
Papa masih terbayang dengan mimpinya semalam. Mimpi, tetapi terasa sangat nyata. Mimpi tentang bagaimana anak tengahnya itu memeluknya dengan begitu erat. Lalu, berbisik maaf dan mengatakan sebagai permintaan terakhir. Ia sungguh bertanya-tanya tentang apa yang terjadi dengan Farhan. Bahkan, dari cerita Mama pun ia mendengar banyak hal aneh yang terjadi dengan Farhan sejauh ini. Ingin bertanya langsung. Papa tidak bisa. Berhadapan dengan Farhan selalu berhasil memancing emosinya. Lalu, pada siapa ia akan bertanya? Reyhan? Papa tidak yakin jika Reyhan tahu betul tentang perkembangan Farhan selama ini. Ia tahu hubungan kedua putranya juga tak begitu dekat seperti dulu lagi. Hanya saja tentu masih lebih baik daripada hubungannya sendiri dengan Farhan.
Pintu ruangan Papa treketuk dari luar. Tak lama setelah itu, muncul Reyhan dengan beberapa map di tangan sembari mengulum senyum padanya. Tentu saja Papa menyambut antusias kedatangan si sulung yang kini sudah bisa beraktivitas dengan normal. Namun, tetap harus menjaga kondisi tubuhnya.
“Kakak kenapa nggak bilang kalau mau datang?” tanya Papa. Ya, Reyhan datang berkunjung ke kantor pusat di mana Papa bekerja. Sedangkan ia dan Farhan bekerja di kantor cabang. Akan tetapi, tidak kalah megah dan mewah juga bangunan yang ia tempati tersebut.
Reyhan terkekeh kecil mendengar pertanyaan ayahnya. “Kakak datang bukan untuk main-main, Pa. Kakak bawa kerjaan buat Papa,” jawab lelaki itu dan mendaratkan bokongnya di kursi yang di hadapan Papa. Reyhan menyodorkan beberapa berkas yang ia bawa sebagai alasan datang berkunjung ke kantor ayahnya. “Dicek dulu, Pa. Tapi, Kakak bawa beberapa saja berkasnya. Sisanya nanti Farhan yang selesaikan,” terang Reyhan.
Papa menganggukkan kepala. Ia menarik map yang sudah diletakkan Reyhan di hadapannya. Lalu, mencoba untuk mengecek kembali hasil pekerjaan si sulung. Papa tersenyum bangga. Meskipun sudah berbulan-bulan tidak vakum dari pekerjaan kantor ternyata tidak membuat si sulung lupa bagaimana menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Hal itulah yang selalu membuat Papa bangga pada Reyhan. Lalu, bagaimana dengan Farhan? Bukankah Farhan juga bisa melakukan apa yang dilakukan oleh Reyhan? Lantas, kenapa Papa tidak bisa melihat anak itu seperti Papa melihat Reyhan?
Menyinggung kembali tentang Farhan membuat Papa kembali teringat akan mimpinya semalam. Ia menutup map dan meletakkan kedua tangannya di atas meja—menindih map berisi berkas yang diberikan Reyhan. “Kak, Papa boleh tanya sesuatu sama Kakak?”
Reyhan mengangguk mengiyakan. “Tentu saja, Pa. Mau tanya tentang apa?”
“Kakak ngerasa ada yang beda sama Farhan, nggak?”
Sejenak Reyhan terdiam. Rupanya, tidak hanya dirinya yang merasakan hal itu. Papa juga merasakan hal yang sama ternyata. Sebelumnya, ia berpikir bahwa ia merasa adiknya berbeda karena nyaris empat bulan tidak pernah memantau bagaimana perkembangan Farhan. Akan tetapi, jika Papa saja sampai menanyakan hal demikian. Itu artinya memang Farhan sudah berbeda dan aneh.
“Tadi malam Papa mimpi Farhan meluk Papa. Tapi, pelukannya itu terasa nyata banget,” tutur Papa menceritakan tentang mimpinya semalam. “Tapi, bukan itu yang membuat Papa merasa ada yang aneh dengan Farhan.”
“Apa, Pa?”
