
“Mas, kita mau ke mana sih? Harus segala pakai tutup mata kayak gini,” ucap Finza yang hanya bisa mengikuti arahan kekasihnya. Ia tidak tahu kejutan apa yang ingin diberikan oleh Farhan padanya. Sejak ia mengetahui tentang kondisi Farhan, lelaki itu mulai menunjukkan sikap manisnya. Hal itu jujur saja membuat Finza kadang takut. Takut jika Farhan hanya ingin memberikan banyak kenangan manis. Lalu, pergi meninggalkannya begitu saja. Sebut saja Finza terlalu over thinking atau mendahului takdir. Namun, ia juga tidak bisa memungkiri bahwa ia memang takut.
“Sudah, Ikut saja. Nanti kamu juga akan tahu sendiri,” jawab Farhan dengan santai.
Finza hanya bisa menghela napas panjang. Ia kemudian mengikuti saja ke mana Farhan akan membawanya. Hingga tidak lama kemudian Farhan berhenti dan membuka kain hitam yang digunakan untuk menutup matanya. Perlahan Finza membuka kelopak matanya dan menyesuaikan penglihatannya. Sontak mulut Finza terbuka lebar saat melihat tempat yang sudah didekorasi dengan begitu cantik. Dan satu lagi yang membuat Finza tidak percaya. Ada Nadhira yang sudah berdiri dengan bergandengan tangan bersama Reyhan. Ya, cukup lama ia tidak bertemu dengan sahabatnya itu. Bohong jika Finza tidak merindukan Nadhira. Air matanya tiba-tiba jatuh. Ia terharu atas kejutan yang diberikan Farhan untuknya. “Mas.” Hanya itu yang bisa diucapkan Finza. Setelah itu, isakannya mulai terdengar.
Farhan tertawa kecil melihat polah Finza. Ia berpikir kenapa perempuan-perempuan yang ada di sekitarnya itu cepat sekali menangis. Bahkan, untuk hal-hal yang bagi Farhan harusnya diterima dengan senyum lebar. Ia menyentuh puncak kepala Finza seraya berucap, “Jangan nangis kayak gitu. Kamu nggak malu dilihat sama Kakak dan Kak Nadhira, hm?”
Dengan cepat Finza menghapus sisa air matanya yang menjejak di pipi. Kemudian, ia tersenyum lebar dan menatap ke arah sepasang suami istri yang sudah menunggu di sebuah meja dengan sajian makanan yang sudah rapi itu. Lantas, bergerak mendekat lebih dulu. Dipeluknya Nadhira dengan erat seraya mengucapkan kata rindu pada sahabatnya itu. “I miss you, Ra.”
Nadhira membalas pelukan sahabatnya. Seperti Finza, ia juga merindukan perempuan itu. Sejak berumah tangga, ia mulai jarang menghabiskan waktu dengan Finza. Apalagi setelah Mikayla juga menikah dengan Bara.
“Jadi, ini ceritanya double date?” tanya Reyhan dan menarik perhatian orang-orang yang ada di tempat itu. Kemudian, ia tertawa ketika mendapatkan anggukan dari sang adik. Ya, tentu saja apa yang ada saat ini adalah usaha dari Farhan. Bahkan, sebelumnya Farhan tidak mengatakan akan mengadakan double date. Farhan hanya mengajak Reyhan dan Nadhira untuk makan malam biasa di luar. Dan Reyhan pun tidak mencurigai adiknya sama sekali.
Farhan tersenyum lebar dan merasakan hatinya menghangat mendengar tawa ketiga orang yang tengah bersamanya itu. Sampai waktu itu tiba, yang Farhan inginkan adalah menciptakan kebahagiaan untuk orang-orang terkasihnya. Termasuk Papa yang meskipun sampai detik ini masih melihatnya dengan sebelah mata dan memandangnya berbeda dengan Reyhan. Ia akan berusaha mengenyahkan egonya yang selama ini ia junjung tinggi hingga membuat hubungannya dengan Papa tak juga kunjung membaik. Ia tidak meninggalkan dosa-dosa pada orang tuanya. Cukuplah bagi Farhan meninggalkan kenangan manis yang patut dikenang jika ia sudah kembali ke pangkuan Ilahi. Cukuplah hanya nama baik yang terpatri di dalam ingatan.
“Kukira adikmu nggak bisa romantis, Kak,” ucap Nadhira pada Reyhan. Namun, lirikannya justru jatuh pada adik iparnya yang berdiri di samping Finza. Lantas, ia tertawa kecil ketika melihat sang adik ipar yang tersipu malu. Bagi Nadhira yang mengetahui perjuangan adik iparnya, ia bahagia melihat senyuman Farhan. Ia berharap senyum itu tidak akan luntur. Sebab, ada kebahagiaan orang lain bergantung pada secarik senyum dari bibir pucat milik Farhan.
