Napas Baru

Napas Baru
Chapter 34


__ADS_3

Suasana ruang makan pagi ini masih terasa ada yang kurang. Ya, memang setiap begitulah suasana ruang makan di rumah mewah itu. ada saja salah satu anggota keluarga yang absen. Kali ini, bukan Farhan. Sebab, sudah sejak tadi lelaki itu turun dan bergabung dengan anggota keluarga lainnya. Namun, yang absen kali ini adalah sang kepala keluarga dan pimpinan keluarga Oktara, yaitu Papa. Pria itu sudah berlalu sejak subuh tadi, karena harus melakukan penerbangan ke luar kota untuk menjalanlan bisnis. Akan tetapi, bukan sebab itu yang membuat Farhan mau bergabung di ruang makan. Tidak sama sekali. Lagi pula, Farhan juga tidak tahu bahwa ayahnya sedang bepergian.


Seperti biasa, Nadhira menyiapkan sarapan untuk Reyhan. Sedangkan Mama menyiapkan untuk si kecil Latisha. Lalu, bagaimana dengan Farhan? Meski orang-orang di ruang makan itu sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ia hanya diam sendiri dengan tatapan kosong. Sorot mata lelaki itu seperti tidak ada kehidupan yang terpancar di sana.


“Farhan, mau makan apa, Nak?”tanya Mama seraya menyiapkan piring untuk Farhan. Wanita itu juga sudah bersiap-siap untuk mengambilkan makanan yang mana yang akan dimakan oleh Farhan untuk sarapannya pagi ini.


Hening. Farhan bergeming di posisinya semula. Kening Mama mengkerut. Begitu juga dengan pasangan suami istri yang duduk di seberang meja.


“Farhan,” panggil Mama dengan nada suara yang terdengar sangat lembut. Ia kemudian menyentuh pelan pundak anak tengahnya itu. Lalu, bisa ia saksikan sendiri bagaimana Farhan yang langsung tersentak keras. Dan Farhan mengangkat kepala menatapnya dengan ekspresi yang datar.


Mama menatap Nadhira dan Reyhan bergantian dengan tatapan penuh tanya tentang apa yang terjadi dengan Farhan. Namun, Mama tak mendapatkan titik terang berupa jawaban dari keduanya. Mama menghela napas panjang. Entah kenapa Mama merasa akhir-akhir ini Farhan sangatlah berubah. Lelaki itu lebih banyak diam dan melamun. Sesekali kadang bicara ngelantur. Untuk menanyakan apa yang terjadi dengan anak keduanya itupun ia tak punya waktu sebab Farhan yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja.


“Mau makan apa, Nak? Biar Mama ambilkan untukmu,”ucap Mama seraya mengulum senyumnya pada Farhan. Hati Mama terasa tidak enak melihat Farhan saat ini. Wajah yang pucat dan semakin tampak tirus. Entah apa yang sebenarnya terjadi dengan putranya.


Farhan terdiam dalam beberapa saat. Kemudian, ia menatap satu per satu makanan yang sudah tersedia di atas meja. “Farhan nggak tau, Ma,” jawab Farhan dengan begitu polosnya. Lelaki itu kemudian mengangkat pandangan lagi ke arah Mama.


Astaga! Apa yang terjadi dengan Farhan, pikir Mama. Anak itu terlihat linglung dan tidak fokus. Mama kemudian meletakkan kembali piring yang ia pegang di atas meja. Mendaratkan bokongnya di kursi. Ia menyentuh kedua pundak Farhan dengan erat dan menubrukkan tatapannya dengan sorot mata Farhan yang kosong. “Ada apa, Nak? Kamu ada masalah?” tanya Mama mencoba mengulik informasi pada Farhan.


“Farhan mau sarapan, Ma, makanya turun dari kamar. Kenapa Mama malah nanya ada apa?”


Seisi ruangan dibuat bingung oleh sikap Farhan yang pagi ini terasa sangat aneh. Kecuali, Nadhira. Perempuan itu bukan hanya kali ini melihat Farhan tidak fokus dan ngelantur. Namun, sudah berulang kali. Dan kali ini memang yang terparah. Hal itu membuat Nadhira berpikir apakah kondisi Farhan semakin memburuk?


