
Farhan dan Tio turun dari mobil yang sudah disewa di rental mobil untuk mereka gunakan sampai hari terakhir. Hari ini mereka sudah bekerja dengan ekstra. Sengaja mereka memadatkan jadwal agar mereka bisa lebih cepat kembali ke ibu kota.
“Mau cari makan dulu, nggak, Mas Farhan?” tanya Tio yang berjalan di samping Farhan.
Farhan hanya menganggukkan kepala dengan pelan. Ia memijat pangkal hidungnya untuk berusaha menghilangkan rasa pening yang sejak tadi mendera. “Saya bisa tunggu di kamar saja, nggak, Mas? Kepala saya pusing banget,” ucap Farhan tak berniat membohongi Tio. Ia merasa tidak akan bisa mengikuti Tio untuk ke luar mencari makanan.
Tio yang tadinya sibuk melihat ponselnya lantas menoleh. Ia melihat Farhan yang terlihat sedikit pucat dari sebelumnya. “Mas Farhan sakit?”
“Nggak apa-apa, Mas. Cuma sedikit pusing,” jawab Farhan. Ia lantas segera memasuki lift yang pintunya sudah terbuka dan akan membawanya dan Tio menuju kamar di lantai empat hotel berbintang itu. “Mungkin karena semalam saya susah tidur dan hari ini jadwal kita full banget, Mas,” lanjut Farhan seraya menyandarkan tubuhnya.
“Iya, Mas. Setelah ini mending Mas Farhan langsung istirahat saja, ya,” ucap Tio yang mulai khawatir dengan kondisi Farhan. Ia takut terjadi hal-hal buruk pada Farhan. Apalagi sekarang mereka sedang berada jauh dari ibu kota. Tentu susah untuk menjamah keluarga besar lelaki itu. Meskipun ia tahu tentang bagaimana hubungan Farhan dengan keluarganya yang tidak begitu harmonis seperti Reyhan.
Ting!
Pintu lift terbuka. Farhan dan Tio segera ke luar. Lalu, bergerak menuju kamar. Namun, sebelum sampai di tempat tujuan, tubuh perlahan limbung ke belakang. Beruntung Tio dengan sigap menahan bobot lelaki itu hingga tak sampai terjatuh menyentuh lantai. “Astaga, Mas Farhan!” Tio langsung mengalungkan lengan Farhan di lehernya dan menuntun lelaki itu menuju kamarnya dengan susah payah. Beruntungnya Tio bisa membawa tubuh itu sampai di atas pembaringan. Ia melihat wajah Farhan semakin pucat dengan butiran keringat yang bermunculan.
Hanya dalam hitungan detik setelah tubuh Farhan mendarat di tempat tidur. Tangan kanan Farhan bergetar hebat. Ia berusaha menutupi apa yang terjadi pada dirinya dengan membalik badan menjadi posisi tengkurap. Ia menindih tangannya. Namun, rupanya tak hanya tangannya saja yang mengalami seizure, tetapi hampir seluruh tubuhnya. Farhan mengerang. Ia tidak bisa mengontrol tubuhnya.
Tio yang baru kali ini melihat kondisi Farhan seperti saat ini pun mulai dilanda panik. Ia mencoba untuk menghentikan getaran tubuh Farhan dengan cara memeluknya. “Mas Farhan kenapa?” tanya Tio. Namun, yang ia dapati hanyalah suara erangan yang semakin kencang. Tio berusaha membalik badan Farhan. Dan betapa ia semakin terkejut dibuatnya. Darah mengalir deras dari hidung Farhan yang sukses membuat Tio semakin panik.
Tio berteriak sekencang yang ia bisa. “Tolong! Tolong!”
Suara teriakan Tio yang menggema berhasil menyita perhatian seorang petugas hotel. Ia masuk dan mendekat ke arah tempat tidur yang kini sudah ternodai oleh darah yang mengalir dari hidung Farhan.
“Tolong bantu saya, Mas. Saya harus membawa teman saya ke rumah sakit,” ucap Tio dengan pikiran yang sudah kacau. Ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Di otaknya hanyalah bagaimana ia harus membawa ke rumah sakit terlebih dulu agar Farhan mendapatkan penanganan yang tepat. Setelah itu, entah apa nanti tindakan yang akan diambil oleh Tio.
__ADS_1
˚˚˚˚˚
Tio berdiri setelah melihat pintu ruang UGD terbuka dan menampilkan sosok perempuan berjas snelli itu. Ia lantas mendekat. “Bagaimana kondisi teman saya, Dok?” tanya Tio.
“Di mana keluarga pasien? Saya harus bicara,” sahut dokter cantik itu.
“Keluarganya di Jakarta, Dok. Kami sedang dalam perjalanan pekerjaan,” terang Tio. “Tapi, saya dekat dengan keluarga pasien, Dok. Dokter bisa jelaskan tentang kondisi teman saya,” sambung Tio.
Dokter tersebut terdiam sejenak. “Pasien harus dirawat inap. Kondisinya benar-benar lemah.”
Tio menghela napas panjang. Ia mengusap wajahnya kasar dan menyugar rambutnya ke belakang. Ia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Otaknya benar-benar buntu. “Baik, Dok. Apa saya sudah bisa menemui teman saya?”
