
Sebelum terlelap dan mengarungi alam mimpi. Nadhira dan Reyhan menghabiskan waktu berdua setelah menidurkan si kembar—Radit dan Radin. Namun, yang benar-benar terlelap hanya Reyhan. Tidak dengan perempuan berhijab yang kini sudah menanggalkan jilbab yang membungkus mahkotanya serta mengganti gamis dengan piyama. Berbekal pencahayaan lampu tidur yang sengaja belum ia matikan. Nadhira masih setia memandangi wajah suaminya. Wajah yang kini sudah bisa mengulum senyum untuknya setelah sekian lama. Nadhira merasa ini masih seperti mimpi. Akan tetapi, jika memang ini hanya mimpi. Biarkanlah Nadhira menikmatinya lebih lama untuk membayar rindu yang sudah lama ia tabung dan banyak jumlahnya itu untuk sang suami.
Namun, yang kini Nadhira hadapi bukanlah sebatas mimpi belaka. Ini adalah kenyataan indah setelah kepedihan yang mendera. Setelah badai panjang yang menerjang tanpa ampun. Dan saat ini, biarlah Nadhira menghabiskan waktu sendiri untuk menikmati kenyataan indah bersamaan dengan pemandangan indah itu. Adalah memandangi wajah tampan suaminya yang tengah damai dalam pejam. Ia menelisik setiap inci wajah Reyhan di bawah penerangan lampu tidur yang remang-remang. Tidak ada yang berubah dari wajah itu, hanya terlihat tirus dan juga ditumbuhi thin beard yang belum sempat Nadhira bersihkan. Sebab, Reyhan lebih dulu bangun tidur panjang yang bagi keluarga besar adalah duka yang entah akan berujung apa.
Nadhira memainkan jemarinya menyentuh wajah Reyhan. Mulai dari mata, hidung, danberakhir di bibir merah muda lelaki itu. Bibir yang selalu menghadiahinya kecupan hangat penuh cinta. Sama seperti kecupan sebelum Reyhan memejamkan mata dan beranjak menuju alam mimpi. Tanpa sadar kedua sudut bibir Nadhira terangkat membentuk sebuah kurva cantik yang menghias wajah natural tanpa polesan make up itu. Hatinya menghangat seperti tengah dihangatkan dengan perapian di musim dingin. Akhirnya, yang ia nanti-nantikan dalam balutan do’a dan dibantu kekuatan dari sepasang bayi kembarnya berbuah manis juga. Apa yang Nadhira nantikan sudah mencapai titiknya. Dan kini ia akan memikirkan lagi bagaimana akan menjalani hidup ke depannya bersama suami dan bayi kembarnya.
Lalu, bagaimana dengan Farhan?
Tiba-tiba saja pikiran Nadhira menjurus pada adik iparnya itu. Sejak berangkat ke luar kota bersama Tio, sampai detik ini Nadhira belum juga mendapatkan kabar tentang Farhan. Tak satu pun ia dapatkan kiriman pesan atau panggilan telepon dari sang adik ipar. Begitu juga dari Tio. Apakah Farhan baik-baik saja? Lantas, apakah Farhan sudah tahu tentang Reyhan yang sudah siuman dari komanya? Jika memang Farhan sudah tahu, kenapa lelaki itu tidak cepat-cepat menghubungi orang rumah? Bahkan, Mama pun yang mencoba menghubungi Farhan tak menuai hasil apa pun.
Nadhira menghentikan aksinya menatap dan memainkan jemarinya di wajah Reyhan. Ia meraih ponsel yang tengan ia charge di atas nakas di samping tempat tidur. Ia membuka lock dan men-schroll ponselnya untuk mencari nama kontak Farhan untuk kemudian ia hubungi. Dan ternyata apa yang Mama alami juga dialami Nadhira. Ia gagal menghubungi adik iparnya karena sepertinya memang ponsel Farhan sedang dalam kondisi tidak aktif. Namun, jika siang tadi Nadhira masih berpikir bahwa Farhan tidak mengaktifkan ponselnya karena masih ada pekerjaan yang tidak bisa diganggu. Lalu, bagaimana dengan sekarang? Tidak mungkin, bukan, jika Farhan masih bekerja di luar hingga larut seperti ini? Atau Farhan sengaja tidak mengaktifkan ponselnya karena tidak ingin diganggu istirahatnya, pikir Nadhira mencoba positif.
