Napas Baru

Napas Baru
Chapter 28


__ADS_3

Bola mata di balik kelopaknya yang terkatup rapat itu bergerak. Lenguhan pelan pun tak urung terdengar. Tangan yang tertusuk jarum infus itu jarinya juga ikut bergerak. Tak lama setelah itu terbukalah dengan pelan kelopak mata yang terkatup selama dua hari itu. Pemiliknya memicingkan mata untuk menyesuaikan cahaya yang masuk dan tertangkap retina. Lalu, yang pertama kali tampak adalah langit-langit ruang dengan nuansa putih bersih. Ini bukan kamarnya atau kamar hotel, pikir lelaki di dalam balutan pakaian rumah sakit itu.


Bola matanya bergerak liar menatap sekeliling. Lalu, sebuah embusan napas kasar dari mulut terdengar. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Sebab, terakhir yang ia ingat adalah penyakit sialan yang bersarang di tubuhnya itu kembali kambuh setelah menyelesaikan meeting. Setelah itu, ia tidak mengingat apa pun lagi.


"Alhamdulillah, ya Allah. Mas Farhan sudah siuman."


Sontak tatapan Farhan terlempar ke arah pintu ruangan. Ia melihat sosok Tio yang bergerak cepat mendekat dengan ekspresi penuh syukur.


"Sudah berapa lama saya di sini, Mas?" tanya Farhan.


"Sudah dua hari Mas Farhan tidak sadarkan diri. Saya takut, Mas," tutur Tio. Ia tidak berbohong. Ia benar-benar takut. Apalagi ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia tidak menghubungi siapapun, karena masih memegang janjinya pada Farhan untuk tidak memberitahu siapapun juga. Di sisi lain, ia takut jika terjadi hal buruk pada Farhan. Maka, siapa lagi yang akan disalahkan oleh keluarga Oktara jika bukan dirinya?


Farhan mengusap wajahnya kasar. Dua hari. Itu artinya ia sudah menunda kepulangannya bersama Tio ke ibu kota. "Siapa saja yang tahu tentang kondisi saya, Mas?" tanya Farhan. Ia takut jika Tio sudah membocorkan kondisinya pada keluarganya. Beruntung jika Tio hanya memberitahu Nadhira. Akan tetapi, bagaimana jika sekretaris kakaknya itu justru sudah memberitahu Papa? Ah, bisa-bisa semuanya bermasalah.


"Saya tidak memberitahu siapapun sesuai permintaan Mas Farhan," jawab Tio dengan jujur.


Seketika Farhan bisa bernapas lega. Meski setelah ini ia tentu harus mencari alasan untuk menjawab pertanyaan orang-orang tentang kepulangannya yang terkesan terlambat. Ia lalu mengingat Tio yang harusnya sudah berada di Jakarta. Apalagi Tio tidaklah seperti dirinya yang belum membangun rumah tangga. "Mas Tio, maaf," ucap Farhan penuh rasa bersalah.


"Maaf untuk apa, Mas?" Tio bingung mendengar Farhan yang tiba-tiba meminta maaf padanya.


"Maaf karena harus membuat Mas Tio terlambat pulang."


Tio mengangguk paham. Ia kemudian tersenyum manis dan tulus. "Nggak apa-apa kok, Mas. Mas Farhan jangan merasa bersalah seperti itu. Saya sudah mengabari istri saya kalau saya akan terlambat pulang dari hari yang sudah ditentukan."

__ADS_1


"Terima kasih, ya, Mas."


Tio hanya menganggukkan kepala.


"Mas, ponsel saya di mana, ya?"


Tio mengambil ponsel milik Farhan yang ia simpan di dalam tasnya. Kemudian, menyerahkan benda yang dalam kondisi gelap itu pada tuannya. "Ini, Mas."


Farhan dengan cepat mengambil alih ponsel canggihnya dan menyalakannya. Sebelum kesadarannya benar-benar hilang, ia sempat mematikan ponselnya agar tidak ada yang menghubunginya. Jika tidak, mungkin akan banyak panggilan masuk dari keluarga atau kekasihnya. Ah, Farhan pasti sudah membuat khawatir Finza.


Notifikasi pesan masuk berjibun. Farhan membiarkan dulu ponselnya bergetar hingga notifikasi berakhir. Lalu, ia pandangi benda tersebut dan mengembuskan napas kasar. Terlalu banyak notifikasi pesan dari orang-orang kantor. Ia malas jadinya. Namun, dua pesan lain justru menyita perhatiannya. Dengan cepat Farhan membuka dua pesan tersebut.


