
Nadhira masih asyik memainkan ibu jarinya pada tangan mungil sang anak. Senyumnya tak juga tanggal melihat sepasang netra dengan kelopak yang sudah mulai terbuka itu. Bahagia sekali rasanya Nadhira melihat salah satu bayinya yang sejak beberapa hari lalu harus terbaring tak berdaya seperti ayahnya. Namun, kini do’a-do’a yang ia langitkan tanpa jeda itu sudah membuahkan hasil. Kendati satu lagi seseorang yang namanya selalu ia sebutkan belum juga memberi tanda bahwa akan segera membuka mata. Tak mengapa. Barangkali Tuhan ingin memberi Nadhira kejutan lain yang tentu saja tak pernah ia duga. Asal do’a yang ia rapalkan tak pernah putus. Lagi pula, Tuhan itu maha adil. Tuhan tidak akan membuat do’anya berakhir sia-sia.
Satu ciuman hangat mendarat di pipi Radit. Cukup lama. Rasanya sudah begitu lama juga Nadhira tak menghadiahi putranya itu sebuah ciuman. Padahal, hampir setiap hari saat ia mengunjungi sang anak, Nadhira tak pernah absen menghadiahi putranya itu kecupan di kening. Barangkali kali ini terasa berbeda sebab kemarin ia hanya mencium Radit yang selalu memejamkan mata. “Sehat, yuk, Kak! Biar cepat pulang. Kasihan Adek sudah kesepian dan rewel karena ditinggal Kakak,” ucap Nadhira dengan raut wajah semringah. Ia berbicara begitu lancar seakan Radit nantinya akan membalas ucapannya. “Oma, Opa, Ayah juga menunggu kepulangan Kakak lho. Nanti Ibu juga kasih hadiah yang banyak buat Kakak, ya.”
Nadhira kembali duduk di kursi di samping ranjang sang anak. Ia menyentuh tangan mungil itu lagi. Yang berhasil membuat hati Nadhira menghangat sekaligus terharu adalah tatkala tangan kecil Radit menggenggam jari telunjuknya. Nadhira tidak bisa untuk tak menitikkan air mata. Apalagi sepasang bola mata yang persis seperti milik Reyhan itu menatapnya dengan lekat. Juga secarik senyum lebar Radit yang menunjukkan gusinya. Ya Tuhan, sesederhana ini bahagia Nadhira. Ia mencium berulang kali tangan mungil Radit. Hingga tanpa ia sadari air matanya jatuh membasahi punggung tangan anaknya. “Tetap seperti ini, ya, Sayang. Sebab, Kakak dan Adek adalah penguat Ibu, penyemangat Ibu.”
Mungkin si kecil Radit paham akan perasaan sang ibu. Bayi mungil itu hanya tersenyum lebar ke arah Nadhira.
“Istirahat dulu, yuk, Kak. Biar kondisinya tetap stabil.” Nadhira mengelus puncak kepala Radit. Ia bersenandung agar anaknya lebih cepat terlelap. Hal yang sering ia lakukan saat akan menidurkan Radin di rumah.
Terlalu asyik dengan aktivitasnya, Nadhira tak menyadari dua pasang mata yang tengah memperhatikannya dari jarak yang tak terlalu jauh. Pemilik mata itu ikut merasa bahagia melihat senyum sahabat mereka kembali terpatri dengan indah. Meskipun tadi mereka sempat khawatir ketika melihat Nadhira sedikit terisak. Namun, jelas mereka tidak ingin mengganggu waktu sahabatnya itu bersama sang anak.
“Senang banget tau lihat Nadhira bisa senyum lagi seperti sekarang. Dia kuat banget,” ucap Finza dengan suara bergetar. Air dari kelopak matanya seakan memaksa untuk keluar karena merasa terharu melihat Nadhira. Ia bisa menyaksikan juga bagaimana perjuangan Nadhira selama ini. Jujur saja, mungkin jika Finza yang berada di posisi Nadhira, ia tidak akan bisa sekuat sahabatnya itu.
