Napas Baru

Napas Baru
Chapter 32


__ADS_3

"Farhan di mana? Bukannya dia sudah pulang?" Pertanyaan yang dilontarkan Papa berhasil meretas suasana hening di ruang makan. Pria itu menatap bergantian seisi ruang makan, kecuali Latisha. Paham jika gadis kecil itu tidak tahu apa-apa.


"Farhan masih jetlag. Jadi, dia istirahat di kamar," jawab Reyhan setelah menatap istrinya. Ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan adiknya. Pulang dengan wajah pucat dan kondisi lemas, tak membuat Reyhan percaya bahwa adiknya hanya mengalami jetlag. Namun, ia belum bisa menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Farhan karena tak ingin mengganggu istirahat adiknya. Biarlah dulu Farhan terlelap untuk mengumpulkan tenaga.


"Kenapa nggak ikut bergabung makan malam?"


Entah kenapa pertanyaan Papa membuat Reyhan tak suka. Pertanyaan itu terdengar seperti mencari kesalahan Farhan saja. Kenapa Papa senang sekali menyudutkan posisi Farhan? Padahal, sudah ia jelaskan sebelumnya bahwa Farhan butuh istirahat. Namun, masih saja Papa seperti tidak peduli pada Farhan.


"Farhan capek lho, Pa. Dia baru pulang dari luar kota dan butuh istirahat. Biarkan sajalah nanti Farhan makan malam belakangan," ucap Reyhan seolah membela adiknya. Bukan begitu juga, ia tahu bagaimana lelahnya pulang bekerja dari luar kota. Sebab itu ia ingin memberikan waktu untuk adiknya.


"Biar dia paham arti kebersamaan," balas Papa dengan nada dingin. "Ma, panggil Farhan," perintahnya pada sang istri. Ia tidak peduli dengan ucapan si sulung.


Reyhan yang tidak habis pikir dengan sikap ayahnya hanya bisa menggelengkan kepala. Tidak ada yang berubah dari pria itu sampai detik ini. Ia tahu ayahnya tegas. Namun, ketegasan yang dimiliki seolah tak berperan di tempat dan situasi yang tepat.


Nadhira. Perempuan itu juga tidak bisa berkutik. Ia yang sering menyaksikan bagaimana sikap ayah mertuanya yang tak bisa menyama ratakan anak-anaknya hanya bisa memilih diam. Namun, mengingat kondisi Farhan yang sepertinya berada dalam kondisi kurang baik pun mendorong Nadhira untuk unjuk diri. Ia perlu memastikan kondisi adik iparnya sekarang. "Ma, biar Nadhira saja yang panggil Farhan," ucap Nadhira. Lalu, ia menoleh ke samping—ke arah Reyhan—untuk meminta izin lelaki itu. Ia bangkit setelah mendapat anggukan dari Reyhan.


Dengan langkah pasti Nadhira membawa sepasang tungkainya meniti satu per satu anak tangga yang menghubungkan ke lantai dua. Ia menatap pintu kamar Farhan yang tertutup rapat ketika kakinya sudah menginjak anak tangga teratas. Lalu, ia mendekati ke arah kamar sang adik ipar. Diketuknya pintu kamar itu perlahan. Namun, tak ada respons dari dalam. Nadhira mencoba untuk memutar kenop pintu. Tak terkunci. Tumben sekali Farhan tak mengunci kamarnya dari dalam, pikir Nadhira.


Nadhira membuka pintu kamar Farhan lebih lebar dan dibiarkan terbuka. Ia menemukan tubuh Farhan masih terbaring seperti posisi yang terakhir kali ia lihat. Mungkin Farhan tidur terlalu pulas karena kecapekan, pikir Nadhira. Ia kemudian mengikis jarak dengan mendekat ke arah tempat tidur. Lalu, mencoba untuk membangunkan Farhan secara perlahan.


"Farhan, bangun."


Nadhira masih tak mendapati respons dari adik iparnya. Lalu, ia mencoba sekali lagi hingga lenguhan itu terdengar. Tak lama ia melihat Farhan menggeliat dan membuka mata perlahan.


"Bangun. Papa minta kamu turun makan malam," ucap Nadhira dengan lembut. Ia tidak lupa mengulum senyum manisnya pada sang adik ipar.


"Nanti saja bisa, nggak, Kak? Kepala Farhan pusing banget," jawab Farhan seraya memijat pangkal hidungnya. Setelah tertidur, kondisinya bukan membaik justru semakin menjadi-jadi. Rasa peningnya semakin meningkat tiga kali lipat dari sebelumnya. Pandangannya juga sampai memburam dan tak bisa melihat dengan jelas wajah Nadhira.


