Napas Baru

Napas Baru
Chapter 19


__ADS_3

Tubuh Farhan masih terasa lemas. Namun, ada pekerjaan yang harus ia selesaikan hari ini juga. Apalagi pekerjaannya kali ini mengharuskannya untuk ke luar kota. Farhan tidak ingin membuat ayahnya kecewa dan murka lagi. Ia harus membuktikan bahwa ia mampu menjadi anak yang bisa dibanggakan. Maka, untuk mendapatkan hal itu Farhan harus berjuang dengan hebat. Ia harus bisa melawan rasa sakit pada tubuhnya yang masih sangat jelas terasa.


Setelah membersihkan diri dan mempersiapkan segala keperluannya selama beberapa hari di luar kota. Farhan menyeret koper kecil berwarna gelap itu ke luar kamar. Ia tidak boleh terlambat karena tiket sudah dipesan langsung oleh Tio. Ya, Farhan tentu tidak pergi sendiri. Namun, ia pergi bersama sekretaris Reyhan yang masih setia itu. Meskipun Reyhan kini belum bisa kembali ke kantor. Namun, hal itu tidak membuat Tio mengurangi bentuk keprofesionalannya dalam bekerja. Tio tetap bekerja seperti ia bekerja di bawah pimpinan Reyhan. Bahkan, Farhan sendiri bisa merasakan bagaimana Tio yang sangat bertanggungjawab akan tugasnya. Ia juga merasakan bagaimana Tio yang sangat menghargai, menghormati, dan memperlakukannya selayaknya seorang bos. Hal itu membuat Farhan tak memiliki alasan untuk tidak menghargai lelaki itu. Sungguh! Sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di perusahaan yang dibangun oleh sang ayah, ia selalu mendapatkan perlakuan baik dari Tio.


Satu per satu anak tangga Farhan pijak menuju lantai dasar rumah mewah itu. Dan iasudah bisa mendengar suara sang ibu yang entah berbicara dengan siapa. Farhantersenyum tipis. Suara itu. Suara itu adalah suara yang dulu sering membacakandongeng pengantar tidurnya. Suara yang selalu menjadi suara pertama yang ia dengar tatkala pagi. Namun, sekarang suara itu sudah terasa asing. Tembok


pembatas menghalangi mereka meski sekarang sikap Mama sudah perlahan berubah. Farhan terkekeh sendiri. Kenapa masih bisa-bisanya ia merasa sakit seperti ini? Harusnya ia sudah sangat terbiasa. Sekarang ia juga bukan anak kecil lagi yang harus terus menerus mendapatkan perhatian lebih.


Farhan menyeret kopernya mendekati Mama yang sudah menghentikan suaranya ke luar. Ya, ternyata wanita itu sebelumnya habis melakukan panggilan telepon. “Ma, Farhan pergi dulu, ya,” ujar Farhan seraya mengikis jarak dengan Mama.


Mama mengangkat kepala. Lalu, ia bangkit saat mendapati putra keduanya itu berdiri di hadapannya. Kening Mama mengkerut dalam melihat Farhan yang sudah rapi dan membawa koper. “Kamu mau ke mana, Nak, sampai bawa koper segala seperti ini?” tanya Mama dengan raut wajahnya yang bingung. Tidak mungkin putranya akan memilih pergi, ‘kan? Tidak mungkin Farhan akan kembali jarang pulang seperti yang sering dilakukan anak itu sebelumnya.


“Farhan mau ke luar kota, Ma. Ada pekerjaan yang harus Farhan selesaikan. Mungkin tiga atau empat hari,” jawab Farhan dengan nada lembut. Ia masih mengingat bagaimana perubahan sikap sang ibu. Lalu, bukankah ia akan sangat berdosa jika keukeuh dengan sikapnya sendiri yang keras?  Sementara ia bisa menyingkirkan luka batin yang pernah diciptakan oleh orang tuanya. Apalagi mengingat sekarang ia bukan lagi Farhan yang kuat. Namun justru


sebaliknya. Ia sekarang Farhan si ringkih yang kapan saja bisa tumbang dan tak berdaya. Ia ingin memanfaatkan sisa waktu yang ia miliki untuk melakukan hal-hal baik dan bisa membanggakan Papa dan Mama. Ya, terlebih-lebih Papa agar ia bisa mendapatkan pengakuan sebelum ajalnya menjemput.


“Kamu pergi sendiri? Papa nggak ikut?”


Farhan hanya menggelengkan kepala pelan. Ia kemudian memilih duduk karena rasanya tidak kuat berdiri terlalu lama sebab tubuhnya yang masih belum normal. “Farhan pergi sama Mas Tio, Ma. Papa kan juga nggak bisa pergi ninggalin perusahaan

__ADS_1


begitu saja,” terang Farhan. Padahal, jika harus pergi bersama Papa, ia mungkin akan menolak. Jujur saja ia masih takut dengan Papa. Takut jika tubuhnya menjadi pelampiasan amarah pria itu lagi. Lalu, Farhan akan mengaduh kesakitan dalam sepi dan hening kamarnya tanpa mampu ia mengadu pada siapapun juga. Dan Nadhira akan datang memergokinya seperti biasa.


