyhan. Mama ingin memberikan mereka waktu luang berdua.


“Terima kasih sudah kembali,”ucap Nadhira seraya mengulum senyum lebarnya dan sukses membuat sepasang netranya menyipit. Lalu, air mata yang masih tergenang itu kembali runtuh menerjang pipi mulusnya yang kelihatan tirus. Dengan cepat Nadhira menyeka air matanya itu.


“Semua ini karena kekuatan do’amu, Sayang,” jawab Reyhan. Ia berusaha menggerakkan tubuhnya untuk merubah posisi menjadi duduk bersandar. Dan Nadhira dengan cepat membantu. Reyhan merentangkan kedua tangannya sebagai isyarat agar Nadhira mendekat dan memeluknya lagi. Ya, tentu perempuan itu paham apa maksudnya. Sekali lagi Reyhan menikmati aroma lavender dari tubuh istrinya. “Terima kasih sudah membantuku pulang, Al.”


Nadhira hanya menganggukkan kepala di dalam pelukan suaminya. Memang benar apa yang dikatakan Reyhan. Reyhan kembali atas kekuatan do’a yang selama ini dilangitkan tanpa putus dan jeda. Kembali karena pengharapan yang begitu besar.


“Dan terima kasih sudah menjadi kuat bukan hanya untukku, tapi juga untuk bayi kita. Maaf sudah membuatmu melewati hari-hari berat sendiri,”ucap Reyhan dengan tulus. Dari cerita Mama ia bisa tahu apa yang selama ini dilalui istrinya. Nadhira yang manja dan kekanakkan ternyata mampu menjadi dewasa ditempa keadaan.


“Al,”panggil Reyhan seraya memainkan ibu jarinya di punggung tangan Nadhira.


“Hm.”


“Kamu tahu, nggak? Sebelum aku bangun. Aku sempat bermimpi. Aku nggak tahu apakah itu mimpi buruk atau bagaimana.”

__ADS_1


Kening Nadhira mengkerut dalam. “Maksud Kakak apa?”


“Sebelumnya aku mimpi, Al. Aku melihat Farhan di sebuah tempat asing. Dia menggendong seorang bayi mungil yang tampan, wajahnya mirip banget sama aku. Namanya Radit.”


“Terus?”


“Tapi, Farhan bilang kalau dia dan bayi itu sudah punya tempat berbeda, Al. Lalu Farhan memintaku pulang. Dan setelah itu aku terbangun,”tutur Reyhan.


Cerita Reyhan tentang mimpinya membuat degup jantung Nadhira berpacu hebat. Entah kenapa rasa takut pun ikut menyergapnya begitu tiba-tiba. Apa sebenarnya arti dari mimpi suaminya itu? Apakah itu sebuah isyarat bahwa Farhan dan Radit akan pergi? Ah, tidak mungkin! Nadhira dengan cepat mengusir pemikiran aneh itu dari dalam kepalanya. Farhan dan Radit akan sembuh. Mereka tidak akan pergi ke mana pun juga.


“Dan tadi Mama juga perasaannya tidak enak. Mama terus kepikiran Farhan. Dan Farhan tidak bisa dihubungi.”


Nadhira masih terdiam. Apakah mimpi itu pertanda bahwa sekarang Farhan tidak baik-baik saja? Jika memang demikian, kenapa Tio tidak memberi kabar ke rumah?


“Mungkin Farhan masih sibuk, Kak. Jadi, Farhan sengaja menon-aktifkan ponselnya,”sahut Nadhira mencoba positive thinking. Meskipun ia juga tidak bisa berbohong bahwa ia khawatir. Tidak ada yang tahu tentang kondisi Farhan yang sesungguhnya. Hanya dirinya. Jadi, orang-orang tidak akan tahu bagaimana menghadapi Farhan.

__ADS_1


Helaan napas panjang Reyhan terdengar. Nadhira lantas mengangkat kepala dan menatap suaminya. “Jangan mikir yang nggak-nggak dulu. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja,”ucap Nadhira berusaha menenangkan seraya mengelus lembut wajah suaminya. Ia tidak boleh membiarkan Reyhan banyak pikiran dulu karena pasti akan mempengaruhi kondisinya nanti. Reyhan baru saja terbangun dari komanya. Lelaki itu tidak boleh terbeban pikirannya.


__ADS_2