Napas Baru

Napas Baru
Chapter 42


__ADS_3

Rasanya sudah lama tidak menginjakkan kaki di gedung menjulang tinggi yang saat ini dipijaki oleh Reyhan. Ia mengangkat pandangan dan menatap bangun itu dengan tatapan bangga. Bangunan itu adalah salah satu bukti perjuangannya bersama sang ayah selama ini di tengah perjuangan lain yang harus ia lakukan. Adalah menjadi seseorang yang memiliki kelemahan di dalam tubuhnya.


Reyhan membawa sepasang tungkainya memasuki kantor. Namun, betapa Reyhan terkaget ketika melihat para karyawan sudah berbaris dengan rapi di lobi. Refleks mulutnya terbuka melihat sambutan yang begitu antusias. Bahkan, lobi sudah disulap menjadi seperti taman balon. Juga dengan balon huruf yang bertuliskan “Welcome Back”.


Namun, ada satu yang membuat Reyhan sampai tersentuh atas sambutan itu. Di antara para karyawan, ada ayah dan adiknya yang berdiri berdampingan seraya mengulum senyum padanya. Sungguh hal itu membuat Reyhan merasa terharu. Ia melihat sudah tidak ada kebencian di antara dua lelaki yang begitu ia cintai itu.


“Selamat datang kembali, Pak Reyhan Akbar Oktara,” ucap Farhan seraya melangkah mendekat. Ucapannya berhasil menarik perhatian para karyawan dan bertepuk tangan Ia kemudian memeluk kakaknya dan langsung ia rasakan Reyhan membalas pelukannya.


Lalu, menyusul Papa yang juga melakukan hal yang sama. “Welcome back, Kak.”


Reyhan mengangguk. Ia kemudian menyisir sekitarnya dengan tatapan berbinar. “Terima kasih semuanya atas sambutan ini,” ucap Reyhan pada semua karyawan yang hadir di lobi. Ia tidak menyangka saja jika kedatangannya akan mendapatkan sambutan seperti ini.


“Papa nggak bisa nemanin ke ruangan. Papa harus pergi sekarang,” ucap Papa seraya menyentuh pundak putra sulungnya. Ia kemudian menatap sejenak pada Farhan. “Biar Farhan yang nemanin, ya.”


Reyhan menganggukkan kepala. Ia kemudian meraih tangan Papa dan mencium punggung tangan pria itu. Apa yang ia lakukan langsung ditiru oleh adiknya. Ia mengiringi kepergian Papa hanya dengan tatapan saja sampai pria dalam balutan jas merah marun itu tak lagi tampak di pelupuk mata.


Setelah semua karyawan kembali ke tempat kerja masing-masing. Reyhan dan Farhan beranjak menuju lift yang akan mereka gunakan menuju lantai di mana ruangannya berada.


Di dalam lift, Reyhan dan Farhan terjebak dalam sepi. Reyhan melirik adiknya dengan ekor mata. Berada dalam situasi seperti ini membuat Reyhan seperti tengah berada di dekat orang asing. Tak ada percakapan apa pun yang tercipta di antara dirinya dengan sang adik sampai pintu lift kembali terbuka.


Reyhan melangkah lebih dulu dan disusul oleh Farhan. Namun, langkahnya terhenti dan ia menoleh ke belakang ketika tangan Farhan menyentuh pundaknya. “Kenapa?”


“Farhan boleh minta tolong, Kak?”

__ADS_1


Reyhan hanya menganggukkan kepala. Ia rasakan pegangan adiknya semakin kuat di pundaknya.


“Pelan-pelan jalannya. Farhan pusing,” ucap Farhan tanpa berniat membohongi kakaknya. Jika tadi ia bisa menahan rasa pusing dan membuat kepalanya terasa berat itu. Kali ini, Farhan sudah tidak bisa lagi untuk menahannya. Maka, terpaksa ia harus jujur pada kakaknya. Terserah setelah ini Reyhan akan semakin mencurigainya.


Reyhan dengan cepat meraih tangan Farhan untuk mencoba membantu adiknya agar tidak terjatuh. Ia kemudian mengalungkan tangan Farhan di lehernya dan menuntun adiknya menuju ruangan. Kendati apa yang ia lakukan itu sukses menarik perhatian para karyawan yang ada di sekitar mereka dan juga menawarkan diri untuk membantu, tetapi langsung ditolak.


Reyhan membawa tubuh Farhan ke sofa di dalam ruangannya. Ia kemudian menyusul mendaratkan bokongnya di samping Farhan. “Kakak bawa ke rumah sakit saja, ya,” tawar Reyhan meskipun ia tahu respons apa yang akan didapatkan dari adiknya.


Tepat sesuai dugaan Reyhan. Farhan hanya menggelengkan kepala dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa seraya memijat pangkal hidungnya. Hari pertama ke kantor bukannya Reyhan disibukkan dengan pekerjaan. Namun, ia justru dikejutkan dengan kondisi Farhan seperti ini. Dan ia hanya bisa menatap adiknya dengan tatapan kasihan. Untuk membawa Farhan ke rumah sakit pun ia tidak bisa memaksakan kehendaknya pada sang adik.


