Napas Baru

Napas Baru
Chapter 29


__ADS_3

Nadhira meninggalkan kamar setelah memastikan Reyhan benar-benar beristirahat dengan nyaman. Entah kenapa sejak pagi tadi suaminya itu tampak begitu manja. Ia bahkan sampai tak diberikan waktua barang sedetik pun untuk beranjak dari tempat tidur. Hal itulah yang kemudian memaksa Nadhira untuk menitipkan saja kedua putranya pada baby sitter. Dan sebenarnya yang ia lakukan hanya duduk dan menggenggam tangan Reyhan hingga terlelap.


Perempuan itu membawa sepasang tungkainya ke arah kamar kedua bayinya. Memastikan sepasang bayi kembar mungilnya juga tidak rewel seperti ayah mereka. Benar saja. Radit dan Radin tampak begitu anteng di bawah penjagaan baby sitter. Nadhira yang niatnya memasuki kamar si kembar pun diurungkan. Bukan karena tak ingin menemui bayi-bayinya, tetapi karena jam sudah menunjukkan waktu ia turun ke bawah untuk membatu ibu mertuanya menyiapkan makan malam. Ya, meskipun di rumah itu ada asisten rumah tangga, tetapi seisi rumah lebih suka dengan masakan Mama dan Nadhira. Asisten rumah tangga di rumah itu hanya memasak sesekali jika Mama dan Nadhira memang tak punya waktu untuk bergelut di dapur.


"Ma," panggil Nadhira dan menyentuh lengan sang ibu mertua. "Maaf, ya, baru turun. Anak Mama habisnya manja terus sama Nadhira. Ini saja bisa turun, karena Kak Reyhan sudah tidur," terang Nadhira tanpa malu dan sukses mengundang tawa Mama.


"Iya, Sayang, nggak apa-apa," balas Mama dengan nada santai. Ia paham kondisi yang terjadi pada Reyhan. Pasti putra pertamanya itu ingin menghabiskan banyak waktu dengan Nadhira untuk membayar rindu. Lagi pula, sebenarnya Mama juga tidak pernah meminta Nadhira untuk membantunya. Namun, menantu kesayangan itu selalu keukeuh untuk membantu. Lalu, apalag daya Mama melarang?


"Radit sama Radin di mana, Nak?"


"Di kamar, Ma, sama Suster," jawab Nadhira. Ia sudah mulai menggulung lengan gamisnya agar tak terkena oleh bahan-bahan kotor. Lalu, ikut bergelut dengan alat-alat dapur bersama Mama. Kini Nadhira tidak lagi merasa canggung. Perempuan itu sudah cukup terbiasa, sebab hampir setiap hari ia membantu Mama memasak.


Suasana dapur menjadi hening. Mama dan Nadhira fokus dengan kegiatan masing-masing. Tak ada yang saling mengganggu satu sama lain. Hingga suara Nadhira berhasil mendeportasi sunyi ruangan dengan alat-alat untuk memasak itu.


"Ma, Nadhira harus bagaimana?" Suara Nadhira terdengar lemah dan sendu.


"Harus bagaimana apa maksudmu, Nak?" Gerakan tangan Mama yang mengiris bahan-bahan masakan terhenti. Wanita itu menoleh ke arah sang menantu yang hanya terdiam dengan kepala menunduk dalam. Kentara sekali raut wajah sedih Nadhira. Ia tidak tahu pasti apa yang terjadi dengan anak menantunya itu. Namun, melihat ekspresi wajah Nadhira membuat Mama yakin ada hal serius.


Nadhira memilin ujung hijab yang membungkus kepalanya. Ia bingung sekarang. Bagaimana bisa ia tidak memikirkan tentang cara menjelaskan kondisi salah satu putranya pada Reyhan sejak dulu? Sekarang ia bingung sendiri setelah suaminya terbangun dan perlahan membaik kondisinya. "Bagaimana caranya Nadhira mengatakan tentang kondisi Radit sama Kak Reyhan, Ma?"


Mama terdiam. Sama halnya seperti Nadhira. Mama juga tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya. Ia juga mulai ikut bingung. Tidak bisa ia atau keluarganya akan terus menerus menyembunyikan fakta tentang kondisi Radit pada Reyhan. Sebab, cepat atau lambat Reyhan pasti akan mengetahui semuanya. Namun, untuk mengatakan sekarang pun bukanlah pilihan yang tepat. Reyhan baru saja bangun dari tidur panjangnya. Tentu tidak baik jika harus membuat terkejut lelaki itu dengan kondisi Radit.