"Tapi, Papa yang minta, Dek. Kamu tahu 'kan kalau Papa yang minta?" Nadhira mencoba untuk mengingatkan. Ia sendiri merasa kasihan dengan kondisi Farhan. Namun, ia juga tidak ingin melihat Papa nanti murka dan justru berbuat yang membuat Farhan lebih kesakitan lagi. Sudah cukup kesakitan dari penyakit yang bersarang di tubuh adik iparnya itu. Jangan lagi ditambah dengan kesakitan lain yang diciptakan oleh ayahnya sendiri.


Farhan mengembuskan napas kasar. Ia paham maksud kakak iparnya. Namun, rasanya tubuhnya memang tidak bisa dipaksakan lagi kali ini. "Biarin saja, Kak. Farhan benar-benar capek dan pusing," ucap Farhan berpasrah. Terserah setelah ini Papa akan berbuat apa padanya. Bahkan, mau membunuhnya sekalipun.


Nadhira yang merasa Farhan terlihat pasrah pun semakin merasa bahwa adik iparnya itu ada yang tidak beres. Ia kemudian menyentuh kening Farhan. Hangat. "Kamu demam, Farhan. Kamu sudah minum obat?" tanya Nadhira. Ia mulai khawatir dengan kondisi Farhan. Ia juga kasihan melihat adik iparnya itu. Bahkan saat sakit pun Farhan selalu berusaha agar tidak ada yang tahu.

__ADS_1


Farhan menggelengkan kepala. "Farhan kemarin dirawat di rumah sakit, Kak. Makanya Farhan terlambat pulang," tutur Farhan. Entah sadar atau tidak lelaki itu bicara pada kakak iparnya. "Tapi, Farhan meminta pulang setelah melihat pesan yang Kakak kirim," sambungnya dengan mata yang kembali terpejam.


"Astaga, Farhan. Kenapa kamu nggak hubungi Kakak atau Mama sih?" Nadhira benar-benar tidak habis pikir dengan sikap adik iparnya. Ia tahu Farhan tidak ingin membebani siapapun. Namun, tidak begitu juga langkah yang harus diambil. Bagaimana jika terjadi hal buruk dengannya? Bagaimana jika ia harus mendapatkan perawatan yang meminta izin wali?


"Kak, bisa nanyanya nanti, nggak? Farhan pusing banget," ucap Farhan dengan lirih dan penuh permohonan. Ia tidak berbohong. Kali ini tubuhnya terasa remuk dan hanya butuh istirahat. Bahkan, untuk membuka mata pun rasanya ia sudah tidak kuat lagi.


Nadhira menghela napas pasrah. "Ya sudah. Nanti Kakak bawakan makan malamnya ke sini saja, ya," ucap Nadhira dan hanya dibalas anggukan lemah oleh Farhan. Ia kemudian melangkah ke luar meninggalkan kamar adik iparnya.


"Di mana Farhan?"


Begitulah kalimat pertama yang menyambut Nadhira saat tiba di ruang makan. Pertanyaan yang dilontarkan oleh siapa lagi jika bukan Papa. Sebenarnya Nadhira sedikit takut. Namun, ia juga tidak bisa memaksakan Farhan turun dengan kondisi seperti tadi. "Maaf, Pa. Farhan demam dan butuh istirahat," jawab Nadhira dengan nada takut.


"Banyak sekali alasan anak itu," ucap Papa.


"Itu bukan alasan Farhan, Pa. Nadhira langsung cek sendiri suhu tubuh Farhan tadi." Untuk kali pertama Nadhira berani membalas ucapan ayah mertuanya. Hal itu tentu saja mengundang rasa aneh orang-orang di ruangan itu. Namun, Nadhira tidak peduli akan hal itu. Ia merasa kecewa pada Papa. Bisa-bisanya seorang ayah tidak bisa berlaku adil pada anaknya sendiri. Ia tidak tahu nanti jika Papa tahu kondisi Farhan. Mungkin pria itu akan merasakan penyesalan yang begitu hebat. "Papa bisa cek sendiri kondisi Farhan kalau Papa nggak percaya."


•••••


"Farhan mungkin masih tidur, Kak. Kakak masuk saja," ucap Nadhira memberi saran. Ia sendiri tidak akan masuk setelah ini. Ia ingin memberikan ruang dan waktu untuk pasangan adik kakak itu. "Nanti bicaranya baik-baik, ya, Sayang," sambung Nadhira yang dibalas anggukan oleh sang suami.


Reyhan lantas membuka pintu kamar adiknya dan masuk seraya membawa nampan berisi makan malam. Mendengar tentang kondisi Farhan dari Nadhira tadi membuat Reyhan tidak sabar untuk menemui adiknya. Diletakkan benda tersebut di atas meja di samping tempat tidur. Lalu, Reyhan berusaha pelan untuk membangunkan Farhan.


"Dek, bangun. Makan malam dulu."


Tak seperti Nadhira yang harus beberapa kali berusaha membangunkan Farhan. Reyhan hanya melakukannya sekali hingga adiknya itu terbangun. Reyhan mengulum senyumnya.


