
Malam datang terlalu cepat. Ruang rawat Farhan kembali sepi setelah Mama, Reyhan, dan Nadhira berlalu. Kini, hanya menyisakan Papa yang menemaninya. Memang akan ada hikmah yang bisa manusia petik dari setiap kejadian. Jebakan yang dilakukan Reyhan membuat hubungan Farhan dan Papa membaik. Juga jebakan itu seperti sebuah jalan untuk membongkar rahasia yang selama ini Farhan sembunyikan dari keluarganya. Dan sejak tiga hari lalu, setiap malamnya selalu ditemani Papa. Hal itu membuat Farhan sekarang tak lagi merasa canggung berada di dekat Papa. Ia tanpa malu mengeluh.
Tiga hari terjerumus di dalam ruangan putih itu begitu berat dirasakan Farhan. Apalagi pasca menjalankan kemoterapi pertama. Setiap detiknya berlalu begitu lambat dan menyiksa. Namun, Farhan tidak mau kalah. Ia terus berjuang untuk mendapatkan kesembuhan. Jika tidak begitu, ia tidak akan pernah bisa kembali ke rumah dan berkumpul dengan orang-orang yang ia cintai.
Farhan menatap ayahnya yang kini terlelap dengan posisi duduk bersandar pada kursi di samping patient bed. Bohong jika Farhan tidak merasa kasihan pada ayahnya. Tentu yang terjadi pada Papa sekarang adalah Papa yang sangat kelelahan. Bagaimana tidak? Sepulang bekerja, pria itu hanya pulang ke rumah untuk membersihkan diri dan berganti pakaian saja. Kemudian, beranjak ke rumah sakit untuk menggantikan yang lain menemaninya di rumah sakit. Papa seakan tak memiliki waktu untuk beristirahat lebih berkualitas.
“Papa melakukan ini untuk menebus kesalahan yang sudah pernah Papa lakukan padamu selama ini. Juga ingin mengganti waktu-waktu yang seharusnya Papa berikan untukmu.”
Begitulah kalimat yang terlontar dari bibir Papa ketika Farhan meminta pria itu untuk pulang saja dan beristirahat. Bukannya Farhan tidak suka Papa menemaninya. Hanya saja, ia juga tidak mau bersikap egois. Bekerja seharian di kantor tentu saja sudah menguras banyak tenaga Papa. Dan Papa seharusnya beristirahat saja di rumah. Bukan malah ke rumah sakit dan menemaninya. Belum lagi jika Papa juga harus ikut begadang semalaman hanya karena Farhan yang mengalami side effect dari kemoterapi yang dijalani.
Farhan melirik jam yang menempel di dinding ruang rawatnya. Hampir pukul dua dini hari. Namun, kelopak matanya belum juga bisa diajak bekerja sama untuk terlelap. Ia mengantuk, tetapi tak bisa terlelap juga. Ia sudah berusaha, hanya saja usahanya terus menerus gagal. Sekarang, ia hanya bisa berdiam diri sendiri dan sibuk dengan isi kepalanya yang tak pernah kosong. Setelah kemoterapi ini, entah prosedur pengobatan yang seperti apa lagi yang akan dijalani agar bisa sembuh. Akan tetapi, Farhan akan menjalaninya dengan senang hati. Sebab, banyak harapan yang menjadi taruhan akan kesembuhannya. Tak hanya melibatkan harapannya sendiri tentunya, tetapi juga harapan keluarga dan harapan kekasihnya.
Bicara tentang kekasih. Farhan jadi teringat pada perempuan berjilbab yang sukses menarik hatinya dalam sekali pertemuan tanpa sengaja. Adalah ketika Finza mengunjungi Nadhira ke rumah. Sekarang, notifikasinya pasti sudah penuh oleh pesan yang dikirimkan perempuan itu. Pasalnya, sampai sekarang ia belum memberi kabar. Hm, bukankah Finza adalah sahabat kakak iparnya? Pasti Nadhira sudah memberitahu Finza tentang kondisinya sekarang. Namun, kenapa Finza belum juga datang jika sudah tahu tentang keberadaannya di rumah sakit? Ah, barangkali Finza masih disibukkan dengan urusan pekerjaan dan belum bisa ditinggalkan oleh perempuan itu, pikir Farhan menasihati diri agar tidak menimbulkan pikiran negative pada kekasihnya.
