
Jika orang-orang di rumah mewah itu sibuk menyambut kepulangan Radit dari rumah sakit setelah tiga hari menjalani perawatan. Farhan masih sibuk dengan isi kepalanya sendiri. Meskipun ia tahu sang keponakan sudah berada di rumah. Ia tak berniat untuk ke luar dari kamarnya. Ia masih asyik mencerna dengan baik penjelasan dokter tentang kondisinya yang semakin memburuk. Dan kini Farhan tengah dilanda rasa bingung yang membuat kepalanya pusing. Bingung dengan sebuah keputusan yang ia ambil. Haruskan ia menceritakan pada keluarganya tentang kondisinya yang sebenarnya? Atau justru tetap merahasiakannya sampai mereka tahu dengan sendirinya. Sungguh Farhan tidak tahu harus mengambil langkah seperti apa sekarang.
Kondisi Reyhan memang sudah membaik dan keluarga Oktara tentu bersuka cita atas hal itu. Namun, kondisi Radit yang kini tengah dikhawatirkan oleh keluarga besar tersebut. Hal itulah yang sebenarnya membuat Farhan kembali merasa ragu. Sekali lagi ia tidak ingin menambah kesedihan untuk keluarganya. Sebab, sejauh ini sudah terlalu banyak peristiwa yang menciptakan kesedihan dan menguras air mata. Farhan hanya ingin melihat keluarganya tersenyum bahagia. Namun, sepertinya Tuhan masih belum mengizinkan dan masih ingin memberikan cobaan untuk dilewati. Tuhan masih ingin menguji kesabaran orang-orang di rumah tersebut dengan duka yang sama. Ya, harapan Farhan semoga semuanya segera berlalu dan berganti senyum lebar.
Ponsel Farhan yang tergeletak sembarangan di atas tempat tidur berdering nyaring. Ia melirik benda tersebut dan melihat ID Caller di layar. Senyumnya terbit dengan begitu manis. Lalu, ia meraih ponselnya dan menjawab panggilan tersebut.
“Assalamu’alaikum, Mas,” ucap seseorang di seberang telepon.
Suara itu terdengar sangat lembut menelusup di indra pendengaran Farhan. Suara yang tuannya sangat dirindukan oleh Farhan. Setelah kepulangannya dari luar kota, ia belum pernah menemui lagi perempuan itu. Beruntungnya Farhan perempuan itu selalu mengerti akan posisinya yang sudah disibukkan oleh urusan kantor. Perempuan itu tidak pernah menuntut banyak hal padanya. Bahkan, perempuan itulah yang selalu menyemangatinya ketika merasa lelah.
“Wa’alaikumussalam, By. How are you?” tanya Farhan tak kalah lembut. Kepada perempuan itu ia selalu bersikap lembut. Sebab, itulah pelajaran yang bisa ia ambil dari Reyhan dan Nadhira. Terutama Nadhira. Kakak iparnya itu selalu menasihatinya untuk memperlakukan perempuan dengan lembut. Dari Nadhira juga ia tahu bagaimana sosok Finza.
“Harusnya aku yang nanya ke kamu, Mas. How are you?”
Farhan tak langsung menjawab. Namun, ia meras disentil oleh Finza. Pertanyaan itu terlontar mungkin karena ia yang jarang mengabari Finza akhir-akhir ini. “By, i’m so sorry,” ucap Farhan dengan nada rasa bersalah. Ia seperti tidak bertanggung jawab atas hubungannya bersama Finza. Namun, bukan begitu niat Farhan, melainkan ia terpaksa. Selain karena ia yang disibukkan dengan urusan kantor. Ia juga disibukkan dengan kondisinya yang sering tumbang akhir-akhir ini.
“I miss you, Mas.”
“Kamu di mana? Aku akan menyusulmu,” putus Farhan. Finza bukanlah perempuan yang bisa dengan mudah mengatakan rindu. Namun, ia akan mengatakannya tanpa malu jika sudah tidak mampu membendung rindu.
