Napas Baru

Napas Baru
Chapter 52


__ADS_3

Kalau-kalau kemarin Papa mengunjungi kamar anak tengahnya karena penasaran dan sedikit rasa khawatir. Malam ini, pria setengah abad lebih itu melakukan hal yang sama, tetapi dengan tujuan untuk memastikan Farhan sudah pulang dan beristirahat dengan baik. Pria dalam balutan piyama itu membawa langkah kakinya menuju salah satu kamar yang terletak di lantai yang sama dengan kamar yang ia tempati bersama sang istri selepas merampungkan beberapa pekerjaan kantor di ruang kerja. Seperti sebelumnya, Papa mengetuk terlebih dulu pintu kamar Farhan seraya berucap, “Farhan, ini Papa.”


Tak ada sahutan seperti malam kemarin. Bahkan, derap langkah kaki pun tak tertangkap indra pendengaran. Papa lalu memberanikan diri memutar kenop pintu tanpa seizin pemilik kamar. Hal yang pertama menyambut Papa adalah ruangan gelap. Hanya ada pencahayaan dari lampu luar yang menelusup bangun dari celah pintu yang dibuka tangan Papa. Lalu, kening Papa mengkerut dalam. Dengan sebelah tangan Papa meraba dinding untuk mencari saklar lampu dan menyalakannya. Sepi.


Papa mulai bingung. Ia mengangkat kepala untuk melihat jarum jam di dinding kamar anak tengahnya itu. Sudah pukul sebelas malam lebih. Namun, Farhan belum juga kunjung pulang. Lemburkah anak itu di kantor sendirian? Papa bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Sebab, berpikir bahwa Farhan keluyuran seperti dulu tidaklah mungkin. Putra kedua dari pernikahannya dengan Mama itu sudah tak pernah melakukan hal itu lagi setelah ia seret bekerja di kantor yang sama dengan si sulung. Mungkin nanti setelah kembali ke kamar, Papa bisa menghubungi Farhan dan menanyakan anak itu di mana, pikir Papa.


Ketika ia hendak berbalik untuk beranjak dari kamar Farhan. Tak sengaja pandangannya jatuh pada satu benda di atas meja di samping tempat tidur sang putra. Alis Papa menukik dalam. Berbekal rasa penasaran akan benda tersebut, Papa mengurungkan niatnya ke luar, ia justru membawa kakinya bergerak mendekati meja tersebut. Diraihnya sebuah botol kecil yang ia yakini sebagai botol obat. Namun, oba tapa itu?


Dalam beberapa saat Papa menelisik benda tersebut dengan pikiran yang melayang jauh. Sebab medis bukanlah bidangnya membuat Papa tak menemukan jawaban apa pun. Akan tetapi, otak cerdas pria itu bergerak cepat memberikan stimulus untuk tangannya menggenggam benda tersebut. Lalu, ia berniat untuk menyimpan dan akan membawanya besok ke rumah sakit untuk ia cek. Sehingga, tak lagi ia penasaran obat apa yang selama ini dikonsumsi oleh Farhan. Dan di dalam hati yang paling dalam, Papa berharap apa yang ia temukan hanyalah botol yang merupakan wadah dari vitamin saja dan bukan wadah obat untuk penyakit yang sangat serius. Ya, semoga saja.


Papa kembali melangkahkan sepasang tungkainya menuju kamar. Di depan pintu kamar ia berdiri sejenak. Lalu, ia angkat tangannya yang memegang botol tersebut. Ditatap lekat benda itu seraya bertanya-tanya. Obat apa ini sebenarnya?


Di dalam kamar, ia sudah menemukan istrinya terlelap. Dengan sangat pelan Papa naik ke atas tempat tidur agar tidur istrinya tak terganggu. Namun, setelah itu ia tak langsung berbaring. Ia kembali menatap benda yang ada di tangannya. Memang ada rasa takut yang diam menyelinap ke dalam relung hati Papa melihat benda itu. Pantaskah ia dikatakan trauma, karena setiap bulannya ia harus melihat botol seperti itu ketika mengambil stok obat untuk si sulung?

__ADS_1


Papa segera menyimpan benda tersebut di belakang punggung ketika Mama tiba-tiba terbangun. “Mama kenapa bangun? Lanjutin saja tidurnya,” ucap Papa seraya menyentuh puncak kepala Mama dengan lembut.