“Farhan minta maaf sama Papa sambil meluk Papa. Terus dia bilang sebagai permintaan terakhir,” jawab Papa. “Papa nggak tahu apa yang terjadi sama adikmu, Kak. Papa merasa dia benar-benar berubah dan kadang aneh seperti yang diceritakan Mama.”
Kening Reyhan mengkerut dalam. “Aneh? Aneh bagaimana sih maksud Papa?” tanya Reyhan bingung.
“Kalau dari cerita Mama. Farhan kadang linglung dan nggak fokus kalau diajak bicara. Papa juga pernah menemukan Farhan seperti itu, Kak,” ujar Papa. Ia tidak pernah menceritakan pada siapapun tentang anak tengahnya itu. “Kenapa Papa merasa ada yang nggak beres dengan Farhan, ya, Kak. Apa sebenarnya ada yang disembunyikan?”
Reyhan tentu saja tidak tahu betul tentang apa yang terjadi dengan adiknya. Namun, mendengar cerita Papa dan keanehan yang ditemukan Mama tentulah membuat Reyhan berpikir hal serupa dengan ayahnya bahwa Farhan seperti tengah menyembunyikan sesuatu. Namun, apa yang disembunyikan oleh adiknya itu?
“Pa, apa Papa ngerasa kalau sebenarnya Farhan butuh perhatian Papa?”
Papa terdiam mendengar pertanyaan putra pertamanya itu.
“Sejak lama, Farhan sudah menginginkan hal itu, Pa. Mungkin Farhan nggak mau cerita apa pun, karena memang merasa nggak perlu dan berpikir bahwa Papa atau Mama nggak akan peduli. Coba sedikit saja, Pa, buka ruang dan perhatian untuk Farhan. Kakak yakin dia mau cerita tentang apa pun juga,” tukas Reyhan panjang lebar.
__ADS_1
Mungkin benar apa yang dikatakan si sulung, ujar Papa dalam hati. Namun, ia tidak tahu harus memulai seperti apa untuk memberikan perhatian pada Farhan. Jarak yang sudah terlanjur ada itu seakan susah untuk ia retas.
“Papa harus bagaimana?”
˚˚˚˚˚
Reyhan menjebak ayah dan adiknya pada satu meja yang sama. Setelah perbincangannya dengan Papa di ruang kerja tad, Reyhan mengajak Papa makan siang di luar. Ia juga langsung menghubungi sang adik untuk menemuinya di sebuah restoran. Dan sekarang mereka sudah berada di tempat yang sudah Reyhan tentukan. Ia sengaja tak memberitahu Papa dan Farhan bahwa mereka akan makan siang bertiga. Sebab, jika ia mengatakan hal itu. Bisa jadi salah satu di antara mereka akan menolak dengan berbagai alasan.
Hening. Reyhan menatap bergantian ayah dan adiknya yang hanya terdiam. Ia sendiri belum memikirkan topik yang tepat untuk ia angkat dan jadikan bahan perbincangan. Ia merasa awkward sendiri dengan keadaan saat ini sampai harus menggaruk kepala bagian belakangnya yang tidak gatal sama sekali.
“Ini sampai kapan makanannya cuma ditonton saja?” Reyhan angkat suara.
Setelah Reyhan berucap. Barulah Papa mulai menyantap makanan yang sudah terhidang di hadapannya tanpa suara. Begitu juga dengan Farhan. Sedang Reyhan hanya bisa menghela napas panjang. Usahanya untuk memperbaiki hubungan ayah dan adiknya justru menjebak dirinya dalam situasi yang membosankan. Dalam hati ia terus berucap dan mencoba untuk sabar. Sembari makan, ia mungkin bisa memikirkan apa yang akan ia lakukan setelah ini untuk mencairkan suasana.
Tidak ada suara yang tercipta sampai ketiga lelaki itu menyelesaikan makan siang.
“Sudah lama nggak piknik bareng. Kok jadi pengen, ya,” ucap Reyhan yang lagi-lagi mencoba untuk mencairkan suasana agar tidak canggung lagi.
Papa dan Farhan langsung menoleh ke arah Reyhan. Benar juga, ucap keduanya dalam hati untuk membenarkan ucapan Reyhan. Ya, sudah lebih dari satu decade mereka tidak pernah piknik.
“Ayo piknik.”