Mama kembali mendaratkan bokong pada sofa ruang keluarga. Ia menelisik setiap inci wajah tampan Farhan yang perlahan terlihat tirus itu. Pucat. “Kamu baik-baik saja, Nak? Wajah kamu kelihatan pucat begitu,” ujar Mama dengan nada suara lembut. Ia sekarang sudah mulai memberikan perhatian lebih pada anak keduanya


itu. Apalagi sekarang ia sering merasakan perasaan aneh tatkala Farhan ke luar rumah. Ia sekarang lebih sering merasa khawatir. Padahal, Farhan saat pulang akan terlihat baik-baik saja. Entah itu hanya perasaan khawatir biasa seorang ibu atau memang Farhan yang sedang menyembunyikan satu hal besar darinya. Mama


tidak tahu.


Lelaki itu menyentuh punggung tangan Mama yang sudah bertengger di pangkuan. “Farhan baik-baik saja, Ma. Semalam hanya kurang tidur saja,” jawab Farhan. Ia tak sepenuhnya berbohong. Memang semalam ia tidak bisa tidur dengan tenang. Sebab, rasa nyeri yang terus berdenyut di sekujur tubuhnya.


Mama menyugar rambut putranya itu dengan lembut. “Kamu sekarang kelihatan kurus, Nak. Apa kamu tidak makan dengan baik selama bekerja di kantor, hm?” Tatapan Mama terlihat sendu. Farhan boleh bekerja, tetapi tidak boleh memforsir diri


Farhan terkekeh mendengar pertanyaan ibunya. “Ma, Farhan kan bukan anak kecil lagi, Ma. Farhan tahu kapan Farhan harus istirahat dan bekerja. Mama jangan khawatir, ya.”


Helaan napas Mama terdengar jelas. “Ya sudah. Kamu kan belum sarapan. Ayo sarapan dulu sebelum berangkat.”


Dengan cepat Farhan menggelengkan kepala. Ia menatap jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. “Nggak usah, Ma. Nanti Farhan sarapan di jalan saja. Farhan takut ketinggalan pesawat,” terang Farhan. “Mas Tio juga sudah dalam perjalanan ke airport.”


“Ya sudah kamu hati-hati, ya. Kabari Mama kalau sudah sampai di tempat tujuan.”

__ADS_1


Farhan mengangkat tangannya dan meletakkan di pelipis—hormat seperti seorang prajurit pada jenderalnya. “Siap, Komandan!”


Mama terkekeh mendengar jawaban putra kedua yang sempat ia tak pedulikan itu. Kini anak itu sudah menjadi lelaki yang tidak jauh berbeda dengan kakaknya. Tampan dan pekerja keras.


Mama meraih tubuh Farhan dengan begitu tiba-tiba. Ia merengkuh Farhan dengan erat.


Farhan yang belum siap dengan perlakuan Mama pun erangannya lolos begitu saja. Mama menyentuh bagian tubuhnya yang sekarang masih memar itu. Terlihat tadi saat Farhan membersihkan badan sebelum turun.


“Kamu kenapa?” tanya Mama dengan perasaan khawatir karena erangan yang terdengar sarat akan kesakitan itu. Mama tidak mendapatkan jawaban apa pun dari Farhan. Ia kemudian mengurai pelukannya dan menangkup wajah sang putra. “Farhan,” panggil


Mama yang melihat anaknya menggigit bibir bawah.


“Tidak apa-apa, Ma. Mama terlalu kencang meluk Farhan,” jawab Farhan dengan asal. Lalu ia terkekeh kecil seraya menahan mati-matian rasa sakit di tubuhnya. “Farhan berangkat dulu, ya, Ma,” lanjut Farhan untuk menghindar sebelum ia dicecar habis-habisan oleh pertanyaan Mama. Farhan tidak akan pernah menceritakan apa yang ia dapatkan selama ini dari perlakuan Papa. Tidak boleh ia membuat Mama menumpuk banyak pikiran di dalam kepala. Lantas, ia meraih tangan Mama dan menciumnya dengan hormat.


Farhan melihat Mama yang masih terdiam. “Ma, jangan kayak gini dong. Farhan kan mau pergi ke luar kota.”


Mama segera mengembalikan kesadarannya. Lalu, ia mengulum senyumnya dengan paksa. “Hati-hati, Nak.” Hanya kalimat itu yang bisa Mama ucapkan. Lalu, membiarkan anaknya berlalu dari hadapannya.


“Kamu terlalu pandai menyembunyikan sesuatu, Nak, sampai kamu lupa bahwa naluri Mama itu begitu besar,” lirih Mama setelah Farhan menjauh dan sudah tak terlihat lagi di pelupuk mata. “Entah kapan kamu bisa bercerita sama Mama seperti kamu yang dengan leluasa bercerita sama Nadhira,” sambung Mama. Ia menyeka air matanya yang sempat lolos tanpa disadari. Mama mungkin sejauh ini hanya terdiam. Namun, beberapa kali ia memergoki Farhan yang tengah bercerita pada Nadhira. Tentu Mama senang melihat kedekatan anak-anaknya. Hanya saja hatinya terasa tercubit, karena Farhan yang belum juga mampu menjadikannya tempat pulang. Di sisi lain, Mama merasa beruntung memiliki seorang menantu seperti Nadhira. Setidaknya perempuan itu bisa memposisikan diri sebagai rumah untuk adiknya.

__ADS_1


“Mama nggak akan nyerah untuk membuat kamu nyaman lagi, Sayang. Maafin sikap Mama selama ini.”


__ADS_2