Napas Baru

Napas Baru
Chapter 9


__ADS_3

“Mau langsung balik ke rumah sakit lagi, Nak?” tanya Mama saat mobil yang dikendarai Farhan untuk membawanya itu berhenti di pelataran rumah besar dan mewah itu. Mama menatap Farhan dengan lekat. Wajah anak itu makin hari makin terlihat tirus, pikir Mama. Namun, detik berikutnya Mama berpikir bahwa barangkali putra keduanya itu sedang melakukan diet.


Farhan menoleh ke arah Mama setelah mematikan mesin kereta besinya. Ia mengulum senyum tulus yang ia miliki untuk wanita hebat yang melahirkannya itu. “Mau ganti baju dulu sebentar, Ma. Lagi pula, Finza kalau sudah ngumpul sama Kak Nadhira dan Mbak Mikayla pasti betah lama-lama,” jawab Farhan diiringi tawa kecilnya. Apa yang dikatakannya bukan hal yang mengada-ada. Sebab, begitulah ketiga perempuan itu saat bertemu. Tersebab juga karena mereka sejak memiliki kehidupan masing-masing sudah sangat jarang memiliki waktu hanya untuk kumpul dan bersenda gurau. Dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk Farhan membiarkan Finza menikmati kebersamaan bersama dua sahabatnya.


Mama mengangguk paham. Ia tahu bahwa anak tengahnya itu memang tipekal orang yang pengertian. Buktinya, Farhan selalu paham dan mengerti kenapa Reyhan selalu menjadi yang nomor satu di keluarganya. Padahal, jika mengingat posisi. Farhan dan Reyhan memiliki posisi yang sama sebagai anak. Dab Farhan berhak mendapatkan apa yang didapatkan oleh kakaknya. Namun, lelaki itu tak pernah menuntut apa pun. “Farhan,” panggil Mama dengan tatapan yang lekat jatuh di wajah sang putra.


“Kenapa, Ma?” tanya Farhan dengan senyum yang belum juga tanggal menghiasi wajah tampan, tetapi terlihat semakin tirus tersebut.


“Kalau kamu ada masalah. Kamu bisa ‘kan cerita sama Mama? Kayak Kakak yang sering bercerita, bahkan untuk hal-hal random,” ucap Mama. Ucapannya kali ini lebih terdengar seperti sebuah permohonan. Mama rasanya ingin membayar waktu yang sangat kurang untuk Farhan. Sebab, waktu yang Mama miliki lebih banyak ia habiskan untuk anak sulungnya. Bahkan, pada si bungsu pun Mama masih sering menyerahkannya pada baby sitter. Akan tetapi, sekarang adalah waktu yang untuk Mama membayar hal itu. Sebab, si sulung sudah menemukan rumah untuk pulang, yaitu Nadhira.


Farhan menundukkan kepala untuk menghindari tatapan sayu dari sepasang bola mata bulat milik Mama. Ia bisa saja mengiyakan permintaan ibunya. Namun, jelas tak akan pernah bisa untuk terbuka seperti Reyhan. Tembok tinggi dan kokoh itu sudah terlanjur terbangun. Susah bagi Farhan untuk menembus batasan tersebut. Lagi pula, untuk apa juga? Farhan sudah cukup dewasa dalam menyikapi masalah yang sering menghampirinya. Bahkan, saat Farhan berada di titik terendah saat vonis dokter itu terdengar. Lelaki yang sebentar lagi menginjak usia dua puluh satu tahun itu masih bisa berdiri kokoh hingga saat ini. Kendati ia hanya benar-benar memiliki satu orang yang mengetahui kondisi sebenarnya. Seseorang yang bahkan tanpa pamrih mengurusnya saat terbaring lemah, yaitu sang kakak ipar.


“Pasti dong, Ma. Memang siapa lagi tempat Farhan cerita kalau bukan Mama? Papa?” Farhan tertawa miris. “Sudah bukan menjadi rahasia orang-orang di rumah ‘kan bagaimana hubungan Farhan sama Papa,” lanjut Farhan. Jangankan Mama, bahkan para asisten rumah tangga saja tahu bagaimana kerenggangan antara Farhan dan ayahnya.

__ADS_1


Mama mengelus lembut lengan Farhan. “Maafin Mama, ya, selama ini tidak terlalu memperhatikan kamu.”


“Ma, jangan bicara seperti itu. Mama sudah melakukan yang terbaik kok untuk Farhan.”


Mama tersenyum. Betapa baik hatinya Farhan. Seorang anak yang bahkan hampir ia lupakan karena fokus pada si sulung.


...♥♥♥...