"Reyhan pasti akan kita beritahu, Ra. Tapi, nggak sekarang. Kondisi Reyhan belum stabil. Mama takut jika kabar tentang kondisi Radit justru akan berdampak buruk pada kondisi Reyhan." Mama menatap lekat anak menantunya. Sungguh ia merasa kasihan pada Nadhira. Rasanya cobaan demi cobaan tak henti-hentinya datang mendera perempuan itu. Namun, Mama bersyukur karena Nadhira yang tidak pernah memilih menyerah. Perempuan itu begitu kuat selama ini. "Kita tunggu waktu yang tepat, ya, Nak," sambung Mama seraya menyentuh pundak Nadhira dengan lembut.

__ADS_1


Embusan napas kasar iti terdengar jelas. Apa yang bisa dilakukan Nadhira sekarang selain mengikuti saran Mama? Ia membenarkan apa yang dikatakan wanita yang selalu memperlakukannya dengan baik seperti Mama memperlakukan anak kandungnya sendiri. Kondisi Reyhan memang belum stabil. Buktinya sesekali lelaki itu kadang mengeluh pusing atau kelelahan, padahal tidak melakukan aktivitas apa pun. Namun, hal itu dikatakan biasa oleh Dokter Dharma. Jadi, Nadhira bisa bernapas lega.


Masih dalan diam. Nadhira berpikir bahwa apakah ia memang tercipta untuk menyembunyikan hal-hal besar? Tak hanya tentang Radit. Ia juga masih menyembunyikan sebuah rahasia bersama Farhan. Rahasia yang entah kapan atau dengan cara apa akan terbongkar. Jika ditanya, apakah Nadhira lelah? Bohong jika Nadhira mengatakan tidak. Sebab, merahasiakan sesuatu yang seharusnya diketahui keluarga besarnya itu tidak mudah. Ia harus membohongi mereka juga. Namun, Nadhira tidak punya pilihan lain sekarang. Dan ia berharap semoga Tuhan dan semesta segera merestui untuk membongkar rahasia-rahasia besar itu dengan baik. Meski tentu saja akan melahirkan kepedihan baru di keluarga Oktara.


"Jangan bersedih seperti ini, Ra," ucap Mama lagi yang tentu saja paham bagaimana perasaan Nadhira. Ia tahu tidak mudah berada di posisi Nadhira saat ini. Namun, pertimbangan pun harus ia ambil demi satu kebaikan tentunya. Setelah itu, mungkin langkah seperti apa yang akan diambil nantinya. Ya, itu nanti. Setelah beberapa kondisi terlihat lebih baik dan memungkinkan.


Nadhira mengembuskan napas kasar. Jika boleh jujur. Ia sebenarnya sudah cukup lelah. Namun, ia tidak bisa berhenti dan menyerah. Semua yang terjadi di dalam hidupnya memang butuh perjuangan yang kuat. Mungkin setelah mengarungi bahtera rumah tangga Nadhira mendapatkan giliran untuk menerima cobaan demi cobaan untuk menguji iman dan sabarnya. Sebab, semasa muda dulu ia menjalani hari dengan begitu baik tanpa kendala. Ya, Tuhan itu adalah seadil-adilnya pemberi coba. Dan bukankah setiap manusia yang bernapas di muka bumi ini selalu mendapatkan cobaan? Hanya saja masing-masing orang memiliki porsi sendiri sesuai kemampuannya.


Kini, Nadhira harus menyadari dengan sangat bahwa cobaan yang selalu dihadapi adalah salah satu bukti bahwa ia memang ditempa untuk dijadikan sosok yang kuat dan istimewa. Sebab, tak semua manusia diberikan cobaan yang bertubi-tubi.


Perempuan dalam balutan gamis berwarna biru pastel itu menyeka air mata yang lolos dari sudut matanya. Ia kemudian menatap sang ibu mertua dan tersenyum tipis. "Maaf, ya, Ma," ucapnya, karena lagi-lagi menitikkan air mata. Padahal, ia sudah seringkali berucap untuk tidak lagi menangis. Namun, sejatinya manusia memang tidak bisa untuk tidak menangis. Apalagi sosok seperti Nadhira yang terlahir menjadi sosok perasa, seperti ibunya.


