
Nadhira menghela napas panjang sebelum memasuki ruangan di mana suaminya berada. Hal itu selalu ia lakukan terlebih dulu. Tangannya menggenggam knop pintu dengan kuat. Ya, bahkan sampai detik ini Nadhira masih belum terbiasa dengan keadaan yang hampir empat purnama ia jalani. Selalu ada rasa ngilu menelusup di hati, ada rasa sesak yang menghantam dada. Tak mudah untuk terbiasa menerima keadaan baru yang menyakitkan.
Setelah merasa sedikit tenang Nadhira mulai membuka pintu dengan pelan agar tak menimbulkan bising. Seperti biasa, yang pertama kali memyambut kedatangan Nadhira bukanlah ucapan selamat, tetapi suara patient monitor yang terhubung ke tubuh Reyhan. Suara yang bahkan masih saja terdengar menyakitkan. Ah, entah kapan benda itu tak lagi dihubungkan dengan tubuh suaminya.
Perlahan sepasang tungkai milik perempuan berhijab itu bergerak maju. Ia pandangi setiap jengkal ruangan yang dulunya hanyalah sebuah ruang kerja untuk Reyhan. Namun, kini sudah disulap seperti ruang rawat. Nadhira tersenyum miris.
"Hai! Bagaimana kabarmu hari ini?" tanya Nadhira pada sesosok manusia yang terbaring dengan wajah damai dalam pejam itu. Seperti sebelum-sebelumnya, Nadhira selalu mengajak suaminya bicara dengan tangan yang bermain di wajah Reyhan. Kendati apa yang ia lakukan jelas tak akan menuai respons apa pun dari lelaki itu.
Seulas senyum tipis itu terangkai di wajah Nadhira. Dipandangnya lekat-lekat wajah sang suami dengan rahang tegas itu. Ada sesuatu yang membuat Nadhira bergidik ngeri sekaligus kasihan. Adalah sebuah benda yang dipasangkan melalui mulut suaminya.
Tangan Nadhira berpindah posisi. Tangan dengan jemari lentik milik Nadhira kini sudah menggenggam erat telapak tangan sang suami. Ia mainkan ibu jarinya di punggung tangan dengan urat-urat yang jelas menonjol itu. Bentuk bukti bahwa betapa kini Reyhan benar-benar kehilangan bobot tubuhnya.
Setetes air keluar dari sepasang netra dengan iris hitam milik Nadhira. Lagi-lagi ia menangis. Padahal, ia sudah berjanji untuk tidak lagi menangis di hadapan Reyhan. Namun, susah untuk menahan air mata yang selalu mendesak ke luar.
__ADS_1
Nadhira menghapus jejak air mata di pipinya. "Maaf. Aku nggak bisa nepatin janjiku untuk nggak nangis di depanmu," ucap Nadhira seraya menundukkan kepala. Lantas, kembali terisak dengan kuat. Hal yang sering kali ia lakukan ketika memasuki ruangan itu dan sebelum angkat bicara tentang apa yang ingin ia ceritakan.
Setelah beberapa saat terisak dalam sepi. Nadhira mengangkat wajahnya dan menghapus sisa-sisa air mata yang menganak sungai di pipinya. Lantas, menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Ia mengulangi hal serupa beberapa kali hingga merasa sedikit tenang.
"Kak, aku mau cerita tentang hari ini," ucap Nadhira untuk mengawali ceritanya dengan suara parau. Dipandangnya lagi wajah Reyhan yang damai. Dalam hati ia merapal do'a, semoga nanti saat Reyhan bangun. Kedamaian akan selalu terukir di wajah suaminya. Hingga wajah penuh kesakitan itu hilang dan tak lagi terlihat. Ya, semoga saja.
"Harusnya aku nggak nangis, ya, Kak. Karena, aku datang ke sini untuk membawa kabar bahagia untukmu." Nadhira tersenyum. Membuat sepasang mata sembapnya tampak menyipit.
Kembali ia mainkan ibu jarinya di punggung tangan Reyhan. Lalu, melanjutkan ceritanya. "Si Kakak hari ini pulang lho, Kak. Dan Papa dengan sangat antusias menyambut kepulangannya. Papa sampai dekor ruang depan dengan balon yang banyak banget cuma buat kasih surprise untuk cucunya," tutur Nadhira panjang lebar. Ia mengiringi ceritanya dengan tawa kecil. Merasa lucu dengan cara Papa yang bahkan tak pernah terlintas di pikiran Nadhira. "Ternyata Papa sweet banget kayak kamu."
