
Senyum Nadhira tampak merekah saat melihat sepasang bayi kembarnya sudah rapi setelah mandi pagi. Ia melihat wajah-wajah segar di antara mereka. Rasanya begitu sempurna kehidupan Nadhira melihat pemandangan seperti ini. Ia juga tak menyangka waktu begitu terasa cepat berlalu. Baru kemarin rasanya ia membawa dua makhluk mungil itu di dalam perutnya. Dan kini ia sudah bisa melihat mereka tersenyum, menangis, dan menggenggam jarinya. “Anak-anak Ibu sudah besar, ya, Sayang. Terima kasih, ya, untuk kerjasamanya,” ucap Nadhira seraya mengusap lembut pipi kedua anaknya yang ia letakkan di dalam stroller.
“Setelah ini kita ketemu Ayah, ya,” lanjut Nadhira mengajak anaknya bicara. Sungguh seketika hati Nadhira menghangat setelah melihat kedua anaknya tertawa seakan memberikan respons dari ucapannya. “MasyaAllah anak Ibu hebat banget sudah bisa merespons ucapan ibunya, ya.”
Nadhira melanjutkan aktivitas barunya mengajak Radit dan Radin bicara. Sesekali ia tertawa melihat tawa anaknya yang sangat menggemaskan. Hingga atensinya teralihkan oleh suara dering ponsel yang ia letakkkan sembarangan di atas tempat tidur. “Sebentar, ya, anak hebat. Ibu angkat teleponnya dulu.”
Kedua sudut bibir Nadhira terangkat membentuk sebuah kurva cantik saat melihat ID Caller di layar ponselnya. “Halo, Kay!”
“Ra, aku alihkan ke panggilan video, ya,” ucap Mikayla dari seberang telepon.
Nadhira menangkap nada suara sahabat sekaligus kakak iparnya itu terdengar bergetar. Kedua alis Nadhira menukik dalam “Kay, kamu nggak apa-apa, ‘kan?” tanya Nadhira khawatir. Namun, belum sempat ia mendengar jawaban dari Mikayla. Ia lebih dulu mendapatkan panggilan video. Sontak ibu jari Nadhira bergerak cepat menscroll ikon kamera di ponselnya.
“I’m pregnant!”
Mulut Nadhira seketika menganga. Selain kaget dengan suara pekikan kakak iparnya. Ia juga tak bisa berkata-kata melihat benda kecil yang diperlihatkan Mikayla padanya. Seperti Mikayla yang ada di seberang telepon dengan mata berkaca-kaca. Nadhira juga demikian. Ia terharu mendapatkan kabar kehamilan sahabatnya. Itu artinya sang kakak akan segera menyusulnya memiliki buah hati. “Kay, selamat, ya.”
“Terima kasih, Ra. Aku bahagia banget.”
__ADS_1
“Aku juga bahagia banget, Kay. Jaga baik-baik calon keponakan aku, ya.”
Nadhira menghapus air mata yang sempat mengalir di pipinya setelah panggilan video dengan sang kakak ipar terputus. Ia harus memberikan kabar bahagia ini juga pada suaminya. Ia bangkit dan kembali mendekati sepasang anak kembarnya. “Ke kamar Ayah, yuk, Nak! Kita kasih tau Ayah kabar bahagia tentang kehamilan Tante Kayla.”
...♥♥♥...
Nadhira mengarahkan kedua stroller itu ke arah tempat tidur yang ditempati Reyhan. Ia sengaja melakukan hal itu dengan tujuan agar sang anak bisa berhadapan langsung dengan ayah mereka. Sedangkan Nadhira sendiri duduk di pinggiran tempat tidur seperti biasanya. Ini adalah kali pertama mereka berkumpul di dalam ruang yang sama setelah kepulangan Radit dari rumah sakit.
“Selamat pagi, Ayah,” sapa Nadhira seolah yang berbicara dan menyapa suaminya adalah sepasang anak kembar yang menginjak usia jalan empat bulan itu. Tak lupa ia memamerkan senyum manisnya. Kendati Reyhan tak bisa menikmati kurva cantik yang membuat candu itu.
Nadhira memainkan jemarinya di wajah Reyhan. Ia rasakan bulu-bulu halus sudah tumbuh di sekitar wajah sang suami. “Kak, tahu, nggak? Kamu lagi-lagi melewatkan momen bahagia Abang sama Kayla. Sekarang Kayla sudah hamil, Kak,” tutur Nadhira pada Reyhan yang masih setia terpejam. Entah kapan kelopak mata itu akan terbuka dan menatapnya dengan hangat seperti dulu.
