
Nadhira menidurkan kedua bayinya di dalam box bayi. Ia tak lantas beranjak dari dekat kedua box tersebut. Ditatapnya dengan lekat dan penuh cinta sepasang bayi kembar hasil buah cintanya dengan Reyhan. Lalu, tersenyum manis melihat wajah damai Radit dan Radin dalam pejam. Dalam hati Nadhira berharap bahwa kedamaian itu akan selalu terpancar di wajah kedua bayinya. Meskipun ada satu kelemahan yang ditanggung oleh salah satu di antara mereka.
Helaan napas panjang Nadhira terdengar jelas. Ia kemudian beranjak menuju tempat tidur di mana Reyhan yang masih sibuk dengan laptopnya. Sejak kembali ke kantor, Reyhan kembali sibuk mengurus pekerjaan kantor. Namun, sekarang Reyhan tidak lagi sengotot dulu. Reyhan sudah paham dengan kondisi tubuhnya yang belum bisa diajak bekerja terlalu keras. Nadhira juga selalu bersikap tegas pada Reyhan.
Nadhira naik ke tempat tidur dengan pelan. Lalu, ia duduk tanpa jarak di samping Reyhan. Ia sandarkan tubuhnya di tubuh sang suami seraya memperhatikan Reyhan yang masih sibuk dengan pekerjaan di hadapannya. “Masih banyak, ya, pekerjaannya?” tanya Nadhira seraya melingkarkan kedua tangannya di lengan Reyhan. Entah malam ini ia ingin bermanja pada lelaki yang sudah rapi dengan balutan piyama itu. Ia ingin melepaskan rasa lelah setelah seharian beraktivitas menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri di dalam pelukan Reyhan.
“Sedikit lagi, ya, Sayang,” jawab Reyhan. Ia kemudian menoleh dan mendaratkan bibirnya di kening Nadhira. Dilihatnya wajah cantik itu dalam jarak yang sangat dekat. Seperti sebelum-sebelumnya, yang ia lihat adalah raut wajah lelah sang istri. Ia sejenak mengabaikan pekerjaannya. Lalu, menyentuh lembut pipi Nadhira yang sedikit berisi. “Kamu capek?”
Nadhira menggelengkan kepala dan tersenyum pada Reyhan. Ia sentuh punggung tangan yang ada di pipinya itu. “Kakak belum cerita sama aku ‘kan apa yang dikatakan Dokter Dharma?”
Reyhan menepuk pelan keningnya. Ia benar-benar lupa untuk menceritakan hasil pertemuannya dengan Dokter Dharma siang tadi. Pikirannya tersita penuh oleh pekerjaan yang menumpuk meskipun sudah dirampungkan sebagiannya oleh Farhan. “Maaf, Sayang. Aku benar-benar lupa. Nanti aku akan ceritakan, ya. Aku selesaikan dulu pekerjaanku sedikit lagi.”
Nadhira mengangguk cepat. Sekarang ia tidak lagi banyak bicara untuk mengingatkan Reyhan. Benar-benar sekarang suaminya sadar akan waktu dan tidak terlalu memforsir diri untuk bekerja. Nadhira tentu saja senang akan hal itu. Sebab, itu artinya Reyhan memang ingin berusaha penuh untuk tetap menjaga kondisi tubuhnya gar baik-baik saja. Ia lantas membiarkan sang suami melanjutkan pekerjaan yang sudah menanti untuk segera diselesaikan. Sedang dirinya hanya melamun sendiri. Memikirkan masa depannya yang akan seperti apa bersama sang anak dan suaminya.
“Done,” ucap Reyhan dan menutup laptopnya. Lantas, meletakkan benda tersebut di nakas di samping tempat tidurnya. Ia kemudian merubah posisinya dengan bersandar sempurna dan ia rengkuh tubuh kecil Nadhira dengan hangat. Ia mencium puncak kepala yang sudah tidak lagi tertutup hijab itu. Mencium aroma lavender yang selalu membuat candu.
“Kamu nggak perlu khawatir, ya, Al. Hasil pemeriksaannya baik-baik saja. Hm, hanya saja aku perlu berhati-hati, karena bisa saja tubuhku akan mengalami penolakan organ baru,” terang Reyhan tanpa berniat membohongi sang istri. Lagi pula, apa yang dikatakan Dokter Dharma pun belum tentu terjadi. Dokternya itu hanya memintanya untuk berhati-hati saja.