"Kak, kamu tau, nggak? Aku bahagia banget saat dokter yang menangani Radit bilang kalau dia boleh pulang. Tapi, aku juga berpikir apakah aku pantas berbahagia sedang kamu masih berjuang dengan hebat." Nadhira masih melanjutkan ceritanya. Entah Reyhan bisa mendengar dan mencerna dengan baik apa yang ia ceritakan atau tidak. Perempuan itu tak peduli akan hal tersebut. Ia hanya ingin berbagi kisah dengan seseorang yang seharusnya tegap berdiri dan menjadi garda terdepannya dalam segala kondisi. Namun, takdir berkata lain. Skenario Tuhan masih belum berubah. Barangkali Tuhan ingin melihat Reyhan sejenak berhenti melakoni perannya dan memintanya untuk sejenak beristirahat.
"Bangun, yuk, Kak! Aku butuh teman berjuang untuk dua malaikat kecil kita. Di mana salah satunya terlahir menjadi bayi mungil yang istimewa seperti kamu," lanjut Nadhira. Ia mengingat bagaimana Bara dulu menceritakan apa yang terjadi pada salah satu bayinya, yaitu Radit. Kala itu dunia terasa runtuh. Ia seakan tak punya pegangan apa pun. Rasanya ingin menyerah saja pada takdir yang terus mempermainkan dengan brutal. Namun, orang-orang yang berdiri bersamanya menguatkan Nadhira hingga ia masih bisa berdiri tegak sampai detik ini. Kendati saat sepi ia akan merasa rapuh serapuh-rapuhnya dan butuh dada bidang Reyhan untuk menenggelamkan wajah basahnya.
__ADS_1
"Dan nggak cuma kamu dan Radit yang menjadi isi kepalaku sekarang, Kak. Tapi, Farhan juga. Aku nggak tau harus menceritakan tentang kondisinya pada siapa lagi. Juga tentang perlakuan buruk yang ia dapatkan dari Papa. Andai saja kamu bangun. Mungkin Farhan punya tempat lain untuk berkesah."
Tumpah sudah keluhan Nadhira tentang sang adik ipar. Sebagai seseorang yang mungkin paling tahu tentang Farhan saat ini. Nadhira merasa kasihan dengan lelaki itu. Masa muda yang seharusnya dihabiskan dengan bahagia harus tersita oleh pekerja -pekerjaan yang menumpuk di kantor. Apalagi dengan kondisi kesehatan Farhan yang makin hari makin tak stabil selalu berhasil membuat Nadhira iba. Andai ia punya daya atau bakat dalam hal bisnis. Mungkin ia sudah membantu Farhan menyelesaikan pekerjaan yang jelas bukan kapasitasnya.
"Ayo, Kak, bangun. Banyak orang yang menunggumu di sini."
Pandangan Nadhira mulai memburam seiring gradasi air tercipta di pelupuk matanya. Ia mengangkat kepala tinggi-tinggi untuk menghalau air matanya jatuh lagi menghantam pipi. Namun, melakukan hal itu memang tak mudah. Kristal-kristal bening itu selalu punya celah untuk keluar. Maka, berakhirlah kini Nadhira kembali menangis.
Nadhira menunduk. Lantas, berpindah posisi dengan duduk di lantai. Ia cium berulangkali tangan sang suami dengan air mata yang terus saja terjun bebas. Sudahlah. Biarkan saja ia menangis.
Tangis Nadhira bukan tangis putus asa. Bukan tangis lelah akan sebuah penantian panjang bangunnya Reyhan. Namun, tangisnya adalah satu bentuk cara mengeluarkan beban yang ia tanggung. Tangisnya adalah iringan untuk do'a-do'a yang selalu ia langitkan. Kendati Nadhira tak pernah tahu do'a yang mana yang akan menembus pintu langit.
Tangisan Nadhira masih berlanjut. Ia meletakkan kepala di pinggir tempat tidur dengan tangan Reyhan sebagai bantal. Berharap jika tangan lelaki itu bergerak, ialah orang pertama yang mengetahui hal itu. Kemudian, ia kembali melangitkan rasa syukur yang bahkan jumlahnya tak bisa dinominalkan.
__ADS_1
Air mata Nadhira hampir mengering. Perlahan kelopak matanya yang begitu sembap terkatup. Hingga perempuan berhijab itu tenggelam dalam tidurnya.