
“Ma, Nadhira titip Radin, ya,” ucap Nadhira setelah Mama mengambil alih Radin dari gendongannya. Sebenarnya, berat bagi Nadhira untuk meninggalkan Radin di rumah meski bersama Mama. Namun, ia tidak punya pilihan lain. Sebab, membawa Radinikut bersama ke rumah sakit untuk memeriksa perkembangan kondisi Radit bukanlah pilihan yang tepat karena umur Radin yang masih kecil. Mau tidak mau Nadhira harus menitipkan si kecil itu pada Mama.
Mama mengangguk seraya mengulum senyum. “Iya, Sayang. Kamu hati-hati di jalan, ya. Sampaikan salam Mama sama Bunda,” ujar Mama.
“Iya, Ma. Nanti Nadhira sampaikan sama Bunda. Nadhira jalan dulu, ya, Ma.” Nadhira menggamit tangan kanan Mama dan menciumnya dengan hormat. Satu kebiasaan yang tidak pernah dilupakan Nadhira saat ia hendak bepergian. Dan kebiasaan itu sudah ditanamkan sejak lama oleh kedua orang tuanya.
Sebelum benar-benar pergi. Nadhira kembali menatap putranya yang berada di dalam
gendongan Mama. Ia kemudian menghadiahi Radin sebuah kecupan hangat dan cukup lama. “Jangan rewel sama Oma, ya, Dek. Ibu mau antar Kakak cek kesehatan dulu,” ucap Nadhira mengajak Radin bicara.
Seakan paham dengan apa yang diucapkan ibunya. Radin mempertontonkan senyum lebarnya yang sukses membuat hati Nadhira menghangat. “Anak baik. Paling tahu, ya, bagaimana caranya membuat Ibu tenang,” ujar Nadhira lagi dan benar-benar berlalu ke luar untuk menyusul baby sitter yang sudah lebih dulu menuju mobil dengan membawa Radit.
“Sus, Radit sama saya saja, ya,” ucap Nadhira dengan lembut pada perempuan di sampingnya. Perempuan yang hanya bertaut tiga tahun di atasnya itu. Ia kemudian mengambil alih tubuh putranya yang terlahir istimewa itu.
“Bu, Ibu baik-baik saja?” tanya perempuan yang biasa dipanggil Suster Dara itu. Ia melihat wajah majikannya terlihat sendu. Begitu juga dengan sorot mata yang tak menunjukkan binarnya seperti biasa itu.
Nadhira mengangkat dan memutar kepalanya ke samping. Memandang Suster Dara yang tengah menatapnya lekat. “Iya, Sus. Saya baik-baik saja,” jawab Nadhira berdusta. Ia tidak baik-baik saja saat ini. Hatinya tengah gundah. Ya, hal itu ia rasakan setiap kali membawa Radit untuk check up ke rumah sakit. Sebab itu selalu membuat pikiran buruk bermunculan di dalam kepalanya. Bagaimana jika Radit meninggalkannya? Nadhira tidak bisa mengenyahkan pemikiran itu dengan mudah. Tentu apa yang ia rasakan itu bukan tanpa alasan. Ia pernah menghadapi fakta yang sama. Adalah bagaimana ia menghadapi kondisi Reyhan.
“Nggak apa-apa, Bu. Semuanya pasti akan baik-baik saja,” ujar Suster Dara seakan bisa membaca pikiran yamg tak diungkapkan oleh majikannya itu. Kendati demikian, Suster Dara tentu saja tahu bagaimana perasaan seorang ibu melihat kondisi anaknya.
“Iya, Sus,” jawab Nadhira. Lalu, ia kembali memandangi wajah Radit yang tengah damai dalam pejamnya itu. Ia mengelus lembut pipi salah satu bayi kembarnya itu dengan lembut. Sedang dalam hati Nadhira terus bergemuruh. “Kita pasti bisa melewati semua ini, Nak,” lirih Nadhira dalam hati. Ia tidak bisa melisankan kalimat itu karena ada orang lain di sekitarnya. Ada baby sitter dan juga sopir. Ia tidak boleh menunjukkan kepedihannya di hadapan orang lain. Cukuplah sedih, pedih, bahkan lukanya ia nikmati sendiri sebelum teman hidup dan teman berbaginya terbangun dari tidur panjang yang begitu nyenyak dan membuatnya terlihat begitu damai.
