
Empat bulan bagi sebagian orang berjalan terasa sangat cepat. Namun, hal itu tidak terjadi bagi Farhan. Bagi lelaki itu, empat bulan berjalan sangat lamban dan setiap detiknya terasa menyakitkan. Akan tetapi, hari ini ia bisa bernapas lega. Setelah empat purnama ia habiskan di rumah sakit dengan menjalani berbagai prosedur pengobatan. Hari ini ia sudah mendapatkan izin untuk pulang. Tentu saja dengan kondisi yang jauh lebih baik. Namun, perubahan yang begitu signifikan terlihat nyata di fisik Farhan. Adalah ia yang terlihat sangat kurus dengan kepala pelontosnya. Hal itu tak menjadi masalah bagi Farhan pribadi, juga bagi keluarga dan juga bagi sang kekasih hati.
Hari ini. Farhan tak lepas mengulum senyumnya seraya menyaksikan Mama yang tengah merapikan pakaian-pakaian yang selama ini digunakan di rumah sakit. Ia sudah tidak sabar ingin segera pulang dan berkumpul dengan keluarganya yang lain. Terutama, si kecil Radit dan Radin. Keponakan kembarnya itu sekarang pasti sudah tumbuh menjadi bayi-bayi yang semakin menggemaskan. Ah, Farhan benar-benar tak sabar untuk segera tiba di rumah. “Ma, Papa masih lama, ya?” tanya Farhan dan sukses menghentikan gerakan tangan wanita itu yang sedang membereskan peralatan yang akan dibawa pulang. Ya, hari ini Farhan akan dijemput oleh sang ayah.
“Sabar, Sayang, Papa masih di jalan menuju ke sini kok,” jawab Mama dan hanya menatap Farhan dalam beberapa detik saja. Ia lalu melanjutkan aktivitasnya membereskan barang. Meski hanya dalam sepersekian detik menatap Farhan, Mama masih bisa menangkap bahwa kesabaran putranya menunggu sudah setipis tisu. Salah Papa juga yang sampai sekarang belum tiba di rumah sakit. Entah ke mana perginya pria itu lebih dulu.
Farhan mengembuskan napas kasar. Apa Papa tidak paham bahwa ia sudah ingin segera tiba di rumah? Berada di ruangan putih dengan aroma karbol yang membosankan selama berbulan-bulan membuat Farhan ingin segera meninggalkan tempat ini. Tidak ada yang bisa dilakukan Farhan selama ini selain berbaring atau menonton televisi. Ya, bosan yang sebenar-benarnya bosan.
Mama yang melihat perubahan di wajah anak tengahnya itu lantas menghampiri. Ia meraih kedua tangan Farhan dan memainkan ibu jarinya pada punggung tangan dengan urat-urat yang sangat jelas menonjol itu. Tak lupa ia mengulum senyum tulusnya pada si tampan yang kini fisiknya sudah tak sekekar dulu. Namun, Mama tidak khawatir. Dalam waktu dekat, putranya ini pasti akan mengembalikan lagi tubuh atletisnya. “Jangan cemberut kayak gitu dong, Nak. Papa kan masih di jalan. Bukan nggak jadi jemput ke sini,” ujar Mama dengan nada suara yang teramat sangat lembut tentunya. Sekarang, hubungan yang sempat berjarak itu kini tak bersekat. Mama sudah bisa merasakan bagaimana manjanya Farhan seperti dulu.
Mama. Bukannya wanita itu bersyukur akan apa yang menimpa Farhan. Hanya saja, ia bersyukur dengan jalan itu Tuhan memperbaiki hubungan keluarganya. Kini, ia sudah bisa menikmati keluarga yang harmonis dan hangat. Sering menghabiskan waktu bersama meski hanya menemani Farhan di rumah sakit. Namun, saat-saat seperti itu adalah salah golden time yang keluarga Oktara miliki. Cukuplah bertahun-tahun mereka hanya terjebak pada jurang kerenggangan yang begitu dalam. Saling tak mempedulikan satu sama lain, padahal di dalam hati dan pikiran masih saling mengkhawatirkan. Hanya saja, sesuatu bernama ego itu lebih menjuarai segalanya.
“Maaf Papa telat.”
