
“Papa lihat sendiri bagaimana tangan Farhan bergetar dan dia hanya mencoba menyembunyikannya dari Papa.”
Ucapan Papa kembali terngiang di ceruk telinga Reyhan. Ternyata apa yang diucapkan Papa memang benar. Ia bisa melihat sendiri hal itu terjadi lagi pada adiknya. Dan Farhan juga melakukan hal yang sama. Farhan mencoba menghindarinya. Hingga ia tidak memiliki kesempatan untuk bertanya lebih jauh.
Reyhan mengangkat kepalanya dan menatap jam dinding di ruang depan. Pukul sepuluh malam. Dan sekarang lagi-lagi ia harus menunggu Farhan yang tidak juga menunjukkan tanda-tanda pulang. Benar kata Papa, ia harus mengajak adiknya itu untuk bicara. Ia merasa ada yang tidak beres dengan Farhan. Sejauh ini mungkin yang ditunjukkan Farhan hanya sekadar pura-pura tampak terlihat baik-baik saja. Padahal, sesungguhnya lelaki itu tengah menyembunyikan rahasia besar, pikir Reyhan.
Reyhan meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja. Ia melihat pesan yang ia kirimkan pada adiknya itu belum juga terbaca. Apalagi menuai balasan. Reyhan menghela napas panjang. Ia merasa khawatir pada Farhan.
“Hei! Kenapa masih di sini? Ayo istirahat,” ucap Nadhira dengan sangat lembut seraya mendekati suaminya. Ia berdiri di hadapan Reyhan yang duduk dengan raut wajah khawatir itu. “Ada apa?” tanya Nadhira seraya menyugar rambut Reyhan yang sudah mulai memanjang. Lalu, ia kecup sekilas kening suaminya.
Reyhan mengangkat pandangan dan mempertemukan tatapannya dengan sorot sepasang bola mata cantik itu. ia kemudian meraih tangan istrinya dan menggenggamnya dengan erat. Reyhan menarik tubuh kecil Nadhira dan memeluknya dengan posisi ia yang duduk dan Nadhira berdiri. Hingga wajahnya tepat jatuh di perut perempuan itu. Terakhir ia mencium perut Nadhira saat si kembar masih berada di dalam sana. Hingga terkadang ia merasakan langsung gerakan bayi mungilnya. Ah, Reyhan merindukan masa-masa itu. Namun, ia juga begitu menikmati kehadiran si kembar di dalam hidupnya. Ia sudah bisa mendengar tangisan serta sesekali tawa yang lepas dari sepasang bayi kembarnya yang menggemaskan. Ya, meskipun ada satu fakta yang baru diketahui Reyhan tentang kondisi salah satu bayinya.
“Ini sudah beranjak larut. Ayo Kakak istirahat. Bukannya besok Kakak akan ke kantor?”
Reyhan menganggukkan kepala. Besok ia akan kembali menginjakkan kaki di gedung bertingkat yang dulu menjadi rumah keduanya. Rasanya sudah tidak sabar untuk kembali bekerja seperti sediakala.
“Aku tunggu Farhan pulang dulu, ya, Al. Setelah itu, aku akan istirahat. Lebih baik kamu duluan saja istirahat karena pasti capek banget,” kata Reyhan seraya mengangkat kembali pandangannya. Ia tersenyum manis pada perempuan cantik dalam balutan hijab instan. Sejak dulu hingga detik ini, Reyhan merasa istrinya tidak pernah kehilangan aura kecantikannya. Justru, ia melihat Nadhira makin hari makin memancarkan pesona kecantikan luar biasa. Apalagi ketika perempuan itu tengah menimang bayinya. Ia tidak menyangka bahwa istri kecil dan manjanya itu sudah tumbuh dewasa dan menjadi seorang ibu hebat untuk Radit dan Radin.
__ADS_1
“Memangnya ada apa lagi dengan Farhan? Bukannya kemarin Kakak sudah bicara, hm?”
Reyhan menarik tubuh Nadhira dan duduk di atas pangkuannya. Setelah kembalinya dari tidur panjang. Reyhan tampak sangat manja dan juga bersikap manis. Memang dasarnya Reyhan yang manis sejak dulu. Namun, kini semakin menjadi-jadi saja. Bahkan, ia tidak memilih tempat untuk mengadu keromantisan dengan Nadhira dan tentu saja tanpa malu meski dilihat oleh orang tua atau bahkan pekerja lain di rumah itu.
