Napas Baru

Napas Baru
Chapter 48


__ADS_3

“Hei!” Reyhan memeluk tubuh Nadhira yang sedang menyisir rambutnya dari belakang. Ia kemudian mencium puncak kepala istrinya dengan sayang.


Nadhira tersenyum manis dan memandang suaminya dari cermin rias. Ia kemudian mengelus puncak kepala Reyhan dengan lembut. Setelah itu, ia melepaskan pelukan suaminya dan membalik badan. Nadhira bangkit. Ia lingkarkan tangannya di tubuh Reyhan. “Mau istirahat sekarang, nggak?” tanya Nadhira dengan lembut.


Reyhan mengelus puncak kepala istrinya. Ia kemudian memeluk tubuh Nadhira dengan erat. “Nanti saja. Aku ingin menghabiskan waktu untuk bercerita denganmu. Terlalu banyak hal yang belum aku tahu selama aku koma, ‘kan?” Reyhan merasakan kepala istrinya mengangguk di dalam pelukan. “Kamu mau cerita sama aku, nggak?”


“Tentu saja,” jawab Nadhira. Ia mengangkat pandangan hingga tatapannya bertemu dengan Reyhan.


Reyhan kemudian menuntun tubuh Nadhira menuju tempat tidur. Di sana mereka duduk bersandar. Lalu, Reyhan merangkul Nadhira dengan sebelah tangan. Sedang tangan lainnya ia gunakan untuk menggenggam tangan kecil istrinya. “Aku yang memulai cerita atau kamu, Al?” tanya Reyhan setelah mendapatkan posisi nyaman.


“Kakak saja deh. Sepertinya cerita Kakak lebih menarik.”


Reyhan tertawa. Sebelum ia mulai angkat suara, Reyhan menyempatkan diri mencium rambut Nadhira. “Tadi siang aku ngajakin Papa sama Farhan makan siang. Tanpa sepengetahuan mereka tentunya.”


“Terus?” Nadhira tidak sabar mendengar cerita suaminya.


“Ya, you know Papa dan Farhan seperti apa. Situasinya benar-benar awkward. Aku bingung harus mencairkan suasana seperti. Tapi ….” Reyhan sengaja menggantung ceritanya.


“Kak, kalau cerita tuh langsung. Jangan dijeda begitu.”


Reyhan tergelak melihat wajah kesal Nadhira. Memang istrinya dalam urusan seperti ini kesabaran setipis tisu. Namun, Reyhan senang melihatnya. Ia merasa gemas dengan sikap istrinya.


“Suasananya cair begitu saja ketika Papa dan Farhan menyahut ucapanku secara bersamaan. Dan itu berlangsung dua kali. Setelah itu, aku melihat mereka biasa saja. Mereka kembali seperti dulu.”

__ADS_1


Tatapan Nadhira berbinar. Ia berharap semoga ini adalah awal yang baik untuk Farhan dan Papa memulai hubungan baik mereka.


“Sebenarnya, gampang untuk membuat mereka kembali. Hanya saja, mereka tidak ada yang mau memulai,” ujar Reyhan setelah memikirkan bagaimana cepatnya Farhan dan Papa kembali seperti dulu. Buktinya, hanya perkara lokasi pikniklah yang kemudian membuka jalan untuk kembali baik. Ya, sekali lagi, memang baik Papa ataupun Farhan tidak ada yang mau memulai terlebih dulu.


“Semoga ini menjadi awal yang baik untuk Papa dan Farhan, ya, Kak,” ucap Nadhira. Lalu, melingkarkan tangannya di tubuh sang suami.


“I hope so.”


Lalu, setelah itu cerita demi cerita lain mengalir seperti air di sungai yang bersih. Pasangan suami istri itu menikmatinya dengan saling mendengarkan satu sama lain. Saling berbagi cerita, juga canda tawa.


Sedang di ruang berbeda rumah megah itu. Seorang lelaki dengan kaos oblong dan celana pendek tengah fokus dengan laptop di hadapannya. Juga kertas-kertas yang berserakan di atas meja belajar. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali. Hampir satu jam mempelajari berkas yang diberikan Reyhan, nyatanya masih belum cukup untuk membuatnya mengerti. Memang Farhan yang tak memiliki dasar terjun di dunia bisnis membuat anak itu harus belajar ekstra untuk bisa. Ia ingin membuktikan pada semua orang bahwa ia juga bisa menjadi seseorang yang membanggakan.


Farhan mengembuskan napas kasar. Ia kemudian menyugar rambutnya ke belakang. Setelah itu, Farhan hanya bisa menatap layar laptop yang mempertontonkan file yang membuatnya pusing. Jika tidak bisa, bukankah seharusnya ia bertanya? Farhan mengangkat kepala dan menatap jam di dinding kamarnya. Hampir pukul sepuluh malam. Itu artinya hampir seluruh isi rumah itu pasti sudah beristirahat. Kecuali, … Ya, kecuali Papa. Farhan yakin pria itu masih terjaga. Lantas, haruskah ia menemui Papa untuk menanyakan beberapa hal yang tak ia mengerti?


