
Satu pekan berlalu begitu cepat setelah insiden di meja makan. Jika kemarin Farhan pergi ke luar bersama Tio tanpa harus ke kantor. Kini Farhan sudah akan kembali menginjakkan kaki di gedung yang menjulang tinggi itu. Di mana ia memimpin sebagai pengganti sang kakak yang kini masih terbaring koma.
Lelaki dengan surai hitam pekat itu berdiri di depan cermin untuk mematut dirinya sebelum berangkat. Seperti biasa setelah hari itu, Farhan selalu tersenyum miris melihat wajah tirus dan bibir pucatnya. Tangannya meraih sebuah benda kecil pemberian Nadhira untuk kemudian ia oleskan di bibir agar sedikit berona dan berwarna. Sehingga orang-orang tak menyadari bagaimana bibir merah muda itu perlahan kehilangan rona.
Atensi Farhan teralihkan saat suara ketukan pintu terdengar. "Masuk. Pintunya nggak terkunci," ucap Farhan dengan nada suara sedikit meninggi dari biasanya agar terdengar sampai di luar kamar.
Sosok Mama muncul dari balik pintu cokelat itu dengan senyum mengembang. Sebuah nampan berisi segelas susu berada di tangannya. "Tadi Mama lupa bikinin susu buat kamu di meja makan saat sarapan, Nak. Jadi ini Mama bawakan langsung saja ke kamar," terang Mama seraya meletakkan nampan tersebut di meja dekat tempat tidur Farhan. Lantas ia berjalan mendekati sang putra.
"Yakin sudah bisa ke kantor? Nggak mau istirahat dulu?" tanya Mama seraya menyentuh kedua pundak Farhan. Jujur ia masih ragu untuk mengizinkan Farhan pergi ke kantor. Ia belum yakin bahwa anaknya itu sudah benar-benar pulih.
Farhan mengangguk. "Yakin dong, Ma," balas Farhan dengan pasti dan tanpa terlihat raut keraguan di wajahnya.
"Ya sudah. Nanti kalau merasa kurang sehat lagi langsung pulang saja, Sayang. Jangan sampai memaksakan diri, ya."
Farhan mengangguk paham. Senang rasanya karena sekarang ia sudah menemukan perhatian yang selama ini ia idam-idamkan. Namun, apakah itu bisa dikatakan sudah terlambat? Sebab Farhan tak pernah tahu sampai kapan napasnya berembus. Sampai kapan ia dibiarkan bertahan oleh kesakitan-kesakitan yang semakin menjadi-jadi itu.
"Minum dulu susunya. Baru berangkat," ucap Mama seraya merapikan pakaian formal yang membungkus tubuh sang anak tengah. Ia kemudian menuntun tubuh yang lebih tinggi darinya itu menuju meja di samping tempat tidur Farhan di mana ia meletakkan nampan berisi segelas susu itu.
"Ini minum dulu." Mama menyerahkan gelas tersebut pada Farhan.
"Terima kasih, Ma," ucap Farhan. Terima kasih yang ia ucapkan bukan hanya sebatas terima kasih karena segelas susu buatan Mama. Akan tetapi, tentang terima kasih akan perhatian yang pernah hilang itu.
__ADS_1
Mama tersenyum. "Ayo Mama antar ke depan," ucap Mama dan meraih tas kerja milik Farhan yang sudah anaknya itu siapkan dan letakkan di atas tempat tidur.
Farhan tertawa kecil melihat perlakuan ibunya. "Ma," panggil Farhan dengan lembut. Ia juga melingkarkan tangannya di leher Mama dan berjalan ke luar kamar.
"Iya."
"Mama sayang, nggak, sama Farhan?"
"Sayang."
"Kalau Farhan nikah, bagaimana?"
"Farhan bercanda. Mau diurusin Mama lebih lama lagi. Baru Farhan siap diurus oleh perempuan lain," ucap Farhan dan mencium singkat pipi ibunya.
...°°°°°...
Gendang bertabuh dengan kencang di dada Farhan saat ia berhadapan dengan Papa. Sejak sepuluh menit lalu. Tak ada suara yang terdengar di dalam ruangan Papa. Hening menjadi suasana mendominasi di antara sepasang ayah dan anak itu.
"Kamu tahu kenapa Papa memanggilmu ke sini?"
