
“Pelan-pelan, ya, makannya,” ucap Papa seraya menyuapi Farhan makanan yang sudah disediakan rumah sakit. Anak itu nurut saja akan ucapan Papa. Meski sebelumnya terjadi juga adegan di mana Papa harus membujuk Farhan mati-matian hanya untuk sekadar mau melahap makanan sebagai asupan untuk tubuhnya. Tak mudah bagi Papa untuk membujuk anak itu. Jujur saja, dihadapkan dengan sikap Farhan yang manja seperti ini membuat Papa berpikir bahwa masih lebih baik Latisha daripada kakaknya. Namun, Papa tetap melayani putranya. Ia bahkan sampai tak pergi ke kantor, karena Farhan yang tak membiarkannya pergi. Semanja itu Farhan sebenarnya. Hanya saja, ia tidak punya tempat untuk bermanja dulu.
“Pa, kenapa sih Farhan nggak dikasih makan makanan yang lain? Makanan rumah sakit itu hambar, Pa,” ucap Farhan setelah menelan makanan yang ada di dalam mulutnya. Ia kemudian memberengut kesal. Tak lupa dengan bibir pout yang ia pertontonkan dan membuatnya terlihat sangat lucu.
Andai saja Papa tidak menjaga perasaan putranya. Mungkin pria itu sudah mengacak rambut anak itu. Hanya saja, jika ia melakukannya. Sesuatu hal pasti terjadi. Adalah helai rambut Farhan yang akan rontok dan menempel di tangan. Dan Papa hanya bisa tertawa kecil melihat polah anak tengahnya itu. “Bisa kok. Tapi, nanti kalau sudah sembuh, ya. Mau makan apa saja boleh.”
“Kalau Farhan nggak sembuh-sembuh, bagaimana, Pa? Bukankah itu artinya Farhan akan terus mengonsumsi makanan rumah sakit?”
Papa terdiam. Lalu, menghela napas panjang. “Makanya kamu harus sembuh dong. Biar bisa makan apa saja yang kamu mau. Papa pasti akan membelikan untukmu,” ucap Papa. Ia tidak hanya membual untuk menenangkan Farhan. Namun, ia berjanji untuk memebuhi apa saja yang diinginkan Farhan nanti. Untuk apa? Untuk menebus dosa-dosa atas kesalahan yang pernah ia lakukan pada Farhan. Juga untuk mengganti waktu dan kesempatan-kesempatan baik yang harusnya didapatkan Farhan seperti dua anaknya yang lain. Mungkin terdengar sangat terlambat. Namun, akan sangat berdosa Papa jika tak memberikan itu sama sekali.
“Ayo satu suap lagi,” ujar Papa seraya menyodorkan sesendok bubur hambar itu. Namun, langsung ditolak dengan gelengan pelan Farhan.
“Farhan sudah kenyang, Pa,” sahut Farhan. Padahal, tak sampai lima sendok bubur yang masuk ke dalam perutnya. Namun, rasanya perut Farhan sudah terjejal. Ia takut jika memaksa masuk makanan lagi, ia akan mengalami mual yang parah.
Papa yang paham akan kondisi Farhan pun tak memaksa anak itu. Ia meletakkan kembali tempat makan itu di atas nakas.
Tepat saat Papa membalik badan, ia melihat Farhan sudah termenung seraya menatap tangannya yang sudah terdapat helai rambut di sana. Begitu cepat ternyata pergerakan yang dilakukan Farhan. Lalu, dengan cepat Papa berusaha membersihkan tangan putranya. “Nggak apa-apa, Nak. Ini cuma sementara saja kok,” ucap Papa. Sedang yang diajak bicara hanya diam dengan tatapan yang masih jatuh pada tangannya.
