Napas Baru

Napas Baru
Chapter 46


__ADS_3

Farhan menuruni anak tangga menuju lantai dasar. Tepat di anak tangga terakhir. Ia bertemu dengan Mama yang juga hendak naik ke atas. Mungkin akan menuju kamar untuk beristirahat. Sebab, jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.


“Mau ke mana, Nak?” tanya Mama lebih dulu. Ia menatap Farhan dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tidak mungkin Farhan akan ke luar rumah jika dengan pakaian santai seperti ini, pikir Mama. Ia lantas menatap penuh tanya anak tengahnya itu seraya menunggu jawaban.


“Papa di mana, ya, Ma?” Farhan tak menjawab pertanyaan Mama. Ia justru balik melontarkan pertanyaan pada sang ibu.


“Papa?” ulang Mama. Jujur saja, ia tidak percaya dengan pertanyaan Farhan tadi. Kenapa Farhan tiba-tiba mencari Papa? Biasanya juga anak itu akan berdebat jika sudah berada di tempat yang sama dengan ayahnya.


“Iya Papa. Papa di mana, Ma?”ulang Farhan bertanya.


“Papa di ruang kerja, Sayang. Ada apa, ya, malam-malam cari Papa?” tanya Mama yang tidak bisa menahan rasa penasarannya. Ya, tidak bisa dipungkiri juga bahwa Mama cukup khawatir. Khawatir jika kejadian-kejadian sebelumnya akan terjadi lagi dan berakhir dengan Farhan yang harus kena imbas dari kemarahan sang ayah.


Farhan terdiam sejenak. Ia terlihat seperti orang bingung dengan caranya yang menggaruk kepala.


“Farhan, ada apa?” Mama menyentuh kedua pundak putranya dengan lembut.


“Nggak ada, Ma,” jawab Farhan. Ia kemudian berbalik dan beranjak dari hadapan Mama. Namun, langkahnya terhenti ketika Mama menyerukan namanya.


“Farhan.”


Farhan menoleh ke belakang. Ia terdiam dengan ekspresi bingungnya. “Papa di mana?” tanya Farhan lagi.


Pertanyaan yang terlontar lagi dari bibir Farhan membuat Mama semakin bingung. Belum lama ia menjawab di mana keberadaan Papa. Sekarang, Farhan lagi-lagi bertanya. Ada apa dengan Farhan? Pikir Mama. “Papa di ruang kerjanya, Sayang. Kamu mau ketemu Papa?”

__ADS_1


Farhan menganggukkan kepala dengan polos. Ia kembali turun dan mengikis jarak dengan Mama. “Farhan ke ruang kerja Papa dulu, ya,” ucapnya dan meninggalkan Mama begitu saja.


Mama. Wanita itu hanya bisa memandangi punggung Farhan yang perlahan menjauh dari hadapannya. Entah kenapa perasaan menjadi tidak enak sekarang pada Farhan. Apa sebenarnya yang terjadi dengan anak keduanya itu? Makin hari, sikap Farhan makin aneh dan tak terbaca. “Kamu baik-baik saja ‘kan, Nak? Kenapa hati Mama nggak tenang seperti ini setiap melihat kamu?” monolog Mama. Ia menatap sendu dinding yang menelan tubuh Farhan. Mama menyentuh dadanya yang berdentum. Astaga! Perasaan apa ini?


Mama menghela napas panjang. Ia tidak boleh berpikir yang tidak-tidak tentang putranya. Farhan akan selalu baik-baik saja. Tidak akan ada hal buruk yang terjadi padanya.


˚˚˚˚˚


Farhan mengetuk pintu ruang kerja ayahnya. Setelah itu, ia hanya butuh menunggu tak sampai satu menit untuk seruan dari dalam terdengar mengizinkannya masuk. Tanpa ragu ia memasuki ruangan di mana rak-rak di dalam sana terisi dengan buku-buku tebal serta berkas-berkas kantor. Ia mempertemukan pandangan dengan sang ayah yang menatapnya dengan tatapan bingung. Ya, siapapun yang melihat Farhan saat ini pasti akan merasa bingung dengan sikapnya yang aneh.


“Ada apa?” tanya Papa dengan nada suaranya yang datar.


“Farhan mau bicara sama Papa, boleh?”


“Boleh, nggak, Pa? Kalau memang nggak boleh biar Farhan ke luar.”


