
Reyhan kini hanya bisa meratapi takdir yang tak pernah ia sangka akan datang menyambut kehidupan barunya pasca mengalami koma selama tiga bulan lebih itu. Tak sampai dua pekan ia menikmati perannya sebagai seorang ayah menimang sepasang bayi kembar mungil dan menggemaskan. Malam ini ia dikejutkan dengan sebuah kenyataan yang benar-benar membuat Reyhan seakan terjungkal dengan keras hingga terjatuh begitu dalam. Tak hanya itu, ia juga menyesali hingga menyalahkan diri. Jika bukan karena dirinya, memang siapa lagi yang menurunkan penyakit itu pada sang bayi. Dan yang membuat Reyhan merasa begitu sakit adalah anaknya yang masih sangat kecil harus menanggung kesakitan hebat dan akan bertaruh nyawa setiap detiknya. Reyhan sudah tahu bagaimana rasanya berada di posisi Radit.
Reyhan meraih tangan mungil itu untuk ia genggam. Kemudian, ia menciumnya dengan hangat dan cukup lama. Air mata Reyhan lalu runtuh karena sudah tak bisa ia bendung lagi. Rasa bersalah itu begitu besar dalam diri Reyhan. Kenapa harus Radit? Kenapa harus putra kecilnya?
“Maafin Papa, ya, Sayang. Kamu seperti ini karena Papa. Papa yang sudah menurunkan kesakitan
ini padamu,” lirih Reyhan seraya memandangi wajah Radit yang kini sudah tenang dalam lelapnya. Namun, hal itu tak serta merta membuat Reyhan merasakan ketenangan juga. Rasa sakit itu masih ada di dalam diri Reyhan atas apa yang menimpa putra kecilnya.
“Andai Papa bisa menggantikanmu, Papa rela melakukannya, Nak. Biarlah Papa sendiri yang merasakan kesakitan itu,” sambung Reyhan. Air matanya kembali mengalir. Lebih deras dari sebelumnya. Ia tergugu. Hingga Reyhan merasakan sepasang lengan melingkar di tubuhnya. Ia tahu siapa pemilik lengan yang merengkuhnya itu. Sepasang lengan yang melingkar untuk memberikan kenyamanan padanya. Ia bisa merasakan deru napas teratur itu menyentuh permukaan kulitnya. “Maafin aku, Al,” ucap Reyhan tanpa berniat mengubah posisinya. Ia membiarkan tangan kecil istrinya merengkuhnya dari belakang. Mengalirkan setiap kenyamanan dari seorang perempuan yang sudah melahirkan dua makhluk mungil yang begitu lucu.
“Nggak. Kakak nggak perlu minta maaf. Kakak nggak salah,” ucap Nadhira. Memangnya salah apa juga Reyhan? Bukankah tidak ada seorang ayah yang menginginkan anaknya menderita? Begitu juga dengan Reyhan. Apalagi Nadhira tahu betul Reyhan sudah merasakan kesakitan luar biasa dalam rentang waktu puluhan tahun lamanya. Tentu saja lelaki itu tidak menginginkan hal serupa dirasakan oleh darah dagingnya sendiri. Reyhan memang menginginkan anak-anak yang kuat dan tangguh. Namun, Tuhan berkehendak bahwa salah satu putra mereka harus terlahir dengan kelainan jantung seperti yang dialami Reyhan. Dan Nadhira tahu hal ini pasti akan terjadi, Reyhan pasti akan terus menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang menimpa salah satu putra mereka.
__ADS_1
“Radit seperti ini gara-gara aku, Al,” ucap Reyhan lagi masih menyalahkan dirinya sendiri.
Nadhira melepaskan rengkuhannya. Ia berpindah posisi ke samping suaminya. Lalu, ia duduk berjongkok di samping Reyhan dengan kepala yang terangkat sempurna. “Sayang,”panggil Nadhira dengan nada yang terdengar sangat lembut. Bohong jika Nadhira tidak merasa sedih atas keadaan yang menimpanya saat ini. Namun, ia tidak bisa menunjukkan kesedihannya di hadapan Reyhan. Suaminya sedang berada pada kondisi terpuruk dan tidak bak-baik saja. Ia harus memposisikan diri menjadi salah satu orang kuat yang kemudian menguatkan suaminya. Sebab, jika bukan dirinya, memang siapa lagi yang akan menguatkan?
