Napas Baru

Napas Baru
Chapter 55


__ADS_3

Papa masih memilih bungkam. Ia hanya menatap pilu tubuh yang sudah terpasang alat-alat medis di sana. Setelah menemui Dokter Aghni, Papa belum mau diajak bicara oleh siapapun di dalam ruangan itu. Kepalanya masih terasa buntu meski banyak tekanan dan tuntutan dari Mama dan Reyhan tentang kondisi Farhan. Pria itu menghela napas panjang dan memejamkan mata. Dalam hati ia terus merutuki kesalahan yang pernah ia lakukan selama ini pada anak tengahnya itu. Mendengar penuturan Dokter Aghni juga yang sukses membuat ingatan Papa kembali pada kejadian hampir satu dekade ke belakang. Mungkin benturan itu juga yang membuat Farhan sampai seperti ini sekarang.


“Pa, sampai kapan Papa akan diam seperti ini terus? Kasih tahu Mama, Pa. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Farhan?” Mama kembali mendesak Papa. Kali ini lebih hebat dari sebelumnya. Ia adalah ibu dari Farhan. Ia berhak mengetahui apa yang terjadi dengan sang putra. Tentu saja Papa tidak boleh egois dalam hal itu. Sebab, posisi mereka sama-sama orang tua.


Reyhan tak mau kalah dengan ibunya. Ia juga mulai mendesak Papa untuk bicara. “Diamnya Papa seperti ini juga nggak akan membuat semuanya membaik, Pa. Yang Papa lakukan justru hanya akan menyakiti diri Papa sendiri. Tolonglah, Pa. Jangan egois. Ceritakan saja apa yang dikatakan dokter tentang kondisi Farhan,” ucap Reyhan panjang lebar.


Nadhira yang takut jika Reyhan terbawa emosi pun berusaha menenangkan suaminya dengan menyentuh tangan Reyhan. Ia memainkan tangannya dengan lembut mengelus lengan sang suami. Jujur saja, ia ingin angkat suara tentang apa yang ia ketahui selama ini. Hanya saja, ia tidak ingin melangkahi Papa untuk menjelaskan tentang kondisi adik iparnya. Lagi pula, untuk kondisi terbaru dari Farhan ia masih belum tahu. Sebab, beberapa minggu terakhir ini ia sudah jarang berkomunikasi dengan Farhan. Apalagi setelah Reyhan bangun dari komanya. Mungkin Farhan juga sengaja membatasi komunikasi dengannya agar tidak mengundang kecurigaan Reyhan padanya.


Tekanan demi tekanan Papa dapatkan dari istri dan anak sulungnya. Hal itu jelas membuatnya semakin frustrasi. Belum sempat ia menenangkan pikirannya perihal kabar duka tentang kondisi terkini Farhan. Kini, ia merasakan sesuatu yang semakin mengganjal di dalam pikirannya. Astaga! Tidak bisakah mereka mengerti kondisi Papa saat ini dan memberikan waktu bagi pria itu untuk berpikir sejenak.


“Pa …”


“Ok. Papa akan bicara. Tapi, Papa minta tolong. Jangan ada yang dilihat Farhan menangis di sini. Karena, bukan itu yang dibutuhkan Farhan, melainkan support dari kita semua,” ujar Papa memotong ucapan Reyhan yang belum sempat terucapkan sepenuhnya. Papa lantas menatap seisi ruangan itu satu per satu. “Kanker otak.” Hanya kata itu yang bisa terucap dari bibir Papa. Setelah itu, Papa kembali memilih diam dan menatap Farhan yang kini tengah damai di dalam pejamnya. Entah sejauh mana kesakitan yang dirasakan Farhan selama ini. Dan anak itu harus berjuang melawan sakitnya sendirian.


