Napas Baru

Napas Baru
Chapter 36


__ADS_3

Reyhan masih asyik menikmati sore sendiri di teras depan. Sebelumnya ia ditemani Nadhira. Namun, perempuan itu lebih dulu masuk untuk membawa si kembar karena sore akan segera berganti malam. Dan Reyhan-lah yang sebenarnya meminta istrinya untuk membawa si kembar masuk. Ia tidak ingin nanti si kembar sakit karena terlalu lama terkena angin. Begitu protektif Reyhan pada sepasang bayi kembar mungilnya yang sekarang sudah menjadi alasan dan napas baru di dalam hidupnya yang sempat terjebak dalam rasa sakit akibat penyakit jantung yang ia derita. Radit dan Radin juga yang membawa semangat baru bagi Reyhan hingga jarinya terasa lebih ceria dan berwarna.


Reyhan memicingkan mata ketika melihat gerbang terbuka dan muncul sebuah kendaraan roda empat—taksi—dari sana. Keningnya ikut mengkerut penuh tanya. Siapa yang datang ke rumahnya menggunakan taksi?


Namun, air wajah Reyhan seketika berubah ketika yang ke luar dari dalam taksi adalah Papa. Ia tersenyum tipis, tetapi hanya dalam hitungan detik. Setelah itu, Reyhan kembali bertanya-tanya. Bukankah Papa sedang dalam perjalanan pekerjaan di luar kota? Lalu, kenapa Papa sekarang sudah di rumah? Bagi Reyhan tidak mungkin jika ayahnya di luar kota tak sampai dua puluh empat jam. Apalagi jika ada pekerjaan. Sebab, ayahnya lebih sering menghabiskan waktu sampai berhari-hari lamanya.


Kebingungan Reyhan semakin bertambah ketika melihat wajah Papa yang begitu kusut. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan Papa. Reyhan kemudian bangkit dan mendekati lebih dulu. "Pa," panggil Reyhan dengan nada pelan. Kemudian, Papa mengangkat kepala.


"Eh, Kak. Ngapain di luar?" tanya Papa. Ia kemudian menyambut uluran tangan si sulung dan membiarkan Reyhan untuk mencium punggung tangannya.


"Bosan di dalam, Pa," jawab Reyhan. "Kata Mama, Papa pergi ke luar kota. Kenapa cepat sekali pulang?" tanya Reyhan tanpa basa-basi.


"Jadwalnya dibatalkan hari ini, Kak. Mungkin dua atau tiga hari lagi Papa jadi pergi," jawab Papa dengan nada suara pelan dan tak bersemangat.


Reyhan merasa ada yang tidak baik-baik dengan sang ayah. Ia mencoba untuk menelisik raut wajah Papa. Sendu. "Papa sakit?" tanya Reyhan dengan nada khawatir. Tak biasanya ia melihat raut wajah Papa seperti ini. Hal itu membuatnya khawatir dan takut. Takut jika Papa sakit.


Papa menghela napas panjang seraya menggelengkan kepala. "Nggak kok, Kak. Papa baik-baik saja," jawab Papa dan mendaratkan bokongnya di kursi yang sebelumnya ditempati Reyhan. Lalu, Reyhan menyusul duduk di kursi yang satunya lagi.


"Papa kenapa? Ada masalah?" Reyhan mencoba mengulik lagi kenapa ayahnya sampai terlihat seperti ini. Jelas sekali Reyhan rasakan perbedaan yang terjadi pada Papa saat ini.


Papa tak langsung menjawab. Ia justru teringat kejadian pagi tadi di ruang kerja Reyhan yang kini ditempati oleh Farhan. Ia mengingat betul bagaimana tangan Farhan yang bergetar. Lalu, Farhan berlalu begitu saja seakan menghindar dan menyembunyikan sesuatu. Ia tidak tahu apa yang terjadi. Namun, dalam hati ia khawatir akan terjadi hal buruk pada anak tengahnya itu. Apalagi melihat Farhan yang kini lebih sering tampak pucat dan tubuhnya juga terlihat kurus.


"Pa," panggil Reyhan dan menyentuh lengan Papa. "Kalau ada masalah jangan dipendam sendiri dong, Pa. Cerita sama Kakak. Siapa tahu Kakak bisa bantu," ucap Reyhan. Ia tidak pernah bisa membiarkan keluarga atau orang terdekatnya menyelesaikan masalah sendiri. Selama ia bisa membantu, tentu ia tidak akan tinggal diam. Apalagi sekarang jika ayahnya sendiri yang memiliki masalah. Tentu saja Reyhan juga akan ikut berjuang menyelesaikan.

__ADS_1


"Pagi tadi Papa berdebat lagi dengan Farhan. Setelah itu, Papa melihat sendiri bagaimana tangan Farhan yang bergetar, tapi dia berusaha menyembunyikan dari Papa. Dan dia pergi begitu saja," tutur Papa. Papa mengangkat kepala dan menoleh ke arah Reyhan. "Papa nggak tahu apa yang terjadi sama Farhan. Tapi, Papa khawatir ada sesuatu yang sedang disembunyikan dari kita semua."


