
“Panggil Farhan untuk sarapan, Ma,” ujar Papa saat ia tak melihat atensi anak tengahnya itu di ruang makan. Hal itu sukses membuat seisi ruangan itu saling melempar tatapan satu sama lain. Aneh. Setelah bertahun-tahun lamanya, baru kali ini Papa meminta Mama untuk memanggil anak itu untuk segera bergabung di meja makan.
Papa menatap Mama yang masih bergeming di tempat dengan sepasang alis yang terangkat sempurna. “Kenapa Mama diam?” tanya pria itu pada istrinya.
Mama lantas tanpa suara bangkit dari kursi yang ia duduki dan beranjak menuju lantai dua di mana kamar Farhan berada. Langkah Mama diiringi rasa heran tentunya. Namun, di sisi lain tentu saja Mama senang melihat perubahan pagi ini. Kini, Papa sepertinya sudah perlahan kembali seperti dulu.
“Farhan,” panggil Mama setelah mengetuk pintu kamar anak keduanya itu. Tak lama setelah itu, Farhan muncul dari balik pintu kamar lengkap dengan setelan pakaian formalnya. Anak itu sudah bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Namun, ada satu hal yang sangat menarik perhatian Mama. Adalah raut wajah Farhan yang lebih ceria dari sebelumnya. Mungkin ini karena perubahan Papa pada Farhan, pikir Mama. Ya, Mama berharap semoga semuanya kembali membaik. Sampai ia kembali merasakan keluarganya yang hangat dan harmonis seperti dulu. Jujur, Mama rindu masa itu.
“Kenapa, Ma?” tanya Farhan seraya merapikan dasinya.
“Turun, yuk, sarapan dulu.”
“Ini Farhan juga sudah mau turun, Ma.”
Mama tersenyum. Ia kemudian menggandeng tangan Farhan lalu melangkah. Dengan rasa senang wanita itu memijak satu per satu anak tangga. Sedang Farhan hanya bisa tersenyum melihat polah ibunya. Ah, Farhan benar-benar menemukan kehangatan yang sudah lama tak ia rasakan.
Di antara dinding pembatas itu Farhan berhenti sejenak. Ia melihat bagaimana tatapan itu sudah tak lagi sama seperti sebelumnya. Tatapan itu begitu ramah menyambut kedatangannya. Adalah tatapan Papa yang lebih sering tampak menyeramkan dan selalu membuat ciut nyali Farhan dalam sekejap.
__ADS_1
“Ayo.” Mama menarik pelan lengan Farhan untuk kemudian melanjutkan langkah. Lantas, bergabung untuk menikmati sarapan pertama Farhan yang penuh kehangatan. Apakah Tuhan tengah memberikannya waktu untuk menikmati hal-hal indah bersama keluarganya sebelum Farhan pergi? Tak mengapa. Meski singkat. Paling tidak Farhan bisa merasakan bagaimana kehangatan itu kembali memeluknya. Ia ikhlas jika Tuhan membawanya pulang.
Sarapan benar-benar berjalan khidmat. Tak ada suara seperti biasanya tercipta di sana. Seisi ruangan fokus dengan makanan yang ada di hadapan masing-masing mereka. Hingga ritual wajib pagi ini selesai dan Papa mulai angkat suara setelah meneguk air putih di dalam gelas yang ada di atas meja.
“Farhan berangkat sama Papa. Kakak pergi ke kantornya agak siangan, karena Kakak harus ke rumah sakit dulu,” ucap Papa seraya menatap putranya dengan hangat. Meski Farhan sudah tampak lebih segar dan ceria, tetapi ia masih bisa menangkap wajah pucat itu. Kemudian, kepalanya kembali memutar ulang kepingan peristiwa semalam di ruang kerjanya. Farhan. Kapan anak itu bisa jujur pada Papa?
Tanpa berpikir panjang Farhan menganggukkan kepala. Jika Papa saja sudah bisa biasa saja. Itu artinya ia tak memiliki alasan untuk tetap canggung. Ia harus lebih biasa dari Papa hingga hubungan yang sempat berjarak itu kembali seperti layaknya hubungan antara seorang ayah dan anak.
“Ya sudah. Kita berangkat sekarang.”
Mama tersenyum manis. Hatinya menghangat. Rupanya Tuhan mendengar do’a-do’anya. Mengembalikan hubungan antara Papa dan Farhan.
Selepas sarapan dan menyaksikan adegan manis di meja makan tadi. Reyhan dan Nadhira kembali ke kamar. Keduanya menggendong si kembar—Reyhan menggendong Radit dan Nadhira menggendong Radin. Mereka mengulum senyum merekah. Menikmati peran mereka menjadi orang tua seutuhnya.