“Ya sudah sekarang kamu mau sarapan apa?”tanya Mama. Mama seperti sedang menghadapi Farhan kecil saat ini.


“Roti saja, Ma,” jawab Farhan.


Mama langsung menyiapkan sarapan untuk Farhan. Sedangkan, lelaki itu kembali terdiam menatap piringnya yang kosong dengan tatapan nanar. Farhan tidak tahu apa yang sebenar-benarnya terjadi pada dirinya saat ini. Namun, yang jelas ia rasakan adalah fokusnya seakan hilang entah ke mana.

__ADS_1


Seisi ruang makan itu sarapan dalam hening. Tak ada suara yang tercipta. Semua fokus dengan makanan yang ada di hadapan masing-masing. Begitulah suasana ruang makan setiap harinya. Sebab, Papa selalu menuntut keluarganya untuk tidak bicara saat makan.


Nadhira. Perempuan itu diam-diam memperhatikan Farhan. Sesekali ia melirik adik iparnya itu dengan ekor mata. Tidak ada perubahan yang signifikan dari Farhan dari sebelum lelaki itu berangkat ke luar kota. Hanya tingkat fokusnya yang berkurang, pikir Nadhira. Sekarang, ia tidak bisa bebas bicara atau menemani Farhan ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisi adik iparnya itu. Sebab, situasinya sekarang sudah berbeda. Suaminya sudah kembali. Dan salah satu orang yang ia jaga untuk tidak tahu dulu tentang keadaan Farhan adalah Reyhan. Sebab, Nadhira sendiri tidak ingin jika nantinya Reyhan kaget dengan kenyataan itu kemudian akan mempengaruhi lagi kondisi kesehatannya yang masih dalam proses pemulihan.


Sudah tak ada lagi yang memperhatikan Farhan saat ini. Hingga tidak ada yang menyadari bagaimana darah dari lubang hidung lelaki itu menetes seperti air dan jatuh tepat di atas piringnya. Sedangkan Farhan hanya bisa tertegun menatap benda cair berwarna merah pekat dan berbau anyir itu. Sekali lagi, Farhan saat ini tidak dalam kondisi baik. Tubuhnya yang lemas, fokusnya yang berkurang. Itulah yang terjadi dengan Farhan saat ini. Namun, tidak akan ada yang tahu tentang hal itu, kecuali Nadhira. Dan tentu saja nantinya Nadhira akan bersikap seperti tidak tahu apa pun tentang Farhan.


“Mama.” Suara Farhan terdengar bergetar.


Sontak seisi ruangan itu menoleh ke arah sumber suara. Dan betapa kagetnya orang-orang di sana saat melihat kondisi Farhan dengan darah yang masih mengalir dari hidung lelaki itu. Reyhan adalah orang yang paling tampak sangat kaget dengan apa yang terjadi saat ini. Ia refleks mendorong kursi yang tengah ia duduki dengan kakinya dan langsung bergerak cepat mendekati Farhan.


“Dek, kamu mimisan,” ucap Reyhan dengan nada yang terdengar sangat khawatir. Ia baru kali ini melihat Farhan mengalami mimisan seperti. Ia kemudian mendongakkan kepala adiknya untuk berusaha menghentikan darah segar yang mengalir itu. Sedang Farhan hanya terdiam membiarkan Reyhan melakukan apa saja padanya.


“Kak, jangan seperti itu,” ucap Nadhira. Ia kemudian menjelaskan bagaimana cara yang tepat untuk menghentikan mimisan yang dialami Farhan. Reyhan pun mengikuti instruksi istrinya dengan cepat.


Mama. Wanita itu terpaku di tempat. Pikiran buruk muncul di dalam benaknya. Akhir-akhir ini ia sering mendapati anak tengahnya itu mengalami mimisan. Ada apa sebenarnya dengan Farhan?