Senang bercampur penasaran yang dirasakan Reyhan saat ini. Senang karena sekarang sepertinya Papa sudah mulai membuka ruang untuk Farhan. Namun, Reyhan juga penasaran dengan cerita Papa.


"Apa Kakak juga ngerasa kalau Farhan terlihat pucat dan kurus?" tanya Papa berusaha memastikan bahwa apa yang ia lihat dari Farhan tidaklah salah.


Reyhan menganggukkan kepala. "Iya, Pa. Apa sebelumnya Farhan sakit?"


Papa menggelengkan kepala. "Nggak, Kak. Tapi, Farhan lebih sering menyendiri sekarang. Apalagi saat Kakak koma. Pulang dari kantor, nyaris dia nggak pernah ke luar kamar apalagi ke luar rumah," terang Papa mengingat kebiasaan Farhan beberapa bulan terakhir. Ia sendiri bingung dengan perubahan Farhan yang baginya begitu drastis. Farhan yang dulunya lebih sering menghabiskan waktu di luar kini sudah tak melakukannya lagi.


Reyhan terdiam mendengar penuturan Papa. Memang terkesan aneh jika mengingat kebiasaan adiknya dulu. Apakah memang ada hal yang tengah disembunyikan oleh Farhan?


"Kak, Papa boleh minta tolong?"


"Cobalah bicara dengan adikmu. Mungkin sama Kakak, Farhan baru mau menceritakan apa yang terjadi," ucap Papa yang dibalas anggukan oleh Reyhan. "Papa takut ada hal buruk yang terjadi dengan kondisi adikmu, Kak."


"Iya, Pa. Papa tenang saja. Nanti Kakak coba bicara sama Farhan, ya."


Papa menghela napas panjang. Ia berharap dengan Reyhan yang mencoba bicara, Farhan akan bisa mengatakan yang sejujurnya.


"Ya sudah Papa masuk saja dulu. Tenangkan pikiran Papa. Urusan Farhan, biar nanti Reyhan yang coba bicara."


"Iya, Kak." Papa bangkit. Ketika memasuki pintu. Ia justru menemukan Nadhira yang berdiri di sana. Papa sedikit terperanjat. "Astaga, Ra. Papa kaget."

__ADS_1


"Maaf, Pa," ucap Nadhira dan tersenyum kaku. Lalu, ia membiarkan Papa melanjutkan langkah setelah bersalaman. Nadhira kembali terpaku di tempat. Rasa bersalah itu kembali muncul di dalam hatinya. Astaga! Apa yang sudah ia lakukan? Terlalu banyak orang-orang yang ia bohongi dengan menyembunyikan kondisi Farhan. Namun, apa yang harus dilakukan Nadhira sekarang? Farhan masih belum mengizinkannya untuk angkat suara tentang kondisi sebenarnya.


"Lho, Al. Kamu ngapain di sini, Sayang?" tanya Reyhan yang juga kaget melihat Nadhira di dekat pintu. Ia tidak tahu sejak kapan dan untuk apa istrinya itu berdiri di sana.


"Oh, itu. Tadinya aku mau ke luar. Tapi, Kakak keburu masuk," jawab Nadhira asal. Kemudian, ia berusaha bersikap biasa saja.


"Kita masuk saja. Ini sudah mau malam," jawab Reyhan. Kemudian, ia meraih tangan Nadhira dan menggenggamnya. Lantas, membawa Nadhira untuk beranjak ke dalam.


"Hm, Kak," panggil Nadhira.


"Kenapa, Sayang?"


"Kalau aku menyembunyikan sesuatu dari Kakak. Apa Kakak akan marah jika suatu saat akan mengetahuinya?" tanya Nadhira seraya memijakkan kaki pada deretan anak tangga.


"Aku harus tahu dulu alasan kamu menyembunyikannya itu apa. Aku nggak bisa dong langsung marah begitu saja tanpa alasan yang jelas," jawab Reyhan. "Memangnya kenapa, Sayang? Ada yang kamu sembunyikan dariku?"


"Itu kan hanya misalnya saja, Kak. Kakak mah sering menanggapi serius."


Reyhan tertawa melihat ekspresi wajah Nadhira. Ia kemudian mengalungkan lengannya di leher sang istri. Diciumnya puncak kepala Nadhira yang tertutup hijab itu. "Istriku kenapa lucu sekali sih?"


"Lebih lucu mana? Aku atau si kembar?"


"Kamu lucu. Si kembar lucu banget," balas Reyhan dan tertawa setelah itu. Lalu, Nadhira pun tidak bis untuk tidak tertawa mendengar jawaban yang diberikan Reyhan.

__ADS_1


__ADS_2