
Pulang lebih cepat dari kantor. Tak disia-siakan oleh lelaki dalam balutan jas mewah itu. Ia memesan taksi online untuk membawanya bertemu seseorang yang sudah ia kirimkan pesan. Harusnya, ia menjemput sendiri perempuan itu. Namun, sebab ia tak membawa kendaraannya karena berangkat bersama sang ayah mengharuskan lelaki yang biasa disapa Farhan itu membiarkan kekasihnya pergi sendiri. Tentu saja memang perempuan itu tak keberatan. Hanya saja Farhan yang cukup khawatir membiarkan Finza sendirian. Mengingat maraknya kejahatan yang sering terjadi di ibu kota akhir-akhir ini.
Sampai taksi yang membawa tubuh Farhan tiba di tempat tujuan. Farhan langsung turun dan membayar biaya transportasi. Lantas, membawa sepasang tungkai dalam balutan sepatu pantofel itu ke dalam bangunan yang terbuat dari dominan kaca tersebut. Di dalam sana sudah menunggu seorang perempuan cantik, karena jarak dari tempat kerjanya lebih dekat. Farhan mengedarkan pandangan untuk menyisir tempat itu. Lalu, sepasang indra penglihatannya menangkap sosok perempuan berjilbab melambaikan tangan ke arahnya seraya tersenyum lebar. Dan tanpa berpikir panjang Farhan langsung melangkah mendekati perempuan itu.
“Maaf sudah membuatmu menunggu lama,” ujar Farhan seraya mendaratkan bokongnya di sebuah kursi yang berseberangan meja dengan kekasih hatinya. Ia mengulum senyum manis. Senyum yang sudah jarang terbit dan ia pertontonkan dengan mudah di hadapan orang lain. Bahkan, di hadapan kekasihnya sekalipun.
“Nggak. Aku juga baru sampai kok,” balas Finza. Ia senang melihat wajah kekasihnya sore ini. Meski terlihat lelah dan sedikit pucat, tetapi ada binar di sorot mata Farhan. Finza yakin kekasihnya itu tengah berbahagia. Entah karena apa.
Finza memesan minuman favoritnya dan Farhan. Lalu, memulai perbincangan dari hal-hal ringan. Tentang pekerjaan yang keduanya lalui hari ini, misalnya. Berlanjut pada hal-hal lain urusan hati. Sesekali tertawa karena lelucon yang tak sengaja muncul. Suasana yang sudah sangat jarang tercipta sejak hari di mana Farhan divonis menderita penyakit yang bersarang di kepala lelaki itu. Ya, sekarang suasana seperti ini benar-benar langka.
“By, aku punya cerita. Kamu mau dengar, nggak?” tanya Farhan setelah minuman yang dipesan kekasihnya itu tiba di atas meja. Ia tidak bisa untuk menyembunyikan senyumnya di hadapan perempuan cantik berhijab itu.
“Kayaknya ceritanya seru, ya, Mas. Mau dengar dong,” balas Finza dengan penuh rasa antusias. Sekali lagi, tidak biasa ia melihat air wajah lelaki itu seperti saat ini. Tentu saja bagi Finza, ia tidak akan menyia-nyiakan hal langka ini untuk dinikmati. Kapan lagi Farhan akan bersikap sehangat dan seceria ini? Setelah hari itu, kekasih hatinya itu mulai tertutup dan menjadi diri orang lain. Hanya raganya saja yang berupa sosok Farhan.
“Kemarin, Kakak menjebakku di satu meja yang sama Papa. Ya, kamu pasti tahu bagaimana suasananya,” ujar Farhan. Lelaki itu tidak pernah menutupi bagaimana hubungannya yang renggang dengan Papa pada Finza. Bahkan, ketika ia mendapatkan masalah dengan Papa, Farhan akan berlari pada Finza. Meski hanya sekadar bertemu tanpa kata atau cerita. Namun, sepertinya memang Finza sudah hafal betul bagaimana kekasihnya. Atau bisa saja jika Nadhira pernah bercerita tentang bagaimana Farhan dan Papa kepada Finza.
“Awkward,” balas perempuan itu cepat. Lalu, menyeruput minuman di hadapannya. Entah kenapa cerita Farhan kali ini ia tak menemukan aura yang sama dengan cerita-cerita sebelumnya ketika Farhan membawa topik tentang Papa.
“Benar banget. Tapi, cuma sebentar saja. Konyolnya aku dan Papa harus menjawab bersamaan beberapa kali pertanyaan Kakak. Dan, kamu tahu, nggak, apa yang terjadi?”
__ADS_1
Finza menggelengkan kepala.
“Kami tertawa bersama menertawakan kekonyolan itu. Dan aku bersyukur akan hal itu, By. Ternyata itu adalah awal yang baik untuk hubunganku yang renggang sama Papa.” Senyum semringah Farhan terbit begitu cantik di wajah tirus dan sedikit pucat itu. Ia kemudian membayangkan beberapa kejadian setelah pertemuan jebakan itu. Sekali lagi, Farhan tak bisa mengelak untuk tidak mengulum senyumnya. Benar-benar Tuhan memberikan waktu baik itu untuknya.