Farhan memutuskan panggilan telepon setelah mendapatkan jawaban dari kekasihnya itu. Ia kemudian menyambar kunci mobilnya dan beranjak dari kamar. Ia melangkah memijak anak tangga untuk turun ke lantai. Namun, tepat saat kakinya menyentuh lantai satu, kunci mobil yang ia mainkan di tangannya terjatuh. Farhan berjongkok dan hendak meraih kunci. Namun, apa yang terjadi? Tangannya kembali bergetar. Ia gagal meraih kunci mobilnya. Lalu, sepasang tungkai tiba-tiba terlihat di depannya.
Farhan. Lelaki itu tertegun dengan tangan yang masih bergetar. Ia takut untuk mengangkat kepala. Takut jika pemilik sepasang kaki jenjang itu mengetahui apa yang terjadi padanya.
“Ini.” Suara berat itu terdengar. Suara milik Reyhan seraya menyerahkan kunci mobil milik adiknya. Namun, pandangan jatuh pada salah satu anggota tubuh adiknya yang seharusnya meraih kunci tersebut. “Farhan, tangan kamu kenapa?” Reyhan panik dan menyentuh tangan Farhan. Kerasnya getaran di tangan adiknya itu membuat tangannya juga ikut bergetar.
Farhan masih terpaku di tempat. Ia mulai kehilangan fokus. Hingga sentuhan Reyhan di lengannya berhasil mengembalikan fokusnya. Dengan cepat ia menyingkirkan tangan Reyhan yang sedang menyentuhnya. "Farhan harus pergi, Kak," ucapnya cepat dan berlalu begitu saja meninggalkan Reyhan.
“Farhan tunggu!” teriak Reyhan menghentikan adiknya. Namun, Farhan tak juga mengindahkan. Ia ingin mengejar Farhan, tetapi diurungkan ketika ia melihat benda di tangannya. Adalah beberapa kebutuhan Radit yang sebelumnya ia ambil di mobil, karena sempat tertinggal. Ia akan mencoba untuk bicara jika Farhan pulang nanti, pikir Reyhan. Lalu, ia kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar untuk membawa barang-barang milik si kecil Radit.
˚˚˚˚˚
__ADS_1
Farhan tersenyum ketika melihat perempuan dengan gamis hitam yang dipadukan dengan hijab berwarna merah marun yang duduk di sudut café seraya menatap ke luar jendela. Farhan langsung melangkahkan kakinya tanpa ragu untuk mendekat. “Hei!” sapa Farhan saat berdiri dengan sempurna di hadapan Finza.
Finza menoleh dan mendapati kekasihnya berdiri dengan senyum merekah. Namun, senyum itu tak kunjung menghilangkan raut wajah pucat Farhan. Ia menatap Farhan dengan sorot mata sendu. “Duduk, Mas,” ucap Finza mempersilakan. Ia kemudian menatap lekat wajah yang kehilangan rona itu. Bohong jika Finza tidak sedih melihat wajah kekasihnya yang selalu pucat. Namun, ia tidak bisa menunjukkan hal itu di hadapan Farhan. Sebab, Farhan tidak suka melihatnya bersedih.
Hening. Pasangan kekasih itu hanya saling menatap satu sama lain tanpa suara.
Farhan mencintai Finza dengan sungguh-sungguh. Namun, ia masih saja belum bisa terbuka pada perempuan itu. Berbanding terbalik dengan Finza yang selalu berusaha untuk bisa bicara tentang apa saja dengannya.
“Mas, apa aku boleh tanya sesuatu padamu?” tanya Finza yang sukses mendeportasi sepi yang ia ciptakan dengan Farhan. Ia menatap serius wajah kekasihnya.
“Tentu saja. Mau tanya apa?”
“Kalau aku menyembunyikan satu rahasia besar darimu, bagaimana?” Tatapan Finza tidak lepas menatap Farhan yang tampak biasa saja. Entah benar-benar biasa saja atau hanya sekadar mencoba biasa saja. Finza tidak tahu betul.