Reyhan menurunkan pandangan dan menubrukkan tatapannya pada sepasang bola mata yang kini menatapnya dengan sangat hangat dan penuh cinta. Ia melihat ketenangan yang terpancar di wajah istrinya. Reyhan tahu bahwa apa yang ia lihat saat ini hanya sebuah usaha yang ditunjukkan Nadhira agar terlihat baik-baik saja. Namun, jauh di lubuk hati Nadhira yang paling dalam, ada luka dan duka yang disembunyikan dengan begitu apik di sana. Reyhan tahu bagaimana sifat istrinya yang tidak mau terlihat bersedih di hadapan orang lain. Nadhira akan selalu berusaha untuk terlihat bahwa semuanya akan baik-baik saja. Reyhan tahu itu.
“Radit adalah diri Kakak versi kecil. Yang terlahir dengan satu keistimewaan yang hanya Tuhan berikan pada orang-orang kuat. Jangan pandang lemah keistimewaan itu. Seperti Kakak, Radit juga pasti akan kuat. Radit akan tumbuh seperti ayahnya yang istimewa dan selalu kuat,” ucap Nadhira dengan suara yang terdengar sangat lembut menelusup di indra pendengaran Reyhan. Ia meraih tangan Reyhan dan menggenggamnya. “Nanti tangan ini yang
akan selalu merengkuh Radit untuk menguatkan. Seperti Kakak yang selalu berusaha menguatkan aku, menguatkan Farhan, dan menguatkan semuanya.” Nadhira mengulum senyum manisnya pada Reyhan. Ia kemudian membawa tangan Reyhan mendekat ke wajahnya. Lalu, di ciumnya punggung tangan Reyhan dengan hangat dan cukup lama sebelum ia kembali mengangkat pandangan.
Nadhira melepaskan rengkuhan itu lagi di tubuh Reyhan. Ia menangkup wajah suaminya dan menabrakkan
__ADS_1
tatapannya pada sepasang bola mata yang masih basah itu. “Dan apa yang Mama dan Papa yakini itu benar-benar terjadi. Kakak masih bisa ada di sini. Sekarang yang harus kita lakukan adalah menanamkan pikiran-pikiran positif bahwa Radit memang anak yang kuat seperti ayahnya. Kita bisa kok, Sayang,” ucap Nadhira lagi tanpa merasa bosan untuk menjadi kuat dan menguatkan.
Reyhan tertegun melihat ketegaran yang ditunjukkan Nadhira padanya. Harusnya ia merasa malu pada istrinya. Kenapa ia harus menunjukkan kesedihan dan meratapi takdir yang sudah pasti menjadi skenario terbaik yang Tuhan tuliskan? Harusnya sebagai seorang kepala keluarga, ialah yang harus menguatkan. Terutama menguatkan Nadhira. Bukan justru sebaliknya.
Reyhan menghela napas panjang. Ia kemudian menganggukkan kepala dan membalas senyuman Nadhira. “Maaf. Aku lupa aku siapa. Harusnya aku yang menguatkanmu. Bukan sebaliknya.”
Nadhira tertawa kecil. “Bukankah setiap pasangan harus saling menguatkan satu sama lain?”
Reyhan menganggukkan kepala tanpa menanggalkan senyumnya.
“Atau Kakak ngerasa harga diri Kakak jatuh kalau aku yang menguatkan. Gitu, ya?” Nadhira menatap Reyhan dengan tatapan yang pura-pura menyelidik.
__ADS_1
Reyhan merasa gemas melihat polah istrinya. Ia berdiri dan menarik tubuh Nadhira lalu dipeluknya dengan erat. “Terima kasih sudah menjadi istri dan ibu yang kuat,” ucap Reyhan. Ia merasa terharu. Lalu, air matanya kembali mengalir. “Aku janji akan menjadi suami dan ayah yang kuat juga.”
Nadhira membalas pelukan suaminya. Ia tidak ingin menangis. Namun, perasaannya sebagai seorang ibu memang tidak bisa dibohongi. Air matanya ikut mengalir dan menganak sungai di pipi. Ia menumpahkan kesedihannya di pelukan Reyhan. Namun, ia tetap tersenyum agar tidak begitu kentara dan tidak membuat Reyhan menyadarinya.