Usaha Nadhira tidak sampai hanya dengan menelepon saja. Ia juga mengirimkan pesan untuk Farhan dengan harapan besok saat Farhan terbangun, adik iparnya itu akan membaca pesannya dan akan segera memberi kabar baik untuk meretas kekhawatiran orang-orang di rumah.
“Al.”
Nadhira yang sibuk dengan isi kepalanya tersentak begitu panggilan dari suara khas bangun tidur itu terdengar. Nyaris ponsel yang ia genggam itu terjatuh. Ia lantas mengelus dadanya yang berdegup sangat kencang. Lalu, menoleh ke samping memandangi Reyhan sedang berusaha mengubah posisinya agar sama seperti dirinya yang duduk setengah berbaring. “Aku kaget,” ucap Nadhira seraya mengulum senyumnya. “Kakak kenapa bangun?”
Alih-alih Reyhan menjawab pertanyaan yang dilontarkan istrinya. Ia justru balik melempar tanya pada Nadhira. “Kamu kenapa belum tidur?”
Nadhira meletakkan kembali ponselnya di atas nakas. Lalu, memposisikan diri dengan menyamping agar bisa berhadapan langsung dengan Reyhan. “Aku nggak bisa tidur. Aku takut kalau ini hanya mimpi,”ujar Nadhira tanpa berniat membohongi suaminya tentang apa yang ia rasakan.
Kening Reyhan mengkerut dalam. Ia belum paham apa maksud ucapan Nadhira.
__ADS_1
“Kakak kembali lagi. Aku takut ini hanya mimpi,” terang Nadhira menjawab kebingungan yang ia tangkap dari ekspresi yang ditunjukkan Reyhan. “Kalau ini memang hanya mimpi. Aku ingin tetap tidur dan nggak mau bangun.”
Reyhan tertawa kecil. Ia menepuk pelan pahanya untuk mengisyaratkan Nadhira untuk meletakkan kepalanya di sana. Lalu, dengan senang hati perempuan itu melakukannya. Nadhira memindahkan kepalanya ke atas pangkuan Reyhan. Reyhan kemudian mengelus lembut puncak kepala Nadhira untuk meyakinkan istrinya bahwa ini bukanlah mimpi. “This is not a dream. This is a reality,” ucap Reyhan dengan nada lembut seraya mengulum senyum lebarnya.
Senyum lebar yang ia lihat itu sukses membuat Nadhira ikut tersenyum. Ia bahagia. Bahagia sekali.
Hening datang. Reyhan dan Nadhira terdiam dalam tatapan penuh cinta.
“Rasa ngantukku sepertinya sudah hilang. Apa kamu nggak keberatan menceritakan apa yang sudah aku lewatkan selama ini?” ucap Reyhan lebih dulu untuk mendeportasi sepi yang mendekapnya bersama Nadhira. Ia sendiri tidak punya topik untuk ia angkat sebagai bahan perbincangan.
Nadhira terdiam sejenak. Ia berusaha memikirkan tentang topik yang mana yang cocok untuk ia angkat lebih dulu sebagai bahan perbincangan dengan Reyhan. Sebab, sudah terlalu banyak hal yang terjadi selama Reyhan dalam kondisi koma. Namun, Nadhira belum bisa angkat suara tentang hal-hal menyakitkan karena takut akan kondisi Reyhan yang belum sepenuhnya stabil. Lantas, apa yang akan ia ceritakan pada lelaki itu?
“Tentang apa saja, Al. Meski itu hal menyakitkan,” ucap Reyhan karena tak mendapatkan respons apa pun dari Nadhira. “Aku juga ingin merasakan kesulitan dan kesakitan yang kamu rasakan selama ini,”sambung Reyhan.