Farhan kehilangan kata-kata. Ia membekap mulutnya sendiri dengan tangannya. Apakah ia sedang bermimpi? Tolong, siapapun bantu Farhan untuk sadar.


"Mas Tio," panggil Farhan dengan tatapan berkaca-kaca dan nada suara bergetar. Hal itu membuat Tio kembali dirundung rasa khawatir.


Farhan masih tidak bisa berkata-kata. Ia kemudian menunjukkan pesan yang dikirimkan Nadhira untuknya. "Farhan nggak salah lihat 'kan, Mas? Farhan nggak lagi mimpi, 'kan?" tanya Farhan berusaha memastikan bahwa pesan yang ia terima memang benar.


Seperti Farhan, Tio juga sedikit kaget membaca pesan yang dikirimkan istri dari bosnya itu. Namun, dala hati ia juga bersyukur dengan kabar bahwa Reyhan kini sudah bangun tidur panjangnya. Tio juga tidak lupa berterima kasih pada Tuhan atas kabar baik itu.


"Mas, kapan kita pulang? Farhan mau ketemu Kakak," ucap Farhan yang tidak sabar ingin segera menemui kakaknya. Tiga bulan hanya ia lewati dengan rindu berbicara dengan sang kakak. Tiga bulan berlalu dengan begitu berat. Apalagi dengan banyak problem yang terjadi setelah menggantikan posisi Reyhan selama ini. Rasanya Farhan sudah ingin menumpahkan keluhan dan rasa lelahnya pada Reyhan sekarang juga. Ia ingin segera mengurangi beban berat yang ada di dalam dirinya.


Tio terdiam. Tak bisa menjawab pertanyaan lelaki itu. Mengingat penjelasan dokter yang menangani Farhan saat baru datang di rumah sakit membuat Tio berpikir Farhan akan lebih lama menghabiskan waktu di rumah sakit. "Mas Farhan bisa pulang jika kondisi Mas Farhan cepat stabil."

__ADS_1


"Apa yang dikatakan dokter sama Mas Tio?"


"Hm, dokternya bilang agar Mas Farhan segera menjalani prosedur pengobatan lanjutan sebelum terlambat," jawab Tio ragu-ragu. Sebenarnya, ia berpikir bahwa ini bukanlah waktu yang tepat untuk menceritakan kenyataannya pada Farhan. Hanya saja jika ia tidak mengungkapkan apa yang dikatakan dokter, Farhan pasti akan memaksanya juga. Lagi pula, pada siapa Tio akan bercerita? Pada keluarga Oktara? Tidak bisa. Mereka bahkan tidak tahu menahu tentang kondisi Farhan yang sesungguhnya.


Farhan sudah menduga bahwa hal itulah yang dikatakan dokter pada Tio. Sebab, hal yang sama juga pernah diungkapkan oleh dokter yang menangani kasusnya di Jakarta. Namun, Farhan belum siap dengan side effect yang akan terjadi jika ia mengambil langkah untuk melakukan pengobatan lanjutan. Bisa saja side effect yang akan ia alami membongkar sendiri rahasia yang ia sembunyikan rapat-rapat dari keluarga besarnya, kecuali Nadhira.


"Farhan mau pulang, Mas. Farhan minta tolong urus kepulangan sekarang juga," putus Farhan. Percuma juga ia berlama-lama di rumah sakit jika hasilnya tetap saja sama. Ia tidak akan sembuh hanya dengan mendapatkan suntikan infus saja. Dan berlama-lama di luar Jakarta juga pasti akan menimbulkan pertanyaan besar bagi keluarganya.


"Apa tidak sebaiknya kita tunggu saja kondisi Mas Farhan membaik dulu?" Tio berusaha memberikan pertimbangan. Namun, Farhan langsung menggelengkan kepala sebagai bentuk penolakan. Lalu, apa yang bisa dilakukan Tio selain menerima saja keputusan adik bosnya itu. Meski ia prihatin dengan kondisi Farhan, tetapi Tio juga tidak punya kuasa untuk memaksakan kehendaknya menahan Farhan lebih lama di rumah sakit.


