
Perempuan dengan setelan pakaian biasa yang dipadukan jilbab instan berwarna abu itu melambaikan tangan ke arah seorang anak perempuan yang baru saja turun bersama Papa dan Mama. Anak kecil perempuan yang sekarang menginjak usia lima tahun itu adalah si bungsu, Latisha Tridewi Oktara. Nadhira bisa melihat bagaimana Latisha dengan cepat berlari ke arahnya. Ia berjongkok untuk mensejajarkan diri dengan tinggi adik ipar perempuannya tersebut. Lantas, menyentuh kedua pundak anak itu. “Kakak mau minta tolong sama Latisha, boleh?” tanya Nadhira dengan suara yang teramat lembut. Begitulah ia ketika berbicara dengan Latisha. Hingga memasuki usia pernikahan dua tahun. Tak pernah sekali pun Nadhira berbicara kasar dengan gadis kecil itu. Sesungguhnya Nadhira begitu menyayangi Latisha dengan tulus.
“Boleh dong, Kak,” jawab Latisha dengan ceria.
“Ya sudah kalau gitu Kakak minta tolong panggil Kak Farhan di atas, ya. Bilang kita makan malam bareng di bawah,” terang Nadhira dengan senyum yang selalu terpatri di wajahnya. Selepas berucap ia mengelus puncak kepala Latisha. Ia selalu ingat apa yang dikatakan Reyhan padanya bahwa Latisha paling suka jika kepalanya dielus dengan lembut. Jika diingat-ingat, apa yang disukai Latisha itu juga merupakan perlakuan paling manis bagi Nadhira. Sebuah perlakuan sederhana yang selalu sukses membuatnya merasa sangat diistimewakan. Apalagi yang melakukan itu adalah Reyhan. Ah, Nadhira jadi rindu pada suaminya.
“Siap, Kak!” Latisha mengangkat ibu jarinya seraya mengedipkan sebelah mata pada Nadhira. Jelas saja polah gadis kecil itu membuat sang kakak ipar merasa gemas.
“Good girl.”
Nadhira bangkit setelah Latisha berlalu dari hadapannya. Ia melempar senyum ke arah Papa dan Mama yang posisinya semakin mendekat.
“Adek mau ke mana, Ra?” tanya Mama saat ia sudah berhadapan dengan si anak menantu. Lantas, duduk di kursi yang biasa ia tempati. Tepatnya di sebelah kanan Papa.
“Nadhira minta tolong Latisha panggil Farhan, Ma. Biar makan malamnya barengan saja,” jawab Nadhira yang dibalas anggukan paham oleh Mama.
Di sisi lain rumah mewah bertingkat itu. Tepatnya di lantai dua. Latisha. Gadis kecil dengan rambut dikuncir kuda itu sudah berdiri di depan kamar kakak keduanya—Farhan. Sebagaimana ia biasanya mendatangi kamar sang kakak, gadis kecil berkulit putih itu terlebih dulu mengetuk pintu di depannya. “Kakak di dalam? Adek boleh masuk, nggak?” tanya Latisha dari luar. Beberapa saat anak itu berdiri seraya memainkan jemari-jemarinya menunggu pintu terbuka dari dalam.
Karena merasa tidak ada sahutan dari sang pemilik kamar. Latisha mencoba membuka pintu kamar Farhan tanpa menunggu lebih lama lagi. Ia menyembulkan kepala. Lantas, menyapu ruangan itu dengan pandangannya. Latisha tersenyum jail saat sepasang maniknya menangkap gundukan benda di atas tempat tidur. Ia bisa pastikan kalau itu adalah Farhan yang sedang terlelap. Dengan langkah pelan agar tak menimbulkan suara ia bergerak maju. Tak lama sesampainya di dekat tempat tidur king size milik Farhan ia berdiri. Dan…
“Duar!” teriak Latisha seraya melompat ke atas tempat tidur kakaknya dengan kasar.
Farhan yang tidak tahu apa-apa terlonjak kaget. Sedangkan, Latisha tertawa keras karena aksinya berhasil. Farhan tidak bisa memarahi anak kecil itu. Ia hanya bisa menghela napas panjang dan tersenyum tipis. Ia bangkit dengan kepala yang sebenarnya masih sangat pusing. “Adek bikin Kakak kaget lho,” ucap Farhan seraya melipat tangannya di depan dada. Sedangkan tatapannya sudah terlihat begitu sayu. Ditambah lagi dengan wajahnya yang pucat.