˚˚˚˚˚
Di rumah sakit sudah menunggu Bunda, Mikayla, dan Bara. Nadhira menemukan anggota keluarganya yang selalu setia mendampingi dan menopangnya saat berada di titik rapuh seperti saat ini. Nadhira mengulum senyum saat pertama kali melihat sosok mereka sudah berdiri di depan ruangan dokter yang menangani kasus Radit. Lalu, ia berjalan mendekat diikuti oleh Suster Dara.
“Langsung masuk saja, Sayang,” ucap Bunda setelah menghadiahi putri bungsunya itu sebuah kecupan singkat.
“Biar Abang temani,” ujar Bara yang melihat ekspresi adiknya terlihat gelisah. Sebagai salah satu orang yang begitu dekat Nadhira, tentu saja Bara tahu apa yang dirasakan adiknya itu. “Kay, kamu di sini sama Bunda dulu, ya. Abang temani Adek sebentar,” ucap Bara pada istrinya. Ia mengelus puncak kepala Mikayla dengan dengan lembut kemudian berjalan memasuki ruangan dokter untuk menemani adik semata wayangnya.
__ADS_1
Di dalam ruangan. Nadhira dan Bara sudah duduk menghadap seorang dokter dengan name tag dr. Gisella. Mereka tengah mengumpulkan mental untuk mendengar penuturan Dokter Gisella. Terlebih-lebih Nadhira.
“Hasil pemeriksaan Baby Radit sudah ke luar, Bu,” ujar Dokter Gisella.
“Bagaimana, Dok?” tanya Nadhira yang sudah tidak sabar mendengar tentang kondisi Radit yang sebenarnya. Sebab, kemarin-kemarin ia hanya mendengar perkiraan saja hingga memutuskan untuk melakukan tes laboratorium dan beberapa pemeriksaan lainnya. Meski apa yang ia lakukan akan terkesan menyiksa putranya yang masih kecil itu. Akan tetapi, Nadhira melakukan itu semata-mata hanya ingin mengetahui tentang kondisi putranya. Lagi pula, ia juga sudah membicarakan hal itu sebelum mengambil tindakan dengan keluarga besarnya.
“Sesuai dugaan saya, Bu. Penyakit Jantung Kongenital atau penyakit jantung bawaan,” terang Dokter Gisella dengan begitu jelas. Ia tidak bisa menjelaskan satu hal dengan samar-samar. Sebab, tak semua keluarga pasien bisa memahami kondisi yang ia jelaskan.
Jantung Nadhira seakan berhenti berdetak. Langitnya runtuh dan menimpa tubuhnya. Hancur sudah dunia Nadhira. Namun, entah kenapa ia tidak bisa menangis meski ia merasakan sakit yang luar biasa. Ia hanya bisa menundukkan kepala seraya menatap lekat wajah putranya yang terlelap. “Begitu damai wajahmu, Nak. Tapi, ternyata kamu tengah menanggung beban berat, Sayang,” lirih Nadhira dalam hati. Ia kemudian memeluk erat tubuh putranya tanpa suara.
Bara pun tak kalah hancur seperti adiknya. Ia mengelus lembut punnggung Nadhira untuk berusaha menguatkan. Ia kembali fokus untuk mendengarkan penjelasan Dokter Gisella untuk mewakili Nadhira.
“Seperti yang sudah kita ketahui sama-sama bahwa ayah pasien memang penderita penyakit jantung juga. Jadi, yang dialami Baby Radit memang juga karena faktor genetik.”
“Lalu, apa yang bisa kami lakukan, Dok?”