“Harusnya kamu nggak melakukannya, By. Kamu harus cerita sama aku. Bukankah kita sudah menyepakati untuk tidak menyimpan rahasia apa pun?”
“Tapi, kamu yang sendiri yang melanggar kesepakatan itu, Mas,” jawab Finza dengan santai. Ia kemudian mengulum tipisnya.
“Sudah seburuk apa sekarang kondisimu, Mas?”
Bungkam sudah bibir Farhan. Dari mana Finza tahu tentang kondisinya?
“Kamu pasti bingung ‘kan dari mana aku tahu?” Finza tertawa kecil. “Kamu lupa, ya, Mas, siapa Dokter Agni?”
Ya Farhan melupakan itu. Farhan lupa bahwa Dokter Agni—dokter yang menangani kasusnya—adalah kakak dari ayah kekasihnya itu. Namun, apakah Dokter Agni membongkar tentang penyakitnya pada Finza? Bukankah itu sudah melanggar sumpah dokternya?
“Tante Agni tidak akan melanggar sumpahnya sebagai seorang dokter dengan membeberkan kondisi pasiennya, Mas. Jadi, kamu jangan berpikir bahwa Tante Agni yang memberitahuku,” ucap Finza seakan tahu apa yang di dalam pikiran Farhan. “Aku nggak sengaja melihat hasil pemeriksaanmu ketika ke ruangan Tante Agni untuk mengantarkan titipan Ummi.”
Farhan menghela napas panjang. Satu hal yang coba ia rahasiakan dari kekasihnya kini sudah terbongkar dengan sendirinya. Farhan tidak tahu harus bagaimana sekarang.
“Kenapa kamu sembunyiin hal itu dariku, Mas? Apa aku nggak pantas jadi teman berbagi dukamu?”
__ADS_1
“By, aku bisa jelaskan.”
“Mau jelasin apa lagi? Kamu yang menuntutku untuk selalu terbuka, tapi kamu yang justru tidak bisa melakukannya,” balas Finza. Ia marah? Tentu. Ia kecewa? Jelas. Namun, ia tidak membenci kekasihnya.
“Aku nggak mau kamu sedih, By. Aku nggak mau ngerepotin orang-orang yang aku sayang,” tutur Farhan.
Kening Finza mengkerut dalam. Ia bingung dengan pernyataan Farhan. Apakah Farhan tidak hanya merahasiakan kondisinya dari dirinya saja? Namun, juga keluarganya?
“Aku belum siap untuk cerita pada siapapun. Termasuk pada Papa dan Mama.”
“Jadi?”
“Iya. Nggak ada orang yang tahu. Hanya Kak Nadhira. Jadi, tolong kamu jangan kasih tahu siapapun, ya.”
“Tapi, Mas—”
“Ini belum waktunya, By. Aku akan menceritakan semuanya jika waktunya sudah tepat.”
Finza tidak bisa marah pada Farhan. Kini ia justru kasihan melihat raut wajah menyedihkan kekasihnya. “Jadi, selama ini kamu hanya menahan sakitnya sendiri, Mas,” lirih Finza dalam hati.
“Maafin aku, ya,” ucap Farhan penuh permohonan. Ia menangkup kedua tangannya di depan dada agar Finza mau memaafkannya. Namun, satu hal yang tidak diinginkan lagi-lagi terjadi. Tangannya kembali bergetar.
“Mas tangan kamu kenapa gemetaran seperti itu?” Finza panik dan mendekat.
Farhan menahan tangannya dengan kuat. Bahkan, ia juga dibantu oleh Finza.
“Mas, kita ke rumah sakit, ya, sekarang.”
Farhan menggelengkan kepala.
“Mas, dengarkan aku kali ini saja.”
__ADS_1
Melihat wajah dengan ekspresi memelas itu membuat Farhan akhirnya menganggukkan kepala.