"Farhan bisa mendapatkan pengobatan juga nanti di Jakarta, Mas," ucap Farhan. Ia tidak berbohong. Dokter yang menanganinya sudah pasti siap memberikan penanganan terbaik untuknya. Hanya saja, ia sendiri yang belum siap. Lagi pula, kemungkinan untuk sembuh pun sudah kurang dari lima puluh persen. Namun, untuk menyerah pun Farhan tidak bisa. Masih banyak hal yang belum ia lakukan untuk membanggakan keluarganya, terutama sang ayah.


Tio berlalu meninggalkan Farhan di dalam ruangan. Lalu, detik itu juga air mata Farhan runtuh dengan sendirinya. Ia tidah tahu pasti apa yang tengah ia tangisi sekarang. Sebab, beban yang ada di dalam dirinya terlalu banyak dan menjejal. Ia tidak bisa mengatakan pada siapapun tentang bebannya. Bahkan, pada sang kakak ipar yang selama ini menjadi penolongnya. Padahal, ia masih mengingat betul bagaimana Nadhira yang mengatakan dirinya siap untuk mendengarkan keluh kesahnya. Akan tetapi, tidak mudah untuk membagikan bebannya pada Nadhira. Farhan sadar bahwa Nadhira juga tak sekuat apa yang perempuan itu tunjukkan di hadapan keluarga. Nadhira juga rapuh dengan kondisi Reyhan. Namun, sekarang Nadhira pasti sedang berbahagia.


Farhan menyeka air matanya dengan kasar. Ia kemudian mencoba untuk mengulum senyumnya. Untuk apa juga ia menangis? Bukankah tangisannya tidak akan pernah bisa membuatnya lebih baik?


Setelah ini, Farhan akan mempersiapkan diri untuk kembali ke Jakarta. Bertemu lagi dengan sosok yang ia jadikan role model dalam hidupnya sejak ia memilih untuk ikut bergelut di dunia yang selalu menjadi tempat paling dipuji oleh Papa. Adalah dunia bisnis. Padahal, jiwa Farhan tidak pernah jatuh di dunia tersebut. Namun, apalah daya Farhan yang hanya bisa mengikuti keinginan ayahnya saja. Ah, sudahlah.


"Kakak sudah bangun, ya. Tunggu Farhan pulang, Kak. Ada banyak hal yang ingin Farhan ceritakan sama Kakak," monolog Farhan. Ia menatap langit-langit ruangan dan mengulum senyum versi terbaiknya. Senyum yang akan ia tebar nanti saat tiba di rumah dan melihat orang-orang terkasihnya. Ah, Farhan semakin tidak sabar untuk tiba di ibu kota.


...•••••...


Di tempat berbeda. Nadhira tersenyum lebar melihat pesan yang ia kirimkan untuk Farhan sudah terbaca. Itu artinya Farhan sudah tahu tentang kondisi terkini Reyhan. Perempuan itu langsung membayangkan bagaimana senyum bahagia adik iparnya. Selain dirinya yang berharap besar untuk kembalinya Reyhan, mungkin Farhan adalah orang kedua yang menginginkan hal itu. Ia beberapa memergoki adik iparnya menangis di samping Reyhan seraya mengeluhkan segala bebannya. Hal itu membuat Nadhira merasa sangat kasihan.

__ADS_1


Tak cukup hanya tentang beban dari pekerjaan yang sekarang digeluti Farhan. Adik iparnya itu juga menyimpan beban besar lain yang penuh kesakitan. Adalah penyakit yang bersarang di dalam tubuh Farhan dan selalu membuat lelaki itu sakit. Nadhira sendiri tidak tahu harus bagaimana. Ia terjebak pada sebuah posisi paling rumit. Bercerita pada keluarga besar sama dengan meminta Farhan untuk pergi. Tidak bercerita pun membuat Nadhira merasa berdosa. Namun, sekali lagi, posisi Nadhira benar-benar rumit.


Nadhira menghela napas panjang. Ia sendiri merasa sesak jika sudah memikirkan hal itu. Entah setelah ini, setelah kembalinya Reyhan dari tidur panjangnya, ia tidak tahu apa yang akan terjadi. Entah hal yang lebih baik dari sebelumnya atau memang sebaliknya. Namun, yang bisa Nadhira pastikan adalah keluarga Oktara pasti akan diselimuti rasa sedih jika kondisi Farhan sudah terungkap. Ya, kondisi yang masih coba disembunyikan, tetapi cepat atau lambat pasti akan terbongkar juga.


__ADS_2