
Ini adalah malam pertama Reyhan kembali tidur di kamarnya setelah terbangun dari tidur panjang. Kini bisa menikmati ruangan yang selalu menjadi tempat paling nyaman untuk beristirahat itu. Tak banyak yang berubah dari setiap inci kamar itu. Hanya ada tambahan figura di dinding, yaitu figura sepasang bayi kembarnya. Hal itu membuat Reyhan mengulum senyum manisnya. Sekarang tatkala iamembuka pintu kamar, figura itulah yang akan menyambut kedatangannya untuk pertama kali. Lalu, ia akan merasa terhipnotis untuk mengulum senyum lebar dan hatinya akan menghangat seketika. Apabila ia lelah, tentu lelahnya akan menguar begitu saja. Sama seperti dulu ketika ia lelah dan Nadhira akan memeluknya.
“Aku bantu, ya,”ucap Nadhira menawarkan diri untuk membantu Reyhan berpindah dari kursi roda ke atas tempat tidur.
Reyhan yang sadar diri akan kondisinya yang belum stabil pun menganggukkan kepala. Ia mengalungkan lengannya di leher Nadhira. Lalu, bangkit perlahan dan berpindah ke tempat tidur. “Terima kasih, ya, Sayang,”ucapnya pada Nadhira setelah berhasil berpindah tempat. Ia kemudian memposisikan diri bersandar dengan nyaman pada dashboard tempat tidur.
Perempuan dalam balutan gamis dengan jilbab instan itu hanya mengukir senyum manisnya. Ia lalu duduk di bibir tempat tidur dan mulai menggerakkan tangan memijat kaki suaminya agar terasa lebih baik dan tidak kebas lagi. Nadhira lalu mengangkat pandangan dan menatap Reyhan yang hanya terdiam seraya menatapnya. Alis Nadhira terangkat. “Kenapa?”
“Kamu cantik banget, Al.”
Nadhira tersipu. Selalu saja seperti itu setiap kali Reyhan memujinya. Bukankah seharusnya ia sudah terbiasa dengan pujian suaminya? Mengingat usia pernikahan mereka sekarang sudah menginjak lebih dari dua tahun. Ya, harusnya memang begitu. Akan tetapi, hal itu tidak berlaku pada perempuan pemilik nama lengkah Nadhira Aleeana Prayuda tersebut. Selalu saja ia rasakan pipinya panas dan sudah pasti akan memerah seperti kepiting rebus jika sudah dipuji oleh lelaki yang menjabat tangan ayahnya dan berikrar di hadapan Tuhan untuk menjadikannya sebagai pendamping hidup.
Reyhan menarik tangan istrinya dan meminta Nadhira untuk semakin mendekat. Nadhira lalu melakukannya. Ia duduk tepat di samping Reyhan bahkan tanpa jarak. Lalu, membiarkan Reyhan menjamah pipinya dengan lembut. Sungguh ini adalah perlakuan manis Reyhan yang sudah teramat ia rindukan. Nadhira memejamkan sepasang netranya untuk menikmati lebih dalam elusan lembut jemari sang suami. Tak ada yang berubah dari perasaannya jika sudah mendapatkan salah satu perlakuan manis Reyhan itu. Hatinya selalu menghangat, perasaannya tenang, dan ia merasa sangat disayangi. Sesederhana itu perlakuan yang dibutuhkan Nadhira untuk merasa diistimewakan. Ia tak butuh tas mewah dan branded. Juga tak butuh perhiasan cantik atau mobil mewah. Tidak!
Reyhan menangkup wajah istrinya dengan kedua tangan. Lalu, ia sendiri mendekatkan wajahnya ke wajah Nadhira dengan mata yang ikut terpejam dan bersiap-siap untuk mencium perempuan itu. Jarak antara wajah Reyhan dan Nadhira semakin dekat hingga hidung mereka saling bersentuhan satu sama lain. Mereka bisa merasakan deru napas masing-masing sudah menyentuh permukaan kulit wajah. Dan …
Suara tangis bayi itu terdengar. Hal itu membuat Reyhan dan Nadhira refleks membuka kelopak mata mereka yang terkatup. Mereka saling menatap beberapa saat. Lalu, menoleh ke arah box bayi di mana Nadhira menidurkan bayinya. Keduanya lantas menghela napas berat. Mungkin bayi mereka masih belum mengizinkan orang tua mereka untuk mengadu keromantisan.
“Radit nangis. Sebentar, ya,”ucap Nadhira seraya menyentuh punggung tangan Reyhan dan Reyhan hanya menganggukkan.
__ADS_1
Dari tempat tidur Reyhan memperhatikan setiap pergerakan yang dilakukan Nadhira saat mengangkat salah satu bayi kembarnya dari box bayi. Reyhan tersenyum melihatnya. Istrinya begitu teliti menjalankan tugasnya sebagai seorang ibu. Namun, senyum Reyhan tak berlangsung lama terbitnya. Sebab, suara tangisan bayi semakin kencang. Hal itu membuat bayi satunya lagi yang masih terlelap dan ikut terjaga seraya menangis kencang. Reyhan ingin sekali bangkit untuk membantu Nadhira menenangkan bayi mereka. Akan tetapi, tubuh Reyhan masih tidak bisa diajak untuk bekerja dengan baik. “Al, bawa Radit ke sini. Biar aku yang timang,”ujar Reyhan. Ia kasihan melihat Nadhira yang kesusahan untuk menenangkan bayi mereka yang entah kenapa tiba-tiba rewel.
