
Benda pipih berbentuk segi empat di atas meja bergetar dengan layar yang menyala. Farhan yang hendak memasukkan makanan ke dalam mulutnya menghentikan gerakan tangan. Sebentar ia menoleh sebelum akhirnya kembali meletakkan sendok tersebut di piringnya setelah melihat tulisan yang terpampang jelas di layar ponsel. Ia meraih benda tersebut dengan cepat. Lantas, langsung tersenyum dengan tatapan berkaca.
“Siapa, Mas?”
Farhan menatap wajah kekasihnya yang duduk di kursi seberang meja. “Kak Nadhira, Za.”
Seketika raut wajah penasaran Finza berubah menjadi raut yang sarat khawatir. Perempuan yang juga sahabat Nadhira itu tahu apa yang kini menimpa sahabatnya. Sebagai seseorang yang begitu dekat dengan Nadhira, Finza tak bisa berbohong bahwa ia juga ikut bersedih. “Ada apa, Mas?” tanyanya khawatir. Seperti Farhan, ia juga menghentikan gerakannya memasukkan makanan ke dalam mulut.
“Radit sudah siuman, Za,” jawab Farhan dengan senyum mengembang hingga membuat matanya menyipit. Namun, hal itu justru membuat genangan di kelopak matanya runtuh begitu saja. Air mata haru atas penantiannya yang kini berbuah nyata.
“Alhamdulillah,” syukur Finza. Ia menatap lelaki di hadapannya yang tanpa malu menangis. “Mas—”
“Aku nangis bahagia, Za. Akhirnya, satu cobaan berat itu bisa terlewati,” ucap Farhan memotong kalimat Finza. Ia menyeka air mata yang lolos di pipinya.
Finza hanya bisa mengulum senyum. Sebagai seseorang yang notabene adalah kekasih Farhan, ia tahu kesedihan yang dirasakan lelaki itu. “Mau ke rumah sakit sekarang?” tanya Finza dengan sangat lembut.
“Habiskan makanmu dulu, baru kita ke rumah sakit. Aku nggak melihatmu sakit nantinya.”
Perempuan dengan hijab besar yang membungkus kepalanya itu tersipu. Perhatian yang begitu sederhana dari Farhan begitu berpengaruh pada detak jantungnya. Tak hanya itu, kedua pipinya pun tak urung bersemu. Ia menunduk dan melanjutkan makannya.
Namun, hal itu tak berlangsung lama. Atensi Finza sontak tersita saat gelas minuman milik Farhan terjatuh dari genggaman lelaki itu. Beruntung gelas tersebut tak jatuh menyentuh lantai.
“Mas, ken—” Kalimat Finza terpotong. Ia kaget bukan main saat sepasang netranya menangkap sesuatu mengalir dari hidung kekasihnya. Sedang Farhan tak menyadari hal itu dan sibuk menyentuh tangannya yang bergetar tiba-tiba. “Astaghfirullah, Mas Farhan, kamu mimisan.”
Dengan cekatan Finza menggeser kursinya dan beranjak mendekat. Tanpa ragu ia menyentuh hidung Farhan dengan tangan kosong untuk menghentikan darah yang keluar. “Mas, kamu kenapa?” tanya Finza khawatir saat tak mendapatkan respons apa pun dari Farhan. Ia hanya menangkap lelaki itu memegang tangan kanan dengan mata terpejam.
“Nggak apa-apa, Sayang,” jawab Farhan dengan suara pelan setelah beberapa saat terdiam dan tangannya terasa sudah normal. Ia menyingkirkan tangan Finza yang menutupi hidungnya. Syukurnya, tak ada lagi darah yang keluar. Namun, masih terlihat jelas sisa-sisa benda berwarna merah itu di sekitar wajahnya.
Tanpa berkata apa pun lagi Finza bergerak kembali menuju kursinya. Namun, bukannya kembali duduk. Finza justru menggeledah isi tasnya dan mengeluarkan sesuatu dari sana. Beruntungnya apa yang ia cari bisa ditemukan dengan cepat. Lantas, kembali mendekati Farhan yang masih berusaha membersihkan sisa darah dengan tangan kosong.
“Aku bantu bersihin, Mas,” ujar Finza dan langsung membersihkan wajah kekasihnya dengan tisu.