Farhan bangkit dari kursinya. Ia lalu membawa sepasang kakinya bergerak ke luar kamar. Tak lupa dengan membawa benda lipat yang masih menyala itu. Pelan-pelan kakinya memijak satu per satu anak tangga yang menghubungkan ke lantai dasar di mana ruang kerja Papa berada. Tiba di depan pintu, untuk pertama kali ia tanpa ragu mengetuk pintu ruangan pria itu. “Pa, ini Farhan. Farhan boleh masuk?”


Tak lama setelah Farhan mengetuk pintu. Suara dari dalam terdengar mempersilakannya masuk. Tanpa berpikir panjang lagi Farhan langsung memutar kenop pintu dan membukanya. Memasuki ruangan yang isinya buku-buku tebal yang berjejer di rak. Farhan lalu melangkahkan kaki mendekat ke arah meja Papa. “Papa sibuk?”


Papa sejenak terdiam. Apakah Farhan sekarang sudah mulai terbiasa dengannya?


“Pa,” panggil Farhan ketika tak mendapatkan jawaban dari pria itu.


“Oh, nggak. Kenapa?”

__ADS_1


“Hm, ada yang belum Farhan ngerti dari file yang Kakak kasih tadi siang. Papa bisa jelasin sedikit ke Farhan, nggak?”


Tanpa sadar senyum tipis Papa terbit menghias wajahnya. Mungkin kekonyolan yang terjadi saat makan siang itu menjadi awal yang baik untuk hubungannya dengan sang putra. “Mana yang kamu belum mengerti?”


Farhan mendekat dan membawa laptopnya ke arah Papa. Ia kemudian menunjukkan beberapa deretan angka dan kurva yang membuatnya pusing. Dengan sangat fokus Farhan mendengarkan penjelasan Papa. Pria itu tak hanya menjelaskan, Papa juga memberikan contoh dengan menuliskan di atas lembaran kertas. Namun, fokusnya hilang ketika tangannya yang sejak tadi hanya diam tiba-tiba mulai bergetar. Farhan lantas menatap bagian anggota tubuhnya yang satu itu. Lalu, dengan cepat menggenggamnya erat.


Papa yang tadinya juga fokus menjelaskan akhirnya teralihkan juga perhatiannya. Ia mengangkat kepala dan melihat Farhan yang masih berusaha untuk mengondisikan tubuhnya. Tanpa berpikir panjang Papa lantas bangkit. Ia menyentuh tangan Farhan. “Tangan kamu kenapa bergetar seperti ini, Nak?” Papa mulai panik. Ia tidak tahu harus berbuat.


“Pa, pegang yang kencang, Pa,” ucap Farhan dengan suara yang memekik.


Papa dengan cepat melaksanakan permintaan Farhan. Namun, alih-alih bisa menghentikan. Tubuhnya justru ikut bergetar terkena imbas tubuh putranya yang aneh.


“Pa, tolong Farhan, Pa.”


Papa tidak bersuara. Ia langsung meraih tubuh Farhan yang mengalami kejang dan memeluknya dengan erat. Meskipun ia nyaris saja kalah, tetapi Papa tidak menyerah. Ia semakin erat memeluk tubuh itu. Hingga tubuh Farhan benar-benar melemah dan hampir saja tumbang. Lantas, Papa menuntun Farhan duduk di kursi kerjanya. Ia tangkup wajah yang sudah basah itu. “Nak, kamu masih dengar suara Papa?” tanya Papa untuk menarik kesadaran Farhan.


Farhan hanya menganggukkan kepala, kemudian berucap. “Terima kasih, Pa.”


Papa menatap pilu wajah putranya. Dalam hati ia terus bertanya-tanya tentang apa yang terjadi. “Farhan,” panggil Papa.


Farhan yang tahu Papa akan bertanya apa lantas mencoba untuk bersikap baik-baik saja. Ia kemudian meminta izin untuk berlalu dari ruangan Papa sebelum pria itu mencecarnya dengan berbagai pertanyaan. “Farhan mau istirahat dulu, ya, Pa.” Farhan berlalu begitu saja dengan cepat. Bahkan, ia meninggalka laptopnya di sana.


“Farhan tunggu!”

__ADS_1


Terlambat. Papa sudah terlambat. Tubuh Farhan sudah menjauh dan hilang di balik daun pintu ruang kerjanya. Kini, Papa semakin yakin bahwa ada yang tidak beres dengan anak tengahnya itu. “Apa kamu masih belum bisa nyaman untuk bercerita sama Papa, Nak?” lirih Papa.


__ADS_2