"Bangun makan malam dulu. Setelah itu minum obat biar demamnya reda," ucap Farhan. Kini ia harus berganti posisi. Jika dulu Farhan yang selalu membantunya. Sekarang ia yang harus membantu adiknya.


Reyhan membantu Farhan untuk bangun dan bersandar di dashboard tempat tidur. Kemudian ia memberikan piring berisi makanan untuk Farhan. "Bisa makan sendiri, nggak? Kalau nggak biar Kakak suapin saja," ucap Reyhan.


Farhan yang merasa sangat lemas pun tidak malu lagi untuk mengatakan tidak bisa. Daripada nanti ia membuat masalah baru dengan menjatuhkan piringnya. Lebih baik ia mengaku saja.


Reyhan dengan senang hati menyuapi adiknya.

__ADS_1


"Kak, sudah. Farhan kenyang," kata Farhan. Padahal, baru juga empat sendok makanan yang masuk diperutnya.


"Sekali lagi deh, ya," bujuk Reyhan. Beruntungnya Farhan mengiyakan. Lalu, ia memberikan satu suapan lagi untuk Farhan dan menyerahkan gelas berisi air putih.


"Obatnya di laci meja, Kak," ucap Farhan yang membuat kening Reyhan mengkerut. Seketika ia tersadar dan mencari alasan. "Farhan kan mau minum obat penurun demam, Kak. Sekalian ada vitamin juga."


"Oh," balas Reyhan dan bergegas mengambil obat yang dimaksud Farhan. Sejenak Reyhan menatap lekat obat-obatan itu. Namun, atensinya teralihkan oleh panggilan Farhan.


"Kak, cepat." Hanya sekadar alibi tentunya. Bukan karena ia ingin cepat-cepat untuk mengonsumsi obat-obatan tersebut. Namun, hanya karena tidak ingin Reyhan lebih lama menelisik benda-benda itu.


Reyhan yang merasa adiknya sudah tidak kuat pun bergegas memberikan Farhan benda yang ia ambil dari laci meja. Menuntun Farhan untuk kemudian meminumnya. Setelah itu, ia memilih untuk duduk di bibir tempat tidur sang adik.


"Terima kasih, ya, Kak," ucap Farhan dan tersenyum pada kakaknya. Kini ia bisa bernapas lega melihat Reyhan sudah duduk di hadapannya. Bahkan, sudah bisa membantunya dan menyiapkan makan malam untuknya.


Reyhan mengangguk. "Cepat sembuh, yuk! Kita atur waktu pergi berdua," ucapnya. Sudah sangat lama ia tidak menghabiskan waktu berdua dengan adiknya. Bahkan, ia sampai lupa kapan terakhir pergi berdua. Ah, jarak memang sudah sangat jauh memisahkan mereka.


"Farhan nggak akan sembuh, Kak." Farhan hanya bisa mengucapkan kalimat itu dalam hati. Ia belum siap dicecar tanya oleh kakaknya jika kalimat itu sampai terdengar.


Farhan hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban. Ia tidak akan berjanji pada Reyhan. Karena, ia sendiri tidak tahu bagaimana kondisi tubuhnya sekarang.


"Kakak ke luar, ya. Kamu istirahat saja." Reyhan bangkit dan beranjak ke luar. Namun, langkahnya terhenti ketika suara Farhan berseru memanggilnya.


"Kakak!"


Reyhan menoleh ke belakang.


"Terima kasih sudah kuat dan kembali," ucap Farhan dengan tulus. Kemudian, ia mengulum senyum lebar di balik bibir pucat pasi itu.


Reyhan tidak bisa untuk tidak tersenyum juga. Sejak hari itu, Reyhan sudah sangat jarang melihat senyum lebar yang begitu lepas dan tampak tanpa beban milik adiknya. Maka, melihat senyum Farhan saat ini adalah seperti menemukan cahaya dalam gelap yang begitu pekat.


"Kakak sudah sembuh. Apakah itu artinya sekarang sudah saatnya aku bicara tentang kondisiku?" monolog Farhan setelah Reyhan ke luar dari kamar dan menutup pintunya dengan rapat. Ia bingung. Alasannya kemarin-kemarin tak angkat suara tentang keadaannya adalah karena Reyhan yang masih koma. Namun, kini kakaknya sudah kembali. Namun, Farhan masih bingung.


Ringisan pelan Farhan kembali lolos ketika rasa sakit di kepalanya lagi-lagi terasa. Ia memegang kepalanya dengan sangat erat dengan harapan rasa sakitnya sedikit mereda. Kemudian ia membaringkan tubuhnya. "Ya Allah, sakit banget," rintih Farhan. Ia yakin kondisinya pasti semakin memburuk. Sebab rasa sakitnya semakin terasa berkali-kali lipat dari sebelumnya. Padahal, ia sudah meminum obat sesuai anjuran dokter.

__ADS_1


__ADS_2