
Tangan Mikayla bergetar hebat. Matanya berkaca-kaca memandangi benda kecil berwarna putih yang ia pegang. Sedang sebelah tangan lainnya membekap mulut yang sontak terbuka melihat penampakan pada benda kecil tersebut. Dua garis merah yang ia nantikan selama dua bulan terakhir ini.
Atas anjuran adik ipar sekaligus sahabatnya—Nadhira—ia mencoba untuk menggunakan test pack. Awalnya memang Mikayla ragu, karena takut kecewa. Namun, Nadhira terus meyakinkannya dengan keras. Dan bersyukurnya Mikayla adalah apa yang diharapkan benar-benar terjadi.
"Dek, kenapa lama banget di kamar mandi?"
Suara Bara menelusup masuk di indera pendengaran Mikayla. Ia menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Kini air mata yang tadinya hanya menggenang sudah berhasil menghantam tembok pertahanan dan membasahi pipi. Mikayla terharu. Mikayla bersyukur atas pemberian Tuhan yang luar biasa ini.
"Adek nggak apa-apa 'kan, Sayang?"
Suara sang suami kembali terdengar. Kali ini terdengar nada kekhawatiran. Mikayla lantas menyeka air matanya dan membuka dengan tangan yang masih bergetar. Namun, senyumnya mengembang begitu indah hingga membuat air mata kembali mengalir.
Betapa kagetnya Bara melihat istrinya menangis. "Adek kenapa?" tanya Bara khawatir. Ia menangkup wajah istrinya dan mengusap jejak air mata di wajah cantik tanpa polesan make up itu.
Mikayla tak bersuara. Akan tetapi, tangannya yang sejak ke luar dari kamar mandi ia sembunyikan di balik punggungnya perlahan terangkat dan terhenti tepat di samping wajahnya. Bersamaan dengan itu senyum lebar terbit menghias wajahnya dan diiringi derai dari sepasang netranya yang sudah tak terbendung lagi. Ini bukan tangis kesedihan dan kepedihan. Namun, tangis bahagia akan penantiannya sebagai pengantin baru sekaligus pejuang dua garis. “Hadiah untuk Abang,” ucap Mikayla dengan suara parau.
Bara tak bisa berkata-kata. Ia benar-benar speechless melihat benda kecil dan panjang berwarna putih dengan dua garis merah yang ada di tangan istrinya. Ini masih terlalu pagi. Apakah Bara masih berada dalam pengaruh dunia mimpi? Siapapun tolong bangunkan Bara!
“I’m pregnant, Bang. Abang akan menjadi seorang ayah,” ucap Mikayla saat suaminya masih bergeming memandang test pack yang masih berada di tangannya. Ia tahu Bara pasti tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Sebab, Mikayla juga sebelumnya merasakan hal yang sama seperti Bara.
__ADS_1
Tanpa berpikir panjang Bara melepas tangkupan tangannya di wajah sang istri. Lantas, bersujud di lantai sebagai rasa syukurnya atas kejutan di pagi hari. Kejutan yang selalu dinantikan oleh semua pasangan suami istri di muka bumi ini. Dalam sujudnya Bara mengucapkan syukur berulang kali. Bahkan tanpa sadar air matanya juga ikut menetes karena terharu.
Bara bangkit dari sujudnya dan memeluk Mikayla dengan begitu erat. Beberapa saat keduanya tenggelam dalam suasana haru dan tangis bahagia. Hingga suara berat Bara membuat hati Mikayla sedikit ngilu dan membuat perempuan itu harus mengurai pelukannya dengan lelaki yang sangat ia cintai itu. “Terima kasih, Sil.”
Mikayla memandang suaminya dengan tatapan yang susah diartikan. “Mikayla, Bang. Bukan Prisil,” ucap perempuan itu dengan suara bergetar. Harusnya ia menikmati kebahagiaan atas apa yang Tuhan berikan padanya. Akan tetapi, tak lama rasa bahagia itu harus berubah menjadi pedih yang tak bisa terelakkan. Bagaimana tidak? Bahkan, saat ia sudah positif mengandung anak Bara. Lelaki yang menjadi suaminya sejak dua bulan lalu itu masih saja menyebut nama lain di hadapannya. Begitu susah merebut hati Bara dari masa lalunya.
Seketika Bara tersadar akan ucapannya. Ia pandangi sepasang netra yang sudah terlanjur basah itu. Seketika itu juga sesal menyambutnya dengan hangat. Lagi-lagi ia menyakiti hati istrinya. Hati perempuan yang begitu sabar menghadapinya. Perempuan hebat yang baru saja secara tidak langsung memproklamirkan diri sebagai ibu dari buah hati Bara yang kini bersemayang dalam rahim Mikayla. Perempuan kuat yang sudah dua bulan terakhir ini mendampinginya dalam segala kondisi.