Farhan membuka sebuah ruangan di mana sang kakak berada. Ruangan yang didesain persis seperti ruang rawat di rumah sakit. Di dalam sana ia temukan seorang suster yang dibayar oleh keluarganya untuk menjaga dan memantau kondisi Reyhan. Farhan mengulum senyum manisnya ke arah perempuan dengan setelah pakaian serba putih itu. “Permisi, Sus. Boleh saya menemui Kakak?” tanya Farhan dengan sopan.


Farhan mengangguk dan membiarkan perempuan yang biasa dipanggil Suster Indah itu meninggalkannya. Lantas, ditutupnya pintu kamar sang kakak dengan sangat rapat agar suaranya tak sampai terdengar sampai di luar.


Di bibir tempat tidur itu Farhan mendaratkan bokongnya dengan pelan. Ia pandangi wajah dengan kelopak mata yang masih terpejam milik lelaki yang terbaring lemah itu. Seketika Farhan bergidik ngeri melihat alat-alat medis yang menempel di tubuh kakaknya. Alat-alat yang bahkan tak ia ketahui namanya. Isi kepalanya sontak bergerilya memikirkan nasibnya yang barangkali pada suatu hari nanti akan sama dengan sang kakak. Terlelap damai dalam kurun waktu yang lama. Atau bahkan tertidur dan tak akan pernah bangun lagi. Kemudian, rasa benci sang ayah akan ikut terkubur bersama jasadnya.

__ADS_1


Helaan napas panjang dan sarat lelah terdengar berulang kali dan saling beradu dengan monitor pasien yang terhubung di tubuh Reyhan. Harusnya pikiran-pikiran yang terkesan mengganggu itu tak boleh Farhan hadirkan di dalam kepalanya. Sebab, itu akan berpengaruh pada kondisinya yang ia rasa makin hari makin tidak baik-baik saja.


“Kapan bangun? Ada banyak hal yang ingin Farhan ceritakan sama Kakak,” ucap Farhan setelah beberapa lama terdiam menikmati sunyi dengan iringan suara monitor itu. Ia tersenyum miris. Entah sudah berapa kali ia mengucapkan kalimat yang sama saat memasuki ruangan yang persis seperti ruang rawat di rumah sakit tersebut.


Farhan menghela napas panjang. Ia memperbaiki posisinya agar lebih nyaman. Lantas, kembali memandangi wajah kakaknya yang begitu tampak damai. Andai saja wajah damai itu selalu terlihat ketika sepasang kelopak mata kakaknya tak terkatup. Mungkin Reyhan akan bisa menikmati dengan tenang setiap detik yang terus berdetak. Bukan justru takut sebab bom waktu yang bersarang di tubuhnya.


"Kak, Farhan lelah. Farhan mau berhenti saja dari jalan ini. Terlalu susah bagi Farhan untuk bisa berbaur dengan circle yang bahkan sebelumnya tak pernah Farhan pikirkan akan terjebak seperti ini," keluh Farhan. Kendati apa yang ia katakan tak akan menuai respons apa pun dari kakaknya. Namun, biarlah. Bagi Farhan kini hanya ingin menumpahkan beban yang ia tanggung.


"Bangun, yuk, Kak! Bantu Farhan ke luar dari jalur ini. Hanya Kakak yang bisa menyelamatkan posisi Farhan," lanjut lelaki bersurai hitam itu. Pandangannya mulai memburam seiring gradasi air yang tercipta di pelupuk mata.


Tangan Farhan bergerak menyeka setetes air mata yang runtuh tanpa permisi. Ia menangis. Lagi. Dan hanya di hadapan lelaki yang terbaring tak berdaya itulah Farhan berani menumpahkan kristal-kristal bening dari sepasang netranya.


"Sampai kapan Kakak akan seperti ini terus? Kakak mau nunggu Farhan pergi dulu baru Kakak bangun?"

__ADS_1


Entah apa yang mendorong Farhan mengatakan hal demikian. Kalimat-kalimat yang mengalir dari bibirnya terdengar sarat lelah. Ya, lelaki itu memang sudah terlampau lelah harus mengikuti alur yang dibuat oleh sang ayah. Ia harus menjadi boneka ayahnya. Dan tentu yang paling parah adalah Farhan akan menjadi pelampiasan terbaik untuk Papa.


Getar ponsel dari saku jaket yang membungkus tubuhnya begitu jelas terasa. Farhan meraih benda pipih berbentuk persegi itu dari sana. Lantas, memandangi ID Caller yang tercantum di layar ponsel itu. Ia hanya bisa menghela napas panjang tanpa berniat untuk menjawab panggilan telepon tersebut. Farhan tahu apa yang ingin dibicarakan oleh si penelepon. Sebab itulah Farhan bersikap abai.


__ADS_2