Dokter itu menganggukkan kepala dan membiarkan Tio memasuki ruangan.
“Saya harus hubungi Bu Mia,” ujar Tio saat melihat kondisi Farhan yang wajahnya sudah sepucat dinding rumah sakit. Namun, baru saja ia men-schroll ponselnya. Tangannya dicekal. Tio memandangi tangan itu dan beralih menatap Farhan.
“Tapi, kondisi Mas Farhan seperti ini. Papa dan Mama Mas Farhan harus tahu.” Tio masih keukeuh dengan pendiriannya. Bagaimana nanti jika terjadi hal buruk pada Farhan? Tentu ialah yang pasti akan disalahkan oleh keluarga lelaki itu.
“Saya punya alasan yang kuat kenapa sampai melakukan hal ini, Mas. Jadi, saya mohon jangan kasih tahu siapa-siapa tentang kondisi saya.”
Tio terdiam. Ia tidak bisa berkata-kata lagi mendengar kalimat yang terlontar dari bibir tanpa rona itu. “Terus saya harus bagaimana, Mas?”
“Mas Tio tetap jalankan pekerjaan Mas Tio. Saya nggak apa-apa sendiri di sini,” ucap Farhan. Ia kemudian menatap langit-langit ruangan dengan tatapan sendu. Andai saja ada Mama di dekatnya saat sakit seperti ini.
˚˚˚˚˚
__ADS_1
“Mama kenapa?” tanya Reyhan yang kini sudah bisa bicara dengan normal, karena ventilator yang memenuhi mulutnya sudah terlepas. Ia menyentuh punggung tangan Mama.
Pandangan Mama terangkat. Ia menatap si sulung yang baru membuka mata itu. Mama hanya mengulum senyum tipisnya untuk menjawab pertanyaan Reyhan. Ia tidak ingin melibatkan Reyhan dengan apa yang tengah ia rasakan saat ini. Bukannya Mama tidak bahagia dengan bangunnya Reyhan dari tidur panjang. Akan tetapi, ia juga tidak bisa membohongi diri bahwa saat ini pikirannya sedang tidak baik-baik saja. Entah kenapa perasaannya terasa tidak enak dan selalu terfokus pada Farhan. Sebenarnya apa yang terjadi dengan putranya yang satu itu?
“Farhan di mana, Ma?” tanya Reyhan lagi karena belum juga melihat atensi adiknya. Ia ingin menanyakan tentang mimpi yang ia alami dan membuatnya terbangun itu.
“Farhan sedang di luar kota. Mungkin akan pulang dua hari lagi,” jelas Mama. “Sekarang Farhan sama seperti kamu, Nak. Dia selalu bekerja keras untuk perusahaan. Persis banget seperti kamu,” lanjut Mama dengan senyum bangga. Ya, Mama tidak berbohong. Ia bisa melihat sendiri bagaimana perjuangan Farhan untuk membuktikan bahwa ia bisa menjadi seperti yang Papa mau. Farhan berjuang hebat hanya untuk sebuah pengakuan dari sang ayah.
Tatapan Reyhan berbinar. Ia senang mendengar apa yang diucapkan Mama. Rupanya banyak perubahan dari Farhan yang sudah ia lewatkan sejauh ini. “Jadi, sekarang Farhan sudah benar-benar bekerja di kantor, Ma?”
Mama mengangguk dengan cepat. Semakin Reyhan mengajaknya membahas tentang Farhan. Semakin perasaan tidak enak menggebu-gebu. Dalam hati ia berdo’a semoga putra keduanya itu baik-baik saja.
Reyhan melihat Mama kembali terdiam. Ia tidak percaya bahwa Mama baik-baik saja. “Ma, meskipun Reyhan tertidur lama. Bukan berarti Reyhan sudah lupa dengan sikap Mama,” ucap Reyhan untuk menarik kembali perhatian Mama. “Reyhan tahu Mama pasti sedang memikirkan sesuatu.”
Mama menghela napas panjang. Jika Reyhan sudah mengatakan hal demikian, ia sudah tidak bisa lagi berbohong. “Sebenarnya, Mama kepikiran sama Farhan. Entah kenapa perasaan Mama tidak enak,” ujar Mama akhirnya mengungkapkan perasaan yang sebenarnya.
“Mending Mama hubungi Farhan dulu. Pastikan kondisinya baik-baik saja, Ma,” ucap Reyhan yang juga mulai khawatir. Apalagi mengingat mimpi yang membuatnya terbangun tadi.
Mama menganggukkan kepala dengan cepat. Ia kemudian membuka ponselnya dan mencari kontak Farhan. Ia mencoba untuk menghubungi. Namun, apa yang didapatkan Mama? Kontak Farhan tidak bisa dihubungi. Mama mencoba beberapa kali dan hasilnya selalu sama.
“Bagaimana, Ma?”
Mama menggelengkan kepala. “Nggak aktif.”
“Ya sudah Mama mending tenang dulu. Nanti Mama coba hubungi Farhan lagi,” ucap Reyhan berusaha menenangkan Mama.
__ADS_1
“Farh, kamu baik-baik saja ‘kan, Dek?” lirih Reyhan dalam hati.