“Harusnya kalau kamu sakit, kamu nggak usah masuk ke kantor, Dek,” ucap Reyhan.


“Tadi Farhan nggak ngerasa pusing sih. Nggak tahu kenapa malah sekarang pusing banget. Mungkin karena semalam Farhan nggak bisa tidur,” ujar Farhan. Ia membuka kelopak matanya dan menoleh ke arah Reyhan. Pandangannya bahkan kini sudah tampak buram. Namun, ia masih bisa menangkap raut wajah khawatir kakaknya. Lalu, untuk menghilangkan rasa khawatir Reyhan padanya. Farhan mengulum senyumnya. “Sudah. Jangan khawatir kayak gitu. Farhan cuma pusing doang. Nanti juga sembuh.”


Reyhan menghela napas panjang. Adiknya itu memang pandai sekali berpura-pura. Ya, berpura-pura untuk terlihat baik-baik saja di depan orang lain.


“Tentu saja. Mau tanya apa?”


Farhan merubah posisi duduknya agar terasa lebih nyaman. “Bagaimana rasanya menikah di usia muda?”


Reyhan sempat tertegun mendengar pertanyaan Farhan. Adiknya itu tidak pernah membahas tentang cinta atau hati. Namun, tiba-tiba saja Farhan bertanya tentang sebuah pernikahan. “Kamu mau nikah?”


Farhan memutar bola matanya malas. “Farhan cuma nanya doang, Kak. Untuk ke jenjang itu sih Farhan masih belum yakin.”

__ADS_1


Lelaki dalam balutan jas mewah itu mengangguk paham. “Menikah di usia muda itu, ya, ada suka dan dukanya, Dek. Kita kadang susah mengendalikan ego dan masih ingin menang sendiri dari pasangan kita. Dan sukanya, apa yang kita lakukan dengan pasangan itu terhitung ibadah. Kamu tahu, tidak? Menikah adalah ibadah terpanjang. Maka, beruntunglah bagi orang-orang yang menikah karena Allah.”


Farhan tertegun. Ia teringat pada kekasihnya. Awalnya, ia berpikir bahwa Finza akan meninggalkannya saat mengetahui tentang penyakitnya. Namun, perempuan itu justru berjanji untuk menemaninya sampai kapan pun. Lalu, haruskah Farhan meneguhkan hati untuk melamar dan mempersunting perempuan cantik itu?


“Tidak baik menunda-nunda hal baik, Dek.” Reyhan menyentuh pundak adiknya dengan lembut.


Farhan mengangkat kepala dan menatap wajah kakaknya yang kini terlihat segar. Berbeda dengan sebelum kakaknya menjalankan operasi beberapa bulan lalu. “Farhan masih ragu dengan diri sendiri. Apakah Farhan mampu menjadi suami yang baik untuk istri Farhan?”


Senyum lebar Reyhan muncul dengan indah. “Artinya, kamu butuh waktu untuk meyakinkan diri terlebih dulu,” ucap Reyhan dengan serius seraya mempertemukan tatapannya dengan sang adik. “Jika kau sudah siap. Jangan berusaha menunda lagi, ya.”


“Huh!” Farhan mengembuskan napas panjang. Lalu, ia menganggukkan kepala.


“Tapi, bagaimana jika istri Farhan nggak bisa nerima kekurangan Farhan?” tanya Farhan dengan ragu.


“Yang benar-benar mencintaimu selalu punya cara untuk melengkapi kekuranganmu. Dan tidak menjadikan hal itu sebagai alasan untuk pergi,” jawab Reyhan. “Kamu bisa lihat Kak Nadhira, ‘kan? Meskipun dia tahu Kakak punya banyak kekurangan dan lemah. Dia nggak pernah berniat meninggalkan Kakak. Itu karena dia benar-benar mencintai Kakak,” sambung Reyhan.


Apakah Finza akan sama seperti Nadhira? Bisakah perempuan itu nanti menerima segala kekurangan yang bahkan belum Farhan tunjukkan padanya?


“Jangan khawatir. Allah lebih tahu apa yang kamu butuhkan. Jika Finza adalah seseorang yang sebenarnya kamu butuhkan di hadapan Allah. Percayalah Allah akan mengirimkannya sebagai pendamping hidupmu,” kata Reyhan untuk menyemangati adiknya.


Farhan mengangguk. Ia seakan mendapatkan suntikan semangat serta harapan dari kakaknya.


“Selalu berpikir positif pada Allah, Dek.”

__ADS_1


“Tentu saja,” jawab Farhan.


Lalu, perbincangan demi perbincangan lain pun tercipta dan mengalir begitu saja. Reyhan dan Farhan kembali menjadi sedekat dulu. Menikmati waktu emas yang sudah lama tidak tercipta.


__ADS_2