Farhan hanya terdiam mendapatkan perlakuan Finza. Ia mendongakkan kepala dan melihat wajah kekasihnya yang sarat akan kekhawatiran. Sorot mata yang selalu menatapnya ceria dan penuh cinta itupun kali ini terlihat sayu dan berkaca. Farhan merasa bersalah. Harusnya ia membawa bahagia untuk perempuan yang sudah berhasil merebut hati dan mengalihkan dunianya itu. Namun, sekarang ia merasa gagal.
__ADS_1
Farhan meraih tangan kekasihnya, menghentikan aktivitas Finza begitu saja. Di tatapnya telapak tangan yang sudah berubah warna itu dengan tatapan sayu. “Sekarang giliran aku yang bersihin tangan kamu, ya,” ucapnya sambil mendongakkan kepala dan tersenyum tipis. Ia hanya mendapatkan balasan berupa anggukan dari perempuan yang berdiri di hadapannya itu.
•••••
“What happen, Mas Farhan? Is there something I don’t know?” tanya Finza dan sukses menghentikan langkah Farhan menuju mobil. Tatapannya datar memandang punggung lebar kekasihnya.
Farhan menoleh, mendapati Finza yang tanpa ekspresi. Namun, pertanyaan yang dilontarkan perempuan berhijab itu terdengar menuntutnya. “A-apa maksudmu, Sayang?” tanya Farhan terbata. Untuk pertama kali ia tak berani menatap manik dengan iris madu milik kekasihnya itu. Sayu, tetapi membuat sakit ulu hati.
“Ini bukan pertama kali aku menemukanmu mimisan seperti tadi, Mas. Ada apa sebenarnya?”
Farhan tak langsung menjawab. Ia mempersempit jarak dengan Finza. “Kamu lupa, ya, sekarang aku kan sering lembur, Za. Aku mimisan karena kecapekan saja, Sayang,” dusta Farhan. Begini rasanya harus menyembunyikan sesuatu dari orang lain. Kini ia bisa merasakan betapa sulitnya posisi yang Reyhan selama ini.
Finza tak sepenuhnya bisa mempercayai apa yang dikatakan Farhan. Ia merasa ada yang janggal dan ada sesuatu yang menjadi rahasia kekasihnya. Namun, ia juga tak bisa memaksa Farhan untuk menceritakan semuanya sekarang. Mengingat lelaki itu saat ini tengah berada dalam situasi yang cukup rumit. “Baiklah. Mungkin saat ini aku belum pantas menjadi temanmu berbagi kesah, Mas. Nggak apa-apa. Aku nggak akan maksa kok,” ucapnya sambil memaksakan seulas senyum terbit menghias wajah ayunya.
“Za, buk—”
Perempuan dengan senyum menawan itu berhasil memotong kalimat Farhan hanya dengan sentuhan tangan di lengan. Ia mengusap lengan Farhan dengan lembut. “Aku percaya kalau suatu hari nanti kamu akan bercerita banyak hal tanpa harus aku minta. Aku masih sanggup menunggu sampai hari itu tiba kok, Mas.”
Bibir Farhan terbungkam. Senyuman perempuan di hadapannya itu terlihat sangat manis, tetapi berhasil membuatnya sakit. Ia tak tahu harus berbuat apa sekarang. Akankah ia harus membuka suara tentang rahasia yang ia sembunyikan? Atau tetap membuat Finza terus menunggu sampai waktu membuka tabir rahasianya tanpa sengaja? Seperti halnya kisah sang kakak—Reyhan.
“Kamu juga sudah nggak sabar ketemu sama sahabatmu kan, Za?” tanya Farhan balik diiringi tawa ringan. Hal itu juga berhasil membuat Finza ikut tertawa. “Di rumah sakit juga ada Mikayla lho.”
“Really?” Kali ini Finza tidak bisa menyembunyikan rasa antusiasnya. Sejak lulus kuliah dan kedua sahabatnya—Nadhira dan Mikayla—menikah, ia sudah jarang sekali menghabiskan waktu bersama mereka. Wajar jika ia merindukan dua perempuan tersebut.
Farhan mengangguk cepat dan tersenyum lebar. “Selain Bunda, Mikayla-lah yang sering menjaga Radit di rumah sakit.”
“Ya sudah, Mas. Ayo berangkat sekarang,” ucapnya sambil menarik lengan Farhan. Namun, belum sempat ia melangkahkan kaki. Ia sudah merasakan tangan Farhan bergetar dan sontak ditarik paksa oleh pemiliknya.