“Kak, aku senang banget lihat Papa sama Farhan tadi,” ujar Nadhira membuka perbincangan dengan suaminya. Meski ia tak menatap langsung wajah Reyhan, karena fokus memandangi wajah menggemaskan bayi di dalam gendongannya itu. Nadhira yakin suaminya juga tengah tersenyum manis mengingat bagaimana interaksi Papa dan Farhan di ruang makan saat sarapan tadi. “Sepertinya usahamu menjebak mereka kemarin nggak sia-sia, ya.” Nadhira tertawa kecil setelah itu.
Reyhan pun tak urung untuk tidak tertawa. Benar apa yang dikatakan Nadhira, bahwa usahanya tak berakhir sia-sia. Kini, ia sudah bisa menuai usahanya itu. betapa bersyukurnya Reyhan sekarang. Lalu, ia akan fokus untuk mengurus keluarga kecilnya. Sebab, sudah tidak ada beban lain yang ia pikul. Sebab, Farhan-nya sudah menemukan rumah yang sesungguhnya sebagai tempat pulang dan berkeluh kesah. Apa yang selama ini Reyhan impikan sudah dibuat nyata oleh Tuhan. Sungguh! Reyhan sangat berterima kasih akan hal itu.
__ADS_1
“Sekarang aku sudah lega, Al. Aku nggak perlu lagi mikirin ke mana Farhan akan pulang,” ucap Farhan seraya menatap penuh cinta istrinya. Ia kemudian mengelus puncak kepala perempuan itu dengan sebelah tangannya. Lalu, berpindah mengelus pipi gembul Radin. “Sekarang kita fokus untuk membesarkan si kembar, ya, Sayang.”
Nadhira mengangguk pelan. Reyhan salah. Masih ada hal yang lebih besar belum diketahuinya. Namun, sementara Nadhira tak akan angkat suara sampai batas waktu di mana Farhan berani bicara pada keluarganya. Mungkin sekarang lebih tepatnya Nadhira lebih menghargai keputusan adik iparnya itu. Tentu saja apa yang dilakukan Farhan memang ada alasannya. Dan Nadhira tidak akan memaksa lelaki itu.
“Sayang, terima kasih, ya, sudah menjadi istri dan ibu yang kuat,” ucap Reyhan dengan tulus pada istrinya. “Terima kasih sudah siap menungguku kembali bersama si kembar.”
Nadhira tersenyum mendengar ucapan Reyhan. “Berkumpul denganmu lagi dan bersama-sama membesarkan Radit dan Radin adalah impian terbesarku. Untuk mencapai itu, bukankah aku harus tetap kuat meski badai menghampiri?”
Reyhan mengangguk. Sekali lagi ia mengakui bahwa istrinya memang sudah tumbuh menjadi perempuan dewasa. Bukan lagi menjadi si manja seperti yang sering dikatakan Bara untuk menggoda Nadhira. Memang benar, bahwa keadaan mampu mendewasakan seseorang. Dan itulah yang terjadi pada Nadhira.
“Nak, terima kasih, ya, sudah membersamai Ibu selama Papa nggak ada untuk kalian. Papa bangga punya kalian,” kata Reyhan seraya menatap bergantian putra kembarnya itu. Reyhan tak menyangka akan tiba di titik ini. Dulu, ia hanya bisa bermimpi di tengah kesakitan yang setiap hari mendera untuk ia bisa menjadi sosok ayah seutuhnya. Dan kini Tuhan sudah memberikan kesempatan itu untuk Reyhan. Tentu ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Ia berjanji untuk menjadi suami yang baik untuk Nadhira dan ayah yang baik pula untuk sepasang bayi kembarnya.
“Terima kasih juga, ya, Pa, sudah kembali. Radit dan Radin juga bangga punya ayah hebat seperti Papa,” ucap Nadhira seraya menirukan suara anak kecil. Hal itu sukses membuat suaminya gemas akan tingkahnya. Lalu, ia mendapatkan hadiah sebuah kecupan hangat di kening.
Pagi ini. Pasangan itu memadu kasih dan menikmati waktu bersama sepasang anak kembar mereka. Membahas hal-hal random dan bercerita tentang apa saja yang membuat mereka nyambung. Lalu, mereka juga tidak lupa membahas tentang masa depan si kembar. Mereka sudah merancang banyak rencana untuk kehidupan anak-anak mereka kelak.
“Radit dan Radin harus melebihi ayah dan ibunya, ya, Al.”
__ADS_1
“Tentu saja. Mereka pasti akan tumbuh menjadi anak-anak yang membanggakan seperti ayah mereka,” ujar Nadhira yang memuji sang suami.
Reyhan hanya tertawa kecil. Lalu, perbincangan kembali mengalir sebelum waktunya mereka berangkat ke rumah sakit.