Lalu, bagaimana dengan Papa dan Farhan? Kedua lelaki berbeda generasi itu langsung kembali terdiam setelah saling melirik satu sama lain. Hal itu kini Reyhan manfaatkan untuk membuat ayah dan adiknya bicara.
“Atur jadwal dong, Pa. Kakak yakin Mama juga senang.”
“Hm,” balas Papa hanya dengan gumaman.
“Adek juga belum pernah piknik, ‘kan?” tanya Farhan yang mengingat adik kecilnya. Ia sendiri hanya ikut piknik bersama keluarganya hanya dua kali. Setelah itu, masalah besar terjadi dan membuatnya seperti dikucilkan oleh keluarganya sendiri. Jadi, bolehkah sekarang jika ia begitu antusias ketika kakaknya membahas tentang piknik? Ia tidak berharap lebih. Namun, ia ingin menikmati kembali masa-masa indah dulu sebelum waktunya pergi tiba.
“Iya. Adek belum pernah ikut. Tapi, piknik ke mana, ya, enaknya?” Reyhan berusaha memikirkan tempat yang tepat untuk dijadikan tujuan piknik keluarga.
“Pantai.”
Sekali lagi Papa dan Farhan menjawab bersamaan. Kali ini, pasangan ayah dan anak itu refleks saling menatap. Cukup lama. Lalu, saling menertawakan satu sama lain. Konyol.
__ADS_1
Melihat hal itu membuat Reyhan merasa senang. Sepertinya, usahanya akan berakhir baik. “Nah, kayaknya ke pantai asyik juga tuh,” sahut Farhan dengan mencoba menunjukkan sikap biasa saja. Padahal, rasanya ia sudah ingin berjingkrak kegirangan melihat ayah dan adiknya saling menertawakan.
“Tapi, ke villa juga kayaknya bukan tempat yang buruk. Iya, nggak sih, Pa?” tanya Farhan. Setelah ia dan Papa saling menertawakan. Ia seperti sudah menemukan jalan untuk kembali seperti itu. Hal itu juga membuatnya merasa seperti baik-baik saja.
Papa menganggukkan kepala. “Terserah kalian saja nanti mau ke mana. Papa ngikut saja,” jawab Papa dan tersenyum. “Kamu maunya ke mana, Kak?”
“Kalau Kakak mesti tanya Aleeana dulu sih, Pa. Kan dia juga harus menyesuaikan dengan kondisi si kembar.”
“Kalau kamu gimana, Farh?”
“Hah?” Farhan linglung.
Papa menatap Reyhan seakan memberitahu si sulung tentang sikap Farhan yang mulai aneh. Terlihat sekali anak itu tidak fokus. Papa melihat Reyhan mengangguk paham.
“Kamu mau pikniknya ke mana?” ucap Papa mengulang pertanyaannya.
“Hm, ke mana saja deh, Pa. Farhan ngikut.”
“Ya sudah nanti kita bicarakan lagi, ya, di rumah.” Papa melirik jam tangannya. “Papa ada pertemuan di luar. Kita bisa balik, ‘kan?”
Reyhan dan Farhan mengangguk.
“Kakak balik ke kantor sama Farhan saja, Pa,” ujar Reyhan yang langsung dibalas anggukan oleh ayahnya.
“Tapi, Kakak yang nyetir,” ucap Farhan cepat.
“Siap!”
Ketika lelaki itu kemudian bangkit. Reyhan lebih dulu menyalami Papa. Lalu, disusul oleh Farhan. Reyhan juga lebih dulu beranjak. Sedang Farhan ditahan sebentar oleh Papa.
“Kamu nggak apa-apa, ‘kan?”
Farhan tertegun mendengar pertanyaan ayahnya. Terdengar aneh, karena tidak pernah ia dengar dalam waktu yang cukup lama. Detik berikutnya Farhan menganggukkan kepala. “Iya, Pa.”
“Ya sudah. Kamu hati-hati di jalan.”
__ADS_1
“Papa juga,” ucap Farhan dan pergi.
Papa menatap punggung anak tengahnya yang perlahan menjauh. Ia kemudian tersenyum. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk memperbaiki hubungan dengan Farhan. “Baik-baik, ya, Nak.”