Reyhan dan Nadhira membantu Farhan untuk membersihkan darah yang belum kunjung mereda. Bahkan, kali ini Nadhira sampai kewalahan dengan apa yang terjadi pada adik iparnya. Dan gerakan tangan Nadhira dan Reyhan yang membantu Farhan terhenti ketika Mama tiba-tiba bersuara dengan nada bergetar.


Reyhan dan Nadhira menoleh ke arah Mama. Lalu, saling melempar tatapan satu sama lain.


Mama bangkit dan mendekat. Ia mendorong pelan tubuh Reyhan untuk kemudian ia bisa menemukan ruang berada di dekat Farhan. Di tangkupnya wajah anak keduanya itu dengan kedua tangan. “Kita ke rumah sakit, ya, Nak. Mama takut ada hal buruk terjadi padamu,” ucap Mama dengan senyum manis yang terulum. Namun, wajahnya sudah basah karena air mata yang sudah mengalir.


Hening dalam beberapa saat.


“Farhan nggak apa-apa, Ma. Farhan cuma kecapekan saja,”ucap Farhan dengan nada suara datar seraya menatap ibunya dengan tatapan yang masih kosong.


“Kali ini saja, Nak, dengarkan Mama.”

__ADS_1


Farhan masih keukeuh dengan keputusannya. Ia menggelengkan kepala. Bagaimana bisa ia menerima tawaran ibunya sedangkan ia sendiri belum siap untuk menceritakan tentang kondisinya. Farhan menurunkan


tangan Mama dari wajahnya. Kemudian, tersenyum tipis. “Farhan siap-siap ke kantor dulu.” Farhan kemudian bangkit. Namun, tangannya di tahan oleh Mama.


“Kalau kamu capek, harusnya kamu istirahat saja di rumah. Bukan pergi ke kantor.”


“Mama mau tanggung jawab kalau pekerjaan Farhan tidak selesai?”


Mama seketika terdiam. Ia juga tidak habis pikir dengan jawaban yang diberikan Farhan. Begitu juga dengan Reyhan dan Nadhira. Baru kali ini mereka mendengar jawaban sarkas seperti itu dari Farhan.


“Farhan, bukan begitu caranya menjawab,” tegur Reyhan.


“Maaf,” ucap Farhan. Lalu, ia berlalu dari hadapan orang-orang di ruang makan itu. Sekali lagi Farhan tertahan. Kali ini karena suara anak kecil yang memanggil namanya.


“Kak Farhan!”


Tak lama setelah panggilan itu. Farhan merasakan tangannya ditarik. Ia kemudian menurunkan pandangan dan mendapati adiknya sudah berdiri di sampingnya. Lantas, ia memposisikan diri dengan berjongkok. “Ada apa, Dek?”


Latisha langsung memeluk tubuh kakaknya. “Jangan sakit, ya.”


Farhan tersenyum tipis. Ia kemudian membalas pelukan adiknya yang tumben-tumben bersikap manis seperti ini. Biasanya Latisha melakukan hal semanis ini hanya pada Reyhan. Atau gadis kecil ini sudah merasakan akan sebentar lagi ditinggalkan, pikir Farhan.


Farhan melepaskan pelukannya. “Kakak ke atas dulu, ya. Mau siap-siap ke kantor.”


Latisha dengan polosnya menganggukkan kepala.


“Mama tidak tahu apa yang terjadi pada Farhan. Perasaan Mama rasanya nggak enak, Kak,”lirih Mama.

__ADS_1


“Mama tenang dulu, ya. Nanti Kakak coba bicara sama Farhan,” ujar Reyhan untuk menenangkan ibunya. Ya, memang ia sendiri pun merasakan ada yang tidak beres dengan adiknya. Namun, ia belum bisa memastikan hal itu sekarang. Mungkin perlahan akan menemukan jawaban atas apa yang ia pikirkan tentang Farhan.


Nadhira. Perempuan itu hanya bisa diam dan dirundung rasa bersalah, karena tak bisa bicara dengan jujur. “Kak, Ma, maaf karena aku tidak bisa kasih tau kalian sekarang,” lirih Nadhira dalam hati.


__ADS_2