
Reyhan memandangi adiknya tengah menimang seorang bayi mungil tengah bermain di sebuah tempat yang begitu asing, tetapi tidak ada yang menandingi keindahannya. Ia tidak pernah menemukan tempat seindah yang ia lihat saat ini. Hamparan rumput hijau yang begitu luas dengan pohon-pohon besar yang cocok sekali untuk berteduh. Apalagi untuk piknik bersama keluarga. Namun, yang menjadi pertanyaan reyhan adalah siapa bayi yang berda di dalam gendongan Farhan itu.
Reyhan bangkit dan berjalan mendekati Farhan. “Farhan!” seru Reyhan. Ia mengulum senyum manis saat melihat Farhan menoleh ke belakang. Namun, hanya sebentar saja. Ia kembali melihat Farhan berjalan seakan menghindarinya meski senyum itu terbit menghiasi wajah sang adik.
Reyhan semakin memperlebar langkahnya untuk mengejar Farhan. Hingga langkahnya terhenti saat Farhan berdiri di dekat sebuah bangunan seperti istana.
“Pulanglah! Ini bukan tempat Kakak. Ini tempat Farhan dan Radit,” ucap Farhan dengan nada lembut meminta kakaknya untuk pulang.
Alih-alih melaksanakan titah adiknya. Reyhan justru mengerutkan keningnya mendengar nama yang disebutkan Farhan tadi. “Radit? Siapa Radit?”
Farhan tidak bersuara. Ia menunjukkan wajah bayi di dalam gendongannya itu. Bayi dengan wajah yang begitu mirip seperti wajah Reyhan. Sepasang bola mata bulat dengan iris jernih. Bibir tipis dan alis yang mirip seperti Nadhira.
“Kenapa bayi itu mirip sekali seperti Kakak dan Nadhira, Farh?” tanya Reyhan seraya mengikis jarak dengan Farhan. Ia kemudian menyentuh wajah bayi itu dengan leluasa tanpa dilarang oleh Farhan. “Dia tampan sekali, Farhan,” puji Reyhan.
“Bayi ini anak Kakak. Namanya Radit,” ucap Farhan dan berhasil menghentikan gerakan jemari Reyhan di wajah Radit. Pandangannya kini sudah bertubrukan dengan pandangan Reyhan. Ia kemudian mengulum senyum manis. “Tapi, Farhan harus membawa Radit pergi, Kak. Kami punya tempat berbeda. Sekarang lebih baik Kakak pulang. Semua orang sudah menunggu Kakak.”
Reyhan menggelengkan kepala. Tentu saja ia menolak. Ia baru melihat putranya untuk pertama kali. Namun, Farhan sudah ingin membawanya pergi. Lalu, ke mana Farhan akan pergi?
“Kamu nggak bisa bawa bayi Kakak pergi, Farhan. Kamu juga harus pulang.”
Sekali lagi Farhan menggelengkan kepala. “Nggak, Kak. Farhan dan Radit nggak akan pulang.” Farhan perlahan
mundur.
Padahal jaraknya begitu dekat. Namun, rasanya Reyhan susah sekali menjamah Farhan. Semakin ia mencoba, semakin ia susah menjangkau. “Farhan jangan bawa bayi Kakak pergi. Kakak mohon.”
__ADS_1
Dengan senyum yang semakin melebar. Farhan berjalan mundur tanpa menghiraukan apa yang diucapkan kakaknya.
Saat Reyhan nyaris bisa menyentuh tubuh Farhan. Adiknya itu justru menghilang entah ke mana. Reyhan mengedarkan pandangan ke segala penjuru untuk mencari keberadaan adiknya. Nihil. Tempat itu sepi seperti tak berpenghuni. Hanya dirinya.
“Farhan, kamu di mana?” Reyhan berteriak sekencang yang ia bisa. Berharap Farhan bisa mendengarnya dan kembali. Namun, apa yang Reyhan lakukan berakhir sia-sia. Farhan tak kembali. Farhan benar-benar menghilang.
“Farhan!” teriak Reyhan tak menyerah.
“Farhan!”
“Farhan!”
Sepasang kelopak mata yang terpejam selama tiga bulan lebih itu akhirnya terbuka. Bola mata itu bergerak menelisik tempatnya sekarang. Ini bukan tempat sebelumnya. Ia adalah sebuah ruangan, bukan hamparan padang rumput yang indah itu.
Saat Reyhan hendak bangkit. Tubuhnya terasa kaku. Saat ingin bersuara. Semuanya terasa tertahan oleh alat yang berada di mulutnya. Reyhan hanya bisa menggerakan bola matanya dengan liar untuk mencari keberadaan seseorang. Namun, tak satupun manusia yang ia temukan di ruangan itu. Hanya bunyi konstan yang memekakkan telinga. Reyhan tahu alat itu. Alat yang terhubung di tubuhnya.