Tak hanya Farhan yang senang dan bersyukur akan hal itu. Finza pun demikian. Ia turut berbahagia atas kebahagiaan kekasihnya. “Alhamdulillah, ya, Mas. Aku senang mendengarnya.”
“Tadi malam, Papa juga yang nemanin aku tidur. Aku merasa menjadi seperti Farhan kecil dulu,” ujar Farhan dan tertawa kecil. Padahal, Papa menemaninya atas permintaannya sendiri yang merasa sudah berada di ambang pintu kematian sebab serangan yang begitu tiba-tiba menghantam kepalanya. Dan tak hanya itu, darah segar yang mengalir dari kedua lubang hidungnya juga begitu banyak dan sukses menyita sekian banyak tenaganya. Bahkan, untuk menggerakkan tubuhnya saja semalam rasanya begitu sulit sebab tenaga yang terserap begitu saja. Beruntung saja Papa tak menolak permintaannya.
Perempuan dalam balutan gamis berwarna hijau botol itu mengulum senyum lebarnya. Sungguh, ia tidak bisa memungkiri bahwa ada perasaan hangat yang terasa di dalam hatinya mendengar cerita sang kekasih. Ia berharap, semoga hal-hal yang terjadi menjadi awal yang baik untuk Farhan. Lalu, setelah ini hubungan antara Farhan dan Papa semakin menunjukkan perkembangan yang lebih seiring waktu yang terus berjalan. Ya, semoga saja. Finza mencintai Farhan. Maka, kebahagiaan yang dirasakan lelaki itu adalah kebahagiaannya juga. Sudah cukup kesakitan yang dialami lelaki itu selama ini. Semoga ini adalah jalan yang Tuhan tunjukkan menuju jalan bahagia yang sesungguhnya untuk Farhan.
“Terus tadi pagi Papa begitu telaten mengurus sarapanku. Papa juga mengajakku berangkat ke kantor bersama,” sambung Farhan melanjutkan ceritanya. Ia tidak ingin melewatkan satu kata pun tentang cerita hangat itu untuk didengar sang kekasih. Ia ingin berbagi kebahagiaan dengan perempuan yang ia pilih menjadi Pelabuhan terakhir cintanya itu.
Garis lengkung yang menghias wajah Farhan berubah menjadi garis lurus dalam sekejap. Wajah ceria dan tatapan berbinar itu berubah menjadi sendu. “Mungkin Tuhan hanya ingin memberikanku kesempatan untuk menebus dosa-dosaku pada Papa dan Mama, By. Sebab itulah, Tuhan memperbaiki hubunganku dengan mereka.” Farhan tersenyum kecut. “Mungkin karena waktuku tidak akan lama lagi.”
Sesak hati Finza mendengar ucapan kekasihnya. Padahal, baru saja ia merasakan hatinya menghangat karena cerita-cerita yang lolos dari bibir lelaki itu. Kini, semuanya berubah dalam sekejap. Bahkan, binar di wajah itupun sudah hilang menguar bersama udara sore.
“Aku nggak tahu harus merasa senang atau sedih, By.” Farhan menundukkan kepala dalam. Ada rasa takut yang menyelinap masuk ke dalam dirinya. Ia takut pergi. Ia masih ingin menikmati waktu bersama orang-orang terkasihnya di dunia.
“Mas, percaya deh kalau apa yang Mas pikirkan itu nggak benar. Mas jangan suudzon sama Allah. Nggak baik, Mas,” ujar Finza menyemangati kekasihnya. Itulah yang dibutuhkan Farhan saat-saat ini. Meski ia ingin menangis, Finza tidak bisa melakukannya. Ia tidak ingin menjadi lemah di hadapan Farhan. Sebab, untuk menguatkan Farhan, ia harus lebih dulu tangguh.
__ADS_1
“Apa kamu akan sedih kalau aku pergi, By?”
Finza tertawa miris. “Aku nggak perlu jawab ‘kan, Mas? Mas pasti tahu jawabannya.”
Farhan terdiam.
“Tapi, kalau Mas sudah lelah. Aku nggak akan maksa Mas untuk terus berjuang. Karena, aku nggak pernah tahu bagaimana lelah dan sakit yang Mas rasakan.”
Mendengar ucapan Finza membuat Farhan tertampar. Tidak! Farhan tidak boleh menyerah. Ia harus terus berjuang sampai sebatas mana kemampuannya. Ia harus membahagiakan keluarga dan kekasihnya.
“Kamu mau membantuku?”
Finza menganggukkan kepala. “Tentu saja. Aku akan membantu Mas berjuang sampai kapan pun.”
Farhan tersenyum manis. “Terima kasih, ya, By, sudah menerimaku dengan keadaan seperti ini.”
“Terima kasih juga sudah mencintaiku dengan hebat sejauh ini.”
Pasangan kekasih itu saling mengulum senyum dan tatapan penuh cinta. Lalu, memperbaiki suasana agar tidak terjebak lebih lama dalam kesenduan. Finza yang memang dasarnya seorang perempuan humoris melayangkan candaan yang sukses membuat kekasihnya tertawa. Dalam tawanya pun, Finza merapalkan do’a dan harapan semoga tawa-tawa lain akan terdengar dari kekasihnya.
__ADS_1