“Dek, maaf,” ucap Bara penuh sesal. Sungguh ia tanpa sadar salah menyebutkan nama. Sampai detik ini ia masih susah menghapus nama perempuan di masa lalunya itu meskipun ia sudah berusaha dengan hebat. Apalagi senyum dan mata milik Mikayla begitu mirip dengan Prisil—mantan kekasihnya yang sudah berpulang ke pangkuan Tuhan menjelang pernikahan mereka.
Mikayla tersenyum miris. Sekali lagi ia mencoba menerima permintaan maaf yang bahkan hampir setiap hari terdengar. Ia tidak ingin mengganti bahagianya pagi ini dengan duka dan luka yang kembali menyayat hati. Biarlah ia coba redam kembali kesakitan itu seorang diri. “Sudah biasa, Bang,” balas Mikayla. Ia meraih tangan suaminya dan menyerahkan test pack tersebut. “Kasih tau Ayah dan Bunda kabar bahagia ini,” lanjutnya dan berlalu dari hadapan Bara.
Mikayla sadar ia tengah diperhatikan oleh Bara. Namun, ia tak berani mengangkat wajahnya. Apalagi menatap balik suaminya. Bukan tak ingin. Hanya saja tak mau membuat lukanya semakin menganga. Maka, ia memilih untuk menghubungi keluarga dan juga adik iparnya. Kemudian, memberitahu berita bahagia akan kehamilannya.
“Umi, Kayla hamil,” ucap Mikayla dan menangis tersedu saat panggilan telepon dengan orang tuanya tersambung. Ia menceritakan tentang kebahagiaannya pada ibunya di seberang telepon.
“Kayla akan menjadi seorang ibu seperti, Umi. Terima kasih sudah menjadi ibu yang hebat untuk Kayla,” lanjut Kayla sebelum memutuskan panggilan telepon. Niatnya untuk menghubungi Nadhira sirna oleh tangisnya yang tiba-tiba pecah. Terlalu menyesakkan kalimat Bara yang masih terngiang. Ia memeluk tubuhnya sendiri. Menikmati bahagia dan perih yang datang secara bersamaan.
Bara mengayunkan sepasang tungkainya mendekati tempat tidur di mana sang istri berada. Sungguh ia menyesali kecerobohannya yang tak bisa berhati-hati dalam berucap. “Adek, Abang minta maaf,” ucap Bara dengan sungguh-sungguh saat bokongnya sukses mendarat di pinggir tempat tidur. Ia menundukkan badan dan mencoba merengkuh tubuh yang tengah bergetar itu. Dikecupnya berulang kali puncak kepala Mikayla yang tanpa balutan hijab.
__ADS_1
Mikayla tak menjawab. Ia masih saja menangis. Namun, ia juga tak melakukan penolakan atas perlakuan Bara saat ini. Meskipun dalam keadaan hati yang terbilang hancur. Mikayla tak bisa mengelak bahwa rengkuhan suaminya adalah hal yang membuatnya nyaman. Maka, ia akan membiarkan kenyamanan itu ada. Barangkali nanti itulah yang akan perlahan mengusir dukanya.
“Abang janji akan berusaha lebih lagi untuk menjadi seutuhnya milik Adek,” ucap Bara dengan pelan tepat di telinga sang istri. “Bantu Abang, yuk, Dek.”
Mikayla memutar tubuhnya. Ia memberanikan diri untuk menatap Bara. Lantas, tersenyum. Namun, kali ini senyumnya sarat akan luka. “Kurang apalagi usaha Kayla untuk membantu Abang selama ini? Bahkan, Kayla sampai melakukan hal konyol agar bisa menjadi sosok Prisil.”
Bara kalah telak. Sikapnya yang belum juga melupakan sosok Prisil rupanya membuat istrinya sendiri bahkan melakukan hal yang tak semestinya dilakukan. Menjadi orang lain agar memiliki hati Bara seutuhnya. “Maafin Abang. Abang akan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi,” jawab Bara dan mengusap air mata istrinya.
Perempuan yang masih merasa diperlakukan istimewa itu hanya bisa menghela napas panjang. Ia tidak tahu harus menyikapi suaminya seperti apa lagi. Terlalu sering kalimat yang sama diucapkan Bara. Namun, tetap saja lelaki itu melakukan hal yang sama.
“Jangan nangis lagi, ya. Nanti si kecil ikut sedih kalau ibunya kayak gini.” Bara mencoba membujuk Mikayla. Ia akan berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk istrinya. Apalagi sekarang sudah tumbuh calon buah hatinya tepat di bawah jantung Mikayla. Sesosok makhluk mungil yang sudah ia nantikan.
Mikayla hanya bisa menganggukkan kepala. Lalu, mencoba tersenyum lagi.
“Kita turun, yuk! Kita kasih tau Ayah dan Bunda sama-sama. Mereka pasti senang kalau tahu Adek hamil.”
Bara membantu Mikayla bangkit dari tidurnya. Ia rapikan rambut istrinya itu dengan hati-hati. Lihatlah! Bagaimana manisnya Bara memperlakukan Mikayla? Tidak heran jika Mikayla benar-benar jatuh pada pesona laki-laki itu.
“Dek, I love you.”
__ADS_1