Napas Baru

Napas Baru
Chapter 18


__ADS_3

Sejak kepulangannya sore tadi. Farhan memilih untuk terus berdiam diri di kamarnya. Tak sedikit pun ia berniat untuk beranjak dari tempat paling privasi miliknya itu. Tentu dengan luka fisik dan batin yang disebabkan oleh ayahnya sendiri. Perihal tubuh yang membiru dan mungkin sebagiannya sudah membengkak, Farhan tidak terlalu merasa kesakitan. Namun, yang paling menyakitkan adalah bagaimana sikap Papa yang belum juga kunjung berubah hingga saat ini. Bagaimana bisa ia tidak mendapatkan keadilan dari ayahnya sendiri? Ia ingin menuntut. Lalu, pada siapa? Ia tidak punya daya untuk hal itu. Lantas, yang bisa Farhan lakukan hanyalah meratapi nasibnya kini. Miris. Benar-benar miris.


Di dalam bilik kamar dengan nuansa gelap itu. Farhan meringis dengan posisi meringkuk di atas tempat tidur. Ia juga menggigil. Padahal, ia merasakan suhu tubuhnya justru naik. Demam. Farhan mengalami demam lagi. Ya, begitulah yang sering Farhan rasakan selepas mendapatkan hadiah istimewa pukulan—dari sang


ayah. Hal itu terasa semakin menambah derita Farhan malam ini. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Pasalnya, tak tubuh yang terasa remuk dan demam. Rasa pening itu kembali datang menyapa. “Astaga, jangan sekarang,” lirih Farhan seraya semakin meringkuk. Ia memeluk tubuhnya sendiri. Sakit. Itulah yang ia rasakan dan sangat mendomisai di tubuhnya yang semakin ringkih.


Penderitaan Farhan tidak cukup sampai di sana. Kepalanya semakin terasa dihantam oleh benda tumpul. Dan itu semakin membuatnya sakit. Farhan menjambak rambutnya dengan brutal. Berharap apa yang ia lakukan bisa mengurangi rasa sakit di kepalanya sedikit saja. Iya, sedikit saja. Sayangnya, itu hanyalah sebuah harapan yang berakhir sia-sia. Rasa sakit itu tak juga berkurang. Hingga sebuah erangan lolos dari bibir yang sudah kehilangn rona dan seputih kapas itu. Sebelum ada yang mendengar, Farhan kembali menahan erangannya. Namun, air matanya yang deras ke luar. Ia menangis sejadi-jadinya seraya merintih kesakitan.


“Ma, tolong Farhan, Ma. Kepala Farhan sakit banget,” rintih Farhan sendiri di dalam kamar diiringi isak tangis yang memilukan.


Farhan sadar pada detik berikutnya bahwa apa yang ia lakukan tidaklah berguna. Mama tidak akan mendengar rintihannya. Tidak akan. Bahkan, untuk merasakan saja dengan naluri seorang ibu mungkin Mama sudah tidak bisa. Tembok bernama jarak itu terlalu kokoh berdiri sebagai pembatas. Dan hal itu hanya berlaku padanya. Sebab, pada si sulung dan si bungsu, Mama tidak memiliki jarak sedikit pun. Lalu, bolehkah Farhan iri? Atau memang sudah terlalu terlambat? Harusnya ia sudah terbiasa, bukan, dengan perlakuan seperti itu? Harusnya ia sudah menerima kenyataan pahit itu, bukan? Baiklah. Memang seharusnya begitu.


Farhan sudah berpasrah. Seluruh tubuhnya sudah remuk sekarang. Ia sudah tidak punya tenaga untuk melakukan apa pun. Bahkan, untuk sekadar menggerakkan tubuhnya.


Namun, siapa sangka jika Dewi Fortuna masih berpihak padanya. Tiba-tiba pintu kamar yang tidak sempat ia kunci dari dalam itu terbuka dari luar. Menampilkan sosok sang kakak ipar yang masih memiliki rasa peduli yang sangat besar padanya. “Kak Nadhira,” lirih Farhan dengan suara yang sudah tidak terdengar.


Nadhira. Perempuan itu lantas bergerak cepat menuju tempat tidur adik iparnya. Niatnya hanya untuk memanggil Farhan untuk turun makan malam. Namun, yang ia dapati justru Farhan yang sudah terlihat mengenaskan. “Astaga, Farhan!” Nadhira nyaris memekik. Ia dengan cepat mendaratkan bokong di tempat tidur Farhan. Lalu, disentuhnya wajah Farhan yang sudah basah oleh keringat yang bercampur dengan air mata. Dan yang Nadhira rasakan adalah suhu tubuh Farhan terasa sangat panas. “Ya Allah, Farhan. Kamu demam. Kak Nadhira kompres, ya.”


Dengan cepat Farhan menggeleng. Ia tidak ingin ada yang tahu kondisinya saat ini. Jika Nadhira turun dan mengambil bahan kompresan, tentu akan ada banyak yang tahu tentang kondisinya. “Nggak, Kak. Farhan baik-baik saja.”