"Nggak apa-apa, Sayang. Mama tahu nggak mudah di posisimu sekarang. Tapi, Mama yakin semuanya akan berakhir indah."


Nadhira mengulum senyum manisnya. Ia kemudian menganggukkan kepala. Betapa bersyukurnya Nadhira memiliki Mama. Sosok wanita yang baru beberapa tahun ini menjadi ibunya. Namun, perhatian dan kasih sayang yang ia dapatkan tidak berbeda dari ibu kandungnya. Dari Mama ia mendapatkan banyak pembelajaran dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Dari Mama juga Nadhira belajar tentang sabar, bagaimana menghargai suami, bagaimana menjadi sosok ibu yang baik. Dan Mama, tidak pernah bosan dan selalu sabar untuk mengajarinya tentang apa pun juga.


"Bukankah membimbing anak adalah satu kewajiban bagi seorang ibu?" Mama menyentuh lengan menantunya. "Jadi, nggak perlu berterima kasih untuk itu. Mama juga akan merasa sukses menjadi seorang ibu jika anak-anak Mama bisa menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya."


Nadhira mengangguk paham. Memang wanita yang berdiri di hadapannya kini selalu memberikan yang terbaik untuknya sebagai seorang menantu. Hal itulah yang membuat Nadhira merasa diistimewakan oleh Mama.


"Lagi ngomongin apa sih? Kok serius sekali kelihatannya."


Nadhira dan Mama sontak menoleh bersamaan ke arah sumber suara. Didapati Reyhan yang sudah berdiri dengan posisi bersandar di dinding pembatas antara dapur dengan ruangan lainnya. Kedua wanita berbeda generasi itupun tersenyum pada Reyhan.

__ADS_1


"Urusan perempuan. Kakak nggak perlu tau," ucap Mama dan membuat Nadhira tertawa. Berbeda dengan Reyhan yang hanya bisa mendengus kesal mendengar jawaban Mama. Lelaki itu kemudian bergerak maju mendekati Nadhira dan Mama.


"Bukannya Kakak istirahat?"


"Iya, Ma. Tapi, ditinggal sama Aleeana," jawab Reyhan tanpa malu. Sedangkan, Nadhira pipinya sudah memerah mendengar jawaban suaminya. Bisa-bisanya lelaki itu bicara seperti itu. Astaga! Sebentar lagi pasti Mama akan melancarkan aksinya untuk menggoda.


Mama terkekeh mendengar ucapan putranya yang begitu polos. "Eh, sudah jadi ayah, jangan manja terus sama istrinya."


"Lho, Ma, Kakak juga mau dong dimanja. Jangan si kembar saja yang dimanja setiap hari."


"Astaghfirullah, Reyhan Akbar Oktara." Mama nyaris memekik mendengar jawaban putranya. Ia menepuk pelan lengan si sulung. "Bisa-bisanya iri sama anak sendiri."


Nadhira. Perempuan itu tidak bisa menahan tawanya. Ia pun lantas tergelak. Benar-benar kali ini Reyhan begitu lucu dan menggemaskan di matanya. Apalagi mendengar ucapan Reyhan yang seperti mencemburui kedua putra mereka.


"Ra, sudah. Sekarang kamu bawa pergi suamimu ke kamar. Kekepin tuh sampai sesak napas," ucap Mama dengan nada yang terdengar kesal. Ia kemudian mendorong pelan tubuh Nadhira ke arah Reyhan.


"Kakak sesak napas, nanti Mama yang nangis kejer. Gimana sih, Ma," balas Reyhan.


Nadhira tidak tahu apa yang terjadi dengan Reyhan kali ini. Suaminya itu benar-benar aneh. Entah mimpi apa Reyhan tadi.


"Pergi atau Mama pukul?" Mama mengancam dengan mengangkat sutil kotor yang ia ambil dari wajan.


"Iya, Ma, iya."

__ADS_1


Reyhan lalu menarik tangan Nadhira dan meninggalkan Mama sendiri di dapur.


Mama hanya bisa menggelengkan kepala melihat keanehan putranya. "Pas koma tuh anak kayaknya belajar aneh-aneh deh," gerutu Mama.


__ADS_2