Tiba-tiba terdengar suara pintu kamar itu terbuka. Atensi Nadhira seketika teralihkan ke arah sumber suara. Senyumnya terbit melihat sosok Papa muncul dari balik pintu.
“Eh, Ra. Papa kira nggak ada orang di sini,” ucap Papa seraya menutup kembali benda yang terbuat dari kayu tebal itu.
Mendengar sapaan ayah mertuanya yang begitu lembut padanya membuat Nadhira tak menyangka jika pria itu bisa bersikap keras. Bahkan pada darah dagingnya sendiri. Sejak ia mengetahui kondisi Farhan hari itu. Tidak ada lagi rahasia yang bisa disembunyikan Farhan darinya. Nadhira selalu berusaha menjadi rumah dan tempat pulang adik iparnya. Seperti Reyhan dulu yang selalu menjadi tempat ternyaman untuk Farhan bercerita segala hal.
__ADS_1
“Papa nggak ke kantor?” tanya Nadhira seraya bangkit dan memberikan ruang untuk Papa duduk. Namun, pria itu justru menahannya.
“Nggak apa-apa kamu duduk saja di situ. Papa mau gendong cucu Papa,” ucap Papa dengan senyum semringah. Lantas, meraih tubuh Radit dari stroller. Ia gendong anak kecil itu dan merengkuhnya erat.
Nadhira memandangi salah satu bayi kembarnya, yaitu Radin. Bayi mungil itu memandang ke arah sang kakek yang tengah menggendong kakaknya. Hal itu sukses membuat Nadhira tersenyum gemas. Ia seperti merasakan bahwa anaknya itu untuk menginginkan hal yang sama. Lantas, ia raih tubuh Radin dan menggendongnya seperti apa yang dilakukan Papa terhadap Radit.
Nadhira dan Papa tak ada yang membuka suara setelahnya. Mereka asyik menimang bayi-bayi mungil di gendongan mereka.
Pandangan Papa jatuh ke arah tempat tidur di mana tubuh anak sulungnya terbaring. Ia memejamkan mata. Rasanya masih sangat menyakitkan melihat tubuh kekar Reyhan harus terbaring dengan alat-alat medis yang menempel di sana. Setelah itu, Papa teringat bahwa penyakit serupa juga bersarang di tubuh bayi yang tengah ia gendong. Ia mempererat pelukannya pada tubuh Radit. “Radit harus kuat kayak Ayah, ya, Sayang.”
Suara Papa yang terdengar lirih sampai di telinga Nadhira dan berhasil membuat kepala perempuan itu terangkat. Ia menatap ayah mertuanya dengan tatapan sayu. Ditangkap oleh sepasang netra perempuan itu wajah Papa tampak sendu. Begitu kontras dengan ketika Papa baru memasuki kamar. Wajah dengan senyum semringah itu musnah sudah.
Nadhira menghela napas panjang sebelum bergerak mengikis jarak dengan Papa. “Pa,” panggil Nadhira dengan tangan yang menyentuh lengan pria itu. Senyum manis terulum saat Papa menoleh ke arahnya. “Semua akan baik-baik saja kok, Pa,” ucap Nadhira berusaha meyakinkan. Kendati apa yang ia rasakan juga barangkali sama dengan Papa. Ada ketakutan-ketakutan yang mengganggu. Apalagi mengingat bahwa heart disease bukanlah penyakit yang bisa dianggap enteng. Namun, bukankah Nadhira juga harus memiliki keyakinan bahwa semua akan baik-baik saja seiring usaha dan do’a yang ia langitkan?
Papa menarik tubuh Nadhira dengan pelan. Lalu, membawa tubuh kecil perempuan itu ke dalam rengkuhannya. Persis seperti yang ia lakukan dulu pada Mama saat mendengar vonis dokter tentang kondisi kesehatan si sulung yang tidak normal. Papa ingin memberikan kekuatan untuk anak menantunya. “Papa yakin kamu adalah perempuan istimewa hingga diberikan cobaan seperti ini. Kamu adalah perempuan kuat, Ra.”
Lagi-lagi Nadhira mendengar kalimat yang sama. Kali ini dari bibir Papa. Mungkin ia harus mempercayai hal itu. Sebab, Tuhan tak akan memberikan cobaan jika ia tak mampu melewatinya. Baiklah. Nadhira lagi-lagi harus belajar menerima meskipun sulit. “Nadhira bisa sampai di titik ini juga salah satunya karena Papa. Karena, Papa sudah begitu hebat mengajarkan Nadhira tentang banyak hal. Terima kasih, Pa.”
__ADS_1
Lantas keduanya kembali terdiam. Memandangi sesosok tubuh di atas tempat tidur dan diiringi suara patient monitor yang setia berbunyi dengan konstan.