“Tapi, kamu jangan terlalu memikirkan hal itu, Al. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja, Sayang,” lanjut Reyhan agar istrinya tidak terbeban.
__ADS_1
Nadhira mempererat pelukannya di tubuh Reyhan. Ia tenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami. “Iya. Kakak harus baik-baik saja untukku dan untuk si kembar.”
“Iya, Sayang. Aku janji.”
Hening. Pasangan suami istri itu saling merengkuh erat satu sama lain. Saling beradu dalam keromantisan.
“Sayang,” panggil Reyhan dengan lembut.
“Hm.”
“Apa kamu sudah membuat panggilan untuk kita berdua dari si kembar?” tanya Reyhan. Entah kenapa tiba-tiba ia mengingat hal itu. Meski kedua putranya belum bisa bicara, tetapi ia sudah ingin memiliki panggilan khusus.
“Papa saja, ya, Sayang,” jawab Reyhan tanpa berpikir panjang dan dibalas dengan anggukan oleh Nadhira. Lalu, keduanya kembali terjebak hening.
Tangan Reyhan semakin erat merengkuh tubuh Nadhira. Ia tiba-tiba mengingat tentang kondisi salah satu putranya, yaitu Radit yang juga memiliki kelainan sepertinya. Jujur saja hal itu membuat Reyhan bergidik ngeri. Ia membayangkan bagaimana bayi kecilnya harus berjuang hebat. Ia sendiri merasa bersalah, kenapa kekurangannya harus turun pada salah satu bayinya? Sungguh Reyhan tidak pernah membayangkan hal itu akan menimpa putranya.
“Al,” panggil Reyhan yang dibalas gumaman oleh Nadhira. “Maafin aku, ya,” ucapnya lagi.
“Maaf untuk apa?”
__ADS_1
“Maaf karena sudah membuat salah satu bayi kita menderita.”
Nadhira mengangkat kepalanya dan menatap wajah suaminya yang mulai tampak sendu. “Kakak tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Kakak lupa, ya, apa yang pernah aku katakan kemarin?” Nadhira merubah posisinya dengan duduk tegak. Ia kemudian menangkup wajah Reyhan dengan kedua tangan. “Tuhan tahu bahwa Radit adalah anak kuat. Sama seperti papanya. Sebab itulah, Radit dikaruniani satu keistimewaan sepertimu,” ucap Nadhira dengan nada suara yang sangat lembut. “Tidak apa-apa, Sayang. Aku yakin Radit bisa melewati masa-masa sulitnya. Kita akan selalu bersamanya.”
Reyhan menundukkan kepala. Apa yang dikatakan oleh Nadhira tidak cukup membuatnya merasa baik-baik saja. Tetap saja rasa bersalah itu hinggap di dalam hatinya.
“Kak, jangan pernah merasa bersalah atas apa yang tidak pernah Kakak lakukan. Apa pun yang terjadi, begitulah scenario yang sudah Tuhan siapkan dan harus kita jalani.”
Reyhan tertegun mendengar ucapan istrinya. Ia tidak menyangka jika Nadhira bisa menyikapi hal ini dengan begitu dewasa. Ia merasa malu pada dirinya sendiri. Harusnya ia yang berusaha menguatkan istrinya. Bukan justru sebaliknya.
“Kak, kita yang kuat, ya. Kita bisa kok menjalaninya dengan baik selama kita bersama-sama.” Nadhira memeluk tubuh Reyhan setelah berucap. “Tidak ada sakit yang Tuhan turunkan tanpa obat.”
Reyhan hanya bisa membalas pelukan istrinya. Ia meresapi aroma lavender yang terus menyeruak dan menelusup ke indra penciuman. “Terima kasih sudah kuat dan menjadi istri untukku dan ibu yang baik untuk si kembar.”
Nadhira hanya tersenyum.
“I’m so lucky to have you, Sayang.”
“Aku yang sangat beruntung memiliki suami yang kuat dan hebat sepertimu, Kak,” balas Nadhira dengan nada suara pasti.
__ADS_1
Pasangan suami istri itu lantas saling menyalurkan cinta dalam satu pelukan hangat. Saling memberikan kekuatan satu sama lain untuk setiap kejadian yang membuat rapuh. Lalu, saling menopang saat hancur keadaan menimpa.