Latisha masih saja tertawa. Namun, tawa itu terhenti saat Farhan menundukkan kepala seraya memijat pangkal hidungnya. Kepala gadis kecil itu memiring agar bisa melihat wajah kakaknya. “Kakak sakit, ya?” tanya Latisha. Sebab, ia seringkali melihat Reyhan seperti itu saat sakit. Tidak heran jika pergerakan sesederhana itu bisa langsung mengingatkannya akan perilaku-perilaku saat Reyhan kerapkali jatuh sakit di hadapannya.
Kepala Farhan terangkat. Ia pandangi adik kecilnya itu dengan senyum lebih lebar dari sebelumnya. Namun, hal itu tak bisa menutupi wajah tanpa ronanya. “Kakak masih ngantuk,” dusta Farhan pada adiknya.
__ADS_1
“Hm, maaf, ya, Adek ganggu Kakak.”
“Nggak apa-apa, Sayang,” ucap Farhan yang tak tega melihat wajah sendu Latisha. Ia mengelus pipi adiknya itu dengan lembut. “Jadi, ada apa terus Adek ke kamar Kakak?”
“Kata Kak Nadhira kita makan malam bareng di bawah. Jadi, Adek ke sini untuk manggil Kakak.”
Farhan mengangguk paham. “Ya sudah ayo turun,” ucap Farhan seraya menyibak pelan selimut yang membungkus tubuhnya. Lantas turun dari tempat tidur dan menggamit tangan kecil sang adik. Membawanya melangkah menuju ruang makan.
“Malam semuanya,” sapa Farhan sudah tiba di ruang makan. Jujur saja ia tak berselera makan. Kepalanya benar-benar pusing. Namun, melihat usaha adiknya untuk memanggilnya ke kamar. Ia tak sampai hati untuk tidak ikut bergabung.
Nadhira dari seberang meja memperhatikan adik iparnya itu. Dalam hati ia bertanya-tanya apakah Farhan sebelumnya lagi-lagi merasakan sakit di bagian kepalanya? Pertanyaan itu muncul karena wajah Farhan yang benar-benar pucat.
Rupanya tak hanya Nadhira yang memperhatikan raut wajah lelaki itu. Juga Papa dan Mama. Namun, Papa seperti biasa hanya bersikap cuek akan hal itu. Tidak dengan Mama yang langsung menyerbu anak tengahnya dengan pertanyaan. “Farhan, muka kamu pucat? Kamu sakit, Nak?”
Seperti biasa, jawaban yang diberikan Farhan selalu kata baik-baik saja. Lantas, ia mengisi piringnya dengan nasi dan lauk pauk. Ia memaksa diri menyantap santapan makan malamnya.
Sepi. Tak ada suara yang mengisi ruang makan. Hanya suara denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring yang tertangkap indera pendengaran.
“Hidung Kakak berdarah!”
Pandangan Papa, Mama, dan Nadhira seketika jatuh pada salah satu anggota tubuh Farhan. Dan benar saja. Darah segar mengalir dari lubang hidung lelaki itu. Sedangkan Farhan sendiri masih sibuk mengatasi tremor hebat yang menyerang tangannya.
“Ya Allah, Farhan.” Mama panik dan langsung mendekati anak tengahnya itu.
Begitu juga dengan Nadhira. Perempuan itu langsung berlari memutari meja makan yang terasa begitu panjang untuk kemudian bisa mencapai kursi di mana adik iparnya duduk.
Namun, berbeda dengan Papa. Pria itu hanya terpaku di tempat memandangi anak keduanya itu. Jujur saja, Papa tengah mencerna dengan baik apa yang tengah terjadi saat ini. Dalam waktu bersamaan ia juga teringat beberapa hari lalu ia mendapati Farhan mengalami hal yang sama. Hanya saja tidak dibarengi dengan mimisan seperti ini.
__ADS_1
“Kak Nadhira, tolong Farhan, Kak,” lirih Farhan dengan mata terpejam erat.