Farhan terdiam. Sebenarnya ia sudah tahu penyebab utama ia berada di ruangan yang bagi para karyawan adalah sebuah ruangan terhormat bak istana raja. Namun, bukankah itu jelas tak berlaku bagi Farhan? Sebab ruangan Papa adalah ruangan paling menyeramkan dan membuat tegang baginya. Dan kembali pada alasan kenapa ia dipanggil dan menghadap Papa. Jelas karena bagi Papa ia sudah melakukan sebuah kesalahan dari pekerjaan yang sudah ia usahakan semaksimal mungkin. Memangnya apalagi? Farhan selalu terjebak di ruangan itu selalu dengan alasan yang sama. Sedangkan untuk pencapaian besarnya ia tak pernah sekalipun mendapat apresiasi dari Papa.
__ADS_1
Terdengar Papa menghela napas panjang dan lelah. Ia juga mengusap kasar wajahnya. Hingga detik berikutnya ia menggebrak meja dengan sangat keras. Beberapa benda di sana terjatuh mencium lantai dengan sempurna karena kerasnya gebrakan yang tercipta di sana. Bahkan, Farhan pun tak urung untuk tersentak hingga membuat tabuhan di dalam dadanya semakin menjadi-jadi.
"Dasar tidak becus!" teriak Papa dengan wajah merah padam sebab amarah yang sudah tak bisa ia kendalikan lagi. "Kamu tau nggak ini adalah tender besar?"
Farhan menundukkan kepala dalam. Ia tak berani memandang sorot mata tajam dan sarat kemarahan itu. Jangankan untuk menabrakkan langsung sorot matanya. Hanya sekedar melirik saja ia tak mampu. Sorot mata Papa sudah benar-benar mengerikan dan seperti siap untuk menerkamnya.
Terlalu dalam Farhan menundukkan kepala hingga ia tak menyadari pergerakan Papa. Tiba-tiba saja tubuhnya sudah berdiri dengan kerah kemeja yang sudah dipegang erat oleh sang ayah. Hal itu membuat pasokan udara terasa berkurang dengan sendirinya. Tentu juga hal itu berhasil membuat Farhan harus membuka mulut untuk kemudian bisa memenuhi sedikit kebutuhan oksigen untuk paru-parunya.
Bugh!
Sebuah pukulan mendarat tepat di bagian pipi kanan Farhan. Tak cukup sampai di situ. Tubuhnya Farhan terdorong dengan keras dan berhasil mendarat sempurna di lantai. Tubuh yang sudah terlanjur ringkih itu kembali mendapatkan serangan dari kaki yang berbalut pantofel mewah itu. Apa yang bisa dilakukan Farhan selain diam dan membiarkan kebrutalan ayahnya menjadikannya sebagai bahan pelampiasan?
"Dasar tidak becus!" teriak Papa dan sekali lagi menendang perut Farhan hingga erangan lolos dari mulut lelaki itu. Lantas, dengan rasa tanpa bersalah dan berdosa ia melenggang pergi begitu saja meninggalkan Farhan dengan segala kesakitannya.
Farhan. Lelaki itu menyeka darah yang berhasil lolos di sudut bibirnya. Lantas, tersenyum miris yang berhasil mengundang nyeri pada bagian anggota tubuhnya yang terkena hantaman keras tangan Papa. "Kenapa tidak dibunuh saja sekalian?" ucap Farhan masih dengan senyum miring yang menghias wajah kekurangan rona itu seraya menatap punggung Papa hingga menghilang sempurna di balik pintu ruangan.
Lelaki dengan surai hitam yang sudah terlanjur basah oleh peluh itu mencoba bangkit. Ia berusaha mengenyahkan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya. Juga dengan rasa pening yang sudah mulai hinggap. Dengan berpegangan pada pinggiran meja, akhirnya Farhan bisa berdiri meskipun dengan posisi tak sempurna. Sebab, ia harus membungkukkan badan untuk menahan rasa sakit di perutnya yang terkena hantaman keras kaki sang ayah yang berbalut pantofel dengan harga fantastis itu.
Farhan beranjak keluar dari ruangan Papa. Kini ia sudah tak peduli bagaimana pandangan para karyawan yang melihatnya nanti. Yang terpenting kini adalah bagaimana ia bisa kembali ke ruangannya dengan cepat.
Tepat seperti dugaan Farhan. Ia menjadi pusat perhatian karyawan di kantor dengan tampangnya yang sudah tak rapi. Namun, yang lebih menyita perhatian adalah bagian wajahnya yang sudah babak belur. Beberapa orang mendekati Farhan dengan niat untuk membantu. Akan tetapi, sebelum itu terjadi. Ia mengangkat tangan kanannya ke udara hingga tak ada satu pun dari mereka yang berani mendekat. Mereka hanya menatap iba Farhan yang berjalan dengan gontai.
__ADS_1