Namun, bohong jika Farhan tak merindukan perempuan itu. Tiga hari tak berkabar rasanya seperti ada yang kurang. Lalu, bagaimana kabar Finza sekarang?
Belum sempat Farhan menemukan jawaban meski hanya dengan praduga semata. Ada gejolak yang begitu hebat di dalam perutnya hingga membuat tangannya refleks membekap sendiri mulutnya. Mual yang begitu kuat itu kembali mendera. Ia meringkuk di atas ranjang pesakitan tipis itu seraya berusaha mengenyahkan rasa mualnya. Barangkali bisa menghilang seiring detik yang terus berdetak. Ia juga tak ingin mengganggu istirahat Papa yang begitu nyenyak sejak tadi.
“Hoek!”
__ADS_1
Rupanya Farhan tak bisa menahan lama gejolak tak mengenakkan di dalam perutnya. Sisa-sisa makanan semalam itu ke luar tanpa permisi hingga tak bersisa dan mengotori lantai ruang rawat Farhan. Tidak cukup sampai di sana saja. Meski sudah tak ada lagi yang bisa ia keluarkan. Ia masih terus ingin muntah. Sungguh, ini titik di mana rasanya ia ingin menyerah.
“Pa,” panggil Farhan dengan sisa tenaganya. Papa mungkin benar-benar lelah sampai tak terganggu seperti itu dan masih setia dalam pejamnya. “Papa,” panggil Farhan sekali lagi. Perutnya sudah terasa perih. Mulutnya terasa pahit. Ia butuh sesuatu untuk menghilangkan rasa pahit di mulutnya. Namun, ia tidak bisa bergerak bebas karena tenaganya yang seakan terkuras habis.
Entah sudah berapa kali Farhan memaksa suaranya ke luar dan berseru memanggil Papa. Tentu seraya ia yang berusaha untuk menahan gejolak lain di dalam perutnya yang kembali datang. Tanpa sadar air matanya sudah meleleh begitu saja. Sejak hari di mana keluarganya tahu tentang kondisi yang sebenarnya, emosi Farhan benar-benar tidak stabil. Ia cepat sekali menangis. Ia juga lebih sering meratapi kondisinya. Lalu, yang bisa menenangkannya hanya Papa. Reyhan sendiri tidak bisa melakukan itu. Padahal, jika diingat-ingat, Reyhan-lah satu-satunya orang yang paling dekat dengannya. Ya, barangkali Farhan hanya sedang ingin dimanja oleh Papa. Lagi pula, Papa juga tak keberatan.
Tubuh Papa bergerak perlahan. Ia membuka pelan kelopak matanya yang terasa berat, karena rasa kantuk yang begitu hebat. Namun, rasa kantuk itu hilang dalam sekejap saat melihat kondisi di sekitarnya. Ia lantas bangkit dan mendekat ke arah patient bed. “Astaga, Nak. Maafin Papa karena meninggalkanmu tidur,” ucap Papa seraya menyeka keringat di wajah Farhan dengan tangan kosong tanpa merasa jijik. Ia kemudian mendaratkan bokong di pinggir patient bed dan berusaha menenangkan putranya. Papa menyisir rambut Farhan setelah itu. Namun, sepertinya Papa lupa bahwa salah satu side effect yang dialami Farhan adalah rambutnya yang akan perlahan rontok. Papa tersentak melihat helai rambut Farhan yang menempel di telapak tangannya. Lalu, berusaha menyembunyikannya agar Farhan tak melihat itu. Sebab, bisa saja jika Farhan melihatnya, hal itu akan membuat perasaan Farhan kembali hancur.