Mama. Wanita itu hanya bisa menangis dalam diam. Meski Papa memintanya untuk tidak menangis. Memangnya bisa? Tentu saja tidak. Ibu mana yang tak terperih hatinya mendengar kabar duka tentang salah satu manusia yang pernah tumbuh dan berkembang di bawah jantungnya? Memanglah jarak pernah terbentang dengan begitu luas. Namun, hal itu tidak akan pernah merubah takdir bahwa Farhan adalah seorang anak yang lahir dari rahimnya. Dan apa yang ia dengar baru saja dari bibir sang suami adalah duka hebat. Rupanya Tuhan belum bersedia untuk menghentikan ujian untuknya dan keluarganya.


Dada Reyhan terasa sesak mendengar penuturan sang ayah, Tubuhnya sedikit limbung saat kakinya terasa sudah tak bertulang. Beruntung Nadhira dengan sigap menopangnya meski sedikit kesulitan karena tubuh Nadhira yang terlampau kecil dari tubuh suaminya. Lalu, Nadhira langsung meraih tubuh itu dan memeluknya dengan erat. Ia mengelus punggung Reyhan untuk berusaha menenangkan. Meskipun apa yang ia lakukan mungkin tidak akan berpengaruh banyak untuk meringakan kesedihan sekaligus kepedihan suaminya. Jangankan Reyhan yang notabene adalah kakak kandung Farhan. Nadhira sendiri yang hanyalah seorang kakak ipar begitu sedih ketika mengetahui hal itu untuk pertama kali. Lalu, sekarang semuanya sudah tahu. Apakah itu artinya sudah waktunya juga untuk Nadhira berkata jujur bahwa ia sudah mengetahui semua ini sejak awal?


Nadhira menghela napas panjang. Ia melepaskan pelukannya di tubuh Reyhan ketika merasa lelaki itu sudah sedikit tenang. “Ada yang mau Nadhira katakan,” ucap Nadhira tiba-tiba dan tentu saja sukses menarik perhatian seisi ruangan itu. Kecuali, Farhan yang sepertinya masih asyik menikmati dunia di alam bawah sadarnya yang lebih menenangkan dan tak membuatnya sakit.


Perempuan berjilbab itu menundukkan kepala. Ia tidak berani menatap tiga pasang mata yang sedang menyorotnya itu. “Sebelumnya Nadhira minta maaf.”

__ADS_1


“Maksudmu apa, Al?” tanya Reyhan yang tidak sabaran mendengar penuturan istrinya.


“Maaf karena selama ini Nadhira sudah menyembunyikan tentang kondisi Farhan.” Nadhira menggigit bibir bawahnya, takut.


Tentu saja Papa, Mama, dan Reyhan kaget mendengar penuturan Nadhira. Bisa-bisanya perempuan itu menyembunyikan hal seserius itu dari keluarga besarnya.


Reyhan menggelengkan kepala tak percaya. “Jadi, selama ini kamu sudah tahu semuanya, Al?”


Nadhira mengangguk takut.


“Kenapa kamu nggak kasih tahu aku sih? Kamu kira aku ini siapa, hah?!” Reyhan mulai lepas kendali. Namun, luluh dalam sekejap ketika melihat air mata istrinya yang tiba-tiba jatuh menghantam pipi yang sedikit berisi itu. “Kenapa, Al, kamu sembunyikan semua ini dariku?” Suara Reyhan kembali normal. Ia menyentuh pundak istrinya dengan lembut juga.


“Aku nggak tahu harus bagaimana, Kak. Posisiku benar-benar sulit. Farhan mengancam jika aku memberitahu semuanya, Farhan akan pergi dari rumah,” terang Nadhira. “Kalau aku melakukan itu, siapa yang akan merawat Farhan, Kak? Apa iya aku tega membiarkannya pergi dengan kondisi yang nggak baik?”