__ADS_1


“Tap—”


“Please jangan paksa Farhan, Kak,” pinta Farhan dengan nada memelas. “Kalau Kakak kasihan, mending Kakak bantu Farhan ambil obat di laci nakas. Kepala Farhan sakit banget, Kak,” terang Farhan tanpa malu. Hanya pada Nadhira ia akan bersikap seperti ini. Sebab, hanya Nadhira yang paling tahu tentang kondisi yang sebenarnya ia alami.


Tanpa suara Nadhira langsung bergerak cepat. Ia membuka laci nakas Farhan dan meraih benda kecil di dalam botol transparan yang mirip sekali dengan milik Reyhan, suaminya. Ya Tuhan, seberat ini cobaan yang diberikan untuk keluarganya. Belum selesai urusan Reyhan yang masih koma, kini datang ujian dengan memberikan penyakit untuk adik iparnya. Parahnya, Nadhira tidak bisa berbagi pada siapapun tentang apa yang ia ketahui saat ini. Bahkan, pada keluarganya sendiri sekalipun.


Ah, bukan saatnya Nadhira memikirkan hal itu. Ia harus memikirkan kondisi Farhan lebih utama. Ia lalu kembali menuju tempat tidur Farhan dengan membawa obat dan segelas air putih. “Kakak bantu.”


Farhan menolak tawaran Nadhira. Jika Nadhira membantunya, bisa saja perempuan itu akan menyentuh bagian tubuhnya yang menimbulkan rasa nyeri itu. Lalu, ia memaksa diri untuk bangkit meski sulit. Farhan meraih butiran kecil dari tangan Nadhira dengan tangan bergetar.


“Farhan,” panggil Nadhira dengan suara lirih setelah membantu Farhan mengonsumsi obatnya. Ia menatap iba wajah adik iparnya yang kini tengah bersandar pada dasbord ranjang. “Mau sampai kapan?”


Farhan hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan. Ia sangat paham ke mana arah pertanyaan kakak iparnya itu. Jujur saja, Farhan bahkan belum siap jika harus membongkar kenyataan pahit yang ia terima. Ia belum siap membagi kepedihan. Sebab, kepedihan karena kondisi Reyhan pun masih belum usai.


“Kak Nadhira benar. Tidak ada yang baik-baik saja dengan diri Farhan sekarang. Semuanya akan segera berakhir, Kak.” Farhan hanya mampu mengucapkan kalimat itu dalam hati. Ia tidak bisa menceritakan Nadhira apa yang sebenarnya terjadi, karena itu sama saja dengan membuat beban pikiran kakak iparnya itu semakin terjejal.


“Everything’s will be okay, Kak. Trust me,” ucap Farhan dengan penuh keyakinan.


Nadhira tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Ia hanya bisa menghela napas panjang. Entah kapan ia mampu membujuk adik iparnya itu agar bisa berkata jujur pada keluarganya. Bukan Nadhira lelah untuk membantu Farhan. Tidak! Ia hanya kasihan jika melihat Farhan terus menerus kesakitan tanpa mampu mendapatkan penanganan yang tepat.

__ADS_1


“Kak Nadhira mending turun saja. Kakak ke sini mau manggil Farhan untuk makan malam, ‘kan?” Farhan sudah bisa menebak kebiasaan kakak iparnya itu.


“Kamu juga harus makan malam, Farhan.”


“Kakak mau minta Farhan untuk menunjukkan yang sebenarnya sama Mama dan Papa?” Farhan menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Nggak, Kak. Farhan nggak bisa.”


Nadhira yang tidak ingin memaksa adik iparnya itupun pasrah. “Ya sudah. Nanti makan malamnya Kakak bawakan ke sini saja, ya. Kamu nggak boleh nggak makan.”


Farhan mengangguk pelan.


Nadhira bangkit. Lalu, beranjak dengan berat hati meninggalkan Farhan dengan kondisi lemah. Namun, langkahnya terhenti saat ia baru saja tiba di ambang pintu mendengar Farhan yang menyerukan namanya.


“Kak Nadhira.”


Nadhira menoleh ke belakang.


“Terima kasih atas semuanya.”


Nadhira merasakan ketulusan dari kalimat yang diucapkan adik iparnya itu. Dan ia membalas dengan senyum manisnya. “Kamu istirahat dulu sebelum Kakak datang bawakan makan malam, ya,” ucap Nadhira sebelum akhirnya benar-benar berlalu dari kamar

__ADS_1


Farhan.


“Entah terbuat dari apa hati Kakak. Kakak baik banget sama Farhan,” ujar Farhan setelah pintu kamarnya tertutup dengan rapat. “Entah apa yang akan terjadi dengan Farhan kalau Kakak nggak ada. Terima kasih, Kak Nadhira, sudah menjadi malaikat pelindung Farhan,” sambung Farhan. Ia kemudian membaringkan tubuh sepenuhnya. Kemudian, mencoba memejamkan mata.


__ADS_2