“Sial! Kenapa lagi sih ini?” umpat dalam hati Farhan sambil menyembunyikan tangan kanannya yang tiba-tiba bergetar di balik punggung.
Kali ini Finza tak tinggal diam. Ia menarik paksa tangan Farhan. Ditatapnya tangan kekar itu yang bergetar. Lantas, digenggam erat.
“Finza,” panggil Farhan pelan sambil berusaha melepaskan genggaman Finza. Namun, bukannya terlepas. Genggaman itu semakin terasa erat dan setetes air jatuh mengenai punggung tangannya. Finza menangis. Finza menangis karenanya?
__ADS_1
“Terlalu banyak mengonsumsi kafein bisa membuat tremor, Za. Karena pekerjaanku yang banyak dan harus lembur. Mau tidak mau aku harus banyak minum kopi.” Entah sudah berapa banyak dosa yang diperbuat Farhan hari ini. Untuk kali kedua ia berbohong lagi.
Kepala Finza terangkat. Wajahnya sudah basah. “Kamu harus periksa kondisimu, Mas. Aku takut terjadi hal buruk. Dengarkan aku kali ini saja,” ucapnya memohon. Ya, entah kenapa perasaan Finza selalu merasa ada yang tidak beres dengan tubuh Farhan.
“Hei! Jangan nangis dong,” ucap Farhan dengan tangan kiri yang bergerak menyeka air mata Finza. “Everything’s will be fine, Sayang.”
Finza menggelengkan kepalanya berulang kali. Tidak! Kali ini perasaannya benar-benar memaksa untuk tak mempercayai ucapan Farhan. “Mas, please!” pintanya dengan menangkupkan tangan di depan dada. Sedang isakannya kini semakin menjadi-jadi.
Embusan napas panjang dan pasrah pun terdengar dari Farhan. Ia mengusap wajahnya kasar. Lantas, meraih tangan Finza dengan memaksa tangannya sendiri yang masih bergetar. “Iya. Nanti aku akan memeriksakan kondisiku. Tapi, tolong berhenti menangis seperti ini, Za.”
“Promise?”
“I promise.”
Senyum Finza tercipta. Ia meraih tangan Farhan yang masih saja mengalami tremor itu. Digenggam erat dan berkata, “Tanganmu masih bergetar, Mas. Biar aku saja yang nyetir, ya.”
“Tap—"
“Kamu nggak mau kan kalau kita berakhir di rumah sakit dengan luka parah?"
Farhan mengalah. Dengan kondisi yang memang tak stabil seperti sekarang ini sangat tidak memungkin untuknya menyetir. Itu juga tak hanya akan membahayakan dirinya dan Finza. Namun, juga pengendara lain. Ia akhirnya menganggukkan kepala pasrah, membiarkan perempuan yang dicintainya itu menyetir. Kali ini saja. Setelah ini, tidak akan lagi ia biarkan Finza.
“Za, i’m so sorry,” ucap Farhan sebelum kereta besi bermerk Toyota Corolla Altis miliknya itu meninggalkan halaman restoran. Ia juga menatap lekat wajah Finza yang sedikit kacau di sampingnya. Apa yang diucapkan kali ini adalah bentuk sesalnya karena sudah membuat manusia baik yang Tuhan kirimkan itu menangis.
Sepasang manik milik Finza menyipit saat mendengar kalimat maaf Farhan yang sarat sesal.
Seakan paham akan tatapan Finza. Farhan lantas menjawab, “Maaf sudah begitu lancang membuatmu menangis. Mungkin aku adalah lelaki pertama yang sudah melakukan itu. Sebab, Abah, Mas Aziel, dan Deva pasti nggak pernah melakukan hal ini sama kamu.”
Finza lagi-lagi dibuat tersipu. Farhan begitu memperlakukannya dengan begitu istimewa. Untuk hal yang tak sengaja Farhan lakukan bahkan membuat lelaki itu sangat merasa menyesal. “Iya kamu harus meminta maaf sama mereka karena sudah membuat gadis kesayangan mereka menangis,” balas Finza dengan senyum mengembang dan dibumbui candaan. Nyaris ia tertawa.
“Martabak special cukup, ya?” tanya Farhan melanjutkan candaan.
“Raspberry Cheesecake for Deva.”
__ADS_1
Tawa keduanya terdengar bersamaan mengisi mobil. Juga mendeportasi suasana yang sebelumnya benar-benar tak mengenakkan itu.