Jika seorang anak biasanya memanggil orang tuanya untuk pertama kali. Tidak untuk Farhan. Lelaki itu justru memanggil kakak iparnya. Hal itu sukses membuat hati Mama dan Papa tercubit. Sudah sejauh mana mereka berjarak dengan anak tengah mereka?
Mama membuang jauh rasa perih itu. Sekarang bukan saatnya ia memikirkan hal itu. Sebab yang terpenting adalah Farhan. Lantas, Mama mengangkat kepala anaknya ke atas dengan tujuan untuk menghentikan darah yang masih mengalir.
“Ma, jangan diangkat kepalanya,” ucap Nadhira cepat. Sedangkan ia sendiri masih berusaha membantu Farhan memegang sebelah tangannya yang bergetar tak terkendali. Kepalanya buntu. Tak bisa ia berpikir jernih sekarang.
“Papa kenapa diam saja?” tanya Nadhira akhirnya dengan suara yang sedikit meninggi. Ia tak berniat membentak ayah mertuanya itu. Akan tetapi, ia hanya tidak tahu harus bagaimana dengan keadaan adik iparnya yang bahkan lebih parah dari sebelumnya. Bersyukurnya, suaranya itu berhasil membuat sang ayah mertua seketika bergerak cepat.
“Pa, minta tolong pegang tangan Farhan,” ucap Nadhira seraya melepaskan tangan adik iparnya dan beralih menggantikan posisi Mama. “Permisi, Ma.” Nadhira mencondongkan badan Farhan ke depan dan sebelah tangannya menjepit bagian hidung Farhan tanpa risih apalagi jijik dengan darah yang terus keluar.
Mama terdiam melihat perlakuan Nadhira. Rupanya anak menantunya sudah sangat hafal betul cara mengatasi kondisi yang dialami Farhan. Hal itu membuat Mama bertanya-tanya apakah sebenarnya Nadhira dan Farhan tengah menyembunyikan sesuatu. Mengingat tadi juga Farhan lebih cepat memanggil Nadhira daripada dirinya sendiri yang notabene adalah ibu kandung Farhan.
Jika Mama, Papa, dan Nadhira sibuk melakukan apa saja yang bisa mereka lakukan untuk membantu. Farhan pun sibuk merutuki dirinya sendiri dalam hati. “Dasar lemah! Dasar penyakitan! Nggak seharusnya kambuh di depan Mama dan Papa.”
Kepala Farhan jatuh ke samping. Tepat ke arah Papa saat merasa tenaganya sudah terkuras habis karena tremor hebat. Beruntung bersamaan dengan hal itu tangannya berhenti bergetar dan darah yang mengalir dari hidungnya perlahan berhenti. Namun, sayangnya benda cair berwarna merah pekat dan berbau anyir itu sudah menodai baju kaos yang membungkus tubuhnya. Begitu juga dengan tangan Nadhira yang sudah penuh berwarna merah.
Apa yang terjadi kini pada Farhan berhasil menyentuh hati Papa. Dipegangnya kepala sang anak yang sudah bersandar sempurna. Lantas, ia perlahan menekuk kaki dan berjongkok. Dipandangnya wajah Farhan yang sudah pucat pasi dengan sisa-sisa noda darah itu. “Farhan masih dengar Papa?”
Meski tak ada suara yang keluar dari bibir pucatnya. Namun, kepala Farhan mengangguk lemah.
“Kita ke rumah sakit.”
Refleks tangan Farhan menyentuh tangan Papa. “Nggak perlu, Pa. Istirahat saja.”
“Tap—”
__ADS_1
“Pa,” panggil Farhan dan berhasil mencekat kalimat sang ayah. “Terima kasih sudah bantuin,” lanjut Farhan dengan suara lemah seraya menatap sayu ke arah Papa. Ia juga tak lupa mengulum senyumnya ke arah pria itu.
Papa tertegun mendengar ucapan Farhan. Padahal, apa yang ia lakukan bukanlah hal hebat. Namun, Farhan terlihat begitu mensyukuri perlakuan hal yang bahkan terbilang tidak ada apa-apanya itu. Lantas, kenapa Papa justru tidak bisa mengapresiasi pencapaian sang anak?