“Pa, Ma, maafin Nadhira, ya,” ucap Nadhira dengan nada serius yang dibalas anggukan oleh pasangan suami istri itu. Seketika Sadina merasa tenang melihat respons kedua mertuanya. Ia kemudian beralih menatap suaminya. “Kak, maafin aku.”


“Iya, Sayang. Terima kasih, ya, sudah mau merawat Farhan selama ini.”


Tepat ketika tak ada lagi perbincangan yang tercipta di dalam ruangan itu. Suara lenguhan Farhan terdengar. Lalu, semua mata tertuju pada sekujur tubuh yang terbaring dengan alat-alat rumah yang menempel di tubuh kurus itu. Tak ada air mata yang mengalir lagi. Hanya ada senyum yang terpaksa mereka ulas untuk menyambut Farhan.


Kelopak mata itu terbuka dengan sempurna. Tuannya mengedarkan pandangan menatap ruangan dengan nuansa putih bersih dan beraroma karbol itu. Lalu, beralih pada orang-orang yang mengelilinginya. Ini bukanlah mimpi. Ini nyata. Mama, Papa, Reyhan, dan Nadhira ada di dekatnya. Menunggunya yang entah berapa lama tertidur. Yang terakhir Farhan ingat adalah bagaimana suara teriakan Mama melengking seraya mengguncang tubuhnya yang berulah.

__ADS_1


“Hai!” sapa Reyhan berusaha biasa saja. Namun, sekuat apa pun ia berusaha, sorot matanya tidak bisa berbohong bahwa ada kesedihan di sana. Dan Farhan menyadari hal itu.


Farhan menatap satu per satu sorot mata yang menyorotnya. Masih sama dengan sorot mata Reyhan. Apakah itu artinya mereka sudah tahu semuanya?


“Ada apa?” tanya Farhan. “Katakan apa yang sudah kalian ketahui.”


Seisi ruangan itu saling menatap satu sama lain. Secerdas itu Farhan sampai bisa membaca ekspresi mereka?


Reyhan mendekat. “Sudah. Jangan pikirkan hal lain dulu. Kamu kan baru sadar, Dek.” Reyhan menyentuh puncak kepala adiknya dengan lembut.


“Kakak sudah tahu semuanya, ya?” tanya Farhan tanpa mempedulikan ucapan Reyhan. Ia kemudian tersenyum kecut ketika tak mendapatkan jawaban apa pun dari mereka yang ada di ruangan itu. “Farhan nggak salah tebak, ‘kan?”


Hening. Hanya suara patient monitor yang terhubung di tubuh Farhan itu saja yang terdengar. “Sudah. Jangan sedih seperti itu. Farhan nggak apa-apa kok.”


Seketika Mama menarik tubuh Reyhan menjauh. Ia kemudian memeluk tubuh Farhan. Ia sudah tidak bisa lagi membendung air matanya. “Kenapa sih, Nak, kamu nggak pernah mau jujur sama Mama?”


Farhan hanya bisa terdiam dan membiarkan Mama melakukan apa saja yang ia mau. Juga membiarkan Mama meracau, mengatakan apa pun juga. Sekarang, Farhan sudah tak memiliki kata lagi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Tak lama ia melepaskan pelukan Mama di tubuhnya. Ia berpikir bahwa ia tidak boleh membuat tangisan itu lebih lama tercipta. Lalu, senyum manis terulum dengan begitu cantik.


“Farhan akan sembuh. Jangan khawatir, ya.”


Siapa yang menyangka jika Farhan akan mengatakan hal itu? Namun, tentu kalimat itu menjadi semangat juga bagi keluarganya. Mereka menemukan bahwa Farhan mau berjuang.

__ADS_1


“Berjuang sama Papa, Mama, dan semuanya, ya, Nak,” ucap Papa yang dibalas anggukan oleh Farhan. Farhan tidak berbohong. Ia ingin berjuang. Ia masih ingin berkumpul dengan keluarganya. Menikmati bahagia yang semoat tertunda.


__ADS_2