Tak lama setelah Reyhan terbangun. Pintu ruangan itu terbuka, menampilkan sosok Papa masih dengan balutan jas mewahnya. Reyhan lantas menatap ke arah pintu ruangan. Lalu, menubrukkan tatapannya dengan tatapan Papa yang hanya bisa bergeming di tempat. Hingga detik berikutnya ia melihat Papa bergerak cepat mendekat.
“Reyhan, kamu sudah sadar, Nak?” ucap Papa seakan tak percaya denga napa yang dilihatnya sekarang. “Ya Allah, terima kasih.” Papa menggenggam tangan Reyhan dengan erat. Lalu, ia cium berulang kali tangan putra sulungnya. Akhirnya, penantiannya terbayar sudah. Kini, si sulung sudah membuka mata.
Terlampau bahagia dengan kejutan yang ia dapatkan. Papa sampai tidak berpikir untuk memanggil siapapun. Ia pandangi wajah anaknya yang kini tengah menatapnya lekat.
“Ma-ma,” lirih Reyhan dengan suara yang tentu saja terdengar tidak jelas. Namun, Papa berhasil menangkap maksudnya. Tanpa kata Papa bangkit dan bergegas membuka pintu. Dari ambang pintu ia meneriakkan nama istrinya dengan sekecang yang ia bisa. “Mama!”
Setelah beberapa kali berteriak. Mama datang dengan tergesa-gesa dari arah tangga yang menghubungkan ke lantai dasar rumah itu. “Ada apa sih, Pa?” tanya Mama dengan nada sedikit kesal karena Papa yang sepertinya tidak sabaran.
__ADS_1
“Ma, Reyhan sudah bangun, Ma,” ucap Papa dengan raut wajah berbinar.
Mama terlihat tidak percaya. Ia mendorong tubuh Papa dan berlari memasuki ruangan. Refleks Mama membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan melihat apa yang dikatakan Papa ternyata memang benar. Mama menangis dan langsung memeluk tubuh Reyhan tanpa berkata-kata. “Ya Allah, Sayang. Akhirnya do’a Mama terkabulkan juga. Akhirnya kamu bangun, Nak.”
Tak hanya Mama yang menangis. Reyhan pun demikian, ia juga menangis di dalam pelukan ibunya. Entah sudah berapa lama ia tertidur dengan lelap. Perlahan tangan Reyhan yang terasa kebas itu terangkat. Memang sangat susah untuk menggerakkan anggota tubuhnya. Mungkin karena sudah lama tak bergerak. Atas usaha kerasnya, Reyhan akhirnya bisa menyentuh lengan sang ibu. Ia memainkan ibu jarinya di sana. Dan ia hanya mampu melenguh.
Mama melepaskan pelukannya. “Terima kasih sudah berjuang, Sayang.”
Hanya anggukan pelan yang bisa diperlihatkan oleh Reyhan. Lalu, pandangan kembali menyisir setiap inci ruangan itu. Ia mencari sosok perempuan yang ia persunting dua tahun lalu. Dan yang terakhir ia ketahui adalah perempuan itu sedang hamil besar. Di bawah jantung perempuan itu bersemayam makhluk mungil yang kini pasti sudah lahir dan menjelma menjadi bayi-bayi mungil.
Papa yang lebih dulu sadar akan maksud pergerakan sang anak lantas menepuk pelan keningnya. Bisa-bisanya ia lupa untuk menghubungi Nadhira. Namun, sebelum ia melakukan itu. Papa lebih dulu menghubungi dr. Dharma, Dokter yang menangani kasus Reyhan sejauh ini. Ia mengambil jarak untuk bicara dan memberikan ruang untuk anak dan istrinya itu melepaskan kerinduan.
Tak perlu berlama-lama untuk bicara dengan dr. Dharma. Papa hanya memberikan informasi tentang Reyhan yang sudah bangun dari komanya. Lantas, ia meminta dr. Dharma untuk datang dan melihat serta menangani Reyhan selanjutnya.
Setelah memutuskan panggilan telepon dengan dr. Dharma, Papa kemudian segera menghubungi Nadhira. Tak lama panggilan telepon itu terhubung. “Hallo, Ra.”
Kening Papa mengernyit saat yang terdengar bukanlah suara menantunya. Namun, suara seorang lelaki yang ia ketahui adalah Bara.
“Bar, Reyhan sudah bangun dari komanya,” ucap Papa dengan nada bahagia. Lagi pula, siapa yang tidak bahagia mendapati anak kesayangannya yang sudah lama terlelap dalam tidur panjang kini sudah membuka mata kembali?
“Reyhan?”
“Iya, Nak. Kabari Nadhira dan segera pulang,” lanjut Papa sebelum akhirnya mematikan panggilan telepon. Ia kemudian kembali mendekati ranjang yang ditempati Reyhan.
“Tunggu, ya, sebentar lagi Nadhira pulang.”
__ADS_1