“Papa kenapa belum tidur juga?”


“Iya, Ma, ini Papa mau tidur.” Papa kemudian membaringkan tubuhnya di samping Mama. Dipeluknya tubuh sang istri untuk memberikan kenyamanan wanita itu. hingga Mama kembali mengatup sepasang matanya untuk kemudian kembali melabuhkan diri di alam mimpi.


Berbeda dengan Papa. Pria itu tak jua menemukan tenang. Ia masih kepikiran pada anak tengahnya. Apa yang terjadi? Adakah hal serius yang sebenarnya tengah disembunyikan Farhan selama ini?


Masih di atap yang sama, tetapi di ruang berbeda. Rupanya, tak hanya Papa yang memikirkan tentang Farhan. Namun, Reyhan juga demikian. Meski ia sudah menemukan tenang setelah hubungan Papa dan sang adik mulai membaik. Akan tetapi, Reyhan tidak bisa tenang jika memikirkan tentang kondisi Farhan. Entah perasaannya atau bagaimana, makin hari adiknya tampak semakin kurus. Wajah adiknya juga lebih sering pucat. Persis seperti ia dulu sebelum menjalani heart surgery.


“Kak, kamu kenapa? Ayo tidur. Ini sudah larut,” ucap Nadhira yang masih menemukan suaminya belum memejamkan mata. Padahal, sebelumnya Reyhan-lah yang mengajaknya untuk istirahat lebih pagi. Nyatanya, lelaki itu yang justru belum tidur.


“Aku kok masih kepikiran Farhan, ya, Sayang? Aku ngerasa dia kayak nyembunyiin sesuatu gitu,” tutur Reyhan pada istrinya. Ia tidak pernah mengungkapkan isi kepalanya pada orang lain, kecuali Nadhira. Lagi pula, pada siapa pula ia bisa senyaman seperti ini bercerita jika bukan pada istrinya? Papa? Papa saja memikirkan hal yang sama dengannya. Mama? Reyhan takut jika Mama kepikiran dan mengganggu kondisi kesehatannya.

__ADS_1


Nadhira pikir, Reyhan sudah tak ingin membahas itu lagi. Nyatanya memang ia salah. Reyhan hanya menyimpan itu di dalam kepalanya, lalu mengutarakannya kemudian ketika sudah menjejal. Ya, Nadhira paham bagaimana posisi Reyhan sekarang. Jika ia berada di posisi suaminya. Mungkin ia juga akan melakukan hal yang sama.


Nadhira melingkarkan tangannya di perut Reyhan. “Kak, besok Kakak bisa bicarakan itu dengan Farhan. Siapa tahu Farhan mau jujur sama Kakak. Ingat! Kakak adalah satu-satunya orang yang membuatnya nyaman untuk cerita, ‘kan?”


Reyhan tentu saja sangat membenarkan perkataan istrinya itu. Memang Farhan lebih cepat bercerita padanya dibanding yang lain. Bahkan, pada Papa dan Mama sekalipun. Mungkin besok ia akan mencoba saran dari istrinya. Bertanya baik-baik dan meminta adiknya itu untuk jujur padanya. Kasihan Farhan jika memang anak itu sedang menghadapi masalah, tetapi tidak ada tempat berbagi.


“Istirahat, ya, Sayang. Lagian kalau Kakak mau bicara sekarang, Farhan pasti belum pulang. Dia kan lagi lembur sama Mas Tio.” Nadhira berusaha mengingatkan apa uyang dikatakan suaminya itu tadi.


Embusan napas Reyhan terdengar. Ia kemudian menganggukkan kepala. Lalu, ia merubah posisi dengan tidur menyamping hingga tatapannya saling bertemu dengan sepasang bola mata cantik milik sang istri. Lelaki itu tersenyum manis. Ia memainkan jari-jarinya di wajah Nadhira dengan lembut. “Aku akan tidur kalau kamu sudah tidur,” ucap Reyhan. Seperti biasa, ia akan menunggu perempuan itu lebih dulu terlelap. Barulah ia menyusul kemudian.


Nadhira mengangguk. Kemudian ia mempererat pelukannya di tubuh Reyhan.


“Nice dream, Istriku,” ucap Farhan dan mencium kening istrinya.

__ADS_1


__ADS_2