Nadhira tanpa berpikir panjang lalu membawa Radit pada Reyhan. Ia dengan pelan-pelan menyerahkan si kecil pada ayahnya. “Kakak bisa, nggak?”tanya Nadhira. Ia bukannya tidak percaya pada sang suami. Hanya saja Nadhira takut jika Reyhan nanti justru salah langkah saat menimang bayi mereka. Namun, melihat anggukan pasti itu membuat Nadhira yakin bahwa Reyhan pasti bisa melakukannya dengan baik. Apalagi mengingat Reyhan yang memiliki adik kecil di saat usianya sudah cukup dewasa. Tentu saja Reyhan akan terbiasa.
Nadhira kemudian berlari cepat mendekati box bayi yang ditempati Radin. Melihat hal itu membuat Reyhan sendiri merasa khawatir karena takut Nadhira akan terjatuh. “Apa setiap malam kamu harus seperti ini, Al? Mengurus si kembar sendiri,”lirih Reyhan di dalam hati. Ia merasa kasihan. Ternyata begitu berat hari-hari yang dijalani Nadhira selama ia tertidur. Reyhan merasa bersalah.
Saat Nadhira berusaha menenangkan Radit. Reyhan hanya bisa memandangi wajah bayi di dalam gendongannya. Ia elus pipi bayi itu dengan lembut hingga dengan cepat merasa tenang dan tak lagi menangis. Entah kenapa Reyhan yang justru mulai menitikkan air matanya melihat bayi mungil di dalam gendongannya. Begitu baik Tuhan memberikannya kesempatan untuk menimang bayinya. Tuhan sudah mengabulkan do’anya untuk memberikan kesempatan menikmati perannya sebagai seorang ayah. Melihat tumbuh kembang bayinya.
Reyhan mencium berulang kali wajah putranya. Ia semakin terisak hingga isakannya terdengar jelas. Tak peduli jika isakan itu akan sampai di telinga istrinya. Sungguh ia tidak bisa menahan air mata bahagia itu.
“Kakak kenapa?”tanya Nadhira masih dengan posisinya yang berdiri karena Radit yang belum tenang sepenuhnya. Ia menyentuh puncak pundak suaminya dengan perasaan khawatir karena Reyhan yang tiba-tiba saja menangis. Ia takut ada rasa sakit yang lagi-lagi dirasakan lelaki itu hingga membuat isakannya begitu jelas terdengar.
Apa yang Nadhira dengar dari bibir merah muda itu membuat Nadhira merasa lega. Setidaknya, kekhawatirannya itu tak terjadi. Nadhira tersenyum manis. “Kakak pantas mendapatkan ini. Karena, Allah tahu kalau Kakak sangat membutuhkan dan menginginkan kesempatan ini,” ujar Nadhira. Merasa Radit yang juga sudah mulai tenang. Nadhira pelan-pelan mendaratkan bokongnya di pinggiran tempat tidur. Ia kemudian menyeka air mata Reyhan dengan tangan kosong. “Sudah, ya, nangisnya. Nih, si kembar saja sudah nggak nangis lagi,”ucapmNadhira dan lagi-lagi mengulum senyumnya.
Lalu, dengan patuhnya Reyhan menganggukkan kepala. Ia juga langsung menyeka air matanya dengan punggung tangan. “Terima kasih sudah melahirkan bayi-bayi tampan ini, Sayang.”
Meski Nadhira tersenyum manis. Namun, hatinya justru merasa tercubit mendengar ucapan terima kasih suaminya mengingat fakta yang ia dapatkan tentang kesehatan Radit. Bagaimana mungkin Nadhira akan menceritakan kenyataan itu pada Reyhan jika akan membuat suaminya sedih dan menangis lagi? Namun, mustahil juga bagi Nadhira untuk menyembunyikan terus menerus tentang kondisi Radit. Biar bagaimana pun, Reyhan juga orang tua Radit. Reyhan berhak tahu. Ya, mungkin untuk sementara Nadhira tidak akan membahas itu dulu sampai kondisi Reyhan benar-benar stabil.
“Kamu kenapa diam?”tanya Reyhan yang tak mendapatkan tanggapan dari istrinya.
__ADS_1
“Oh, tidak apa-apa, Kak. Aku cuma lagi mikirin panggilan yang tepat untuk kita dari si kembar. Kira-kira apa, ya?”jawab Nadhira berbohong. Ia hanya beralibi saja.
Reyhan tertawa kecil. “Kamu maunya dipanggil apa? Mama, Bunda, Mami atau?”
“Ibu,”jawab Nadhira dengan cepat. Entah kenapa panggilan Ibu begitu melekat di dalam hati perempuan itu. Ia bahkan sampai membayangkan bagaimana anak-anaknya nanti akan memanggilnya dengan sebutan ibu.
“Bagus juga. Biar nggak sama dengan panggilan Mama dan Bunda, ya.”
Nadhira mengangguk. “Kakak mau dipanggil apa?” tanya Nadhira balik.
“Papap,”balas Reyhan.
“Kenapa Papap?”
“Biar kedengarannya keren,”jawab Reyhan dan tertawa lebar.
Nadhira juga tak urung ikut tertawa mendengar jawaban konyol suaminya. “Ibu dan Papap. Bukan panggilan yang buruk juga,”ujar Nadhira. Lalu, pikirannya mulai jauh ke masa depan. Memikirkan bagaimana ia dan Reyhan akan membesarkan bayi-bayinya hingga bayi mereka bisa memanggil dengan panggilan yang sudah ia buat bersama Reyhan. Pasti akan sangat menyenangkan dan membuat hatinya bahagia.
Nadhira dan Reyhan menikmati perannya bersama-sama sebagai orang tua dengan menimang si kecil bersama untuk pertama kali.
__ADS_1