“Pa, perut Farhan perih banget, Pa,” rintih Farhan seraya menekan bagian perutnya yang terasa sangat perih. “Mulut Farhan juga pahit,” sambungnya merintih tanpa malu. Farhan yang selalu tampak kuat di hadapan semua orang dan selalu bisa melakukan apa saja kini bermetamorfosa menjadi Farhan yang lemah, manja, dan cengeng.
Ngilu ulu hati Papa mendengar rintihan penuh kesakitan putranya. Sedangkan, ia tidak bisa melakukan apa pun untuk mengurangi rasa sakit yang dialami Farhan.
Runtuh air mata Papa. Ia tidak kuasa melihat putranya saat ini. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana Farhan berjuang sendiri seperti ini. Pasti sangat menyakitkan untuk Farhan. “Papa harus apa, Nak?”
“Peluk, Pa. Dingin,” rintihnya lagi dengan keluhan berbeda. Astaga! Berbagai macam perasaan take nak menghampiri Farhan. Rasanya, ia ingin menyerah. Namun, ia tidak bisa. Sebab, banyak harapan yang orang lain gantungkan padanya.
Tanpa kata Papa langsung mengubah posisi Farhan menjadi duduk bersandar. Ia kemudian memeluk erat tubuh Farhan yang mulai menggigil seraya mengelus lengan putranya yang terus menerus merintih. “Sabar, Nak, sabar. Kamu kuat, ya. Ada Papa di sini bersamamu.”
Papa semakin mengeratkan pelukannya agar tubuh Farhan mendapatkan kehangatan yang lebih. Ia terus membisikkan kalimat-kalimat positif dan penuh semangat agar putranya tak menyerah sampai di titik ini. Sebab, masih banyak titik yang harus dilalui Farhan untuk bisa sembuh.
__ADS_1
Papa terus bicara tanpa lelah, tentang hal-hal random yang menenangkan. Bicara tentang rencana-rencana yang akan dilakukan nanti jika Farhan sudah sembuh. “Jangan menyerah, ya. Papa, Mama, Kakak, Adek, Kak Nadhira, dan si kembar selalu menunggu kesembuhan kamu. Setelah itu, kita akan pergi piknik bersama ke pantai atau ke mana pun yang kamu mau. Kuat, ya, Nak.”
Meski tak ada suara yang terdengar. Namun, Papa bisa merasakan anggukan pelan Farhan. Hal itu membuat senyum Papa terulum dengan tipis. “Sekarang kamu tidur, ya, Nak. Biar nggak mual lagi. Biar perutnya nggak perih dan mulutnya nggak pahit. Iya, sayang, ya,” ucap Papa membujuk dengan sangat tulus dan lembut. Lalu, ia memeluk Farhan dengan sepasang lengannya seraya mengelus punggung Farhan. Ia hadiahkan sebuah kecupan singkat di puncak kepala anak itu.
“Pa, kalau Farhan capek, jangan paksa Farhan lagi, ya.”
Papa terdiam sejenak. Namun, berusaha untuk bersikap biasa saja. “Iya, Nak. Papa nggak akan memaksa kok. Tapi, Papa yakin kok kalau anak Papa pasti nggak akan merasa capek berjuang.”
Rasanya Papa ingin menangis saja. Namun, ia tak bisa melakukannya. Ia hanya bisa memeluk tubuh itu dengan erat. Seakan jika ia melonggarkan pelukannya. Farhan akan pergi meninggalkannya.
“Pa, Farhan ngantuk.”
“Tidurlah, Sayang.”
“Papa jangan pergi.”
“Papa nggak akan pergi. Papa di sini nemanin kamu.”
Lalu, Papa membiarkan kelopak mata itu terpejam perlahan. Meskipun ia takut, jika kelopak mata itu tidak akan terbuka lagi keesokan harinya.
__ADS_1