Farhan. Anak itu kini bertambah beban pikirannya. Apakah nanti rambutnya akan habis rontok? Lalu, ia botak secara keseluruhan? Dan ketampanan yang selalu ia bangga-banggakan di hadapan kekasihnya akan menghilang? Lantas, Finza juga akan kehilangan rasa cinta padanya, karena perubahan fisik yang begitu signifikan. Tidak! Tidak mungkin. Itu tidak boleh terjadi. Ia tidak bisa kehilangan cinta dari perempuan yang sangat dicintainya itu.
Papa dengan cepat mencegat tangan Farhan ketika anak itu berniat untuk menyentuh bagian kepalanya lagi. Lalu, Farhan mengangkat kepala dan saling beradu pandang dengan Papa dalam beberapa detik. Papa kemudian tersenyum tipis. “Jangan. Jangan merusak suasana hati dan pikiranmu, Nak,” ucap Papa. Ia lantas meraih tubuh putranya dan memeluknya.
“Nanti habis rontok rambut Farhan, Pa. Farhan akan botak.”
“Nggak apa-apa. Meskipun sudah nggak ada rambut lagi di kepalamu. Kamu tetaplah Farhan anak tampan Papa.”
“Finza pasti nggak cinta lagi sama Farhan.”
“Kata siapa? Jika memang Finza mencintaimu dengan tulus. Seperti apa pun kamu, dia pasti akan tetap menerima dengan segala kekuranganmu.”
Sebelum Farhan menyahuti ucapan Papa. Pintu ruangan itu lebih dulu terketuk dari luar, lalu muncul Mama, Reyhan, dan Nadhira yang tengah menggendong Radin. Senyum mereka merekah ke arah Farhan. Lalu, membawa sepasang kaki mereka mendekat.
__ADS_1
“Ini kenapa anak Mama kok kusut begini sih mukanya?” tanya Mama seraya menyentuh pundak Farhan yang kini terlihat lesu.
“Nggak tau tuh anak Mama. Katanya dia sudah nggak ganteng lagi,” balas Papa. Lalu, dibalas dengan tawa lebar seisi ruangan. Hal itu tentu saja membuat Farhan kesal dan ingin mengumpat mereka semua. Sayangnya, anak itu masih sadar diri bahwa ia tidak pantas melakukan hal itu. Apalagi pada keluarganya sendiri.
Saat hening kembali datang. Farhan menatap satu per satu anggota keluarganya dengan tatapan sendu dan wajah datar. Lalu, berubah menjadi senyum manis ketika ia menatap bayi mungil di dalam gendongan kakak iparnya. Bayi itupun ikut tersenyum dan membuat Farhan gemas. “Kak, mau gendong Radin, boleh?”
Nadhira menatap Reyhan terlebih dulu untuk meminta izin. Lantas, ia menyerah si kecil pada Farhan setelah mendapatkan anggukan dari sang suami. Ia dan yang lainnya hanya bisa menonton interaksi Farhan dengan Radin yang sukses membuat hati mereka menghangat. Mereka juga bisa mendengar tawa renyah Farhan yang asyik bermain dengan sang keponakan. Hingga ucapan Farhan sukses membuat mereka terdiam.
“Om Farhan sebentar lagi pasti akan botak, tau. Jadi, Radin nggak akan punya Om yang ganteng lagi. Gimana dong? Radin masih mau temanan sama Om, nggak, hm?” ucap Farhan mengajak keponakannya bicara. “Kalau Om sudah nggak ganteng lagi. Pasti nggak ada yang temanan lagi sama Om. Om pasti sedih.”
Perhatian seisi ruangan itu kembali tersita mendengar suara ketukan pintu. Dari balik pintu ruangan yang terbuka itu, tampak seorang perempuan berjilbab yang muncul dengan senyum manis. Adalah perempuan yang merupakan kekasih hati Farhan, Finza.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam,” jawab semuanya bersamaan, kecuali Farhan. Lelaki itu hanya tertegun melihat kedatangan kekasihnya.
Finza menyalami satu per satu isi ruangan itu.