Entah stimulus dari mana yang membuat Papa menganggukkan kepala begitu saja. Ia sendiri bahkan tak menyadari yang ia lakukan. Ia hanya menyadari bagaimana senyum Farhan yang cantik terbit menghias wajah tirus dan terlihat pucat itu.


“Pa, Farhan minta maaf, ya. Selama ini Farhan nggak pernah bisa bikin Papa bangga. Yang ada hanya Farhan yang selalu membuat Papa marah. Nggak kayak Kakak yang selalu membuat Papa, Mama, dan semuanya bangga.”


Papa masih bergeming. Kenapa tiba-tiba Farhan meminta maaf seperti ini? Ia mencoba mengajak otaknya untuk mencerca sebaik yang ia bisa tentang keadaan yang tengah dihadapinya saat ini.


“Papa mau ‘kan maafin Farhan?” tanya Farhan dengan yang terdengar sangat lirih dan sarat akan permohonan. “Kalau Papa nggak mau maafin Farhan. Farhan nggak tahu akan seperti apa jasad Farhan nantinya, Pa.”

__ADS_1


Astaga, Farhan. Anak ini kenapa harus bicara yang mengarah kematian?


“Anggap saja itu permintaan terakhir Farhan, Pa.” Farhan bangkit dan berjalan memutari meja untuk meretas jarak dengan Papa. Lalu, dipeluknya tubuh pria itu dari belakang tanpa takut mendapatkan penolakan. Oh, begini rasanya memeluk Papa? Entah kapan terakhir ia bisa memeluk tubuh ayahnya sendiri.


“Pa, mau ‘kan maafin Farhan?” tanya Farhan dengan nada berbisik, tetapi masih terdengar jelas di telinga Papa. Hanya saja Papa masih bergeming. Sikap Farhan kali ini benar-benar membuat Papa tidak harus merespons seperti apa. Ini terlalu tiba-tiba.


Papa sedikit tersentak ketika tiba-tiba Farhan melepaskan pelukannya. Ia menoleh ke belakang dan mengangkat pandangan. Dilihatnya Farhan yang memejamkan mata dengan erat. Namun, belum sempat ia bertanya. Farhan lebih dulu memilih pergi dengan langkah tergesa-gesa dan sedikit limbung.


“Farhan tunggu!” Papa bangkit. Namun, ia terlambat. Farhan sudah lebih dulu berlalu dan menutup kembali pintu ruangannya.


Kini hanya tinggal Papa sendiri di dalam ruang kerjanya. Kepergian Farhan menyisakan tanda tanya. Permintaan maaf yang begitu tiba-tiba, pembicaraan yang mengarah pada kematian dan permintaan terakhir, dan sikap yang tiba-tiba sangat manis. Pertanda apa sebenarnya ini? Apakah Farhan akan pergi? Pergi ke mana?


Papa menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tidak mungkin. Farhan tidak akan meninggalkannya. Farhan akan tetap bersamanya sampai kapan pun. Tidak.


“Tidaaakkk!”


“Papa kenapa?” tanya Mama yang terbangun karena teriakan Papa. Ia menyentuh lengan pria itu dengan lembut dan berusaha untuk menenangkan. Sepertinya Papa bermimpi buruk, pikir Mama.


“Farhan di rumah ‘kan, Ma?” tanya Papa. Ia khawatir. Benar-benar khawatir. Juga takut jika Farhan pergi.


“Iya, Pa. Farhan nggak pernah ke luar malam sekarang. Kenapa?”


Papa bernapas lega. Setidaknya anak keduanya itu saat ini berada di rumah. “Nggak apa-apa, Ma,” jawab Papa dan kembali membaringkan tubuhnya. Namun, tak langsung memejamkan mata. Ia memikirkan tentang mimpinya tadi. Apakah itu isyarat yang Tuhan tunjukkan agar ia memperbaiki hubungannya dengan Farhan? Lalu, yang disebut permintaan terakhir oleh Farhan itu maksudnya apa?

__ADS_1


“Farhan, apa ada yang kamu sembunyikan dari Papa, Nak?” tanya Papa di dalam hati. Setelah itu, ia kembali merafalkan do’a-do’a baik. Semoga keluarganya selalu dalam lindung dan rengkuh kasih sayang Tuhan.


__ADS_2