“Aku sudah menyelesaikan pendidikanku satu bulan sebelum Kakak bangun,”ucap Nadhira yang berhasil menemukan topik yang tepat untuk diperbincangkan.
Tatapan Reyhan berbinar mendengar hal itu. Bahkan di tengah kesulitan yang dihadapi, istrinya mampu menyelesaikan pendidikannya. “Selamat, ya, Sayang. Aku bahagia mendengarnya. Kamu hebat and I proud of you,” ucap Reyhan dengan tulus. “Setelah kondisiku stabil nanti. Kita harus merayakan kelulusanmu.”
Nadhira menganggukkan kepala dengan cepat. Memang Reyhan selalu saja begitu, selalu memberikannya apresiasi atas pencapaian sekecil apa pun.
“Apa Farhan juga?”
Sekali lagi Nadhira menganggukkan kepalanya cepat. “Dan Kakak tahu, nggak? Farhan sekarang pacarana sama Finza.”
__ADS_1
“Oh, really?” Reyhan sedikit tidak percaya.
“Iya. Dan Abang sudah menikah dengan Mikayla.”
Reyhan semakin tidak percaya dengan apa yang diucapkan istrinya. Ini terdengar seperti kejadian yang sangat direncanakan skenarionya oleh manusia. Bagaimana bisa tiga perempuan yang menjalin hubungan persahabatan itu bisa berpasangan dengan tiga lelaki yang begitu sangat dekat?
“Mikayla sekarang lagi hamil. Sebentar lagi bakal ada yang manggil Kakak dengan panggilan Om.”Nadhira terkekeh kecil setelah berucap.
“Ah, aku terlalu banyak melewatkan hal-hal indah,”ujar Reyhan seraya mengembuskan napas kasar.
“Nggak apa-apa. Setelah ini, kita akan melewati hal-hal indah bersama-sama,”sahut Nadhira untuk menghibur Reyhan. Ia mengulum senyum indahnya pada Reyhan yang tengah menatapnya dengan tatapan penuh cinta dan teduh.
“Kak,”panggil Nadhira dengan nada selembut mungkin.
“Hm.”
“Terima kasih sudah kembali. Dan tolong jangan pergi.”
Reyhan terdiam mendengar ucapan istrinya. Terdengar hanya kalimat sederhana, tetapi begitu menyentuh ke dalam hati Reyhan. Sekarang sudah bisakah ia berjanji untuk tidak pergi?
“Iya. Aku nggak akan pergi. Aku akan selalu menemani kamu dan si kembar dalam keadaan apa pun,”jawab Reyhan dengan pasti dan penuh keyakinan. Sekarang Reyhan bisa hidup normal pasca transplantasi jantung yang ia lakukan tepat di hari kelahiran putranya. Ia bisa menjadi suami dan ayah yang sempurna. Dan berusaha untuk tidak lagi merepotkan Nadhira yang sudah terlanjur repot mengurusi anak kembar mereka.
“Terima kasih sudah bertahan dengan kuat sampai detik ini. Terima kasih sudah menjadi ibu hebat untuk Radit dan Radin,”ucap Reyhan balik mengucapkan terima kasih. Ia bersyukur sampai detik ini Nadhira masih berdiri di sisinya. Masih tegar dan kuat menjalani perannya sebagai istri dan seorang ibu. Meski jelas itu tidak akan mudah. Dan hal itulah yang membuat Reyhan untuk lebih bersyukur lagi, lagi, dan lagi.
__ADS_1
“Kakak nggak tahu saja kalau aku sudah gagal menjaga salah satu bayi kita.”Nadhira takut menyuarakan kalimat itu dan hanya berakhir di dalam hati saja. Ia mencoba mengulum senyumnya dengan semanis mungkin agar Reyhan tak menyadari perubahan dalam dirinya. Meski Nadhira tahu bahwa suatu saat nanti apa yang tengah ia sembunyikan saat ini pasti akan terungkap juga. Entah cepat atau lambat.