Penjelasan demi penjelasan yang diutarakan Dokter Gisella tak sampai di otak Nadhira. Ia tengah asyik menikmati takdir barunya.
“Hm, baiklah kalau begitu, Dok. Kami permisi dulu,” ucap Bara. Lalu, ia bersalaman dengan Dokter Gisella dan menuntut Nadhira untuk bangkit.
Di depan ruangan sudah ada tiga wanita berbeda generasi yang sebelumnya ditinggal. Mereka bangkit bersamaan dan mendekat.
“Bagaimana, Dek?” tanya Bunda dengan ekspresi yang sudah sangat jelas khawatir.
Nadhira hanya menatap Bunda dengan tatapan sendu. Ia mengulum senyum miris dan tak
berkata apa-apa.
“Bang,” panggil Bunda pada si sulung karena tak mendapatkan jawaban dari si bungsu.
__ADS_1
“Kasus yang sama seperti Reyhan, Bun,” jawab Bara dengan nada lemah.
Tak hanya Bunda yang bersedih. Mikayla dan Suster Dara pun demikian. Bunda menangis, lalu Bara menenangkan.
Sedangkan, Mikayla mendekati Nadhira yang hanya terdiam masih dengan posisi memeluk Radit. Ia merangkul sahabat sekaligus adik iparnya itu berusaha memberikan kekuatan. “Kamu perempuan hebat dan istimewa, Ra. Makanya Allah kasih kamu bayi istimewa seperti Radit,” ujar Mikayla seraya menahan air matanya agar tidak lolos. “Kamu percaya ‘kan Allah itu baik?”
Nadhira masih terdiam. Namun, dalam hati Nadhira mengiyakan apa yang ditanyakan oleh kakak iparnya. Akan tetapi, ada hal yang belum bisa dicerna dengan baik oleh otak Nadhira. Adalah kenapa ia harus mendapatkan cobaan yang sama di saat cobaan lainnya belum juga mereda? Apa ia sudah setangguh itu menghadapi cobaan?
“Ra, kamu tahu ‘kan apa yang harus lakukan? Bukan seperti ini, Ra,” ucap Mikayla lagi. Ia kemudian menuntun tubuh Nadhira untuk duduk di kursi panjang itu. Setelah itu, Mikayla meraih dagu Nadhira agar perempuan itu mengangkat wajah dan menatapnya. “Radit butuh kamu yang lebih tangguh. Reyhan butuh kamu yang kuat.”
Nadhira menatap Mikayla dengan pandangan sudah memburam. Namun, ia tidak bisa berkata-kata. Lidahnya kelu.
“Nggak apa-apa kalau mau nangis, nangis saja. Jangan ditahan,” ujar Mikayla.
Dan detik itu juga air mata Nadhira runtuh begitu saja. Padahal, sebelumnya ia tidak bisa mengeluarkan setetes pun air matanya.
Mikayla dengan cepat meraih tubuh Nadhira. Kemudian, ia peluk dengan erat. Sedang manusia lain di sekitar mereka hanya bisa menatap iba.
Terutama Bara. Meski lelaki itu terlihat kuat, tetapi tidak dengan hatinya. Mikayla yang tahu sifat Bara lantas mengangkat kepala dan menatap suaminya. Ia mengulum senyum tipis seakan berusaha memberikan kekuatan untuk sang suami.
Beberapa lama terjebak di dalam isakan. Dering ponsel dari tas Nadhira terdengar. Suster Dara yang tengah membawa tas majikannya lantas segera meraih benda tersebut. “Telepon dari Tuan,” ucapnya.
Bara langsung meraih ponsel milik adiknya. Lalu, menjawab telepon dari Papa. “Iya, Om. Kenapa?”
Hening.
“Reyhan?”
Mendengar Bara menyebut nama Reyhan membuat Nadhira langsung melepaskan diri dari pelukan Mikayla. “Apa yang terjadi dengan Kak Reyhan, Bang?”
__ADS_1