Mikayla yang tengah memangku Radit mengangguk pelan. Seperti Finza, Mikayla juga tahu betul bagaimana perjalanan hidup Nadhira sejak memutuskan mengakhiri masa lajangnya dengan menerima pinangan lelaki yang tentu saja sangat ia cintai. Apalagi sekarang, sejak Mikayla menikah dengan Bara dan dengan begitu ia sah menjadi kakak ipar sahabatnya itu. Mikayla tentu lebih banyak tahu daripada Finza. Sebab, Bara—sang suami—selalu menceritakan problematika yang selalu dialami Nadhira. Bahkan, pernah sekali ia sampai menangis ketika Bara menceritakan bagaimana Nadhira yang hampir menyerah karena begitu banyak cobaan yang menimpanya. Namun, benar kata Finza. Nadhira memang kuat. Berbekal semangat yang ia paksakan. Kini Nadhira bisa sampai di titik ini dan menjadi perempuan yang benar-benar kuat. Andai saja air mata Nadhira bisa mengering, mungkin sekarang sudah tak ada lagi air mata yang bisa keluar dari kelopak matanya karena terlalu sering menangis.
__ADS_1
“Dia memang kuat banget, Za. Aku saja sampai salut sama dia,” puji Mikayla akan kekuatan yang tertanam dalam diri adik iparnya itu. “Abangnya sendiri tidak menyangka kalau Nadhira akan bisa sampai di titik ini,” lanjut Mikayla dengan tersenyum bangga seraya memandang ke arah manusia yang tengah jadi topik pembicaraannya dengan Finza.
“Kay, kamu nggak iri kalau Bang Bara masih perhatian sama Nadhira?”
Sontak kepala Mikayla menoleh. Ia menatap Finza dengan alis yang menukik tajam. “Kenapa aku harus iri? Aku saja yang hanya sahabat dan kakak ipar sayang banget sama Nadhira. Bagaimana dengan Bang Bara yang sebagai kakaknya? Lagi pula, sudah kewajiban Bang Bara kok untuk selalu perhatian sama adik semata wayangnya,” terang Mikayla. Benar apa yang dikatakannya itu. Sedikit pun ia tak pernah merasa iri pada Nadhira. Lagi pula, sejauh ini Mikayla juga tak pernah merasa kekurangan kasih sayang baik dari suaminya atau pun mertuanya. Mereka memperlakukan Mikayla seperti ratu.
Finza tersenyum lebar mendengar jawaban membanggakan dari sahabatnya itu.
“Lagi bicarain aku, ya?” tanya Nadhira yang baru saja datang menghampiri. Perempuan itu memijat pundaknya sendiri. Ia sedikit kelelahan karena kurang istirahat dari kemarin.
“Capek, ya, Ra? Kamu istirahat dulu deh sebentar. Mumpung si kembar juga lagi tidur,” ucap Mikayla seraya menggeser tubuhnya untuk memberi tempat bagi Nadhira untuk duduk di sampingnya.
“Dih! Yang sudah punya anak sombong, ya. Mau bikin iri saja,” celetuk Finza.
Nadhira hanya tertawa kecil mendengar ucapan sahabatnya itu. “Cepatan nyusul, Za. Menikah itu nikmatnya beda lho. Iya ‘kan, Kay?”
__ADS_1
Mikayla yang kalem hanya mengangguk mengiyakan dengan senyum lebar yang menghias wajahnya.
“Ya mau gimana dong, Ra. Adik ipar kamu kan belum juga ngelamar aku sampai sekarang,” jawab Finza sedikit kesal.
“By the way, Farhan mana? Kamu datang ke sini sama Farhan, ‘kan?”
Kepala Finza mengangguk. “Mas Farhan nganterin Mama pulang dulu. Nanti dia balik lagi ke sini.”
Nadhira hanya ber-oh ria.
Beberapa saat tiga manusia yang sudah menjalin hubungan persahabatn itu terdiam. Hingga suara Nadhira kembali terdengar dan mendeportasi sunyi. “Skenario Tuhan itu memang unik, ya. Kita dipertemukan pertama kali saat baru masuk kuliah. Menjalani hubungan persahabatan, terpisah sementara saat sibuk dengan tugas akhir. Eh, sekarang dipersatukan lagi dengan Mikayla yang sudah jadi kakak ipar aku. Dan kamu, Za, akan jadi adik iparku.”
“Aku nggak bisa bayangin bagaimana kita saat kumpul keluarga. Pasti ribut banget, ya?”
Ketiga perempuan itu lantas tertawa bersama. Mereka teringat bagaimana mereka saat sudah berada di ruang yang sama. Jika di hadapan orang lain mereka kan terlihat kalem dan pendiam. Namun, ketika sudah bertiga. Pasti akan heboh.
__ADS_1
“Semoga Allah takdirkan Finza berjodoh dengan Farhan, ya,” ucap Mikayla.
Finza dan Nadhira sontak meng-Aamiin-kan ucapan Mikayla. Sebab, setiap kata baik yang terucap dari bibir adalah sebuah doa.