__ADS_1
Farhan menuntun tubuh kekasihnya untuk duduk pada sebuah kursi. Lalu, ia menyusul.
Makan malam romantis dua pasangan itu berjalan dengan hangat. Banyak tawa yang tercipta. Hingga satu peristiwa mengakhiri tawa itu. Sendok yang berada di tangan Farhan jatuh begitu saja. Jika Reyhan langsung menatap lantai. Tidak dengan Nadhira dan Finza. Dua perempuan itu menatap ke arah tangan Farhan yang bergetar. Namun, Farhan dengan cepat menggenggam kuat tangannya. Beruntung sekali Farhan bisa mengatasi getaran yang tiba-tiba muncul itu. Mungkin Tuhan masih memberikannya kesempatan untuk menyembunyikan sakitnya dari Reyhan.
“Hati-hati, Dek,” ucap Reyhan yang tidak tahu menahu tentang apa pun. Kecuali, insiden sendok yang dijatuhkan oleh adiknya.
“Iya, Kak,” jawab Farhan dan mencoba biasa saja. Ia kemudian menatap bergantian Nadhira dan Finza. Lantas, mengulum senyum sebagai isyarat semuanya baik-baik saja.
Nadhira memandang Finza yang duduk di kursi yang berseberangan dengannya. Melihat ekspresi yang ditunjukkan sahabatnya itu membuat Nadhira berpikir. Apakah Finza sudah tahu semuanya?
Makan malam usai. Namun, tak serta merta membuat kedua pasangan itu meninggalkan tempat. Mereka membawa topik sebagai bahan perbincangan. Hingga suara dehaman Farhan terdengar dan mengalihkan perhatian semuanya.
Semua mata tertuju pada lelaki berbalut kemeja hitam itu.
“Ada yang ingin Farhan katakan,” ucap Farhan seraya melayangkan pandangan pada Nadhira, Reyhan, dan Finza secara bergantian. Lalu, Farhan mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. “Farhan ingin Kakak dan Kak Nadhira menjadi saksinya.” Farhan lalu memposisikan diri menghadap Finza yang duduk tepat di sampingnya.
“By, aku tahu aku bukan lelaki sempurna. Aku juga tidak tahu apakah aku mampu membahagiakanmu sampai nanti. Tapi, sebelum waktu itu tiba, izinkan aku berada di sampingmu untuk menciptakan kebahagiaan untukmu,” ucap Farhan dengan serius.
__ADS_1
Nadhira yang mendengar ucapan adiknya refleks menyentuh lengan Reyhan. Jujur saja ia terharu pada adik iparnya itu. Beberapa hari tergempur rasa dilema, kini Farhan sudah bisa menentukan langkah meski Farhan tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan. Mengingat kondisinya yang semakin tidak baik-baik saja.
“Di hadapan Kakak dan Kak Nadhira, aku ingin mengatakan. Will you marry me?” Farhan lalu membuka kotak beludru yang berisi sebuah cincin berlian yang cantik.
Finza membekap mulutnya sendiri. Ia speechless dengan apa yang terjadi saat ini. Lalu, ia memandang ke arah sahabatnya yang sudah tersenyum dengan lebar. Lalu, ia lihat juga Nadhira menganggukkan kepala.
Sejenak Finza menatap kotak beludru tersebut. Lalu, menganggukkan kepala. Ia menjulurkan tangan kirinya untuk kemudian membiarkan Farhan menyematkan cincin tersebut ke jari manisnya.
“Wah! Selamat, ya, Za,” ucap Nadhira seraya bangkit dan mendekati Finza. Lantas, ia peluk tubuh sahabatnya itu dengan erat.
Begitu juga dengan Reyhan. Ia berjalan dan mendekati adiknya. “Selamat, ya, Dek.”
Namun, Farhan tak begitu jelas mendengar apa yang dikatakan Reyhan karena telinganya tiba-tiba berdengung. Pandangannya pun juga ikut memburam. Kepala terasa berputar. Akan tetapi, Farhan tidak bisa menunjukkannya di hadapan yang lain dan menghancurkan suasana bahagia saat ini.
“Aku seperti mencium aroma nikah muda nih,” goda Nadhira yang membuat Finza tersipu. Sedang Farhan hanya tersenyum tipis. Nadhira memperhatikan lagi dengan lekat wajah adik iparnya. Lalu, ia menghela napas panjang. Ia tahu apa yang saat ini terjadi pada Farhan. Ia tahu Farhan hanya memaksa diri.
“Sekarang kamu sudah punya alasan lain untuk berjuang lebih, Farh. Kamu kuat kok. Kakak yakin,” lirih Nadhira dalam hati.
__ADS_1
“Kamu kuat, Farhan. Kamu kuat. Kamu nggak boleh nyerah,” ucap Farhan dalam hati pada dirinya sendiri.