“Aku merasa ada yang disembunyikan Farhan, Al,” ujar Reyhan. “Papa cerita sama aku beberapa hari yang lalu. Di kantor ia menemukan Farhan dengan tangan yang bergetar dan Farhan mencoba untuk menghindar. Lalu, siang tadi aku juga menemukan hal yang sama terjadi pada Farhan,” sambung Reyhan menuturkan kejadian yang ia temukan.
Nadhira seketika terdiam. Kini, Reyhan dan Papa bahkan sudah menyimpan kecurigaan pada Farhan. Entah cepat atau lambat rahasia yang ia coba sembunyikan itu pasti akan terungkap juga. Lalu, jika orang-orang tahu, apakah mereka akan membenci Nadhira karena sudah bersekongkol dengan Farhan?
“Entah hanya perasaanku saja atau memang benar terjadi. Aku merasa Farhan nggak baik-baik saja, Al. Dia lebih kurusan dan terlihat sangat pucat akhir-akhir ini,” terang Reyhan pada istrinya tentang kecurigaannya terhadap Farhan. “Apa kamu juga merasakan hal yang sama?”
“Al,” panggil Reyhan karena tak mendapatkan respons dari sang istri.
“I-iya, Kak.”
“Kamu kenapa melamun?”
“Nggak apa-apa,” jawab Nadhira dan mencoba untuk biasa saja. “Tadi Kakak bilang apa?”
__ADS_1
Reyhan mengulang ucapan sebelumnya.
“Iya. Farhan memang lebih kurusan. Mungkin karena dia akhir-akhir ini lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja dan nggak terlalu memperhatikan istirahat dan pola makan,” ujar Nadhira dengan jawaban asalnya.
“Apa Farhan selama aku tidak ada dia selalu bekerja dengan keras?”
Nadhira menganggukkan kepala. “Farhan sudah bekerja keras untuk menggantikan posisi Kakak. Banyak projek besar yang sudah diraih Farhan beberapa bulan terakhir,” ujar Nadhira dengan bangga. “Farhan bekerja keras untuk membuktikan bahwa dia bisa seperti Kakak pada Papa. Tapi … Hm, Kakak pasti tahu bagaimana ceritanya.”
Reyhan mengangguk paham. Nadhira benar. Ia tahu bagaimana jalan cerita selanjutnya. Sejak dulu masih belum berubah juga. Entah kapan waktu itu akan datang lalu menunjukkan satu jalan cerita baru untuk mengembalikan kondisi di rumah itu. Satu kondisi di mana mampu mendeskripsikan tentang keharmonisan, kehangatan, dan kebahagiaan sebagaimana keluarga pada umumnya.
“Al, apa selama itu juga Farhan terlihat baik-baik saja?” tanya Reyhan kembali pada topik awal tentang kecurigaannya pada sang adik. “Maksudku, dia tidak mengeluh sakit?” sambung Reyhan dengan cepat sebelum istrinya angkat suara.
Entah sudah berapa banyak dosa yang Nadhira perbuat pada suaminya. Dan kali ini, ia juga akan melakukan hal sama. Menumpuk kembali dosanya untuk sebuah rahasia yang masih ia sembunyikan. “Hanya sekadar sakit biasa jika memang kecapekan,” jawab Nadhira dengan nada suara yang ia usahakan biasa saja.
Reyhan yang terlalu percaya pada Nadhira hanya bisa menganggukkan kepala. Kendati di dalam hatinya ia tidak bisa percaya begitu saja. Entah alasannya apa. Namun, hatinya tidak bisa berbohong. Nalurinya sebagai seorang kakak tidak bisa memungkiri tentang perasaannya yang mengatakan bahwa adiknya tidak sebaik apa yang dipertontonkan atau apa yang dikatakan Nadhira.
“Kak, aku tidak tahu jika nanti kamu tahu tentang Farhan dan aku ikut merahasiakan. Mungkin kamu akan membenciku dengan sangat. Tapi, yang aku lakukan bukan karena keinginanku. Aku hanya nggak mau adikmu pergi dan nggak ada yang merawatnya,” lirih Sadina dalam hati. Ia menyentuh punggung tangan Reyhan yang melingkar di bagian perutnya.
__ADS_1