Atensi Mama dan Farhan langsung teralihkan ke arah pintu. Lalu, senyum Mama mengembang. “Papa ke mana saja? Lihat tuh anak Papa sampai cemberut begitu nungguin.”
Papa terkekeh kecil. “Maaf, ya, tadi Papa kejebak macet di jalan.” Papa lalu mendekati Farhan dan menyentuh pundak anak tengahnya itu. “Sudah dong cemberutnya. Kita pulang sekarang, ya.”
__ADS_1
Hanya helaan napas panjang yang terdengar sebagai jawaban. Sedang Papa dan Mama hanya bisa menggelengkan kepala melihat polah Farhan yang begitu manja. Namun, mereka menyukai hal itu. Sebab, itu artinya bahwa Farhan memang sudah mulai terbiasa dan kembali seperti dulu lagi. Sudah tidak ada lagi sekat di antara mereka.
˚˚˚˚˚
“Bagaimana? Sudah siap semuanya?” tanya Nadhira yang sejak tadi sibuk menyiapkan kejutan untuk menyambut kepulangan adik iparnya. Seisi rumah itu dibuat sibuk oleh perempuan itu. Lalu, ia tersenyum ketika semua sudah disiapkan sesuai rencana. “Tinggal kita tunggu Finza datang,” ujarnya lagi. Ya, Nadhira sudah berencana sejak jauh-jauh hari ketika ia mendengar kabar baik bahwa Farhan akan segera pulang. Ia ingin memberikan kejutan dengan menghadirkan kekasih hati adik iparnya itu untuk menyambut kepulangan Farhan.
Belum lama juga setelah Nadhira selesai berucap. Seorang perempuan manis dengan setelan gamis merah marun datang memasuki ruang keluarga yang sudah disulap Nadhira dengan begitu cantik bersama beberapa pekerja dan juga dibantu suaminya. Senyum Nadhira semakin mengembang melihat hal itu. Lantas, ia mendekati perempuan yang tak lain adalah sahabatnya itu.
“Maaf, ya, Ra, aku agak telat. Tadi ada urusan mendadak di kantor,” ucap Finza.
“Al, sepertinya itu mobil Papa yang datang,” ucap Reyhan yang sayup-sayup mendengar suara mobil berhenti di pelataran rumah.
Tatapan Nadhira berbinar. Tak lama setelah itu suara pintu terbuka juga ikut terdengar. Seruan Mama pun mulai menggema. Namun, tak satu pun mereka yang ada di ruangan itu ke luar.
Tak sampai sepuluh detik. Papa, Mama, dan Farhan datang. Hal itu membuat Nadhira, Reyhan, dan Finza menyerukan ucapan selamat datang secara bersamaan. Mereka lantas mendekati Farhan yang masih speechless dengan apa yang ada di ruangan itu.
Reyhan. Lelaki itu langsung memeluk adiknya dengan sangat erat yang langsung dibalas oleh Farhan. “Sehat-sehat terus setelah ini.”
__ADS_1
“Iya, Kak. Kakak juga.”
Farhan melepaskan pelukan itu lebih dulu. Ia menatap kekasihnya dengan tatapan kesal. Bagaimana tidak? Sejak semalam perempuan itu menghilang dan mengirimkan kabar apa pun padanya. Dan sekarang, tiba-tiba saja sudah ada di rumahnya dengan senyum manis dan tampang tanpa dosa.
“Kenapa menatapku seperti itu sih, Mas?” tanya Finza seraya terkekeh. Ia tahu kekasihnya kesal padanya. Ia sengaja tidak mengirim atau membalas pesan Farhan sejak semalam. Ia ingin memberikan kejutan untuk lelaki itu.
“Dari tadi malam ke mana saja? Pesanku satupun nggak kamu balas,” ucap Farhan dengan rasa kesalnya. Ia bahkan tanpa malu jika disaksikan oleh anggota keluarga lainnya.
“Sengaja,” jawab Finza tanpa dosa. “Nih, salahin kakak iparmu, Mas.”
Nadhira hanya menunjukkan cengiran kudanya.
“Jadi?”
“Iya ini akal-akalan Nadhira,” ujar Finza dan membuat seisi ruangan itu tertawa, kecuali Farhan.
Namun, setelah itu mereka kembali seperti biasa. Tertawa bersama.
__ADS_1