“Radin di sini saja,” ucap Farhan dengan cepat. Nadhira membalas dengan anggukan. Lalu, beranjak ke luar bersama yang lain dan menyisakan Farhan dan Finza di dalam ruang rawat.
Hening datang menjeda dan medekap erat pasangan kekasih itu dalam beberapa saat. Hingga suara lembut Finza berhasil mendeportasi sunyi di dalam ruang rawat itu.
“Bagaimana kondisimu, Mas?”
“Feel better, By,” jawab Farhan seraya mengulum senyum tipisnya. Sedang tangannya ia biarkan dimainkan oleh keponakannya.
Finza pun ikut tersenyum. Ia turut senang akan perkembangan yang dialami Farhan, kekasihnya. “Maaf aku baru sempat datang sekarang. Hm, kemarin aku juga dirawat, Mas,” ucap Finza dengan nada takut pada kalimat terakhirnya. Setelah itu, ia menundukkan kepala. Farhan pasti akan memarahinya setelah ini. Seperti biasanya.
Helaan napas panjang Farhan terdengar. “Kenapa lagi? Memforsir diri bekerja, hm?”
Finza tertegun. Kali ini ia tak mendengar Farhan memarahinya. Namun, justru sebaliknya. Lelaki itu berucap dengan sangat lembut. Lalu, Finza hanya bisa menganggukkan kepala mengiyakan. Ia tidak terbiasa membohongi lelaki yang duduk di atas ranjang pesakitan itu. Lagi pula, kekasihnya bukanlah tipekal orang yang gampang dibohongi.
__ADS_1
“Aku kan sering bilang sama kamu. Kamu boleh bekerja, tapi ingat kesehatanmu juga.”
“Iya, Mas. Maaf,” ujar Finza.
“By, boleh titip Radin?” tanya Farhan yang tiba-tiba merasakan tubuhnya melemas hingga membuatnya tak bisa menopang tubuhnya sendiri. Ia juga langsung bersandar pada tumpukan bantal di belakangnya.
“Ya Allah, Mas, kamu kenapa?” tanya Finza seraya meraih tubuh Radin dari pangkuan kekasihnya. “Aku panggil dokter, ya.”
Farhan menggelengkan kepala. “Nggak. Nggak usah. Aku cuma lemas,” jawab Farhan tak berbohong.
“Kamu yakin?”
Farhan mengangguk. “By, aku mau tanya sesuatu sama kamu, boleh?”
“Tentu saja boleh.”
“Kalau aku sudah nggak ganteng lagi. Kamu masih cinta sama aku, nggak?”
“Nggak,” balas Finza cepat. Hal itu membuat ekspresi wajah Farhan berubah. Bukan itu jawaban yang Farhan harapkan.
“Aku nggak bisa kalau nggak mencintaimu, Mas,” sambung Finza dan tersenyum lebar. “Seperti apa pun kamu, aku akan tetap mencintaimu.”
Senyum tipis Farhan terbit dalam sekejap. Lalu, ia menceritakan kekasihnya tentang side effect kemoterapi yang ia jalani.
Finza dengan santai menjawab, “Nggak apa-apa botak. Kan nanti rambutnya bisa tumbuh lagi, Mas. Sementara itu, nanti aku buatkan kupluk untuk kamu. Mau, nggak?”
Tidak ada raut wajah sedih dan kecewa di wajah kekasihnya itu. Hal itu membuat Farhan merasakan hatinya menghangat. Ketakutan yang sempat ia rasakan kini sudah menguar bersama udara ruang rawatnya. Farhan lantas menganggukkan kepala dengan pasti. “Terima kasih, ya, By, sudah mencintaiku apa adanya.”
“Iya, Mas Ganteng,” jawab Finza.
Pasangan kekasih itu lalu menghabiskan waktu bersama dengan canda tawa. Begitu juga dengan mereka yang menikmati asyiknya bermain dengan Radin.
__ADS_1